
Setelah Keluarga Marvel dan juga Liora meninggalkan kafe, Vero kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Hahahaha." Tiba-tiba Vero teringat dengan wajah kesal Marvel tadi, dia merasa sangat terhibur dengan apa yang terjadi. "Itu baru permulaan, Marvel. Kau lihat saja bagaimana aku akan membuat Liora kembali padaku." Dia berucap penuh keyakinan.
Ternyata selama ini Vero tidak berdiam diri. Walau dia tidak pernah menghubungi Liora, dia tetap mencari cara untuk menggagalkan pernikahan gadis itu dengan Marvel.
"Tapi, ke mana Samuel ya? Sudah 2 hari ini dia tidak ada kabar," gerutu Vero. Sahabatnya itu memang sudah 2 hari tidak menampakkan diri. "Sudahlah, nanti aku datang saja ke apartemennya." Dia kemudian menyusun berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.
Setelah selesai, Vero memutuskan untuk segera pulang. Tubuhnya sudah sangat lelah bekerja seharian ini dan harus segera istirahat.
"Oh iya, aku 'kan mau lihat Samuel. Jangan-jangan dia sudah mati?" Dasar Vero. dia benar-benar mencerminkan sahabat yang paling baij sedunia.
Vero segera melajukan mobilnya menuju apartemen Samuel untuk melihat keadaan laki-laki itu. Sesampainya di tempat tujuan, dia langsung saja masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu karena tahu passwordnya.
Vero terpaku di depan pintu dengan kedua mata membelalak lebar saat melihat apa yang sedang terjadi di unit apartemen itu. Dia melihat seisi ruangan yang sangat berantakan, dan Samuel sendiri sedang bersimpuh dikaki seorang pria dengan memar diwajahnya.
"Kira-kira hukuman apa yang pantas untuk pembangkang sepertimu?" tanya seorang lelaki paruh baya yang sedang berdiri di hadapan Samuel.
Vero terkesiap karena merasa tidak asing dengan suara yang baru saja dia dengar. Dia melangkahkan kakinya agar bisa melihat wajah laki-laki tersebut.
"Jawab!" Untuk sekali lagi, lelaki paruh baya itu kembali bersuara.
Vero terus melangkah masuk ke dalam tempat itu sampai berada beberapa langkah dari mereka, membuat laki-laki paruh baya itu menoleh ke arahnya.
lelaki paruh baya itu sangat terkejut saat melihat keberadaan Vero, begitu juga dengan Samuel. Mereka mematung tanpa ada yang bersuara, sedangkan Vero sendiri merasa jantungnya seakan meledak saat melihat lelaki paruh baya itu.
lelaki yang paling dia benci di dunia ini, lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya. Dialah Barra, ayah kandungnya sendiri.
Mereka hanya saling pandang dengan diam. Barra melihat putra semata wayangnya dengan hati senang, pasalnya dia sudah sangat rindu dengan putranya itu. Namun, berbanding terbalik dengan Vero. Dia menatap wajahnya dengan penuh kebencian. Memori lama terus berputar dikepala Vero saat melihat wajahnya itu.
"Vero," panggil Barra sambil dengan lirih sambil mendekat ke arah sang putra.
"Berhenti!" ucap Vero seraya mengangkat sebelah tangannya, dia tidak sudi untuk berdekatan dengan lelaki itu. Kemudian dia beralih mendekati Samuel dan berjongkok di hadapan laki-laki itu. "Apa yang kau lakukan pada temanku?" Dia melirik ke arah Barra dengan tajam, matanya berkilat penuh amarah.
Barra menatap putranya dengan sendu. "Papa tidak-"
"Apa belum cukup selama ini kau menghancurkan hidupku, hah?" potong Vero dengan cepat, suaranya menggema diseluruh penjuru ruangan.
"Vero, Papa tidak-"
"Cukup, sudah cukup." Vero benar-benar tidak membiarkan laki-laki itu untuk bicara. "Pergi kalian dari sini dan jangan lagi mengganggu hidupku." Usirnya, dia memalingkan wajah merasa tidak sudi untuk melihat wajah Barra.
