Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 63. Markas.


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan kerja Leon terlihat sangat serius, mereka harus benar-benar memikirkan strategi apa untuk menghancurkan klan Zander, bahkan Maily yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan dunia hitam terlihat begitu bersemangat. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi dering ponsel Zarga mengganggu fokus mereka.


Dia segera keluar dari ruangan itu untuk menjawab panggilan dari anggota Bloods, tak berselang lama Zarga kembali lagi kedalam ruangan itu.


"Nona, Markas sedang diserang," ucap Zarga.


"Apa?" Semua langsung berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Zarga,vdengan cepat Liora dan orang-orangnya meninggalkan ruangan itu dengan raut wajah yang sangat menyeramkan.


"Mau kemana kau?" tanya Marvel pada adiknya.


"Ayo, Kak, cepat! Kita harus cepat ikut mereka," ucap Maily sambil menunjuk ke arah Liora dan orang-orangnya.


"Maily, kau tidak boleh ikut campur," ucap Marvel dengan tegas. Bagaimana mungkin adiknya ikut campur dalam hal berbahaya seperti itu?


"Kenapa gak boleh? Ayo, cepat!" Maily tetap keukeh untuk ikut bersama dengan mereka.


"Apa kau pikir itu permainan?" bentak Marvel kemudian. Baru kali ini dia terlihat sangat marah, pasalnya selama ini dia selalu mengalah atas apapun yang dilakukan adiknya. Namun, kali ini dia tidak bisa tinggal diam, karena ini semua berkaitan dengan nyawa yang tidak bisa dijadikan permainan.


Maily menundukkan kepalanya dengan takut melihat kemarahan Marvel. Dia yang baru pertama kali melihat sang kakak semarah itu menjadi takut, tanpa terasa air mata menetes diwajah cantiknya.


Melihat sang adik menangis, Marvel segera memeluknya dan mengelus kepalanya dengan sayang dan penuh kelembutan.


"Jangan bermain-main dengan nyawa, Maily. Kau mengertikan maksud kakak, 'kan?" ucap Marvel pelan, terlihat Maily menganggukkan kepala walau terlihat sangat terpaksa dan juga takut.


"Sekarang pulang lah, kakak akan ikut bersama merekaz" perintah Marvel kemudian. Dia harus membantu Liora untuk apa yang terjadi saat ini, sekaligus ingin melihat siapa yang sudah melakukan penyerangan.


Mereka pun segera meninggalkan tempat itu dengan tujuan yang berbeda.

__ADS_1


Sementara di markas Liora, para anggota bloods telah diserang oleh sekelompok orang dengan menggunakan baju serba hitam. Mereka berjumlah sekitar 40 orang dengan senjata lengkap ditangan masing-masing, lalu menyerang dengan membabi buta.


Saat ini, hanya ada 10 anggota Bloods saja yang berada di markas. Selebihnya sedang pergi ke pabrik anggur dan juga ke tempat-tempat lainnya. Mereka sedikit kewalahan saat melawan musuh apalagi para petinggi bloods sedang tidak ada di tempat, perkelahian tidak bisa dielakkan. Baku tembak pun semakin merajalela, mereka hanya berharap agar bantuan segera datang.


Terlihat sudah banyak musuh ataupun anggota Bloods yang terluka. Namun, tidak berapa lama datanglah anggota bloods yang lain dan tampak pula Liora beserta yang lainnya ditempat itu.


Para musuh terlihat takut begitu melihat para petinggi Bloods. LIora dan gengnya pun langsung membabat habis mereka, dia terlihat sangat murka sampai-sampai tidak ada lagi belas kasihan diwajahnya.


Para musuh yang masih bisa berdiri mencoba untuk kabur, tapi jangan harap mereka bisa melakukannya karena dari arah mereka lari sudah ada Marvel dan anak buahnya yang menghadang langkah mereka.


