Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 36. Hari Terburuk.


__ADS_3

Malam semakin larut, waktunya masyarakat bumi untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran setelah berkelana sepanjang hari.


Namun, tidak untuk para penghuni rumah mewah Liora. Mereka masih terjaga padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, sepertinya mereka semua enggan untuk tidur sebelum melihat Liora pulang ke rumah.


Penyerangan yang dialami Liora waktu itu menjadi peringatan untuk mereka kalau harus tetap waspada kapanpun dan di mana pun, bahkan Zarga sudah memerintahkan semua anak buahnya untuk berjaga didekat restoran di mana Liora dan Vero berada.


"Udah jam segini kok belum pulang juga sih?" Arya ngedumel sendiri, seperti seorang ayah yang sedang menunggu putri kesayangannya.


"Ck." decakan kecil lolos dari mulut Alex, dia merasa terganggu karna ocehan Arya.


"Apasih kau ini, sibuk aja," sewot Arya lagi, dia memang selalu heboh sendiri.


"Kenapa kalian belum tidur?" Suara Liora mengagetkan mereka yang sedang duduk diruang tamu. Sontak semua mata langsung melihat ke arahnya.


"Ah, ini kami cuma lagi cerita-cerita saja," ucap Leon, dia tidak mau Liora tau kalau mereka sedang menunggunya.


Leora lalu mendekat ke arah mereka. "Aku sudah pulang, sekarang istirahatlah." Dia berkata dengan wajah cerah berseri.


"Eh." Leon terlihat salah tingkah. Dia tidak menyangka kalau Liora tau mereka sedang menunggunya.


"Liora itu makhluk paling peka dimuka bumi ini. Mau ditutupi kayak mana pun tetap akan tau." Arya geleng-geleng kepala. "Bagaimana? kau terlihat sangat bahagia malam ini." Godanya yang memang melihat wajah Liora berseri-seri.


"Biasa saja," jawab Liora dengan datar, tapi dia memalingkan wajahnya yang bersemu malu.


Semua orang langsung menatap tidak percaya saat mendengar ucapan Liora, begitu juga dengan Alex yang hanya bisa menghela napas kasar saja.


"Apa Nona baik-baik saja?" Zarga bertanya dengan serius, sepertinya jalan pikirannya berbeda dengan yang lain.


"Dja sedang tidak baik-baik saja," jawab Arya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Apa nona sakit?" terlihat jelas kekhawatiran diwajah Zarga.


Semua orang menepuk kening mereka melihat kebod*oahn Zarga. Padahal laki-laki itu sudah tahu jika Liora dan Vero dekat, tetapi belum paham juga bagaimana perasaan.


"Aku baik-baik saja." Leora meluruskan kesalahpahaman Zarga, sepertinya laki-laki itu memang keluar dari jalur pembahasan.


"Dr. Arya bilang anda tidak baik-baik saja, Nona. Anda harus segera ke rumah sakit."


hahahaha.


Secara spontan mereka langsung tertawa karena perkataan yang Zarga lontarka bisa-bisanya dia berpikir kalau Liora sedang sakit.


"Huft, astaga." Desssah Arya. Dia sampai memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.


"Dia enggak sakit, Zarga." Leon memberi penjelasan pada laki-laki itu. Dia juga merasa lucu dengan jalan pikiran Zarga.


"Tapi wajah nona memerah, jangan-jangan nona demam?" Zarga tetap bersikukuh mengatakan kalau nona mudanya sedang sakit.


Astaga, mereka semua sampai mengelus dada saat ini. Kok ada ya lelaki macam Zarga yang benar-benar polos tak bernoda.

__ADS_1


"aku tidak demam, Kak. Aku hanya malu." Liora yang memang selalu berkata jujur memberitahunya, sedangkan yang lain langsung menajamkan pendengaran. Terutama Alex, terlihat dia merapatkan tubuhnya ke samping kanan.


"Semangat sekali dia." batin Arya saat melihat Alex merapatkan duduknya.


"Kenapa kau malu, Sayang?" tanya Leon sambil tersenyum miring.


"Sudahlah, aku mau istirahat." Liora berdiri dan langsung berjalan meninggalkan mereka yang sedang menatapnya dengan harap.


"Apa-apaan?" teriak Arya marah. Jiwa penasarannya meronta-ronta, seperti sedang menonton film. Pada saat klim*aks malah keluar tulisan bersambung, itu sungguh sangat menjengkelkan sekali.


