
Setelah keluar dari apartemen Samuel, Vero melajukan mobilnya menuju apartemennya sendiri. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam, tapi matanya tidak terlihat mengantuk. Apalagi setelah melihat kejadian tadi, matanya makin terbuka lebar.
"Kenapa dia selalu saja mengganggu hidupku?" Vero merasa frustasi, bagaimana mungkin ayahnya masih saja ikut campur dalam kehidupannya? "Tidak bisakah dia membiarkan aku hidup tenang?" Ingin rasanya dia memborbardir ayahnya sendiri, rasa benci yang bersarang dihatinya sudah sangat tebal.
Padahal sudah bertahun-tahun lamanya dia pergi dari kehidupan sang ayah, tetapi ayahnya masih saja mengganggu seperti ini.
☆☆☆
Pagi kembali datang, di kediaman Liora terlihat semua sudah berpakaian rapi. Ada yang mau kekantor, rumah sakit, dan juga markas. Pokoknya mereka semua sangat sibuk sekali hari ini.
"Gimana acara makan malammu tadi malam, Liora. Lancar?" tanya Arya sambil menyuapkan sandwich ke dalam mulutnya, mereka sedang menyantap sarapan bersama saat ini dengan semua orang.
"Hem." Liora hanya berdehem saja untuk menjawab ucapan Arya.
"Liora, kakak mendengar semua yang diucapkan Marvel padamu," sela Leon tiba-tiba. Rupanya tadi malam dia mendengar ancaman yang dilayangkan Marvel untuk adiknya itu. "Kita harus membatalkan pernikahanmu. Bagaimana mungkin calon suamimu mengancammu kayak gitu?" Dia terlihat emosi. Dia ingin sekali menjambak bibir Marvel saat mengatakannya malam tadi.
"Sudahlah," ucap Liora dengan santai. Dia malah asyik mengambil sandwich keduanya tanpa menganggap serius ucapan sang kakak.
Semua yang ada di sana menjadi bingung saat melihat Liora sangat santai, bahkan raut wajah gadis itu tidak berubah sama sekali.
"Benar, Nona. Kita harus membatalkannya," tambah Alex, dia juga setuju dengan ucapan yang Leon katakan.
"Hem." Entah apa yang sedang Liora pikirkan saat ini, dia terlihat malas membahas masalah tentang Marvel.
"Ada apa dengannya?" batin Arya merasa sangat penasaran.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Arya, dia merasa sepertinya ada yang sedang terjadi pada gadis itu.
"Vero mengatakan akan membatalkan pernikahanku."
Deg.
Semua orang merasa sangat kaget saat mendengar ucapan Liora, bahkan Arya dan Leon sampai berdiri dari duduk mereka. Mereka bertanya-tanya kenapa Vero bisa sampai bicara seperti itu pada Liora.
"Kapan dia mengatakannya?" tanya Leon dengan tajam.
__ADS_1
"Tadi malam, dia ikut makan malam bersama kami," jawab Liora, membuat mereka semua semakin merasa heran.
Hah, apalagi ini? Makan malam bersama, kok bisa? Pikiran mereka semua dipenuhi dengan tanda tanya besar atas apa yang Liora ucapkan.
"Tapi Liora, tumben kau cerita pada kami?" ucap Arya dengan heran, akhir-akhir ini 'kan Liora selalu bersikap dingin sedingin kutub utara pada semua orang.
"Aku sedang senang," jawab Liora dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Leon dengan penasaran dan juga khawatir.
"Yah karena ucapan Vero, dan aku menantikan semua itu. Aku ingin lihat bagaimana cara Vero membatalkan pernikahanku dan Marvel."
Malam itu, setelah Marvel pulang. Liora segera masuk ke kamarnya. Dia terus teringat apa yang terjadi antara dia dan Vero tadi, hatinya terasa berbunga-bunga. Namun, dia juga merasa takut. Bagaimana kalau sampai Marvel tahu dan melakukan sesuatu pada Vero, atau bahkan pada keluarganya?