Perkelahian pun dimenangkan oleh kelomlok bloods. Namun, ada 2 orang dari kelompok mereka yang sudah tidak tertolong lagi, sedangkan yang lainnya juga terluka cukup parah.


"Nona, mereka sudah kita lumpuhkan," ucap Zarga memberitahu saat sudah menangkap mereka semua.


"Bunuh mereka semua, jangan sampai ada satu orang pun yang hidup" ucap Liora dengan tajam. Dia harus menebus kematian 2 anggotanya dengan kematian mereka semua.


"Terima kasih atas bantuanmu, Marvel," ucap Liora dengan tulus.


"Yah, sama-sama," jawab Marvel dengan singkat.


"Apa mereka tadi dari klan Zander juga?" tanya Leon sambil mengobati luka yang ada dikakinya akibat perkelahian yang tadi sedang terjadi.


"Siapa lagi kalau bukan mereka?" jawab Leora dengan tajam dan penuh kemarahan.


"Tapi bisa jadi 'kan, kalau orang lain?" ucap Marvel membuat Liora langsung melirik ke arahnya. "Tapi ya kita tidak bisa menduga kejadian seperti ini, sepertinya mereka tau betul bagaimana keadaan kalian." Dia berucap dengan tajam.


"Benar, mereka selalu tahu apapun yang kami lakukan. Sebenarnya siapa mata-mata mereka?" ucap Liora dengan bingung, dia benar-benar marah karena selalu kecolongan. Apakah masih ada pengkhianat lain yang belum tertangkap?

__ADS_1


"Samuel, benar, dia," gumam Liora sambil segera beranjak dari sana untuk menemui Samuel, ada hal penting yang harus dia tanyakan dan siapkan pada laki-laki itu.


"Nona, tunggu!" panggil Alex dan juga Zarga, mereka berdua harus ikut bersama nona muda mereka dalam keadaan seperti ini. Tidak tahu kapan musuh akan datang menyerang lagi.


Sementara di tempat lain, Samuel dan Vero sedang berada di apartemen Vero. mereka sedang membahas tentang masalah Liora dan juga Marvel.


"Emm ... apa kau akan kembali ke klan?" tanya Samuel dengan ragu-ragu.


"Aku tidak akan kembali ke sana, tidak akan pernah" ucap Vero dengan tajam, terlihat jelas gurat kebencian dan kekecewaan dari sorot matanya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk membatalkan pernikahan mereka?"


"Aku akan mendekati keluarga Marvel, dan akan menunjukkan bahwa Liora adalah milikku. Aku akan membuat keluarganya bersimpati dan menolak menyetujui pernikahan mereka," ucap Vero dengan yakin.


"Tapi apa mungkin berhasil?" tanya Samuel ragu.


"Aku sudah mengenal keluarganya, terutama adiknya Maily. Mereka pasti akan mendengarkanku."


Sebenarnya Vero tidak sengaja bertemu dengan Maily yang saat itu sedang kecopetan, lalu dia menolong Maily dan menghajar pencopet itu. Dari sanalah mereka berkenalan, bak seperti mendapat jalan keluar ternyata Maily adalah adik dari saingan cintanya. Dia lantas terus menjalin hubungan yang baik dengan Maily, dan perlahan-lahan mendekati seluruh keluarga Marvel. Dengan sifat keluarga Marvel yang baik, Vero yakin bisa menarik rasa simpati mereka untuknya.


"Baiklah, terserah kau saja. Tapi ingat, Marvel pasti tidak akan tinggal diam," ucap Samuel memperingatkan Vero agar tidak berlaku yang tidak-tidak.


"Tentu sa-"


Brak.


Vero tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba pintu apartemennya didobrak paksa oleh seseorang. Samuel yang juga kaget langsung berdiri dari duduknya begitu juga Vero.

__ADS_1


"LIora." Vero sangat terkejut melihat orang yang mendobrak pintu itu ternyata adalah Liora.


__ADS_2