"Gila ya!" Refleks Alex langsung memukul bibir Arya yang kelewat nyaring, sudah malam begini malah teriak-teriak.


Arya tetap saja mengomel karena Liora pergi begitu saja tanpa menceritakan apa-apa pada mereka, tentu saja membuat darah rendahnya menjadi naik.


"Sudahlah, dia terlalu malu untuk menceritakannya," ucap Leon dengan tersenyum. Dia sudah gemas melihat wajah merah sang adik tadi.


"Tapi nona baik-baik sajakan?" Zarga masih saja berkiblat dijalan yang salah, sepertinya dia harus dapat penjelasan dari dewa cinta.


"Astaga Zarga. Sebenarnya kau ini kenapa sih? Liora itu enggak sakit." Arya sang dewa cinta memulai les percintaan.


"Tapi-"


"Kalau seseorang sedang jatuh cinta memang seperti itu, wajahnya akan memerah karena malu. Apalagi tadi dia habis melewati malam bersama Vero, pasti hatinya sangat bahagia karna itu dia malu menceritakannya pada kita," jelas Leon pada Zarga, sepertinya dia juga ahli dalam hal percintaan.


Zarga menyimak dengan seksama. dia mencoba memahami apa yang diucapkan Leon. Cinta memang seperti itu, tidak bisa dipikirkan dengan logika. Semua hanya menggunakan hati. Jika tidak merasakan, tidak akan mengerti.


"Oh iya, ada yang lebih penting dari itu," ucap Leon tiba-tiba. "Lusa Liora ulang tahun." Dia memberitahu.


"Kita akan mengadakan pesta yang sangat meriah untuknya," ucap Leon lagi dengan semangat.


Untuk pertama kalinya dia bisa merayakan ulang tahun sang adik sejak dia sembuh, maka dari itu Leon ingin menyiapkan semua yang terbaik untuk pesta ulang tahun itu.


Sedangkan yang lain melihat Leon dengan tatapan nanar, getir, kekecewaan tergambar jelas diwajah mereka.


"Ada apa?" Leon bingung melihat respon mereka. Seharusnya mereka merasa senang karena ulang tahun nona mudanya.


"Leon." Arya tidak tau harus bagaimana mengatakannya, dia merasa tidak tega.


"Apa yang terjadi?" Leon merasa ada sesuatu yang terjadi pada sang adik.


Semua diam. Mereka tidak tau harus berkata apa, akhirnya Arya yang menceritakan semuanya pada Leon.


Sejak kejadian kelam menimpa keluarga itu, mereka tidak pernah lagi merayakan ulang tahun Liora. Bahkan Liora pun akan terlihat sangat buruk pada hari itu. Pernah sekali mereka berencana untuk memberi kejutan pada Liora, tapi hasilnya wanita itu malah mengamuk dan menghancurkan seisi rumah seperti orang gila. Dia akan meraung-raung meratapi kematian kedua orang tuanya, bahkan pernah Liora ingin menghabisi dirinya sendiri.


Ulang tahun adalah hari di mana orang lain akan merasa sangat bahagia, tapi tidak untuk Liora. itu adalah hari yang sangat buruk untuknya, karena dihari itulah dia kehilangan orang-orang yang dia sayangi. mentalnya terus terguncang dihari itu, kejadian itu akan terus membekas dalam ingatannya karena itulah mereka tidak pernah merayakan hari ulang tahun nona muda mereka.


Leon mendengarkan semua yang dikatakan oleh Arya. Air matanya tumpah tak bisa di tahan. Rasa sakit menjalar diseluruh hati, jiwanya terguncang mengetahui fakta tentang kondisi sang adik tercinta.


"Tuan." Alex langsung memegang lengan Leon yang terasa sudah hampir ambruk, laki-laki itu benar-benar syok mendengar semuanya.

__ADS_1


"Lioraku," ucap Leon dengan sendu. "Bagaimana selama ini dia menjalani hari-harinya?" Dengan bergetar diringi tetesan air mata Leon menatap mereka yang tengah tertunduk saat ini.


"Nona sudah jauh lebih baik, Tuan." Alex menjawab pelan ucapan tuan mudanya. Jika harus menjelaskan kondisi nona mudanya dulu, itu akan sangat menyayat hati.


Leon menangis meratapi kepedihan yang dirasakan Liora. Selama ini dia tidak tahu kalau Leora sangat menderita. Ketika dia sadar, hanya senyum indah yang terbit diwajah sang adik untuknya. Dia tidak melihat luka yang selama ini disembunyikan jauh dilubuk hati terdalam gadis itu.