Barra memandang Vero dengan penuh luka. Hatinya sangat merindukan sang putra, tapi putranya bahkan tidak ingin melihat wajahnya. Setiap hari dia membayangkan saat memeluk Vero, tapi apalah daya. laki-laki itu saja merasa enggan untuk melihat ke arahnya.
Di sudut ruangan, sekretaris pribadi Barra terus memperhatikan mereka. Terlihat senyum tipis terbit dibibirnya, entah apa yang membuat dia tersenyum seperti itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Vero beralih melihat ke arah Samuel, terlihat ada sedikit memar diwajah laki-laki itu.
"Saya baik-baik saja, Tuan muda," jawab Samuel dengan menundukkan kepalanya.
Vero mengernyitkan kening saat mendengar jawaban dari Samuel. "Kenapa dia memanggilku tuan muda?" Hatinya merasa bertanya-tanya, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres saat ini.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa Vero ada di sini?" Samuel merasa sedang terkena sia*l. Bak kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga.
"Vero, ada yang ingin papa katakan padamu," ucap Barra, dia tetap berusaha untuk mendekati sang putra.
Vero langsung bangkit dan menatapnya tajam. "Sudah kukatakan untuk pergi dari sini." Dia membentak dengan urat-urat dileher sampai menonjol ke permukaan.
"Tapi Vero-"
"Keluar!" teriak Vero sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Tuan muda-"
"Aku bilang keluar!" terial Vero kembali, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan diri.
Barra memilih untuk mengalah, dia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu dengan Vero. Kemudian dia dan sekretarisnya segera pergi meninggalkan apartemen Samuel, untuk sekali lagi dia menoleh ke belakang untuk melihat sang putra tercinta.
"Bangunlah, ayo kita obati lukamu!" ajak Vero setelah kepergian mereka.
Samuel hanya diam di tempat, dia menundukkan kepalanya merasa menyesal telah membohongi Vero. "Maaf, maafkan aku," Dia berucap dengan pelan, dia benar-benar merasa sangat berdosa.
"Kita bicarakan nanti, sekarang bersihkan dulu tubuhmu." Vero membawa Samuel ke kamar untuk membersihkan diri, sedangkan dia sendiri membersihkan ruangan yang sudah terlihat seperti kapal pecah itu.
"Maafkan aku, Vero. Maafkan aku," gumam Samuel sambil meneteskan air mata, hati Vero pasti sakit saat melihat kejadian tadi. Apalagi kalau sampai Samuel mengatakan apa yang dia dengar tadi dari sang tuan, dia tidak tahu akan jadi sehancur apa Vero nanti.
Setelah membersihkan diri, tak lupa Samuel juga mengobati memar yang ada diwajahnya akibat pukulan dari sang tuan. selesai dengan semuanya, dia bergegas untuk turun menemui Vero. temannya itu pasti sudah menunggunya dengan berjuta pertanyaan dikepala.
Samuel menarik nafas panjang, dia harus menceritakan semuanya pada Vero. Dia tidak bisa lagi menutupinya apalagi Vero sudah melihat kejadian tadi, laki-laki itu pasti sudah bisa menduga ada hubungan apa antara Samuel dan ayahnya.
"Kau sudah selesai, tunggu sebentar." ucap Vero saat melihat kedatangan Samuel.
Samuel duduk dikursi makan menunggu Vero menyelesaikan masakannya. Beberapa menit kemudian masakan itu pun selesai. Vero langsung menghidangkannya untuk Samuel.
"Makanlah, aku yakin pasti kau belum makan," ucap Vero sambil meletakkan sepiring nasi goreng untuknya.
Samuel menatap nasi goreng itu dengan sedih. bukan karna nasi gorengnya ya tapi karna yang membuatnya.
"Kenapa tidak di makan? Kau butuh energi yang besarkan untuk menceritakan semua yang terjadi padaku," kata Vero dengan sinis.
