Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 58. Belanja Ke Mall.


__ADS_3

Leon menarik paksa tangan Maily yang terus menjerit minta dilepaskan, sudah sama kayak penculikan yang ada di film-film. Untung saja ini di rumahnya sendiri, kalau tidak sudah habis dia diamuk oleh massa yang melihatnya.


"Pergi kau!" ucap Leon sambil melepaskan tangan Maily dengan kasar saat mereka sudah sampai di depan pintu rumahnya.


"Dasar kau laki-laki sinting!" bentak Maily, dadanya naik turun menahan kekesalannya atas apa yang laki-laki itu lakukan.


Sedangkan yang lainnya, berasa seperti sedang melihat sinetron, yaitu adegan istri yang diusir oleh suami sendirinya sendiri seperti yang ada salam chanel ikan terbang.


"Leon, apa yang kau lakukan?" seru Arya. Baru kali ini dia melihat Leon emosi seperti itu, begitu juga dengan yang lainnya.


"Usir dia dari sini, bikin sakit kepala saja," ucap Leom sambil kembali masuk ke dalam rumah.


"Hiks, hiks huhuhu."


Namun, baru beberapa langkah kakinya melangkah, dia terpaksa berhenti saat mendengar suara tangisan seseorang. Dia langsung melihat ke arah Maily yang menunduk dengan terisak.


"Lihat itu, teganya kau buat anak orang nangis!" ucap Arya sambil menunjuk ke arah Maily, dia segera menghampiri gadis itu dan mencoba menenangkan.


"Hiks hiks, padahal aku cuma minta ditemani ke mall. Apa salahku? Huhuhu." Maily menangis dengan sangat menyedihkan.


"Maily, jangan menangis," ucap Luora mencoba menenangkan gadis itu, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk mencoba menghibur Maily agar tidak menangis lagi.


"Iya udah udah, jangan nangis," tambah Zarga, dia yang irit bicara angkat suara.


Walau sudah ditenangkan, Maily tetap menangis membuat mereka semua kalang kabut. Kalau sampai Marvel tahu, maka bisa habislah mereka semua. Pasalnya mereka tahu kalau Marvel sangat menyayangi adiknya yang merepotkan itu.


"Baiklah Maily, Leon akan menemanimu ke mall. Tapi kau jangan menangis lagi ya," ucap Arya, membuat Leon langsung menatap tidak terima.


"Apa? Enak saja kau sebut-sebut namaku." Leon tidak terima dengan perkataan Arya. Kenapa tidak dia sendiri saja yang pergi? begitulah hatinya berteriak tidak suka.


"Sudahlah, Kak. Apa salahnya menemani Maily ke mall," tambah Liora sambil menatap sang kakak dengan tajam.


"Tapi kenapa harus aku? sama kau saja sana," ucap Leon sambil menunjuk ke arah Arya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan dari pada pergi bersama gadis itu


"Aku maunya ke mall sama kamu!" seru Maily sambil menunjuk ke arah Leon, membuat laki-laki itu terkesiap.


"Nah, lihat. Dia itu maunya sama kamu," seru Arya, sepertinya dia bisa mencium bau-bau hubungan antara mereka berdua yang mulai mengudara.

__ADS_1


"Siapa kau? Seenaknya saja nyuruh-nyuruh," tolak Leon. Dia tidak ada waktu untuk meladeni gadis itu, lebih baik bekerja di kantor.


Kedua mata Maily kembali berkaca-kaca dan siap untuk menumpahkan air matanya, membuat semua orang kembali panik.


"Duh, pergi aja kenapa sih. Apa susahnya?" gerutu Arya, sedangkan yang lain tetap menjadi penonton sambil ditemani dengan 1 cup popcron.


"Apa-"


"Kak!" Liora melirik Leon dengan tajam membuat ucapan laki-laki itu terhenri, dia heran kenapa kakaknya sangat keras kepala.


"Dasar, bikin susah aja kamu. Cepat !" gerutu Leon sambil kembali masuk ke dalam rumah.


"Tapi Mall kan ke sana, kok malah masuk lagi?" ucap Maily heran, yang lain juga menatap Leon dengan bingung.


"Suka-suka aku lah." Leon pun putar balik dan berjalan ke arah mobilnya.


"Pft, hahahaha." Arya tidak bisa lagi menahan kelucuannya. Alex dan Zarga juga menundukkan kepala dengan bahu mereka yang bergoyang menandakan kalau mereka juga sedang tertawa. Mereka merasa berdosa karena berani menertawakan tuan muda mereka.


