
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Alex, Zarga dan juga Kenzie berusaha keras untuk menemukan siapa pengkhianat yang bersembunyi diantara mereka.
Mereka terus menyelidiki setiap orang yang berada disekitar mereka, baik anggota Bloods maupun semua pelayan dan pengawal yang ada di rumah Liora. Perlahan namun pasti, usaha mereka terlihat sedikit menemukan titik terang.
Sama seperti mereka, hubungan Liora dan Vero juga perlahan semakin dekat. Mereka sering teleponan walau kadang hanya Vero yang asyik bercerita, sedangkan Liora diam mendengarkan. Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama disela-sela padatnya kegiatan wanita itu.
Seperti hari ini. Vero mengajak Liora untuk makan siang bersama, terlihat dia sudah menunggu wanita itu di ruangan salah satu restoran.
"Maaf aku terlambat," ucap Liora sambil masuk ke dalam ruangan dengan ditemani oleh Zarga, tentunya yang selalu setia berada disisinya.
Melihat Liora sudah masuk, Zarga pun memilih untuk kembali keluar. Dia tidak mau menjadi obat nyamuk di dalam ruangan itu.
Senyum merekah terbit dibibir Vero saat melihat wanita pujaannya telah datang, dia langsung menarik kursi untuk di duduki oleh Liora.
"Tidak apa-apa," balas Vero sambil ikut duduk di hadapan gadis itu.
"Kau terlihat sangat lelah, Liora," ucap Vero saat melihat kantung mata Luora yang sedikit menghitam.
"Ah ya, seperti biasanya," jawaban yang selalu dilontarkan oleh Liora.
Vero paham pasti banyak pekerjaan yang harus Liora lakukan. Namun, wanita itu akan jatuh sakit jika terus memaksakan diri.
"Maaf udah ganggu waktu istirahatmu," ucap Vero yang merasa bersalah sudah mengajak Liora untuk bertemu.
"Tidak papa, aku senang bertemu denganmu," ucap Liora sambil tersenyum tipis.
Senyum itu lah yang selalu melemahkan hati Vero, membuat dia enggan untuk berpaling pada wanita yang lain.
Kemudian mereka menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji di hadapan masing-masing.
"Oh ya, gimana kabar tuan Leon?" tanya Vero disela-sela makannya.
"Kakak baik,"
"Syukur lah." Vero senang mendengar kabar tentang kakak kandung Liora.
Setelah selesai menikmati hidangan, terlihat Liora sudah bersiap untuk pergi kareba masih ada jadwal lain yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Em ... Leora!" panggil Vero dengan pelan, dia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.
Liora menoleh ke arah Vero, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh laki-laki itu padanya.
"Apa nanti malam kau sibuk?" tanya Vero dengan harap-harap cemas.
"Kenapa?" jawaban seperti mana biasanya.
"Em ... nanti malam Sally ulang tahun. Aku ingin mengajakmu untuk menghadiri pestanya!" ajak Vero penuh harapan.
Liora diam tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi kalau kau sibuk, aku enggak maksa," kata Vero lagi dengan raut wajah sedih.
Bagaimana mungkin Liora bisa menolaknya kalau dia memasang wajah sedih dan menggemaskan seperti itu? Hati Liora sudah ketar ketir sendiri melihat ekspresi wajah Vero.
"Akan ku kabari nanti," itulah jawaban yang terlontar dari mulut Liora
"Baiklah." Perasaan Vero serasa digantung saat mendengarnya.
Kemudian Liora dan Zarga kembali ke perusahaan, sedangkan Vero masih betah berada di ruangan itu. dia sedang melamun ditempatnya. entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Kau mau buat jantungku keluar?" jerit Vero dengan kesal.
"Lagian kau lagi mikirin apa sih, sok serius?" tanya Samuel
"Entahlah." Jawaban frustasi Vero yang membingungkan lawan bicaranya.
Samuel menatap aneh pada Vero. Bukannya seharusnya dia merasa senang, karena habis bertemu dengan Liora? itu lah yang terlukis di wajahnya. "Kenapa sih?" Dia kembali bertanya.
"Berhenti bilang entahlah entahlah," ucap Samuel dengan kesal. "Kau kan baru jumpa sama pujaanmu, kenapa malah melow gini?"
"Aku kan kayak gini gara-gara dia," jawab Vero yang benar-benar sedang merasa frustasi.
Samuel menghela napas kasar. Tidak tahu entah apa yang terjadi pada mereka, yang jelas dia tidak mau sampai terjadi sesuatu.
"Sebenarnya apa sih, hubunganku dengannya?" Vero merasa sedih. Rupanya sedari tadi inilah yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Maksudmu?" Samuel belum bisa menangkap maksud dari ucapan Vero.
"Aku belum pacaran sama dia," ucap Vero langsung pada Samuel.
"Loh, jadi masalahnya apa?" Samuel jadi bingung dan terheran-heran.
"Kau kan cinta sama dia." Samuel mencoba untuk mengerti maksud Vero.
"Itukan beda sih, kau gak akan ngerti." ketus Vero padanya.
"Si*alan. aku kan gak ngerti kayak gitu karna harus selalu melindungimu." batin Samuel meronta-ronta. Dia memang tidak punya waktu untuk mengurusi masalah percintaan.
"Terus apa masalahnya pacaran atau enggak? Yang pentingkan saling cinta," ujar Samuel.
"Hais. aku kan butuh kepastian. Harus pacaran dulu dong biar nanti aku bisa melamar dia." ucap Vero sambil menyandarkan tubuhnya.
"Apa, melamar?" teriak Samuel kala mendengar ucapan Vero.
"Dasar gila. Kau mau buat gendang telingaku pecah." Vero mengusap-usap telinganya yang sedikit berdengung akibat teriakan Samuel.
Samuel kaget mendengar Vero mengatakan soal lamaran pada Leora. dia tidak menyangka kalau hubungan mereka akan berkembang secepat ini.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan pada tuan?" Samuel merasa bingung. "Lagian kenapa dia bisa berubah sampai kayak gini sih?" Dia benar-benar tidak habis pikir melihat perubahan dalam diri Vero. lelaki yang dulu dia ketahui berhati dingin dan keras, sekarang malah terlihat seperti anak kecil.
"Hey!" Vero mengguncang tubuh Samuel karna sedari tadi dipanggil tapi tidak ada jawaban.
"Apa, kenapa?" Refleks Samuel berdiri karna kaget akibat guncangan Vero.
"Dari tadi dipanggil gak nyahut. Ayo pergi!" omel Vero sambil melangkah pergi dari ruangan itu. Samuel pun mengikuti langkah Vero, tapi pikirannya masih tetap terfokus pada kata "melamar" yang diucapkan Vero tadi.
"Aku harus segera melapor pada tuan." Samuel menghela napas kasar. Selama ini dia memang tidak pernah melaporkan soal kedekatan Vero dan Liora. Dia hanya melaporkan soal kondisi Vero pada tuannya, tetapi kali ini sepertinya dia memang harus memberi laporan soal kedekatan Vero dan juga Liora.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.