Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 60. Lelaki Di Masa Lalu.


__ADS_3

Semua keluarga Leon sudah berkumpul du rumah sakit, mereka semua terlihat bingung dengan penjelasan Maily, Arya segera keluar ruangan untuk menemui dokter dan bertanya langsung padanya.


"Maily, coba kau ceritakan apa yang terjadi," perintah Marvel pada sang adik.


Kemudian Maily pun menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal. Mulai dari mereka berangkat ke mall sampai insiden pingsannya Leon karena membawa belanjaannya.


"Beraninya dia tidak memberi makan adikku," sarkas Marvel. Dia geram saat Maily bilang sedang lapar tetapi Leon tidak mau berhenti di restauran.


Liora dan semua anggotanya saling pandang saat mendengar ucapan Marvel, apa jadinya kalau sampai Marvel tau kejadian di rumah mereka tadi pagi?


"Jadi, tuan muda bertabrakan dengan seorang pria dan setelah itu pingsan?" tanya Alex. Dia tidak menghiraukan ucapan Marvel tadu dan persetan dengan semua itu.


"Iya Kak Alex, tapi aku juga gak tau pasti karena lagi beli es krim," jawab Maily dengan jujur. Dia sempat melihat saat Leon bertabrakan, tetapi tidak tahu pasti apa yang terjadi.


"Maily, lain kali hati-hati kalau ada di tempat keramaian." Marvel kembali mengingatkan sang adik, terlihat Maily mengangguk paham walau gadis itu selalu saja melupakan ucapannya.


"Em ...." erangan kecil lolos dari mulut Leon yang langsung membuat fokus semua orang tertuju padanya.


"Kakak!" panggil Liora, dia menggenggam erat tangan Leon.


Sementara itu, Maily juga ikut menggenggam tangan Leon yang sebelahnya lagi membuat semua yang ada di tempat itu saling pandang dengan bingung dan tidak mengerti.


"Sstt, Maily. Apa yang kau lakukan?" tanya Marvel dengam berbisik, dia menyenggol lengan sang adik saat melihat apa yang adiknya lakukan.


"Kakak, di depan orang sakit tidak boleh ribut," balas Maily dengan tatapan tajamnya.


Apa? Mereka semua tidak habis pikir saat mendengar ucapan gadis itu. Terutama Marvel, dia sedang berpikir keras kenapa bisa punya adik sepertinya.


Terlihat Leon mencoba untuk membuka matanya. â‚©erlahan namun pasti, akhirnya dia kembali sadar dan memperhatikan semua orang yang sedang menatapnya dengan khawatir.


Liora langsung memeluk Leon dengan erat. Rasa takut menjalar diseluruh tubuhnya, tapi lagi-lagi Maily ikut-ikutan memeluk Leon yang langsung membuat Leon membulatkan matanya dan tersentak kaget.

__ADS_1


Merasa sudah habis kesabaran melihat tingkah Maily, Marvel langsung menarik tangan gadis itu untuk keluar dari ruangan membuat Maily memekik minta dilepaskan.


"Kakak, lepaskan aku!" teriak Maily sambil mencoba melepaskan tarikan tangan kakaknya.


"Kau itu ya, ngapain buat ribut di sini?" Marvel melepaskan tarikan tangannya saat sudah berada di luar ruangan, membuat Maily mendelik marah. "Udah, sekarang lebih kau pulang." Perintahnya kemudian dengan tajam.


"Gak mau," tolak Maily dengan tidak kalah tajam dari sang kakak. "Aku mau menemani Leon." Dia berucap dengan serius dan kembali masuk ke ruangan itu tanpa memperdulikan ucapan sang kakak.


Marvel menatap Maily dengan helaan napas lelah, rasanya semua energi habis hanya untuk mengurusi adiknya itu. Baiklah, terserah Maily saja mau bagaimana, mampus dia situ pikirnya.


"Bagaimana perasaan Anda, Tuan?" tanya dokter paruh baya yang memeriksa Leon tadi.


"Saya baik, Dokter. Hanya sedikit pusing saja," jawab Leon dengan senyum tipis.


"Maaf sebelumnya, apa Anda pernah kehilangan ingatan?" tanya dokter itu lagi membuat Leon langsung menganggukkan kepalanya. "Sepertinya anda terlalu banyak berpikir, Tuan Dan anda juga terus mencoba untuk mengingat masa lalu yang anda lupakan itu." Dia menjelaskan alasan kenapa Leon bisa sampai pingsan.