Sedangkan Ljora hanya menggelengkan kepalanya saja, dia tidak menyangka kalau kakaknya bisa berbuat bod*oh seperti itu.


Lalu, mereka memutuskan untuk kembali meneruskan kegiatan mereka yang tertunda akibat drama pengusiran seorang istri tadi yang baru saja terjadi.


"Beraninya sekali dia mengusirku. Lihat aja pembalasanku, hehehe." batin Maily merasa senang. Dia sudah menyiapkan siasat balas dendam untuk Leon, itu sebabnya dia memaksa agar diantar oleh laki-laki itu.


"Em ... kita makan dulu ya," ucap Maily. Dia baru ingat kalau tadi dia belum sarapan dan hanya makan segigit sandwich di rumah Luora. "Nah, di situ tuh. Enak banget makanan direstoran itu." Dia menunjuk ke arah restoran yang baru mereka lewati.


"Loh, kok gak belok sih?" ucap Maily lagi sambil melihat ke arah Leon.


"Kau bilang mau ke Mall kan? Jadi gak usah banyak cerita," sarkas Leon, dia tetap melihat lurus ke depan.


"Huh, dasar laki-laki sinting ini. Awas aja kau." gerutu Maily. Terpaksa dia harus menahan rasa laparnya.


Sesampainya di Mall, Maily langsung berjalan cepat ke arah toko pakaian. Dia ingin membeli pakaian untuknya, kakaknya, kakak iparnya, mamanya, dan juga papanya.


"Mbak aku mau beli yg ini, ini, ini, ini. Oh, ini juga. Jangan lupa yang ini juga. Oke, itu aja," seru Maily dengan senyum cerah.


Leon membelalakkan matanya saat melihat belanjaan Maily, banyak sekali pakaian yang wanita itu beli saat ini.

__ADS_1


"Huh, dasar wanita." Leon menunggu Maily sambil melihat-lihat majalah yang ada di tempat itu.


"Ini," ucap Maily sambil menyerahkan tas belanjaannya pada Leon.


Leon menatap wanita itu dengan tajam "Apa kau pikir aku pelayanmu?" Sarkasnya. Seenaknya saja wanita itu menyuruh-nyuruhnya.


"Hiks, hiks, hiks." Maily memulai drama tangisannya lagi, membuat beberapa pengunjung yang ada di toko itu melihat ke arahnya.


"Astaga. Apa yang dilakukan perempuan ini sih?" batin Leon tak habis pikir dengan tingkah Maily.


Maily terus menangis membuat Leon akhirnya yang mengalah. Laki-laki itu membawa semua belanjaannya seperti seorang pelayan.


"Hahahaha rasain kamu." Maily terkikik geli saat melihat Leon.


Ternyata inilah cara Maily untuk membalas dendam, dengan menggunakan air mata mautnya menyuruh Leon menjadi pelayan. Sungguh wanita yang sangat bijak.


Tangan Leon sudah tidak mampu lagi untuk membawa semua belanjaan gadis kurang ajar itu. Dia terus menggerutu akibat perbuatan Maily, apalagi wanita itu terus saja membeli semua barang-barang yang mereka lewati.


Tanpa sadar, Leon bertabrakan dengan seorang pria yang langsung membuat semua belanjaannya berserakan di atas lantai.


Bruk.


"Aduuh." keluh Leon saat terjatuh di lantai, begitu juga dengan pria yang bertabrakan dengannya.


"Astaga, kamu gak papa Leon?" seru Maily yang baru datang karena membeli es krim.


"Maaf ya," ucap Leon pada pria itu tanpa memperdulikan ocehan Maily, dia segera mengambil barang-barang yang berserakan.


"Iya, Tuan. Saya juga minta maaf," balas laki-laki itu sambil melihat ke arah Leon, untuk beberapa saat mata mereka saling bersitatap.


Terlihat pria itu sedikit terkejut saat melihat Leon. Dia lantas segera pamit dan berlalu meninggalkan mereka. Sementara Leon terus menatap pria itu seakan-akan pernah melihatnya disuatu tempat.


Tiba-tiba, kepala Leon terasa sakit, dan pandangannya pun menjadi buram.


"Leon, apa yang terjadi?" Maily memegang lengan Leon yang terlihat oleng dengan wajah panik.


"Aakhh." Leon merasa kepalanya seperti berputar-putar. Kejadian beberapa tahun lalu terus berputar dikepalanya dan seketika dia hilang kesadaran dan jatuh pingsan.

__ADS_1


"Leon!" Maily berteriak panik saat melihat Leon pingsan membuat beberapa orang terlihat mendekati mereka dan langsung menghubungi ambulance.


__ADS_2