Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 54. Ajakan makan malam.


__ADS_3

Waktu berlalu dengan sangat cepat, pagi telah berganti menjadi sore. Para pekerja bersiap untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


Seperti saat ini, Liora sudah dalam perjalanan untuk pulang kerumah bersama dengan Zarga. Sebenarnya hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan, tapi karna dia malas untuk pulang akhirnya dia tetap berada di kantor sampai sore.


Terasa getaran ponsel ditas Liora, dia segera mengambilnya dan melihat kalau Marvel sedang menelpon.


"Halo." Liora menjawab panggilan Marvel.


"Nanti malam aku akan menjemputmu," ucap Marvel disebrang telpon.


"Untuk apa?" tanya Liora, dia enggan untuk keluar rumah.


"rang tuaku ingin bertemu dengan menantunya," jawab Marvel.


Leora menghela napas kasar saat mendengar ucapan Marvel. "Baik." Dia langsung mematikan panggilan telpon itu setelah menjawabnya.


Liora lalu menyandarkan tubuhny dengan mata terasa panas dan nyeri dihatinya. Sudah hampir seminggu Vero tidak menghubungi atau bertemu dengannya, seharusnya dia merasa senang karna Vero benar-benar menjauh darinya. Namun, yang terjadi malah kebalikannya. Hatinya terasa sangat sakit dengan keadaan ini, dia ingin mendengar suara Vero tapi dia tidak bisa menelpon. Dia ingin melihat wajah tampannya juga takut untuk bertemu.


Zarga melirik nona mudanya melalui spion, dia tau kalau nona mudanya pasti sangat sedih. Terlihat beberapa kali Liora ingin menelpon Vero tetapi langsung membatalkannya.


"Apa saya saja yang menghubunginya, Nona?" tanya Zarga, dia merasa prihatin dengan keadaan yang sedang dialami nona mudanya.


"Tidak perlu," tolak Liora, dia tidak mau membuat keributan dengan Marvel. Kalau sampai Marvel tau dia masih berhubungan dengan Vero, bisa jadi akan benar-benar murka.


"Tapi Nona-"


"Sudahlah, aku tidak papa. Memang seharusnya begini," potong Liora membuat Zarga langsung menutup mulut tidak berani lagi bersuara.


Sementara itu, dikediaman orangtua Marvel Mommy Mona tengah sibuk mencoba gaun yang akan dia pakai untuk bertemu dengan calon menantunya. Dia terlihat sangat bersemangat.


"Dududu nanana." terdengar mulutnya bersenandung ria."Marvel, ke sini sebentar!" Dia memanggil Marvel yang tengah asyik dengan ponselnya.


"Apa mom?" tanya Marvel tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ke sini!" ucap mommy Mona.


Dengan malas, Marvel bangun dan berjalan ke arah suara yang sibuk memanggilnya sedari tadi, terlihat mommynya sedang berkutat dengan berbagai gaun yang sudah berserakan.


"Coba lihat, apa mommy cantik pakai gaun ini?" tanya sang mommy sambil memperlihatkan gaun terbaiknya.


"Kita cuma mau makan malam Mom, bukan ke pesta," ucap Marvel. Gaun yang dipakai mommynya terlalu mewah dan mencolok.


"Kalau gituz yang ini gimana?" tunjuk mommy Mona pada gaun berwarna hijau yang tergantung disebelahnya.


"Terlalu formal," jawab Marvel.


"Yang ini?" tunjuk mommy Mona lagi pada gaun berwarna merah.


"Terlalu ceria," ucap Marvel. Sepertinya tidak ada gaun yang cocok menurutnya.


"Ya sudah, kalau gitu mommy pakai gaun malam saja," bentaknya dengan kesal. Dia sudah menunjukkan gaun terbaiknya tapi Marvel tetap tidak setuju.


"Jangan dong Mom, itukan gaun khusus untuk daddy," ujar Marvel menggoda.


"Cih." mommy Mona berdecak kesal.


"Untuk apa pakai gaun malam?" tanya daddy Marco yang baru terlihat batang hidungnya, ternyata sejak tadi dia sedang mandi.


"Untuk ketemu sama calon menantumu," jawab ketus mommy Mona.


"Kok pakai gaun malam? itukan khusus untuk daddy," ucap daddy Marco, sama seperti Marvel tadi


"Huh, anak bapak sama aja," gerutu mommy Mona sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Hahah, lagian Mommy heboh kali sih. Cuma mau makan malam doang." kekeh Marvel, mommynya itu memang selalu bersemangat.


"Oh ya Marvel, ada yang mau daddy katakan," ucap daddy Marco sambil berjalan ke arah taman samping rumah.


Marvel segera mengikuti langkah sang daddy dan duduk dikursi yang ada di taman itu, dia lalu mengernyitkan kening saat mendengar pertanyaan sang daddy.


"Kau memang ingin menikah dengan Liora?" tanya sang daddy.

__ADS_1


"Daddy, bukannya semalam udah ku bilang?" jawab Marvel kesal, daddynya itu seperti tidak percaya dengan ucapannya.


