Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 34. Masa Lalu.


__ADS_3

Kenangan indah ataupun buruk pasti akan selalu tersimpan erat dalam memori seseorang. Terus menemani disetiap langkah yang ditempuh sebagai motivasi atau malah seperti tragedi.


Terlalu tenggelam dalam masa lalu pun tidaklah baik, tetapi melupakan masa lalu tanpa mengambil pelajaran juga bukan hal yang tepat. Sampai kapan pun manusia akan tetap mempunyai masa lalu selagi dia masih bernafas, karena yang terjadi hari ini pun pasti akan menjadi masa lalu.


Seperti halnya Vero yang saat ini sedang berada dalam pusara masa lalunya. Entah itu baik atau buruk, sepertinya dia masih belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri.


Flashback


Malam itu, seorang pemuda tengah berlarian dilorong rumah sakit. Dia yang masih dalam perjalanan mendapat telpon darurat dari dokter yang merawat orang yang sangat dia cintai.


Napasnya tersengal-sengal saat dia sampai di depan ruang VVIP tempat di mana sang ibu dirawat.


"Apa yang terjadi pada ibuku?" teriakannya menggema dirumah sakit itu. para dokter dan beberapa perawat pun sudah terlihat sangat ketakutan.


"Tu-tuan, nyonya-" Dokter Frans tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Vero langsung mencengkram kuat kerah kemeja yang dia pakai.


"Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuhmu!" desis Vero tepat diwajah sang Dokter.


Dia lalu melepaskan cengkramannya dengan kasar sampai dokter paruh baya itu terhempas ke belakang. Untung saja ada dokter lain yang berdiri di sana, jika tidak sudah pasti dokter malang itu terjungkal tak berdaya.


"Ibu." Panggil Vero dengan lirih saat melihat wanita yang dia cintai tergeletak lemah dengan banyak selang yang tertancap ditubuhnya.


Terlihat wanita paruh baya itu membuka mata, walau hanya sedikit yang terbuka.


"Ibu." Vero memegang erat kedua tangan yang telah membesarkannya dengab mata yang mulai basah dan tubuhnya juga mulai bergetar. "Aku mohon, Bu. Jangan tinggalkan aku." Tangis tak dapat lagi ditahan. Hatinya rapuh, jiwanya terguncang. Dia tidak siap kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"A-anakku." Dengan lemah suara sang ibu terdengar. dia memandang wajah tampan anaknya dengan sayu. Bubirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu tapi tak mampu mengeluarkan suara.


"Aku mohon, Bu. Hiks ibu ... ibu." Vero terus mengguncang tubuh sang ibu yang terlihat mulai memejamkan mata.


"tidak, ibu ... huhuhu bangun! Ibu bangun, aku mohon," teriakan Vero memecah kesunyian dalam ruangan itu. "Apa yang kalian lakukan? Cepat bangunkan ibuku!" Dia kembali berteriak pada semua orang yang berada di sana.


"Tuan, nyonya sudah me-"


"Sekali lagi kau ucapkan kata itu, maka aku sendiri yang akan membunuhmu!" teriak Vero dengan kilatan emosi yang membara. "Bangunkan ibuku!" Dia memberi perintah pada Dokter yang ada di sana.


Semua orang yang berada di ruangan itu sudah bergetar menahan takut, keringat dingin menjalar diseluruh tubuh. Mereka terus menundukkan kepala sambil berdo'a untuk keselamatan diri mereka sendiri.


"Aku bilang bangunkan ibuku!"


Bagai binatang buas yang tengah mengamuk, Vero menghancurkan semua yang ada di sana dengan membabi buta. Dia sudah lepas kendali, hatinya tidak bisa menerima fakta kalau sang ibu telah tiada. Rasa sesal, amarah, kesedihan bercampur jadi satu dalam hatinya.


Sampai kedatangan sang ayah semakin memantik api yang berkobar dalam diri. Beberapa orang harus turun tangan menghadapinya sampai Dokter harus menyuntikkan obat penenang.


"Biad*ab. Kau penyebab kematian ibuku, kau pembunuh ibuku!" cerca Vero sebelum dia kehilangan kesadarannya.


Flashback end


"Vero, Vero!"


Terdengar suara seseorang sedang memanggil namanya, terapi Vero sama sekali tidak bisa membuka mata.

__ADS_1


"Vero. " Sally terus mencoba membangunkan Vero dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Hah!" Akhirnya Vero terbangun dengan mata yang sudah basah. Napasnya tersengal-sengal, dengan keringat yang mengucur deras di seluruh tubuh.


"Apa yang terjadi padamu?" Sally terlihat khawatir akan keadaan yang terjadi pada laki-laki itu.


Vero menganggukkan kepalanya. "A-aku tidak apa-apa." Dia menjawab sambil menyandarkan kepalanya yang sedikit terasa sakit.


"Enggak apa-apa gimana? Terus, kenapa kau nangis?"


Refleks Vero langsung mengusap air mata yang masih tersisa dimatanya, juga diwajah yang sudah basah. "Ini bukan nangis, namanya juga orang tidur. Kadangkan tanpa sadar ngeluarkan air mata." Dia mencoba mencari alasan.


"Hem." Sally menyipitkan kedua matanya tanda curiga atas perkataan Vero.


"Udahlah, ngapain kau disini?" tanya Vero yang memang kaget melihat keberadaan makhluk lain di ruangannya.


"Memang aku gk boleh apa, main ke sini?" Sally merasa sewot, dia memang sering datang ke kafe Vero kalau lagi tidak ada kerjaan.


"Tidak boleh!" tegas Vero, dia memang suka memancing keributan dengan gadis yang satu ini.


