
Keempat lelaki yang ada di ruangan itu bergegas mendekati Liora yang sudah membuka kedua mata, wajah mereka semua tampak khawatir sambil menatap wanita itu.
"Apa kau baik-baik saja, Liora?" tanya Arya sambil memeriksa denyut nadi wanita itu.
Liora menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja."
Semua orang bernapas lega saat mendengarnya, walau ada luka di lengan wanita itu yang sudah diketahui karena terkena luka tembak.
Kemudian Arya kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang, sementara Zarga tetap berdiri di tempatnya saat ini.
"Nona, saya permisi sebentar untuk bertemu dengan seseorang," ucap Alex meminta izin pada Liora.
Liora menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Alex, dia lalu mengambil ponsel yang ada di atas meja.
"Em ... Leora." Vero mencoba mengurai sedikit kesunyian yang terjadi, sementara Arya hanya memperhatikan apa yang akan laki-laki asing itu katakan pada Liora.
Leora mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Vero, wajahnya terlihat dingin seperti mana biasanya.
"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Vero dengan sedikit canggung.
Liora kembali menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali fokus pada benda pipih yang saat ini berada ditangannya.
"Tunggu, kenapa dia mengabaikanku?" Vero dirundung kebingungan dan kecemasan karna takut sudah membuat wanita itu marah.
Arya yang sedari tadi diam memilih angkat bicara, dia sudah tidak sabar mendengar cerita Liora tentang siapa sebenarnya laki-laki itu.
"Dia siapa, Liora?" tanya Arya sambil menunjuk ke arah Vero.
"Dia Vero, Kakak bisa langsung bertanya padanya."
"Cih." Arya mendengus sebal. Dia juga tahu jika bisa bertanya langsung pada laki-laki itu, tetapi dia ingin tahu ada hubungan apa di antara mereka hingga membuat Vero ada di ruangan ini.
Sementara itu, Alex yang meminta izin keluar ternyata menemui Direktur rumah sakit untuk meminta penjelasan.
"Maafkan saya, Tuan." Doni meminta maaf duluan untuk menyelamatkan diri, padahal lelaki yang ada di hadapannya belum mengatakan apa-apa.
"Aku sudah memberi perintah agar kalian langsung melaporkan jika nona Liora berada di rumah sakit kalian, tapi kalian tidak mendengarnya," ucap Alex dengan tajam. Padahal dia sudah memberi perintah pada semua Direktur rumah sakit yang ada di daerah itu.
__ADS_1
Doni kembali mengucapkan maaf dengan kedua tangan di depan dada, dia memohon agar Alex bisa memaafkannya.
"Ini peringatan terakhir untukmu. Sekarang ikut aku dan bawa hasil pemeriksaan nona," ucapnya kemudian sembari berjalan kembali ke ruangan Liora.
"Ba-baik, Tuan." Doni tergagap sangking takutnya sampai membuat tangannya berkeringat.
Alex kembali ke ruangan nona mudanya ditemani oleh Dokter dan Direktur rumah sakit itu. terlihat para penunggu ruangan sedang saling terdiam.
Melihat kedatangan Dokter, Arya langsung meminta hasil pemeriksaan Liora. Dia juga memerintahkan laki-laki itu untuk menjelaskannya pada Alex dan juga Zarga.
Semua orang diam mendengarkan seluruh penjelasan Dokter tentang kondisi Liora. Tdak ada sama sekali yang harus dikhawatirkan, itulah kesimpulan yang Dokter berikan.
"Tapi ...." Dokter itu menggantungkan ucapannya karena merasa ragu, dia melirik sang Direktur yang malah lebih terlihat takut dan gelisah dibandingkan dia.
"Apa?" Alex bertanya dengan tidak sabar, dia menatap dokter itu dengan tajam seperti ingin mengoyak mulutnya yang berhenti bicara.
"Tuan Vero mengatakan jika Nona muda mengeluh tentang jantungnya." Menjawab dengan lugas, cepat, dan tepat, tetapi tidak berani mengangkat kepalanya.
"Apa?" teriak mereka secara bersamaan dengan wajah pias.
"Bagaimana ini? tamatlah riwayatku." Direktur rumah sakit itu sudah ingin pingsan saja rasanya.
"Apa yang kau rasakan? Tidak-tidak, apa yang terjadi sampai jantungmu sakit?" Arya bertanya dengan tergesa-gesa sambil melakukan pemeriksaan.
Liora bingung harus bagaimana menjawabnya. Sebenarnya dia juga tidak tau dengan apa yang sedang mereka khawatirkan saat ini. Mungkinkah jantungnya benar-benar bermasalah?
"Kita harus segera membawa Nona ke rumah sakit pusat," perintah Alex pada Zarga yang langsung berjalan keluar untuk menyiapkan mobil mereka.
"Tunggu!" Suara Liora menggema di tengah-tengah kepanikan yang terjadi, membuat Zarga menghentikan langkahnya.
"Apa Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Alex kembali yang memang benar-benar merasa khawatir.
"Aku baik," jawab Liora dengan cepat.
"Kita harus memeriksakan jantungmu, Liora." Arya menaikkan intonasi suaranya untuk segera membawa Liora pergi.
"Keluarlah."
__ADS_1
Liora melihat ke arah Direktur dan Dokter rumah sakit itu yang sudah terlihat sangat pucat dengan keringat mengalir diseluruh wajahnya.
Melihat itu, mereka menundukkan kepala. "Ba-baik, nona." Mereka berlalu dengan nafas lega karna berhasil keluar dari ruangan yang mengerikan itu.
Setelah melihat mereka keluar, Liora lalu kembali menatap para anggotanya. "Jantungku tidak sakit."
"Tapi tadi malam Anda menjerit sambil berkata jantungku." Vero berkata menggunakan bahasa formal karna sangking tegangnya terbawa suasana.
"Aku tidak pernah mengatakan kalau jantungku sakit," ucap Liora sambil melihat kearah Vero.
"Betul juga, dia tidak mengatakan sakit." Vero merasa ucapan leora benar.
"Terus?" Arya sudah merasa bingung.
Liora diam sesaat untuk berpikir bagaimana cara memberitahu mereka. "Jantungku berdebar-debar terus saat bersamanya." Dia menunjuk tepat ke arah Vero.
Sontak saja semua mata menatap tajam pada objek yang ditunjuk oleh Liora. Dengan secepat kilat, Zarga mencengkram kerah kemeja Vero dan langsung membenturkannya ke dinding dengan amarah yang meletup-letup.
"Apa yang kau lakukan?" jeritan Arya menghentikan Zarga yang siap memberikan bogem mentah untuk laki-laki itu.
"Aku akan membunuh siapa pun yang menyakiti Nona," teriak Zarga tak kalah nyaring dari Arya.
"Apa salahku?" Vero merasa bingung.
Dengan sekuat tenaga, Arya memisahkan Zarga dari Vero, sementara Alex hanya diam di tempatnya tanpa berniat untuk melerai mereka.
Setelah berhasil memisahkan mereka, Arya menyuruh Vero untuk pergi agar tidak menambah panas suasana. Tanpa pikir panjang, Vero bergegas pergi dari sana. Namun, untuk sekali lagi dia melihat ke arah Liora.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1