"Bukan begitu, daddy dengar Liora sudah punya kekasih. Apa itu benar?" rupanya daddy Marco sudah tau hubungan Liora dengan lelaki lain, setelah menyuruh anak asistennya untuk menyelidiki.


"Itukan hanya kekasih, tapi aku ini calon suaminya. Itu yang lebih penting," ucap Marvel tegas.


"Memang benar, tapi apa Liora benar-benar tidak berhubungan lagi dengannya?"


"Daddy enggak perlu khawatir. dia gak akan berani, dia tau apa yang akan dia dapatkan kalau bermain api dibelakangku," ucap Marvel tajam.


"Terserah kau sajalah," balas sang daddy yang sudah tau sifat putranya itu.


Marvel akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, sama seperti Marco saat berjuang mendapatkan istri tercinta. Entah kenapa tiba-tiba daddy Marco merasa bangga, padahal itu bukanlah hal yang membanggakan.


Sedangkan itu, mommy Mona yang kesal dengan suami dan putranya memilih pergi ke kamar Maily. Terlihat gadis itu sedang tidur nyenyak di atas ranjang.


"Maily, bangun!" seru sang mommy sambil menggoyang-goyang bahu sang putri. Bukannya bangun, Maily malah memperbaiki tidurnya agar lebih nyaman. "Bangun Maily, ini sudah sore. Kau mau tidur sampai kapan?" Dia menggerutu sambil kembali menggoyang tubuh putrinya.


Maily mengucek kedua matanya yang masih mengantuk, tapi mommy nya sudah bernyanyi dengan merdu sedari tadi.


"Cepat bangun!" ucap mommy Mona lagi.


"Iya iya. Kenapa sih Mom? masih jam segini jugak," gerutu Maily sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Nanti malam kita akan makan malam bersama kakak iparmu," ucap mommy Mona.


"Hah, serius Mom?" tanya Maily dengan mata berbinar-binar.


"Iya, makanya kau cepat mandi," suruhnya sambil berlalu meninggalkan Maily.


Dengan cepat, Maily segera berlari ke kamar mandi untuk bersiap bertemu dengan kakak ipar tercinta.


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya sampai juga waktu untuk makan malam bersama. Marvel sudah terlihat sangat tampan dengan kemeja berwarna hitam lengkap dengan jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, daddy Marco juga tak kalah tampan dari putranya. Dengan memakai kemeja berwarna abu-abu, dia masih terlihat gagah walau usia sudah hampir memasuki kepala 6.


Apalagi dengan mommy Mona, dia yang sudah sibuk sedari sore mempersiapkan penampilannya. Dia terlihat anggun dengan menggunakan dress selutut berwarna hitam pilihan sang suami tercinta, hanya tinggal Maily saja yang belum bergabung bersama mereka.


"Ke mana sih anak ini, apa jangan-jangan dia lagi tidur?" gerutu Marvel sambil melihat jam.


"Lama amat," gerutu Marvel.


"Kita makan dikafe favorit aku yuk, makanannya enak banget looh!" ujar Maily, terlihat dia sampai menelan salivenya membayangkan makanan itu.


"Kafe apa sih? Kakak itu udah reservasi di restoran," balas Marvel.


"Duh, ini gak kalah enak deh dari restaurant terkenal. Ya?" pinta Maily sambil memasang wajah memelasnya.


"Kau kan bisa pergi bersama teman-temanmu sih." Marvel tetap tidak setuju, sedangkan Maily tetap keukeh ingin makan di kafe yang katanya enak itu.


"Sudah cukup!" bentak mommy Mona. "Mau sampai kapan kalian ribut terus, sampai pagi?" Dia bertanya ketus. "Sudah, kita ke kafe yang dibilang Maily aja, tapi awas ya kalau sampai gak enak." Ancam sang mommy.


"Yes, tentu aja Mom," jawab Maily senang.


"Kalau gitu Mommy sama Daddy duluan aja, aku mau menjemput Liora," ujar Marvel sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Aku ikut!" seru Maily yang langsung masuk ke dalam mobil sang kakak.


Marvel malas kalau harus melarangnya, bisa-bisa mereka tidak jadi berangkat karna asik bertengkar kembali. Dia segera melajukan mobilnya menuju rumah Liora, sedangkan orangtuanya langsung menuju kafe setelah di shareloc oleh Maily.


"Selamat malam, Pak," sapa Maily lagi pada penjaga gerbang rumah Liora, ternyata dia memang gadis yang sangat ramah.


"Selamat malam Nona, Tuan. Silahkan," balas penjaga itu sambil mempersilahkan mereka.


Setelah sampai, mereka langsung bergegas masuk ke rumah Liora yang memang pintunya sedang terbuka.


"Selamat malam," sapa Maily pada semua orang yang ada diruangan itu.


