Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 21. Tamu Tidak diundang.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Liora terus memikirkan soal ajakan Vero untuk ke pesta ulang tahun Sally. Jujur saja, ini kali pertama setelah beberapa tahun dia kembali datang ke pesta ulang tahun seseorang. Biasanya pesta yang dia hadiri itu tentang peresmian perusahaan atau pengangkatan  pemimpin baru dalam suatu perusahaan, entah kenapa hatinya merasa senang. Sepertinya dia rindu akan kegiatan-kegiatan yang sering dia lakukan di masa lalu.


"Kita sudah sampai, Nona," ucap Zarga memberitahu, tetapi tidak ada respon dari sang nona, sepertinya Liora terlalu larut dalam lamunan.


"Nona," panggil Zarga dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya.


"Y-ya." Liora yang kaget langsung melihat ke arahnya.


"Kita sudah sampai." Zarga kembali memberitahu padanya.


Liora langsung turun dan melangkah ke dalam perusahaan membuat Zarga menatap dengan bingung. "Apa yang sedang nona pikirkan?" Zarga bertanya-tanya.


Setelah mengantar Liora keruangan, Zarga pun segera pergi ke ruangannya sendiri. Namun, dia merasa ada sesuatu yang tertinggal di dalam mobil membuat dia kembali berbalik menuju ke parkiran.


Setelah berhasil menemukan barang kesayangannya, Zarga berjalan cepat untuk kembali ke ruangan. Pada saat melewati meja resepsionis, matanya melihat satu makhluk yang tidak asing dalam ingatannya.


"Tunggu, bukannya itu wanita yang berteman dengan tuan Samuel dan Vero," gumam Zarga setelah berhasil mengingat wajah wanita yang sedang dia lihat.


Zarga memang belum pernah bertemu langsung dengannya, tetapi saat menyelidiki tentang Samuel dan Vero, secara tidak langsung dia juga menyelidiki tentang wanita itu.


"Mau apa dia?" Zarga bertanya-tanya, tetapi dia memilih untuk tetap melanjutkan langkahnya.


Namun, baru beberapa langkah berjalan. Indra pendengaran Zarga menangkap nama Alex disebut oleh wanita itu, membuatnya langsung berbalik dan mendekat ke arah Sally.


"Maaf, Nona. Anda harus membuat janji terlebih dulu sebelum bertemu dengan tuan Alex," ucap resepsionis menjelaskan peraturan yang ada di perusahaan itu.


"Cuma sebentar aja kok, boleh ya," pinta Sally sambil memasang wajah memelasnya.


"Maaf, Nona." Tetap saja resepsionis tidak mengizinkan Sally untuk masuk, karena peraturan tidak ada yang berani melanggarnya.


"Cih." Sally mendengus sebal, susah payah dia memberanikan diri untuk datang kesini, tetapi semua malah sia-sia.


"Kalau aku buat janji, kapan aku bisa ketemu sama tuan Alex?" tanya Sally kemudian.


Terlihat resepsionis mengotak-atik komputer yang ada di depannya. "Anda bisa bertemu dengan tuan Alex besok pukul 4 sore, Nona." jawabnya.


"Apa?" Sally menjerit kaget mendengar jawaban resepsionis itu. Beberapa orang langsung melihat ke arahnya karna merasa terganggu, begitu juga dengan Zarga yang setia memperhatikan wanita itu.


Sally terlihat semakin kesal, dia 'kan butuhnya sekarang. Jika besok, ya percuma tidak ada lagi gunanya.


Melihat Sally yang ngotot ingin bertemu dengan Alex, membuat Zarga penasaran. Sebenarnya alasan apa yang membuat gadis itu sampai datang ke sini untuk bertemu dengan orang seperti Alex.

__ADS_1


Zarga berjalan menghampiri Sally. "Ada apa ini?" Dia menatap mereka dengan tajam.


Dua wanita yang merupakan resepsionis kaget melihat kemunculan Zarga yang entah dari mana datangnya, dan sekarang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Ma-maafkan kami sudah membuat keributan, Tuan." Dengan kompak, keduanya meminta maaf sambil menundukkan kepala mereka.


Zarga lalu melihat ke arah Sally. "Mau apa anda datang kemari?"


"Saya ingin bertemu dengan tuan Alex, bisakah Anda membantu saya." Sally langsung menyampaikan keinginannya.


"Untuk apa anda bertemu dengannya?" tanya Zarga lagi yang sudah sangat penasaran dengan tujuan gadis itu.


"Maaf Tuan, saya hanya akan mengatakannya saat ada di hadapan tuan Alex." dengan tegas Sally menolak untuk mengatakannya pada lelaki yang entah siapa itu dia pun tidak kenal.


"Wah, Ada hubungan apa dia dengan Alex?" Seperti mengetahui sebuah rahasia besar, Zarga sudah menduga-duga hubungan antara Alex dan juga wanita itu.


