Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 22. Undangan Pesta.


__ADS_3

Ruangan itu seketika menjadi hening saat dua pasang mata saling bertatapan. Udara terasa sesak bagi para penghuninya, terutama Sally yang sudah memberanikan diri pun kembali menciut melihat wajah garang Alex.


Sementara itu, Alex yang kaget melihat Sally ada di ruangannya membulatkan mata dengan tatapan tajam seakan ingin menembakkan laser pada wanita itu.


Glek.


"Dia menyeramkan sekali." Sally jadi ingin kembali keluar dari ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Alex bagaikan belati yang mengiris-iris tubuh Sally membuat dia merinding seketika.


"Bagaimana ini? Aku takut sekali." Wajah Sally sudah sangat pucat, dia benar-benar ingin berlari meninggalkan pria menyeramkan itu saat ini juga. "Tidak, aku harus berani." Dia mencoba kembali tegar.


"Ma-maaf mengganggu Anda, Tuan." Hanya kata itu yang mampu Sally ucapkan dengan suara yang lirih.


Alex benar-benar merasa terganggu dengan kedatangan wanita itu. Dia yang biasanya tidak pernah menunjukkan ekspresi walau sedang sedih ataupun senang, hari ini menunjukkan ekspresi yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alex lagi dengan suara menggelegar. Dia sudah berada diambang ke sabarannya saat ini.


Sally mengangkat kepala nya untuk melihat wajah Alex. Dia tetap sama menyeramkannya seperti tadi. "Saya ingin bertemu dengan Anda, Tuan." Dia berucap dengan tenang, tetapi percayalah tangannya sudah gemetaran dibalik tubuhnya.


"Untuk apa?" tanya Alex dengan sarkas, dia melipat kedua tangan didada.


"I-itu Tuan, saya ingin mengucapkan terima kasih." Akhirnya Sally bisa juga menyampaikan maksud kedatangannya.


Alex mengerutkan kening saat mendengar jawaban gadis itu. Dia tidak mengerti kenapa Sally berterima kasih padanya, dia masih diam menunggu kelanjutan ucapan Sally.


Namun, rupanya Sally tidak mengerti akan diamnya Alex. Dia pikir Alex marah karna ucapannya padahal Alex diam menunggu lanjutan dari perkataannya.


Suasana terasa sangat mencekam, hanya suara tarikan napas mereka saja yang terdengar. Dua orang yang berada diruangan itu seakan membeku ditempat mereka masing-masing.


"Kenapa jadi kayak gini sih?"  Sally merasa takut sekaligus canggung. Dia melirik ke arah lelaki yang berdiri diam dihadapannya. "Kenapa dia diam terus?" Dia menjerit melihat kebisuan laki-laki itu.


Sedangkan Alex hanya diam memperhatikan gadis di depannya, sesekali matanya memancarkan aura yang menyeramkan bagi Sally.


"Apa dia sudah selesai?" Alex bertanya-tanya. Untuk pertama kalinya dia menunggu seorang wanita bicara selain pada nona mudanya.


"Kenapa?" Akhirnya Alex bertanya pada wanita itu.


"Eh, apa maksudnya?" Sally tidak paham maksud dari pertanyaan Alex.


Tanpa mereka berdua sadari, Leon sudah berdiri diambang pintu memperhatikan dua orang yang sedang berdiri saling berhadapan. Rupanya sudah sedari tadi dia ada di sana, dia memang tidak pernah mengetuk pintu saat masuk ke ruangan Alex. Dia tersenyum melihat kekakuan Alex dan kecanggungan wanita yang ada di hadapan laki-laki itu.


Merasa kasihan melihat wajah wanita yang sedang dilanda kebingungan, Leon memilih mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Maksud Alex, kenapa anda berterima kasih padanya, Nona?" Leon bersuara mengagetkan dua orang yang sedang dilanda kekikukan saat ini.


Langsung saja, Alex dan Sally melihat ke arah sumber suara. Mereka berdua tersentak kaget saat melihat keberadaan Leon, terutama Sally. Wajahnya sudah merah padam sekarang, sedangkan Alex hanya menundukkan kepalanya saat melihat Leon.


"Kok tamumu tidak disuruh duduk?" tanya Leon lagi sambil melihat ke arah Alex.


"Maaf Tuan, dia sudah mau pergi," jawab Alex yang secara tidak langsung mengusir keberadaan Sally.


"Hah, apa?" Sally terkejut mendengar ucapan Alex.


"Oh, gitu ya." Leon pura-pura tidak tahu mengenai apa yang terjadi di ruangan itu. Kemudian dia beralih melihat wanita yang diam membeku ditempatnya.


"Katakan saja apa yang ingin anda katakan, Nona. Alex pasti senang mendengarnya," ucap Leon untuk menggoda Alex, membuat wajah Sally semakin memerah. Siapa yang digoda, siapa pula yang merasa malu.


