
Mereka semua tetap terlihat khusyuk mendengarkan cerita Zarga tentang identitas Vero yang ternyata bukan orang sembarangan, tetapi mereka masih penasaran alasan kenapa Vero pergi meninggalkan segala kekayaan dan kemewahan klannya sendiri.
"Saya akan tetap mencari tau yang lainnya, Nona." Zarga mengakhiri penjelasannya.
"Sebenarnya siapa itu Samuel Fernandez?" tanya Leon yang memang tidak kenal dengan orang yang sedari tadi mereka bicarakan.
"Dia partner bisnisnya Leora." Arya menjawab seakan tahu betul soal hubungan mereka.
"Liora?" Leon memilih bertanya langsung pada adiknya.
"Cih, gak percayaan kali," cibir Arya kesal melihat respon Leon.
"Dia salah satu investor pada proyek perhotelan kita yang ada dipulau Y, Tuan." Alex menjawab mewakili Liora. "Setelah proyek itu, kita tetap menjalin kerja sama dalam hal lainnya juga." Tambahnya lagi kelepasan.
Semua langsung melirik tajam ke arah Alex, dia memang terbiasa melaporkan segala sesuatu pada Liora sehingga kali ini dia tidak bisa menghentikan ucapannya.
"Hal lain?" Leon bertanya maksud dari perkataan Alex.
Alex melihat ke arah Liora, haruskah dia mengatakannya atau tidak? Namun, tidak ada tanda yang diberi Liora seakan menyuruh Alex untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" Leon menyadari ada sesuatu yang tengah mereka sembunyikan darinya, dia melihat ke arah Liora yang tengah menundukkan pandangannya.
"Liora, apa yang kau sembunyikan dari kakak?" desak Leon yang semakin dihantui rasa penasaran, dia sampai mengguncang bahu sang adik untuk mendapat jawaban atas pertanyaannya.
Liora menghembuskan napas kasar, dia tengah berpikir keras apakah harus memberitahu sekarang pada kakaknya atau tidak. Setelah sedikit berpikir, akhirnya dia melihat ke arah Alex.
Liora menganggukkan kepalanya sebagai pertanda kalau Alex boleh menceritakannya pada Leon. Mungkin sudah saatnya sang kakak itu tahu apa yang selama ini mereka sembunyikan darinya.
"Panggil Kenzie kemari!" perintah Liora pada Zarga. Dengan sigap, Zarga langsung menelepon kenzie untuk segera datang ke sana.
Sementara itu, Alex mulai menceritakan semuanya pada Leon tentang Samuel. Dimulai dari hubungan kerja sama, penyerangan pada pabrik anggur sampai usaha pembobolan aset perusahaan milik keluarga Grazielle.
Mendengar itu, tentu membuat hati Leon serasa disiram bensin dan bara api. Dia terlihat mengepalkan tangannya, kemudian Alex juga mengatakan kalau pelaku sebenarnya bukanlah Samuel.
Flashback
"Saat aku lagi fokus kerja, tiba-tiba masuk sebuah email yang mengatakan tentang kelompok Bloods. Tentu aku merasa tertarik saat membacanya, sudah sangat lama aku ingin tau tentang geng terkenal itu. Dia memerintahkan untuk menyerang pabrik anggur milik mereka. kemudian mengirim lokasi tempat dan juga memberi bayaran 5 M untuk itu. Sebenarnya aku tidak tertarik dengan uang, aku lebih tertarik tentang kelompok Bloods yang dari namanya aja udah buat kelompok lain ketakutan, dan aku ingin tau siapa sebenarnya pemimpinnya." Semua orang mendengarkan penjelasan Samuel dengan khidmat.
"Aku tidak mengira kalau ternyata kalian lah yang aku serang. Kemudian mereka mengutus Kenzie untuk berurusan denganku, dan soal percobaan pembobolan aset itu, aku bersumpah tidak tau apapun," jelas Samuel.
__ADS_1
Flashback end.
Leon mendengarkan dengan khidmat semua kata yang terucap dari mulut Alex. Setelah selesai, dia beralih melihat ke arah Liora. Dengan cepat, dia memeluk erat sang adik.
Liora yang dipeluk sang kakak tentu merasa kaget. Dia hanya diam membeku ditempatnya, sedangkan yang lain hanya melihat dengan kebisuan.
"Sudah sejauh apa sepak terjangmu Liora?" Leon merasa sedih melihat beban yang harus ditanggung sang adik.
