Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 15. Kehilangan Akal Sehat.


__ADS_3

Vero memekik kaget saat mendengar ucapan Liora, sampai membuat wanita itu juga terlonjak kaget akibat suara teriakannya. "Maaf." Dia merasa bersalah karena membuat gadis itu terlonjak dari duduknya.


"Ya Tuhan, apa-apaan sih dia ini? Kenapa tiba-tiba datang ke sini dan membuat orang kalang kabut kayak gini?" Vero ngedumel kesal, tetapi ya sejujurnya dia merasa senang juga.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Vero kembali setelah bisa mengendalikan emosi jiwa dan raganya.


Belum sempat Liora menjawab pertanyaan laki-laki itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu.


Ceklek.


Tanpa menunggu suara dari dalam, Nella langsung saja masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa pesanan yang diminta oleh Vero tadi.


"Ini kopi dan sandwich nya, Bos." Nella meletakkan makanan dan minuman itu di hadapan Vero. "Ini minuman dan makanan untuk Nona." Dia juga meletakkannya di hadapan Liora dengan sangat hati-hati.


Setelah meletakkan makanan dan minuman, Nella masih berdiri mematung ditempatnya dengan senyum cerah dan mata berbinar-binar.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Vero dengan heran. Kenapa pula karyawannya itu masih berdiri di situ dengan tersenyum lebar dan mata berbinar?


"Apa Nona pacarnya Bos?" Entah kepada siapa pertanyaan itu ditujukan, yang jelas membuat Vero dan Liora langsung menatap Nella dengan tajam.


"Hehehe." Tanpa rasa takut atau bersalah sama sekali, Nella masih cengengesan di tempatnya.


"Keluar!" Dengan wajah merah menahan malu, Vero memaksa karyawannya itu untuk keluar dari ruangannya, sementara Liora hanya menatap mereka dengan pandangan biasa saja.


"Huh, bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu." Vero merasa geram melihat tingkah karyawannya. Setelah berhasil menyeret karyawannya keluar, dia kembali duduk di hadapan Liora.


Krik, krik, krik.

__ADS_1


Kecanggungan pun terjadi. Tidak ada yang bersuara di ruangan itu, dan hanya suara detik jam yang saja yang terdengar.


"Si-silahkan diminum." Vero mempersilahkan Liora untuk menikmati makanan dan minuman yang tadi di bawakan oleh karyawan lucknutnya, entah kenapa saat ini dia merasa sangat canggung sekali.


"Rasanya aku ingin masuk ke dalam lubang semut saja."


Sementara itu, Liora hanya diam saja. Raut wajahnya bahkan tidak berubah seperti tidak ada yang terjadi, walau laki-laki yang ada di hadapannya sudah merasa malu setengah mati.


Liora lalu meminum minuman yang ada di hadapannya. "Aku harus pergi." Dia berkata sambil berdiri membuat Vero juga ikut berdiri.


"Kenapa pergi?" tanya Vero sambil menahan tangan Liora, dia memegang erat tangan wanita itu seakan Liora akan pergi untuk selamanya.


"Aku masih ada urusan," jawab Liora sambil menatapnya hangat.


Deg.


Liora menganggukkan kepalanya dan beralih meminta ponsel Vero, dia lalu mengetikkan nomor nya di sana. Tentu itu membuat Vero sangat senang, beribu bunga terasa bermekaran dihatinya dengan senyum lebar saat ini.


Vero mengantar Liora sampai ke pintu depan, dia melihat anak buah Liora tengah menunggu ke datangan mereka. "Hati-hati dijalan." Dia tersenyum dengan hangat.


Leora diam di tempatnya. "Boleh aku pergi?" Bukannya melangkah, Liora malah bertanya pada Vero.


"Tentu saja," jawab Vero sambil tetap terus tersenyum.


"Aku tidak bisa pergi kalau kau terus memegang tanganku,"


"Eh." Vero langsung melepas pegangan tangannya dengan wajah yang sudah merah padam menahan malu, sepertinya dia ingin tenggelam saja ke dasar bumi saat ini.

__ADS_1


Liora tersenyum simpul saat melihat wajah Vero, dia lalu melangkahkan kakinya menuju mobil. Dengan sigap, Alex membukakan pintu untuknya. Sebelum masuk ke mobil, Alex melihat kembali ke arah Vero. Lelaki yang sudah dia selidiki tentang semua seluk beluk kehidupannya.


Sementara itu, Vero hanya diam ditempat. Rasanya dia sangat malu sampai tidak sanggup untuk menegakkan kepalanya. "Dasar gila."


Setelah mobil Liora pergi, barulah Vero menegakkan kepalanya dengan menghela naoas kasar. Bisa-bisanya dia terus mempermalukan diri sendiri di hadapan wanita yang dia cintai. Tapi tunggu, sepertinya dia melupakan sesuatu.


"Dasar bod*oh, aku belum dapat jawaban kenapa tadi dia datang ke sini. Masak iya cum mau melihatku saja?" ucapnya kesal pada diri sendiri. Sepertinya dia memang benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya jika berhadapan dengan Liora.


Liora yang sedang dalam perjalanan menuju perusahaan tampak tersenyum geli. Dia merasa lucu dengan apa yang terjadi pada Vero, bisa-bisanya laki-laki itu selalu salah tingkah saat sedang bersamanya.


"Apa kita langsung ke perusahaan, Nona?" tanya Alex, membuat Liora beralih menatapnya.


"Tentu saja, aku sudah tidak ingin pergi ke mana pun."


Alex ikut tersenyum saat mendengar ucapan sang nona, dia ikut bahagia dengan apa yang nona mudanya rasakan saat ini dan berharap agar kebahagiaan itu tetap abadi.


Sesampainya di perusahaan, Liora dan Alex segera pergi menuju ruangan mereka. Hari ini Liora harus menyiapkan semua pekerjaannya sebelum sang kakak kembali bekerja, sekaligus menyiapkan sedikit penyambutan untuk kakaknya itu.


"Aku harap Kenzie segera menemukan siapa orang yang telah menyerangku, aku tidak mau Kakak berada dalam bahaya jika orang itu tahu tentang kesembuhannya. Aku yakin dia juga pasti akan menyerang kakak."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2