Itulah yang terlintas dipikirannya. Namun, apa mungkin dia tidak bisa melawan Marvel. Dia sudah jauh berkembang dari yang dulu, entah kenapa jiwa nya kembali bergelora. Baiklah, dia akan mengikuti alur yang terjadi. Dia akan membiarkan Vero melakukan apapun, tapi kalau sampai itu mengancam jiwanya maka dia juga akan bertindak.
"Selamat pagi semuanya!" tiba-tiba teriakan cetar membahana memenuhi ruangan yang sedang mereka tempati saat ini, membuat semua orang terkesiap.
Semua mata langsung melihat ke arah sumber suara yang sudah membuat keramaian di pagi hari ini.
"Kok, sapaanku tidak ada yang menjawab sih?" tanya Maily dengan sebal. Dia langsung duduk di samping Zarga begitu saja. Sepertinya gadis itu sudah menganggap rumah mereka sebagai rumahnya sendiri.
"Ngapain kau pagi-pagi bikin keributan di rumah orang lain, hah?" tanya Leon dengan tajam, entah kenapa emosinya selalu meledak-ledak saat melihat wajah gadis itu.
Sementara Maily, dia sama sekali tidak peduli. Dia mengacuhkan ucapan Leon dan malah beralih berbicara pada Liora.
"Kakak ipar, hari ini temani aku ke mall, yuk!" ajak Maily pada Liora sambil mengambil sandwich yang ada dihadapan Zarga, lalu mulai memakannya.
"Hah, lucu sekali sih gadis ini." batin Zarga merasa gemas sendiri saat melihat Maily.
"Maaf Maily, hari ini aku ada meeting di kantor," ucap Liora dengan sedikit mengulas senyum.
"Kalau kak Alex, gimana?" tanya Maily sambil melihat ke arah Alex.
"Uhuk uhuk uhuk." Alex langsung tersedak lidahnya sendiri saat mendengar Maily menyebut namanya. Dia merasa heran, kenapa harus selalu dia yang disebut?
__ADS_1
"Kak Alex, kok diam aja sih? mau ya?" Entah kenapa Maily merasa dekat dengan Alex, padahal ini Alex loh, lelaki yang sangat dingin dan kejam dimata semua orang.
"Maaf, Nona. Saya sibuk." tolak Alex mentah-mentah., kenapa dia harus menemani Maily ke mall?
"Kalau kakak?" kata Maily lagi pada Zarga,
"Saya juga sibuk, Nona," jawab Zarga.
"Hey, apa tidak ada orang di rumahmu yang mau menemanimu belanja?" tanya Leon dengan sarkas, dia merasa sebal melihat tingkah Maily yang sok dekat dengan mereka semua.
"Diam kau, aku tidak bicara denganmu!" Maily langsung membuang muka dengan kesal.
"Kenapa enggak ke mall bareng Marvel saja?" tanya Arya, dia yang sedari tadi menahan geli karena melihat interaksi antara Leon dan Maily.
"Huh, dia mah gak bisa diharapkan," ucap Maily, kakaknya itu memang selalu super duper sibuk.
"Teman-temanmu?" tanya Arya lagi.
"Duh, aku gak mau sama mereka. Bocah semua."
"Lah, dia sendirikan juga masih bocah," teriak mereka semua di dalam hati.
"Ya sudah, sama Leon aja sana. Dia lagi gak ada kerjaan tuh," ucap Arya sambil tertawa geli, membuat Leon langsung menatapnya dengan tajam.
"Iya benar, sama kak Leon saja," sambung Liora, entah kenapa dia suka melihat wajah marah sang kakak.
"Huh, gak sudi aku," jawab Maily dengan cepat.
Mendengar jawaban gadis itu, seketika kepala Leon berasap. Dia sudah ketar ketir menahan emosi saat ini.
"Sini kau!" Leon langsung menarik tangan Maily dan membawanya entah ke mana, membuat semua orang tergelak di tempat itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Maily memberontak sambil mencoba melepaskan tarikan tangan Leon di lengannya.
Sementara yang lain melotot tidak percaya melihat perbuatan Leon mereka semua langsung beranjak mengikuti ke arah Leon dan Maily pergi.
__ADS_1
Para pelayan dan pengawal yang melihat kejadian itupun juga merasa tidak percaya, dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi. Baru kali ini mereka melihat tuan mudanya menjadi seperti itu.