Leon tidak menyangka jika Liora bisa sampai sejauh itu, pantas saja dia merasa aneh melihat perubahan sikap sang adik. Adik yang dia ingat dulu selalu ceria dan cerewet, kini berubah menjadi pendiam dan jarang tersenyum.
Leon bahkan belum pernah benar-benar melihat Liora tertawa seperti dulu, tetapi selama ini dia tidak pernah bertanya pada siapa pun tentang perubahan Liora. Dia takut akan menyinggung perasaan sang adik.
"Maafkan kakak." Leon merasa bersalah.
Leon tidak ada disisi sang adik saat lembah keterpurukan menimpanya. Disaat adiknya harus berjuang sendiri demi mempertahankan keluarga, saat Liora harus menahan semua derita, dan dipaksa kuat untuk melawan semua kesakitan yang datang dalam hidupnya.
Tidak ada tempat untuk bersandar, dan tidak ada tempat untuk berkeluh kesah. Tidak ada tempat untuk hanya sekedar mengeluarkan air mata, gadis itu harus tetap terlihat kuat dan tangguh dimata banyak orang.
Arya menepuk pelan bahu Leon, dia berharap apa yang dilakukannya mengurangi sedikit kesedihan yang tengah di alami sahabatnya itu.
Leon merenggangkan pelukannya, dia melihat ke arah semua orang yang ada di sana. Wajah-wajah itu lah yang selama ini berada di sisi sang adik, nelindungi dan menguatkan setiap langkah yang dipijaki Liora.
"Duduklah." Lera mempersilahkan Kenzie bergabung dengan mereka, membuat laki-laki itu duduk dikursi kosong sebelah Zarga.
"Dia Kenzie, Kak. Orang yang diperintahkan untuk membunuhku." Liora memperkenalkan Kenzie pada Leon.
"Apa?" Tentu saja Leon sangat kaget saat mendengarnya, terlebih-lebih melihat orang yang katanya mau membunuh adiknya malah duduk gabung bersama mereka.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Liora setelah melihat Kenzie mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Saya sudah mendapat rekaman suaranya, Nona." Kenzie langsung memberikan sebuah kotak kecil kepada Liora.
Liora langsung mengambilnya dan memutar suara yang ada direkaman itu.
"Terus ikuti mereka, jangan sampai sedetik saja kau kehilangan pandanganmu. Kau harus bisa membunuh Liora malam ini."
"Tembak Leora!"
Itulah suara seseorang yang memerintah Kenzie untuk membunuh Liora. Semua mendengarnya dengan serius, mencoba untuk mengingat suara yang baru saja diputar.
__ADS_1
"Kerja bagus," puji Liora
"Terima kasih, Nona." Kenzie merasa sangat senang mendapat pujian dari nona mudanya.
"Terus persempit penyelidikan kalian, jangan sampai ada satu celah pun yang tertinggal!" perintah Liora pada mereka semua.
"Baik, Nona." Alex, Zarga, dan Kenzie menjawab secara bersamaan.
"Kami juga sudah bekerja sama dengan tuan Samuel, Nona. Kita akan menggabungkan penyelidikan kita dengannya," tambah Zarg
Liora menganggukkan kepalanya. "Aku akan pergi bersama Kak Zarga untuk menemui tuan Samuel."
"Saya akan menemani Nona." Alex terlihat ingin ikut dengan Liora.
"Tidak perlu, aku akan pergi bersama kak Zarga dan Kenzie. Selebihnya tetap di sini, dan ceritakan semuanya pada kakakku," ucap Liora.
Leora, Zarga dan Kenzie lalu berangkat untuk bertemu dengan Samuel, sebelumnya mereka telah membuat janji.
"Nona," panggil Zarga pelan pada Liora. Semenjak diangkat menjadi sekretaris, dia mulai banyak bicara.
Liora melihat ke arah Zarga sambil menunggu sesuatu yang akan laki-laki itu katakan.
"Apa kita harus menyelidiki tuan Vero juga?" tanya Zarga.
"Kenapa?" Liora balik bertanya.
"Walaupun tuan Samuel bergerak sendiri, tapi dia tetap anak buah dari Barra Zander. Dan tuan Vero itu adalah anaknya, semuanya saling berkaitan," tutur Zarga panjang lebar.
"Benar juga." Liora setuju dengan perkataan Zarga.
"Kalau gitu kita pergi menemuinya dulu, aku ingin lihat apa yang sedang dia kerjakan."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1