Mendengar itu, Samuel langsung memakan nasi goreng nya dengan lahap. bahkan tanpa sisa sedikitpun.
"sekarang bisa kau ceritakan apa yang terjadi ?" ucap Vero saat Samuel sudah selesai makan.
Kemudian Samuel menceritakan semuanya pada Vero.
Flashbavhch
Setelah selesai melakukan dalam kamar. dia tidak ingin bertemu atau berbicara pada siapa pun. terutama sang ayah.
Barra terus memantau keadaan Vero melalui dokter pribadi keluarganya. dia tidak bisa bertemu langsung dengan Vero karena itu bisa membuat nya kembali murka.
Selama seminggu Vero terus mengurung diri. sampai akhirnya dia keluar dengan membawa tas kecil ditangannya. Barra yang melihat itu menjadi senang, dia pikir Vero sudah membaik dan tidak lagi membencinya. tapi yang terjadi malah tidak seperti yang dia kira. Vero memutuskan untuk pergi dari tempat tinggalnya.
__ADS_1
Tentu saja Barra mencoba untuk menghalanginya tapi tetap tidak berhasil. terus-terusan memaksa Vero pun juga tidak akan baik. akhirnya dia menyerah dan membiarkan Vero pergi dari rumahnya.
Setelah kepergian Vero, Barra merasa tidak tenang. dia khawatir tentang keadaan Vero diluar sana. Kemudian memutuskan mengirim seseorang untuk mengawasi dan melindungi Vero, dia meminta Brian untuk mencari salah satu dari anggota klan Zander yang memiliki kemampuan hebat untuk menjadi pelindung bagi putranya. Lalu pilihlah Samuel yang langsung berangkat ketempat dimana Vero berada.
Flashback Off.
Vero mendengarkan dengan khusyuk segala penjelasan Samuel. Tidak ada lagi yang ditutupinya, dia sudah menceritakan semuanya.
"Jadi, pertemuan kita malam itu sudah kau rencanakan?" tanya Vero.
"Maaf, Tuan." hmHanya itu yang bisa Samuel ucapkan sambil menundukkan kepalanya.
Vero mendesah frustasi, dia tidak menyangka kalau orang yang paling dekat dengannya adalah bawahan sang ayah.
"Aku memang mendekatimu karna perintah dari tuan besar, tapi percayalah aku benar-benar menganggapmu sebagai teman," tambah Samuel.
"aku tau." ucap Vero.
Sebenarnya Vero merasa sangat kecewa karna perbuatan Samuel. Selama ini dia seperti orang bodoh yang tidak tau jati diri sahabatnya sendiri. tapi walaupun begitu, Vero juga bisa merasakan kalau Samuel benar-benar tulus berteman dengannya.
"maaf." lagi-lagi Samuel meminta maaf pada Vero.
"sudahlah. aku mengerti bagaimana posisimu," ucap Vero.
"lupakan saja. anggap kejadian tadi tidak pernah terjadi." lanjut Vero sambil menepuk pundak sahabatnya. tak lupa dia sedikit menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Samuel merasa terharu sekaligus tenang. dia sekarang sudah merasa lebih lega. apalagi Vero tetap menganggapnya sebagai teman.
"kalau gitu aku pulang ya," pamit Vero sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Baiklah, hati-hati." ucap Samuel
"Emm Vero." Samuel terlihat ragu untuk mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan. "Apa aku harus memberitahunya ?" Dia merasa bingung.
"Apa?" Vero kembali menghentikan langkahnya.
"Eh, besok aku akan menemuimu dikafe," ucap Samuel ngasal. Sepertinya dia belum bisa memberitahukan sesuatu pada Vero.
Vero hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Samuel dan segera berlalu dari tempat itu.
Samuel terus melihat kepunggung Vero yang sudah tidak terlihat lagi. dia tau kalau temennya itu pasti sangat kecewa padanya. tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Samuel. Dia merasa ingin mati saja, masalah terus saja berdatangan dan kali ini jauh lebih buruk dari masalah yang lalu.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1