Leon terdiam saat mendengar ucapan Dokter, dia kimi mencoba untuk mengingat kembali apa yang sedang terjadi beberapa saat yang lalu.


"Tuan, tolong jangan memaksanya." Dokter itu mencoba untuk menenangkan Leon, dan berusaha agar laki-laki itu tidak kembali mengingat memori kenangan yang hilang.


"Tidak, kepalaku sakit bukan karena aku mencoba untuk mengingat. Tapi karena muncul seseorang dari masa laluku yang membuat kepalaku terasa sangat sakit," ucap Leon sambil meringis akibat kepalanya yang terus berdenyut sakit.


Apa yang Leon ucapkan itu tentu membuat semua orang yang berada di sana menjadi kaget, mereka semua saling pandang dengan pikiran yang sama.


"Apa ada kaitannya dengan tragedi itu?" tanya Arya dengan tajam, terlihat yang lain juga punya pemikiran yang sama dengannya.


"Apa lelaki yang nabrak kau tadi?" tanya Maily yang juga sudah kembali ke dalam ruangan itu.


Seketika Leon menganggukkan kepalanya. Memang dia merasa tidak asing dengan wajah lelaki tadi, lalu ingatan demi ingatan terus bermunculan dikepalanya membuat dia merasa pusing dan berakhir dengan tida sadarkan diri.


"Tapi tunggu, kenapa kau selalu bicara tidak formal padaku?" tanya Leon sambil menatap Maily dengan tajam, wanita itu sangat tidak sopan sekali padanya. Padahal dari segi umur mereka berbeda jauh.

__ADS_1


"Hah, memangnya kenapa? Kita 'kan keluarga," jawab Maily dengan tidak mengerti.


"Keluarga? dalam mimpimu," bantah Leon.


Akhirnya mereka kembali lagi seperti adegan tadi pagi, perselisihan pun dimulai. Mari siapkan soda dan popcron untuk menontonnya.


Sedangkan Marvel yang baru melihatnya, merasa sangat kaget. Matanya sampai membulat sempurna dengan mulut menganga lumayan lebar, bagaimana mungkin adiknya bisa sedekat itu dengan Leon?


"Sudah-sudah." Liora memilih untuk menengahi mereka, sedangkan Leon dan Maily saling membuang muka dengan penuh kekesalan.


"Kenapa kakakku bisa kekanak-kanakan gini sih?" batin Leora bertanya-tanya, sungguh dia tidak menyangka sekali.


"Ada apa dengan Leon? Kenapa dia malah seperti bocah?" Arya juga tak habis pikir saat melihat sikap Leon.


Begitu juga dengan mereka semua yang tidak menyangka kalau Leon memiliki sifat seperti itu, benar-benar sangat mengejutkan sekali.


"Oh ya, kapan aku bisa pulang?" tanya Leon pada Dokter.


"Jika infusnya sudah habis, maka Anda sudah diperbolehkan pulang, Tuan. Kalau gitu saya permisi," ucap Dokter itu sambil berlalu keluar dari ruangan itu.


"Tapi apa tidak apa-apa?" tanya Liora kembali dengan khawatir.


"Tidak papa, Nona. Tuan Leon hanya perlu banyak istirahat, dan juga jangan memaksa untuk mengingat ingatan yang belum kembali. Karena cepat atau lambat ingatan itu akan datang dengan sendirinya," jelas Dokter itu sambil berlalu dari pergi dari sana.


"Jadi, bagaimana?" tanya Arya, dia kembali menyinggung ucapan Leon tadi.


"Aku sudah mengingatnya, aku sudah mengingat kejadian itu," jawab Leon. Tatapan matanya sangat tajam, menyiratkan rasa sakit yang teramat dalam.


"Baiklah, kita bahas itu di rumah saja," ucap Liora. Dia tidak mau ada orang lain yang mendengar perkataan mereka.


Setelah infus yang terpasang ditangan Leon habis, mereka segera bersiap-siap untuk pulang. Marvel dan Maily mengikuti mereka karena desakan Maily yang penasaran dengan ucapan Leon tadi. Padahal Leon sudah melarangnya setengah mati, tapi apalah daya. Maily benar-benar tidak terlawan.

__ADS_1


__ADS_2