Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 50. Terpaksa Berpisah.


__ADS_3

Vero menatap Liora dengan sendu, dia sudah memohon tapi kenapa Leora tetap tidak mendengarnya? Apakah gadis itu benar-benar tidak mencintainya?


"Liora-"


"Jangan menyentuhku!" teriak Liora saat tangan Vero hendak menggapai tangannya. "Aku akan menikah, jadi jangan ganggu aku." Dia berucap dengan tajam.


Bagai diiris-iris pisau saat mendengar kata demi kata yang terucap dari mulut Liora, tajam bagai ujung pedang yang menyayat tubuh, menancap tepat ke uluh hati.


Vero mendekat ke arah Liora, semakin dekat sampai gadis itu membenturkan tubuhnya ke dinding. Dia meremmas kuat pundak Liora sambil menatapnya tajam, untuk beberapa detik mereka saling bersitatap mata sampai gadis itu tidak tahan dan memalingkan wajah.


"Kau mencintaiku, Leora. Kau mencintaiku,"


"Tidak, aku tidak mencintaimu. Aku tidak mencintaimu!" bantah Liora sambil memberontak agar Vero melepaskan cengkraman tangannya, tapi sia-sia karena laki-laki itu mencengkramnya dengan sangat kuat.


"Aku mohon tatap aku, tatap mataku Liora. Apa kau tidak bisa melihat cintaku untukmu? Dalam setiap hembusan napasku tersirat namamu, dalam bayangan hidupku terlukis wajahmu. Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau malah ingin menikah dengan lelaki lain?" Lirih Vero sambil mengguncang tubuh Liora, dadanya naik turun menahan emosi dan sesak yang datang secara bersamaan.


"Apa kau tidak mencintaiku? apa aku benar-benar tidak berarti bagi hidupmu? apa selama ini hanya aku yang terus mendamba untuk hidup bersama mu?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dengan bergetar, Vero mengucapkan seluruh sesak yang ada dihatinya.


"Aku mencintaimu, Vero," balas Liora cepat dengan tangis yang sudah pecah. "Tapi aku harus menikah dengannya, maafkan aku." Sambungnya pilu.


Cengkraman Vero terlepas, tubuhnya lemas tak bertenaga. Berkali-kali kata itu terulang dalam pikirannya, dan hanya bisa menatap dalam sang pujaan yang menggoreskan luka direlung hatinya.


"Aku tidak akan melepaskanmu," ucap Vero tajam sambil berlalu pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Sara pintu yang ditutup sangat keras oleh Vero terdengar sangat nyaring ditelinga. Seketika tubuh Liora menjadi lemas, kakinya tak lagi bisa berpijak. Napasnya menjadi sesak tak terkira, dan pandangannya menjadi buram tak terlihat.


"Maafkan aku, sungguh maafkan aku, Vero" Ternyata rasanya sangat menyakitkan. Untuk pertama kalinya Liora mencintai seorang lelaki, dan harus kehilangan cinta itu karena dirinya sendiri.


Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata betapa pedihnya apa yang sedang dia rasakan saat ini, cinta yang berhasil menghangatkan hatinya seketika runtuh terseret tali perjanjian.


Vero melangkah pergi dari tempat itu. Rasanya bagai ada ribuan jarum yang menusuk jantung secara bersamaan. Bagaimana mungkin wanita yang sangat dua cintai menyakiti sebegini dalam? Bagaimana bisa Liora menghancurkan hatinya setelah berhasil mengambilnya?


Hati Vero terasa dicabik-cabik, dunianya terasa runtuh. Bunga yang sedang bermekaran dihatinya raib tersapu oleh kedatangan orang ketiga. Dia tidak percaya ini, Liora tidak bisa melakukan ini padanya. wanita itu tidak bisa mencampakkan cintanya demi orang lain.


"Aku tidak akan melepaskanmu!" Vero mengucapkannya dengan lantang, agar wanita itu tahu kalau perasaannya tidak main-main, dan dia tidak bisa membuangnya begitu saja.


Vero langsung pergi meninggalkan tempat iti tanpa menoleh ke belakang, sedangkan dia hanya mematung ditempat itu tanpa berniat untuk mencegahnya pergi.


Liora adalah satu-satunya orang yang sangat penting dalam hidup Vero. Setelah dia kehilangan segalanya, dia berharap memiliki kehidupan yang jauh lebih indah bersama Liora tapi harapan tinggal harapan. Wanita itu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan sebelum dia berhasil memenuhi semuanya.


Sebenarnya siapa pria yang bernama Marvel itu? Kenapa dia seenaknya datang dan memproklamirkanmu sebagai calon istrinya?


Mengapa dia tidak bisa melihat kalau hanya ada aku dihatimu?


Vero tidak bisa tinggal diam. Kalau Liora memaksanya untuk melupakan semua ini, maka jangan salahkan dia kalau juga akan memaksa Liora untuk tetap mencintainya dan bersama dengannya.


Lihat dan tunggulah, Liora pasti akan tetap menjadi milikku. Walau beribu orang merebut wanita itu, akan tetap berdiri tegak mempertahankan. Cintanya akan mengikat seluruh kehidupan wanita itu untuk selamanya.

__ADS_1


Sementara itu, Liora yang mengatakannya juga yang merasakan sakitnya. Jika raga tak bisa lagi bersama, maka biarkan cinta mengambil alih semuanya.


Liora juga mencintai Vero, dia bahkan ingin berteriak pada seluruh dunia kalau hanya laki-laki itu yang dia cintai. Vero yang berhasil meruntuhkan tembok besi yang mengunci hatinya, laki-laki itu yang berhasil memberi warna dikanvas putih kehidupannya, Vero yang berhasil membuat jantungnya terus berdebar kala melihatnya.


Andai Vero tahu betapa besar cinta ini, betapa besar dia ingin menghabiskan hidupnya bersama laki-laki itu. Namun, apalah daya. Dia terikat perjanjian dengan orang lain.


Sakit tapi tak berdarah, mungkin inilah yang dimaksud oleh kata-kata kiasan itu. Hati Liora tergores cukup dalam tapi tak tampak dipermukaan, terasa diiris-iris sembilu tetapi tidak juga meninggalkan bekas. Hatinya rapuh tetapi tetap dipaksa untuk maju.


Liora selalu ingin memeluk Vero saat melihat air mata laki-laki itu terjatuh karna ucapannya. Dia ingin memberitahu bahwa dirinya hanyalah milik Vero. Namun, untuk sekali lagi dia tidak bisa.


Liora erlena oleh cinta higgaa melupakan seseorang yang sudah terikat tali pernikahan dengannya. Apa yang harus dia lakukan? dia tidak ingin karena keegoisannya maka kehilangan orang-orang yang sangat dicintai.


Liora merasa hancur saat mengelurkan kata-kata tajam yang menyakiti hati Vero, percayalah hatinya sangat sakit saat melakukan itu. Namun, dia akan tetap menyakiti agar Vero bisa melupakannya.


"Maafkan aku, Vero. Aku mohon maaafkanlah aku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2