"Kenapa kalian tidak mengatakannya padaku?" Leon memukuli dirinya sendiri yang tidak ada disisi sang adik disaat terberatnya.


"Hentikan, Tuan. Apa yang Anda lakukan?" Alex menahan tangan Leon yang terus memukuli dirinya sendiri, begitu pula Zarga dan Arya yang berusaha untuk menenangkannya.


"Hentikan, Leon. Kuu mau Liora melihat semua ini?" bentak Arya. Dia langsung menarik tangan Leon dengan kuat sampai tubuh laki-laki itu terguncang.


Benar, mereka baru ingat tentang Leora. Gadis itu sebentar lagi pasti akan turun ke bawah mendengar keributan yang sedang terjadi. Kalau sampai Liora melihat semuanya, mereka takut terjadi sesuatu.


Para pelayan dan pengawal melihat dari kejauhan. Mereka juga menjadi saksi hidup bagaimana menderitanya nona muda mereka saat kehilangan kedua orang tua. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya do'a yang terus mereka panjatkan untuk kebaikan tuan dan nona muda mereka.


Sedangkan Liora yang baru mulai terlelap mendengar ada keributan di bawah. Dia kembali membuka matanya dan bergegas turun untuk melihat sebenarnya apa yang sedang terjadi.


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar sang kakak. Ada Zarga dan juga Alex yang menghadang di depannya. Rupanya Alex dan Zarga langsung berlari ke arah kamar Liora.


"Ada apa?" tanya Liora pada mereka.


"I-itu Nona, ada tikus," ucap Zarga ngasal. Otaknya buntu memikirkan alasan untuk nona mudanya, sedangkan Alex mendelik marah. Bisa-bisanya Zarga membuat alasan tikus.


"Tikus?" tanya Leora heran. Seumur-umur dia tinggal di sini, baru kali ini mendengar ada tikus.


"Benar, Nona." Alex juga terpaksa mengiyakannya. Tidak mungkin jawaban dia dan Zarga berbeda.


"Biar ku lihat." Liora bersiap untuk turun ke bawah melihat apa yang terjadi, tetapi langsung dicegah oleh mereka.


"Lebih baik Anda kembali istirahat, maaf telah membangunkan Anda," tambah Alex mencoba meyakinkannya.


"Baiklah. Panggil pembasmi tikus supaya tidak ada lagi yang masuk ke rumah ini," perintah Liora sebelum dia kembali masuk ke kamarnya.


"Baik, Nona," jawab Zarga dan Alex bersamaan.


Huh, seperti habis perang melawan musuh. Alex dan Zarg baru bisa bernapas lega. Sedari tadi jantung mereka terus berdebar kencang, karena ini untuk pertama kalinya mereka berbohong pada nona mudanya.


Setelah memastikan Liora masuk ke kamarnya, mereka kembali turun kebawah untuk menemui Leon beserta yang lainnya. Kondisi Leon sudah terlihat tenang, tapi tatapan matanya masih berkabut penuh kesedihan.


"Kau adalah kekuatan terbesar yang dimiliki oleh Liora. Kalau kau seperti ini, bagaimana mungkin dia bisa hidup?" Arya memberi nasehat, dia tidak mau kejadian dulu terulang kembali.


"Kau lihat dia sekarang, dia udah jauh lebih baik. Bahkan sekarang dia sudah jatuh cinta, dia terlihat sangat bahagia. Apa kau mau menghancurkan kebahagiaannya?" tanya Arya dengan gemetar, dia yang bertanya dia pula yang meneteskan air mata.


"Dia sudah berubah semenjak kau sembuh, juga sejak kehadiran Vero dalam hidupnya. Dia sudah kembali hidup, dia sudah kembali ceria. Kalau kita tetap memberi semangat dan perhatian padanya, dia pasti bisa melupakan kejadian itu," tambah Arya lagi, dia memberi dorongan semangat untuk sahabatnya itu.


Leon mengangguk paham. Dia hanya belum bisa mengontrol emosinya saat ini, semua terlalu mengguncang jiwanya. Dia hampir saja kehilangan kewarasan.


"Maaf," ucap Leon pelan. Dia merasa bersalah karena telah berbuat seperti tadi.

__ADS_1


"Cih, dasar bod*oh."


__ADS_2