"Saya akan mengantar Anda," ucap Zarga kemudian.


"Benarkah?" Wajah Sally langsung berbinar-binar saat mendengarnya.


"Ya, tapi dengan satu syarat," ucap Zarga lagi.


"Syarat apa?" Sally yang sudah tidak sabar langsung saja bertanya pada laki-laki itu.


"Eh, hubungan apa maksudnya?" Sally terlihat bingung dengan syarat dari laki-laki itu, tetapi karena dia ingin bertemu dengan Alex, dia langsung menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan syarat itu.


"Mari!." Kemudian Zarga membawa Sally untuk bertemu dengan Alex.


Sepertinya Zarga tidak memikirkan nasibnya sendiri. Bisa saja Alex marah dan menghukumnya karna sudah sembarangan membawa orang lain, tetapi karena rasa penasaran yang sudah menggebu-gebu, dia tidak memikirkan semua itu.


Sungguh Zarga sudah sangat berubah semenjak menjadi sekretaris Liora. Dia lebih banyak bicara dan tidak terlihat kaku seperti dulu. Dia lebih percaya diri dan mudah bergaul dengan orang lain. Dia yang selama ini merasa rendah jika dibandingkan dengan orang-orang yang ada disekitar Liora, perlahan memiliki kepercayaan diri. Apalagi saat mendengar pengakuan liora terhadapnya menjadi dorongan terbesar dalam perubahan yang terjadi.


Sally terus mengekor di belakang Zarga sampai mereka berhenti di depan ruangan yang diyakini sebagai ruangan Aex.


Glek.


Sally menelan salive nya sendiri dengan kasar, dia merasa gelisah dengan jantung yang juga semakin berdebar keras.


Zarga, mengetuk pintu ruangan Alex. Kemudian terdengar suara dari dalam yang memerintahkannya untuk masuk. Dia lalu menyuruh Sally untuk menunggu di depan pintu, setelah dia mengatakan masuk, barulah wanita itu boleh masuk.


Sally hanya menganggukkan kepalanya saja dengan tangan yang saling meremmas satu sama lain. Dia merasa gugup, takut, gelisah. Padahal hanya ingin memberikan sesuatu saja.

__ADS_1


Zarga langsung masuk meninggalkan wanita itu sendiri di depan pintu membuat banyak mata yang memandang ke arahnya, tetapi dia merasa tidak peduli.


Alex yang sedang sibuk mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan itu.


"Kenapa?" Alex langsung bertanya pada Zarga.


"Apa kau lagi sibuk?" Zarga melihat pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Alex, dia tidak menggunakan bahasa formal lagi pada laki-laki itu karena memang permintaan dari Alex.


"Seperti biasa." Alex menjawab dengan cepat.


Zarga terdiam. Dia yang tadi menggebu-gebu kini kehilangan semangat setelah melihat wajah Alex, kekhawatiran mulai melanda pikirannya. Bagaimana tadi dia tidak berpikir dulu sebelum bertindak? Itulah yang tengah berputar-putar dipikirannya.


"Kenapa?" Alex bertanya kembali.


"Itu ..." Alex tidak tau bagaimana mengatakannya.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tebak Alex.


"Ya, aku menemukan seseorang. Tapi bukan sesuatu." Zarga ingin sekali berteriak.


Zarga melihat ketidaksabaran diwajah Alex, kalau dia tetap diam maka alamatnya pasti gadis itu yang akan terkena imbas kemarahan laki-laki itu.


"Ada yang ingin bertemu denganmu." Akhirnya Zarga sanggup juga untuk mengatakannya.


"Bawa dia masuk," ucap Alex sambil berjalan ke arah sofa.


"Sudah lah, biarkan aja. Gak akan terjadi apa-apa juga." Zarga menenangkan diri, dia sempat takut kalau Alex akan murka.


Zarga lalu kembali berjalan ke arah luar untuk menemui Sally. "Masuklah." Dia mempersilahkan.


Sally masih mematung ditempatnya itu, dia terlihat menghembuskan nafas sejenak dan berdo'a sebelum bertemu dengan Alex.


Perlahan Sally masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat seisi ruangan mencari keberadaan Alex. Ya, itu dia. Orang yang ingin ditemuinya sedang duduk disofa dengan tenang. Sementara Zarga memilih untuk kembali ke ruangannya, dia juga cemas kalau ikut masuk ke ruangan itu. Biarlah dia membantu Sally dengan do'a.


Alex masih belum melihat orang yang masuk ke ruangannya, dia tengah fokus pada ponsel yang kini berada ditangannya. Beberapa saat kemudian, dia kembali menyimpan benda pipih itu ke dalam saku jasnya. Lalu menoleh ke arah samping di mana seseorang sudah berdiri di sana.


"Kau?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2