Arya, Alex, dan Zarga hanya memasang wajah bingung melihat kedatangan gadis mungil dengan senyum cerah diwajahnya, sedangkan Leon memasang wajah datar saat melihat gadis yang kemaren sempat bersitegang dengannya.


"Selamat malam semuanya, Kakak ipar," sapa Marvel ramah sambil duduk bergabung bersama mereka, Maily juga ikut duduk di sebelahnya.


"Selamat malam juga, Marvel," balas Arya, sedangkan yang lainnya hanya menganggukkan kepala mereka membalas sapaannya.

__ADS_1


"Di mana kak Liora?" tanya Maily sambil celingak celinguk mencari keberadaan calon kakak iparnya.


"Dia masih di kamar, nona," jawab Arya sambil tersenyum.


"Namaku Maily, panggil aja Maily. Gak usah nona nona," ucap Maily.


"Baik, Maily. Aku Arya, ini Alex, Zarga dan itu Leon." Arya memperkenalkan mereka satu persatu.


Maily langsung membuang muka saat Arya memperkenalkan Leon, membuat semua yang ada disitu mengernyitkan kening. Padahal pada yang lain dia tersenyum cerah.


"Loh, ada apa dengannya?" Arya juga terlihat bingung, sama dengan yang lainnya termasuk Marvel juga.


"Maaf, apa bisa tolong panggilkan Liora? Soalnya kami sudah terlambat," pinta Marvel.


"Biar aku yang panggil," seru Maily sambil berdiri, sedangkan Leon yang memang bermaksud untuk memanggil Liora menjadi kaku membuat yang lain menahan geli.


"Dasar bocah kurang ajar," gumam Leon dengan kesal.


"Tapi di mana kamarnya?" tanya Maily pada mereka. "Kak Alex, ayo antar aku ke kamar kak Liora!" Dia melihat ke arah Alex.


Sedangkan Alex yang merasa namanya disebut, hanya memandang gadis itu dengan tajam. Dia terlihat sedikit kaget karna baru kali ini ada gadis yang berani memperlakukannya seperti ini.


"Duuh, lama kali sih," ucap Maily sambil menarik tangan Alex membuat semua yang ada disitu memelototkan matanya.


"Astaga, gadis ini berani sekali," batin Zarga.


Sedangkan Arya malah ingin tertawa saat melihat ekspresi Alex yang sulit diartikan, sementara Marvel tidak peduli. Adiknya itu memang selalu seperti itu pada semua orang.


Liora mematung ditangga saat melihat seorang gadis menarik tangan Alex, sedangkan Alex memandang gadis itu seolah-olah akan memakannya hidup-hidup, tetapi luar biasanya Maily malah bersikap biasa saja.


"Kakak ipar!" seru Maily sambil berlari mendekat ke arah Liora, dia melepaskan pegangan tangannya dari Alex.


"Maily, sudah berapa kali kakak bilang jangan berlarian ditangga!" bentak Marvel dengan kesal, adiknya itu benar-benar tidak pernah mendengar ucapannya.


Sementara itu, yang lain hanya diam membeku ditempat mereka. entah sudah berapa kali mereka terkejut dibuat oleh gadis kecil itu. Mereka seolah-olah sedang bertamu ke rumah orang lain padahal mereka adalah tuan rumahnya.


Maily langsung memeluk Liora, sedangkan Liora hanya diam. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"akakak ipar, kau cantik sekali," puji Maily, matanya memancarkan binar-binar kebahagiaan.


"Te-terima kasih," ucap Liora canggung, mereka pun melanjutkan langkah sambil Maily menggandeng tangannya.


"Kami permisi dulu," pamit Marvel sambil berjalan cepat ke arah mobilnya berada diikuti oleh Liora dan juga Maily.


"Kami pergi ya, dadah," ucap Maily pada mereka semua, tetapi saat pandangannya bertemu dengan Leon lagi-lagi dia membuang muka.


"Dadah, sering-sering main ke sini ya," balas Arya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Leon.


Setelah melepas kepergian Liora, mereka kembali duduk diruang tamu seperti tadi. "Ya Tuhan, lucu sekali sih dia." Arya sangat gemas dengan sikap Maily yang sangat ceria itu.


"Cih." Leon mendengus sebal.


"Ada masalah apa kau dengannya, Leon? Sepertinya dia sangat membencimu?" tanya Arya sambil tertawa lucu mengingat tingkah Maily tadi.


"Bukan urusanmu," ketus Leon, entah kenapa dia bertambah kesal dengan gadis itu.


"Bisa-bisanya Marvel punya adik yang menggemaskan sepertinya," ucap Arya tak habis pikir.


"Bukannya nona juga dulu seperti Maily," ucap Zarga tiba-tiba.


Semua orang terdiam, mereka juga membenarkan apa yang diucapkan oleh Zarga. Liora dulu juga seperti Maily, yang ramah dan ceria pada semua orang, tapi entah kapan itu akan kembali, atau bahkan tidak akan pernah kembali untuk selamanya.


"Semua orang pasti berubah, lebih baik kita do'akan yang terbaik untuk Leora."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2