"Cih, mentang-mentang kau sudah bersama nona Liora, jadi kau melupakanku." Mulai deh Sally ratu drama.


"Memang apa pentingnya sih kau ini?" ejek Vero. sepertinya mood nya kembali baik karna kehadiran Sally disana.


Dia yang teringat kejadian buruk dimasa lalu merasa emosinya kembali naik, yang biasa ramah pun bahkan tidak menanggapi sapaan dari para karyawannya, membuat perasaan mereka dilanda bingung dan takut.


"Sudahlah, dasar menyebalkan," gerutu Sally sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar.


"Udah lah, emang kau belum ya?" Sally sudah bisa menebak kebiasaan buruk Vero yang selalu terlambat makan.


Vero menganggukkan kepalanya pertanda kalau dia memang belum makan. "Nela, tolong antar makanan untukku ke atas. Juga siapkan jus untuk Sally." Perintahnya setelah menghubungi salah satu karyawan.


"Oh iya, gara-gara kau aku jadi lupa," ucap Sally tiba-tiba sambil memukul jidatnya sendiri. Dia jadi melupakan hal penting yang menjadi alasan dia datang ke tempat ini.


"Apa?" tanya Vero sambilmelihat ke arah ponselnya.


"Kejutan apa yang mau kau siapkan untuk ulang tahun nona?" tanya Sally dengan binar-binar penasaran dimatanya.


"Ulang tahun? Liora maksudmu?" Vero langsung melihat ke arah Sally.


"Iya, jangan bilang kau gak tau?" tuduh Sally tepat sasaran.


Vero langsung melihat kalender diponselnya. Sepertinya terlalu banyak hal yang dipikirkan sampai dia tidak ingat hari ulang tahun sang pujaan hati


"benar. 2 hari lagi dia ulang tahun." ucap Vero saat melihat tanda hati di tanggal ulang tahun Liora.


"Dasar. cowok macam apa kamu yang gak ingat hari bersejarah wanita yang kau cintai." cibir Sally dengan raut wajah mengejek.


"Ah, benar. Kau memang penyelamatku, untung saja kau bilang," ucap Vero penuh syukur.


"Dasar lebay," gerutu Sally dengan kesal

__ADS_1


Tidak berselang lama, terdengar dering ponsel Vero berbunyi, dan tertera nama Liora ❤ dengan tanda hati disana.


"Wah, panjang umur," celetuk Sally saat melihat siapa yang menelpon Vero.


"Diam kau!" Vero langsung mengintruksikan Sally untuk menutup mulutnya. "Halo, Liora." Dia lalu menjawab dan bicara dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Apa aku menganggumu?" tanya Liora di sebrang telpon.


"Tidak, aku sedang tidak sibuk kok," jawab Vero cepat, walau dia sibuk sekali pun pasti tetap akan menjawab tidak sibuk.


Disebrang telpon Leora diam, sepertinya dia tidak tau harus bicara apa pada Vero.


"Apa kau ingin bertemu denganku?" dengan pedenya Vero bertanya seperti itu. Sedangkan Ljora yang ditanya malah semakin diam, entah kenapa dia merasa malu hanya untuk berkata iya.


"Bagaimana?" tanya Vero kembali. Sepertinya bukan Liora yang ingin bertemu melainkan dia sendiri.


"Baiklah." Hanya itu jawaban yang terdengar.


"Aku akan menjemputmu saat makan malam. sampai bertemu nanti," ucap Vero dengan perasaan teramat senang, kemudian panggilan pun terputus.


"Cih, dasar bucin." ejek Sally saat melihat wajah Vero seperti di taburi beribu bunga sangking bahagianya.


"Iri bilang bos, haha." Tentu Vero tidak mau kalah perihal ejek mengejek.


Tidak berselang lama datanglah pelayan yang membawa makanan dan minuman sesuai dengan apa yang diminta oleh Vero tadi.


"Silahkan, Boa, Nona," ucap wanita itu mempersilahkan.


"Terima kasih, Nela," ucap Vero ramah.


"Ada apa, Nela? Apa kau sakit?" tanya Vero saat melihat tidak biasanya karyawannya yang satu ini terus menundukkan kepalanya sedari tadi.


"Ti-tidak Bos," jawab Nela sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Apa Bos baik-baik saja?" tanya Nela pelan, dia takut kalau pertanyaannya akan menyinggung perasaan Vero.


"Ya, aku baik. kenapa ?" tanya Vero heran, Memangnya apa yang terjadi padanya?


"Em ... itu, anu-" bingung harus bagaimana mengatakannya.


Vero memperhatikan dengan seksama. mencoba untuk mencerna apa yang coba dikatakan oleh karyawannya. Seketika dia teringat dengan sikapnya tadi, mungkin karyawannya merasa takut atau tidak enak karena tindakannya. ya walaupun dia tidak berbuat apa-apa. melainkan hanya diam dan memasang wajah menakutkan.


"Ah, tadi ada sedikit masalah, Nela. Tolong bilang sama yang lain supaya tidak perlu khawatir," ujar Vero. Dia sedikit merasa bersalah atas apa yang terjadi.


"Baik, Bos. Kami hanya mengkhawatirkan keadaan Anda saja, kalau begitu saya permisi." Nela berlalu keluar ruangan dengan perasaan lega.


"Memangnya ada masalah apa ?" tanya Sally, jiwa keponya mulai meronta-ronta.


"udah lah. bukan sesuatu yang penting kok..." elak Vero. dia memang tidak pernah menceritakan tentang kehidupannya pada siapa pun.


"Cih." dengus Sally.

__ADS_1


__ADS_2