Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 30. Musuh Dalam Selimut.


__ADS_3

Semua yang ada diruangan itu hanya bisa diam saat melihat kejadian yang ada di depan mata mereka saat ini. Sungguh seperti tidak ada kehidupan di sana.


Liora memberontak dipelukan Leon tetapi Leon tetap memeluknya dengan erat.


"Lepaskan aku," teriak Liora sambil mencoba melepaskan pelukan sang kakak.


"Tidak, Sayang. Tetap seperti ini." Leon berusaha untuk meredam amarah yang sedang menguasai adiknya saat ini.


Melihat kesempatan ada di depan mata, membuat Geo tidak ingin melewatkannya. Dia mengambil pistol yang ada disakunya, kemudian dengan cepat menarik pelatuk dan mengarahkannya tepat dikepala Leon.


Buak.


Alex berhasil menendang tangan Geo yang memegang pistol sebelum dia berhasil menembak Leon, sedangkan Zarga langsung menghajar Geo yang sudah tersungkur di lantai.


"Bajing*an, bre*ngsek." Semua anak buah Liora terlihat sangat emosi, mereka menghajar habis Geo  secara membabi buta.


Vero dan Samuel yang melihat itu pun ikut tersulut emosi. Bisa-bisa nya dalam posisi seperti itu dia masih nekat ingin membunuh Leon.


"Hentikan!" ucap Liora tegas pada semua anak buahnya.


Mendengar suara Liora membuat mereka langsung menghentikannya. Terlihat Geo sudah seperti antara hidup dan mati sangat mengenaskan.


"Kenapa Anda menghentikannya Nona, bunuh saja saya," ucap Geo sambil menampilkan senyum sinisnya.


Dia kembali menyiram bensin diatas bara api yang masih menyala-nyala dengan besarnya. Alex mencekik lehernya dengan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Membunuhmu? haha tidak semudah itu bre*ngsek," ucap Liora dengan dibumbui tawa yang sangat menyeramkan.


Glek.


Semua anak buah Liora bergidik ngeri mendengar ucapannya, kalau boleh memilih lebih baik mati dari pada harus disiksa sampai berharap bisa mati saja.


"Bawa dia ke bawah!" perintah Liora pada anak buahnya.


"Baik, Nona." Zarga segera menyeret lelaki itu untuk ke ruang bawah tanah. Ruangan di mana tempat mereka menyiksa para musuh-musuh Liora.


"Sayang,"


"Pulanglah bersama kak Arya, Kak. Aku masih mau di sini," potong Liora sambil berlalu meninggalkan Leon.


Leon menatap punggung sang adik dengan sedih, dia tidak mau pergi dari tempat itu. Dia ingin langsung melihat bagaimana Liora membereskan pengkhianat itu, tetapi hatinya lemah. Dia tidak sanggup melihat Liora menyiksa orang lain.


"Ayo, kita pulang!" ajak Arya padanya.


"Tapi aku mau bersama Liora," ucap Leon masih melihat ke arah Liora pergi.

__ADS_1


"Sudahlah, dia bersama Alex dan yang lainnya. Lebih baik kita pulang." Arya tau kalau Liora tidak ingin kakaknya melihat apa yang akan dia lakukan, jika tadi Leon tidak berada di sana, sudah pasti pengkhianat itu habis disiksa oleh Liora.


"Tapi-"


"Sudah, ayo!" ajak Arya lagi sambil menarik paksa tangan Leon. Dengan berat hati dia pergi bersama Arya meninggalkan tempat itu.


"Lebih baik Anda juga pulang, Ruan," ucap Alex pada Samuel dan juga Vero.


"Kenapa?" Vero tidak terima kalau disuruh pulang begitu saja. Dia ingin tetap di samping Leora saat ini.


"Silahkan, Tuan," ucap Alex mempersilahkan mereka untuk keluar tanpa menghiraukan pertanyaan dari Vero.


"Aku tidak akan pergi dari sini," ucap Vero tegas sambil menatap tajam Alex.


"Hey, apa yang kau lakukan?" Samuel ketar ketir sendiri, jangan sampai terjadi masalah antara Alex dan Vero.


"Anda siapa?" pertanyaan yang tepat menusuk ke jantung Vero.


Seketika dia diam mendengar pertanyaan Alex. Benar, dia tidak ada hubungan apa pun dengan Liora, bahkan dia lupa tentang apa yang ingin dia sampaikan pada Liora karena penyerangan itu.


"Ayo, kita pergi." Samuel memilih jalan aman, walau penasaran tapi lebih baik mereka pulang sebelum terjadi masalah yang lain.


"Pokoknya aku akan tetap di sini." Vero bersikukuh untuk tetap berada di sana. "Aku memang bukan siapa-siapa Liora, tapi aku mencintainya. dan penyerangan itu berhubungan denganku. karna aku yang ada disana bersamanya."


"Benar, karena ajakan andalah nona muda kami sampai terluka."


