
Mobil Vero melesat cepat menuju ke sebuah bandara, dia sudah merasa tidak sabar untuk kembali ke negara tercinta dan bertemu dengan sang ayah untuk menyelesaikan semuanya.
Tidak berselang lama, mobil Vero sudah memasuki area parkir bandara. Dia bergegas untuk keluar daro mobil dan masuk ke dalam bandara tersebut untuk segera memesan penerbangan tercepat ke negara M.
Butuh waktu sekitar 40 menit untuk penerbangan tercepat pada hari itu, Vero segera mencari tempat duduk untuk menunggu dengan Samuel yang tetap berada di sampingnya dan enggam untuk membiarkan dia pergi sendirian.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, 40 menit berlalu dengan begitu saja. Namun, bagi Vero semua terasa sangat-sangat lambat karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan seluruh Klan Zander.
Penerbangan mereka memakan waktu sekitar 2 jam lamanya, dan waktu itu digunakan Vero untuk memikirkan apa yang akan dia lakukan dikerajaan sang ayah. Mereka semua pasti akan sangat terkejut saat melihat kedatangannya, dan apalagi saat melihat aksinya nanti.
Sedangkan Samuel hanya diam di tempatnya, dia bahkan tidak melaporkan kedatangan Vero pada tuannya. Biarlah untuk kali ini dia akan mendukung penuh apapun yang Vero lakukan, anggap saja sebagai penebusan dosa karna selama ini telah berbohong pada laki-laki itu.
Pesawat yang ditumpangi Vero dan Samuel mendarat dengan sempurna ke bandara tujuan. Dengan langkah pasti, Vero kembali menginjakkan kakinya ke negara ini, negara di mana dia menghabiskan masa-masa remajanya dengan gemerlap kemewahan yang membuatnya lupa akan segala-galanya.
Sudah 4 tahun berlalu sejak kepergian Vero dari negara ini, banyak memori-memori kenangan masa lalu yang berputar dikepalanya mengingatkannya tentang sesuatu yang baik maupun yang buruk.
"Vero apa kita-"
"Kita langsung menuju Vila, aku yakin pasti mereka semua sedang berada di sana," potong Vero dengan cepat, dia tidak ingin pergi ke mana-mana selain langsung ke tempat tujuan. Di mana para klan Zander dan pimpinan mereka berkumpul, karena memang itulah tujuan utama dan satu-satunya.
Vero terus menatap ke arah jalanan saat berada di dalam mobil, setiap jalan yang dia lewati seperti ingatan yang berlarian dikepalanya. sedangkan Samuel sendiri sesekali melirik ke arah Vero untuk melihat reaksi dari sahabatnya itu, tetapi raut wajah laki-laki itu tidak berubah sama sekali, tetap datar dan dingin seperti biasa.
Taksi yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan Vila di mana Klan Zander berada, terlihat 2 orang penjaga segera menghentikan laju mobil mereka untuk melakukan pemeriksaan.
Samuel menurunkan kaca jendela supaya para penjaga bisa melihat wajahnya, sedangkan Vero hanya duduk diam di tempatnya tanpa melirik ke arah para penjaga itu.
"Selamat datang, Tuan Samuel," sapa para penjaga sambil melirik ke arah Vero yang tetap melihat lurus ke depan. Samuel lalu menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan dari mereka.
__ADS_1
"Tu-tuan muda," ucap salah seorang dari penjaga itu saat mengenali wajah Vero, dengan cepat Samuel kembali menurup kaca jendela mobil itu dan menyuruh supir untuk melajukan mobilnya.
"Tuan muda? apa maksudmu?" tanya penjaga yang satunya lagi pada penjaga lainnya.
"Tadi itu tuan muda Vero," katanya memberi penjelasan. Walaupun cuma melihat dengan sekilas, tetapi dia yakin jika yang dia lihat adalah Vero.
"Maksudmu, tuan muda kita?" tanya laki-laki itu lagi pada penjaga yang lain, terlihat temannya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan penjaga itu.
