
Selepas kepergian Vero, Arya merubah profesinya menjadi seorang reporter yang siap mewawancarai Liora atas pernyataannya tadi. Sementara Zarga dan Alex khusyuk mendengarkan.
"Apa maksudnya tadi kalau jantungmu berdebar-debar?" tanya Arya yang sudah sibuk membuat daftar pertanyaan.
Liora menarik napas dalam, lalu mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Astaga," Dessah Arya sambil memukul keningnya sendiri melihat kepolosan Liora.
Tidak ubahnya dengan Arya, Alex juga menghela nafas kasar mendengar cerita Liora yang secara tidak langsung memberitahukan pada mereka tentang isi hatinya walaupun dia belum menyadarinya.
Hanya Zarga lah yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Dia yang seumur hidupnya tidak pernah mengenal wanita benar-benar tabu tentang cinta. Dengan lugunya dia meminta penjelasan pada Arya yang sudah seperti ahli cinta, padahal dia juga belum pernah memiliki pasangan.
"Astaga, bisa-bisanya kau nggak ngerti begituan. Ck,ck, ck." decak Arya sambil menggelengkan kepalanya untuk mengejek Zarga.
"Memangnya ada apa? Apa jantungku benar-benar bermasalah?" Liora juga diselimuti rasa penasaran sambil menatap Arya dengan tajam.
"Ck, ck. Jantungmu baik-baik aja, gak ada masalah." Arya menggelengkan kepalanya. "Jantungmu berdebar karena kau suka padanya." Dewa cinta memberi penjelasan.
"Kenapa bisa suka padanya?" pertanyaan gadis polos nan suci sejagat raya. Tentu saja namanya Liora.
"Eh, bagaimana aku menjelaskannya?" Arya dibuat bingung sendiri dengan pertanyaan yang dilontarkan Liora. "Itu-"
Belum sempat Arya menjawabnya, sudah dipotong oleh Alex membuat dia harus menghentikan ocehannya.
"Tidak perlu dipikirkan, Nona. Itu biasa terjadi, sekarang kita harus menyelesaikan pekerjaan," potong Alex yang melihat Arya ingin mengucapkan kata-kata tidak penting lainnya.
Liora mengangguk paham. "Bagaimana urusan tadi malam?" Dia lalu mulai membahas masalah penyerangan malam tadi.
"Kami sudah berhasil menangkap lelaki itu, Nona." Zarga memberi laporan hasil pekerjaannya.
"Ya sudah, kita akan mengurusnya besok," ucap Liora kemudian.
__ADS_1
Alex dan yang lainnya mengangguk paham lalu mempersilahkan Liora untuk kembali istirahat, begitu juga dengan mereka yang sudah merasa sangat lelah dan mengantuk.
*
*
Keesokan harinya, setelah diperiksa oleh Dokter. Liora sudah diperbolehkan untuk pulang, tetapi dengan catatan jika luka di lengannya tidak boleh terkena air.
Liora lalu mengajak Alex untuk langsung pergi ke perusahaan, dia harus segera menyelesaikan pekerjaan karena ingin melihat keadaan sang kakak.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Liora terus memikirkan apa yang Arya katakan. Suka? Apa maksudnya? kenapa harus dengannya?Pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepalanya.
Alex terus memperhatikan Leora dari kaca spion dalam. Dia tahu jika nona mudanya sedang memikirkan apa yang Arya ucapkan tadi, dia sedikit merasa bersalah karena sudah memotong obrolan mereka.
"Maafkan saya, Nona." Alex tidak mau jika Liora berurusan dengan seseorang yang tidak jelas.
Tidak terasa, mobil mereka sudah sampai ditempat parkir khusus perusahaan Liora. Alex bergegas membukakan pintu untuk sang nona, setelah itu mereka bergegas masuk ke dalam perusahaan.
"Lalu bagaimana dengan lelaki itu, Nona?" Alex mengingatkan tentang lelaki yang menembak wanita itu.
Liora menghentikan langkah kakinya. Benar, dia tidak ingat tentang hal itu. "kita ke markas sebelum menemui kakak."
Alex mengangguk paham, dia lalu beranjak pergi ke ruangannya sendiri. Banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan hari ini, tetapi sebelum itu dia melihat ponsel dan mengetik satu nama dalam panggilannya.
Tut, tut.
"Halo, Tuan." Seseorang mengangkatnya disebrang sana, ternyata Alex sedang menghubungi Zarga.
"Cari tahu semua informasi tentang lelaki yang bersama nona semalam," perintah Alex pada Zarga.
Setelah mengatakan itu, Alex langsung mematikan panggilan telponnya, dan meletakkan benda pipih itu di atas meja.
__ADS_1
***
Hari yang sangat melelahkan bagi semua para pejuang rezeki yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka bertebaran dimuka bumi berharap lelah yang dirasakan berbuah dengan keberhasilan. Do'a-do'a para orang tua yang berharap setiap tetes keringat yang mengalir ditubuhnya menjadikan kesuksesan untuk anak-anaknya.
Setelah setengah hari berkutat dengan setumpuk pekerjaan, Liora menghela nafas lelah. akhirnya pekerjaan itu selesai juga. Dia berjalan ke arah sofa untuk sekedar menyandarkan pinggangnya yang sudah seperti mati rasa, dia menikmati sedikit waktu istirahat itu dengan memejamkan mata.
Tidak berselang lama, terdengar pintu ruangannya terbuka. Ah, Liora sudah tau siapa yang masuk ke dalam tempat itu. Tentu saja sekretarisnya yang selalu datang disaat yang tepat, dengan membawa segelas minuman dingin dan sepiring buah-buahan untuknya.
"Silahkan, Nona." Alex meletakkan semua bawaannya dengan hati-hati di atas meja.
"Hem." Liora menjawab dengan deheman saja seraya membuka kedua matanya. Dia lalu mengambil minuman yang terlihat menggoda ditenggorokan.
"Setelah ini, kita akan ke markas, Nona." Alex mengingatkan agenda terakhir yang harus dikerjakan.
"Hem." lagi-lagi Liora menjawab dengan deheman saja.
Setiap hari jadwal Liora memang sangat padat, banyak sekali pekerjaan yang harus dia lakukan. Dia bekerja dari pagi sampai malam untuk mengurus kerajaan bisnisnya, belum lagi soal yang lainnya membuat dia harus ekstra kuat untuk mengerjakan semua itu.
"Aku ingin punya waktu libur sehari untuk bersama dengan kakak," ucap Liora.
"Besok saya akan mengatur waktu dulu, Nona." Alex merasa sedikit kasihan dengan nona mudanya.
"Aku mengerti." Liora pun tidak bisa memaksa. Dia tahu betul betapa banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1