"Saya akan mengantar dia keluar, Tuan." Alex memilih menyudahi drama ini sebelum Leon bertindak lebih jauh lagi.


"tapi saya belum selesai." Refleks Sally berucap kuat pada mereka, lalu dia memukul mulutnya sendiri yang sudah kelepasan bicara.


"Nah 'kan, lihat. Dia belum selesai," ucap Leon dengan senyum menggodanya.


Ingin rasanya Alex menyeret wanita itu keluar dari ruangannya saat ini juga, tetapi itu tidak mungkin dia lakukan dihadapan sang tuan. Dia hanya mendessah frustasi dalam situasi ini.


Tidak lama kemudian, Leora juga masuk ke dalam ruangan Alex diikuti oleh Zarga, membuat semakin panjang lah drama yang terjadi.


Takut dengan pandangan menusuk Alex, Sally memilih untuk pergi dari ruangan itu. Sepertinya misinya tidak berjalan sesuai dengan apa yang dia rencanakan.


"Ka-kalau begitu saya permisi, Tuan," pamit Sally ingin segera berlalu dari sana.


"Nona Sally!" panggil Liora menghentikan langkah kaki Sally yang sudah hampir mencapai pintu. Dia lalu berbalik saat mendengar Liora memanggilnya.


"Apa yang anda lakukan di ruangan kak Alex?" tanya Liora yang sedikit kaget melihat keberadaannya disana.


"Aduh, aku harus jawab apa?" Sally merasa sesak, dia ingin menghilang saja dari bumi ini bila perlu.


"Dia ingin berbicara dengan Alex, Nona," celetuk Zarga untuk menjawab pertanyaan Liora. Dia tidak melihat kobaran api yang tengah menyala di sampingnya. Alex menatapnya dengan tajam seakan berkata kalau kau mengatakan satu kata lagi aku akan meledakkan mulutmu.


Glek.


"habislah aku." Zarga mengutuki ucapannya.


Kemudian Liora beralih melihat ke arah alex. dia meminta penjelasan atas ucapan Zarga.


"Nona, ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Saya akan mengantarnya keluar." Alex ingin sekali menyambar tangan Sally dan menariknya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Memang apa yang aku pikirkan?" tanya Liora yang melihat ada kegelisahan diwajah Alex.


Alex tidak bisa menjawab, sepertinya dia sedang berada disituasi yang serba salah saat ini.


"Hahaha!" Leon sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, untuk pertama kali dia melihat Alex yang tampak canggung dan serba salah.


"Ayo kita keluar, sepertinya mereka masih butuh banyak waktu untuk menyelesaikan urusannya," ucap Leon menambah drama yang sedang terjadi.


"Apa-apaan sih ini?" Alex benar-benar merasa frustasi. dia benar-benar dibuat kehabisan kata-kata.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih karna Anda telah menolong saya malam itu, Tuan." Sally langsung menjelaskan maksud dari ucapannya tadi.


Leon, Liora, dan Zarga yang ingin beranjak pergi menghentikan langkah. Mereka malah fokus mendengarkan gadis itu.


"Saya juga ingin mengundang Anda untuk datang ke pesta ulang tahun saya nanti malam." Selagi keberanian yang entah dari mana muncul, Sally terus mengucapkan apa yang sudah dia rencanakan.


Kali ini bukan hanya Alex yang kaget saat mendengarnya, Leon, Liora dan Zarga pun dibuat kaget dan takjub mendengar ucapan gadis itu. Berani sekali dia mengundang seorang Alex untuk datang ke pestanya?


Seketika Liora teringat dengan Vero, dia juga belum memberi kepastian apa akan datang atau tidak ke pesta Sally.


"Anda semua juga saya undang Tuan, Nona. Saya akan sangat beruntung jika kalian sudi untuk datang ke pesta itu." Entah keberanian seperti apa yang hinggap pada diri Sally, hingga dia mengundang semua orang yang ada disana.


"Gila, dia berani sekali." Zarga benar-benar kagum melihat keberanian sally, padahal dia tidak tahu kalau gadis itu sudah gemetaran setengah mati.


"Dasar gila." Berbeda dengan Zarga, Alex terlihat sangat tidak suka mendengar undangan pesta dari Sally.


"Kami akan datang," ucap Leon mengagetkan mereka semua yang langsung menatap tajam.


"Terima kasih, Tuan." Sally benar-benar merasa bahagia, sepertinya dia tidak jadi menyesal datang ke tempat ini.


Kemudian Sally pamit untuk pergi dari tempat itu, tidak lupa dia kembali mengucapkan terima kasih.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Leon setelah Sally keluar dari sana. "Sekali-sekali kita juga harus bersenang-senangkan, anggap saja kita membebaskan diri nanti malam."


"Tapi Tuan-" Alex benar-benar tidak setuju dengan keputusan Leon.


"Batalkan semua urusan nanti malam, kita akan datang ke pesta gadis itu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2