Kali ini ucapan Alex benar-benar tepat sasaran. Bibir Vero bergetar ingin menjawab ucapan laki-laki itu tapi dia benar-benar tidak bisa mengucapkan satu kata pun untuk membalasnya.


Melihat ketegangan yang ada dihadapannya, Samuel tidak tau harus melakukan apa. Seharusnya dia senang karna sepertinya Alex tidak menyetujui hubungan Vero dan Liora, sehingga itu akan lebih memuluskan jalannya untuk memisahkan mereka. Tapi hati kecilnya merasa tidak tega. walaupun dia mendekati Vero hanya karna tugas dari tuannya, tapi selama bertahun-tahun berteman dengan Vero dia benar-benar merasa bahagia. dia benar-benar menganggap Vero sebagai sahabat yang dia sayangi dan dia jaga dengan nyawanya.


"Udah lah Ver, lebih baik kita pergi. Nona Liora pasti semakin sedih kalau melihat kau kayak gini." Samuel berusaha untuk membujuk Vero. terlihat lelaki itu sedang mencerna ucapannya.


Tanpa mengatakan apa-apa, Vero berjalan keluar meninggalkan tempat itu diikuti oleh Samuel. dia berpikir mungkin apa yang dikatakan oleh Samuel ada benarnya. Dia tidak mau menambah masalah untuk orang yang dia cintai.


Alex memandang kepergian mereka sampai mereka sudah tidak terlihat lagi. "Nona, maafkan kelancangan saya. Saya hanya berharap semua akan baik-baik saja untuk nona." Alex benar-benar khawatir dengan keadaan disekitar nona mudanya.


Sedangkan di ruang eksekusi, Zarga sudah mengikat Geo disebuah besi. Tangannya diikat ke masing-masing tali yang ada disisi kanan dan kiri. Geo berdiri tepat di hadapan Leora.


Dia memandang Liora dalam. Entah apa yang sedang dia pikirkan.l, terlihat dia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Anda benar-benar cantik, Nona," ucap Geo pelan pada Liora. Sungguh manusia yang tidak takut mati, padahal nyawanya sudah diujung tanduk tapi masih sempat-sempatnya memuji wanita yang akan membunuhnya.


"Diam kau!" teriak Zarga sambil mencengkram lehernya.


"Hahah untuk apa kau marah, aku hanya mengatakan fakta saja," jawabnya enteng dibumbui dengan tawa.

__ADS_1


"Kau-" Zarga tidak bisa meneruskan ucapannya karna dipotong oleh Leora.


"Sudah selesai?" tanya Liora sarkas pada Geo. mata elangnya pun menatap tajam pada manusia yang ada dihadapannya. Kemudian dia berjalan untuk mendekat kearah pengkhianat itu.


"Kira-kira, hukuman apa yang cocok untukmu?" tanya Liora sambil memainkan pisau yang ada ditangannya.


"Langsung saja bunuh saya, Nona." walau sudah babak belur seperti itu, Geo masih saja bisa menjawab perkataan Liora.


"Bunuh? Kau bahkan belum bersenang-senang kan?" Suara tajam Liora benar-benar mampu menggetarkan semua yang ada disana.


"Cambuk dia!" perintah Liora sambil tetap menatap tajam lurus kedepan.


2 orang anggota Bloods langsung menyiapkannya dan mencambuk Geo.


"Aarghh." Teriakannya menggema diruangan itu tapi tidak bisa meredam amarah atas apa yang telah dia lakukan.


Terlihat Alex sudah masuk kesana dan berdiri disamping Liora. Tiba-tiba pisau yang dipegang Liora tadi terlempar ke arah Geo dan langsung tertancap dilengannya.


"Aarrgghh," teriaknya lagi, darah sudah keluar dari tubuhnya.


"Kalian lihat saja, tuanku pasti akan membunuh kalian semua," ucapnya pelan menahan sakit yang ada ditubuhnya.


"Benarkah?" tanya Alex dengan senyum sinisnya.


"Telinga inikan yang kau pakai untuk menguping pembicaraan kami?" tanya Alex dengan memainkan daun telinga yang baru diirisnya.


"Baji*ngan!" teriak Geo tajam kearah Alex.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Alex padanya.


"Walau aku mati pun, aku tidak akan mengatakannya," jawab Geo.


"lalukan apapun untuk menghukumnya. buat dia sampai memohon agar dibunuh," perintah Liora sambil pergi keluar dari ruangan itu.


Alex dan Zarga ikut keluar mengikuti nona mudanya, terlihat Liora sudah duduk manis di atas sofa. Dengan sigap Kenzie mengambil minuman untuk Liora.


"Hah." Sepertinya Liora benar-benar sudah lelah dengan semuanya.


"Lebih baik kita pulang Nona, Anda harus istirahat." Alex mengingatkan Liora tentang kesehatannya.


"Benar, Nona. Kami akan menyelesaikan semuanya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2