"Dia kembali," ucapnya kemudian. Ada rasa senang dalam hati mereka karena tuan muda kembali.
Sementara itu, mobil yang membawa Vero telah sampai di depan Vila. Dengan menarik napas panjang, dia segera turun dari mobil dan diikuti oleh Samuel.
Beberapa orang anggota dari Klan Zander yang melihat kedatangan Samuel langsung mendekat untuk menyapa petinggi dari Klan mereka. Namun, begitu dekat mereka terkejut saat mengenali wajah Vero. Tuan muda mereka yang sudah 4 tahun pergi meninggalkan negara itu, bahkan sama sekali tidak ada kabarnya.
"Tu-tuan muda," ucap mereka sambil menundukkan kepala, dalam hati mereka bertanya-tanya kenapa tuan muda mereka kembali lagi setelah berhasil mengobrak-abrik seluruh Klan Zander.
"Tu-tuan besar sedang ada di ruangannya, Tuan muda. Berrsama tuan Marc dan tuan Brian," jawab salah seorang dari mereka dengan gugup.
Vero bergegas masuk ke dalam vila itu untuk menemui ayahnya dengan Samuel yang tetap mengikuti, dia ingin lihat apa yang saat ini sedang direncanakan oleh sang ayah dan juga anggotanya yang lain.
Brak.
Vero membuka pintu ruangan ayahnya dengan sangat kencang dan mengagetkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu, dan langsung menoleh ke arahnya dengan geram.
"Vero?" ucap Barra Zander sambil berdiri dari duduknya. Begitu pula dengan Marc dan Brian yang juga ikut terkejut melihat kedatangan Vero dan juga Samuel.
Vero melangkah cepat untuk mendekat ke arah Barra, dia langsung mencengkram kuat kerah kemeja laki-laki paruh baya itu membuat semua orang menjadi panik.
__ADS_1
"Tu-tuan muda, apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Brian dengan cepat, dia terlihat ingin memisahkan mereka tapi Samuel langsung menghalanginya.
Samuel menggelengkan kepalanya pertanda untuk tidak ikut campur dengan urusan anak dan ayah itu, biarkan mereka menyelesaikan permasalahan sendiri.
"Vero,"
"Apa belum puas kau menghancurkan hidupku, hah?" teriak Vero sambil tetap mencengkram kemeja ayahnya sendiri. Emosinya sudah akan dia ledakkan saat ini juga.
"Apa maksudmu? Ayah tidak-"
"Kau bahkan menghancurkan keluarga dari orang yang sangat aku cintai," potong Vero dengan cepat membuat Barra terkesiap.
Barra baru mengerti kenapa Vero sampai datang menemuinya, dia yakin kalau anaknya itu pasti sudah tau kalau dialah yang waktu itu menyerang keluarga Liora.
"Kenapa, hah? Kenapa?" teriak Vero kembali lagi sambil mendorong tubuh Barra sampai laki-laki itu oleng ke belakang dan segera ditangkap oleh Brian.
"Vero, dengarkan ayah dulu," ucap Barra, dia ingin memberikan penjelasan atas apa yang sudah dia lakukan.
"Baik, bicaralah. Aku akan mendengar seluruh ucapanmu yang busuk itu," sarkas Vero dengan tajam.
"Tuan muda, Anda tidak pantas berbicara seperti itu pada ayah Anda sendiri," ucap Marc, dia merasa tersinggung dengan ucapan Vero untuk tuan besarnya.
"Cih, ayah kau bilang? Dia bahkan tidak layak untuk disebut dengan panggilan itu," bantah Vero dengan cepat dan menusuk, membuat Abbas merasa terpukul. "Dia lebih cocok disebut sampah yang bahkan lebih rendah dari binatang."
"Vero, haga bicaramu! Biar bagaimana pun aku tetap ayah kandungmu!" bentak Barra. Dia merasa kalau perkataan Vero sudah sangat keterlaluan.
"Maaf, ayahku sudah mati. Aku tidak ada hubungan apa pun denganmu, bahkan aku tidak sudi untuk punya hubungan dengan orang sepertimu."
__ADS_1