Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 9. Tugas Khusus.


__ADS_3

Siang telah berganti sore, tetapi aktivitas dari penduduk bumi sepertinya masih tetap padat seperti biasanya. Jalanan terlihat cukup ramai karena cuaca yang cerah mendukung mereka untuk berlalu lalang seperti tak ada habisnya, ada saja yang harus dikerjakan walaupun hari sudah berganti rupa.


Angin bertiup sepoi-sepoi memberikan kesegaran bagi setiap tubuh yang lelah. Di biarkannya jendela mobil itu sedikit terbuka agar udara yang ada didalamnya berganti dengan yg baru. Sesekali Liora melihat ke arah samping, betapa bahagianya orang-orang yang sedang duduk dipinggir jalan bersama keluarga ataupun teman-teman menikmati jajanan yang dijual di sana.


Liora menyandarkan tubuhnya. Rasa lelah terus menggerogoti di setiap tulang-tulang, hembusan napas pun selalu terdengar menandakan dia memang benar-benar butuh istirahat.


Sesekali Alex melirik ke belakang. Dia tahu betul rasa lelah yang dirasakan nona mudanya. Betapa besar beban yang harus dipikul dipundak wanita itu, sungguh dia wanita yang kuat dan luar biasa. Alex tersenyum tipis merasa bangga akan keberhasilan nona mudanya.


"Kenapa tersenyum?"


Suara Liora mengagetkan Alex yang tengah memikirkan keberhasilan sang nona.


"Ti-tidak Nona." Alex menjawab dengan gelagapan sambil kembali melihat lurus ke depan.


Liora memejamkan kedua matanya, terlihat senyum tipis juga terbit dibibirnya saat melihat senyum Alex.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Terlihat anak buah Liora sedang berjaga di tempat itu.


"Selamat datang, Nona," sambut Zarga sambil membukakan pintu mobil untuk Liora.


Liora bergegas turun dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam markas untuk melihat siapa yang sudah menyerangnya.


Ruangan yang ditempati lelaki asing itu berada di bawah tanah dan sangat tersembunyi. Untuk masuk saja, harus menggunakan scan sidik jari orang-orang tertentu. Ruangan itu sudah seperti tempat eksekusi.


"Buka penutup kepalanya!" perintah Liora pada Zarga sambil duduk tepat dihadapan laki-laki itu.


Lelaki itu terlihat menyipitkan matanya untuk menyesuaikan dengan sinar lampu ruangan itu. Setelah pandangannya jelas, dia melihat tepat lurus kedepan dan berhadapan langsung dengan Liora.


"Cantiknya." Laki-laki itu memuji tidak pada tempatnya.


Untuk sepersekian detik, mereka saling berhadapan sampai akhirnya Liora mengeluarkan suaranya.


"Siapa kau?" tanya Liora pada lelaki itu.


Lelaki itu hanya diam di tempatnya. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Matanya malah melihat ke arah orang-orang yang ada di sekelilingnya.


"Jawab selagi aku masih bertanya." Liora mulai menaikkan nada suaranya.


Alex yang melihat semua itu sudah sangat geram. Ingin rasanya dia menembak mulut laki-laki yang hanya diam itu.

__ADS_1


Plak.


Plak.


Dua tamparan mendarat dipipi kanan dan kiri laki-laki itu. Terlihat sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Siapa lagi yang memukulnya jika bukan Alex, dia sudah sangat murka melihat makhluk menyedihkan itu.


"Tangkap semua keluarganya. Habisi mereka dan jangan sisakan 1 orang pun !" perintah Liora kemudian.


Tubuh laki-laki itu langsung Bergetar. Dari dahinya keluar keringat yang cukup banyak, tetapi hatinya meyakini jika keluarganya sudah dilindungi oleh org yang menyuruhnya.


Sekelebat seringai iblis muncul dibibir para anak buah Liora. Mereka sudah bisa menebak apa yang dipikirkan laki-laki itu.


"Kenzi Rafandra, 28 tahun. Mempunyai 1 adik perempuan bernama Zeevana Rafandri, 23 tahun. Tinggal di kota M, dan sudah tidak mempunyai kedua orang tua. Adiknya tinggal bersama seorang wanita bernama Gabby Angelo."


Penjelasan Zarga seketika membuat tubuh lelaki itu limbung, dan hampir terjatuh ke atas lantai.


"Kau kira kami tidak tau semua identitasmu!" ucap Zarga sambil menunjukkan sesuatu padanya.


Jantung Kenzi seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya karena melihat adiknya tengah diawasi seseorang.


"Dengan sekali perintah, mudah saja untuk membunuhnya," ucap Zarga dengan senyum iblisnya.


Zarga mencengkram kuat wajah Kenzi seakan ingin mematahkan leher laki-laki itu, sampai membuatnya terbatuk-batuk.


Liora hanya diam menyaksikan. Sungguh dia sudah sangat baik tadi, tetapi Kenzi malah memancing emosinya.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Liora kembali sambil menyuruh Zarga untuk menghentikan aksinya.


"Saya, saya tidak tau, Nona." menjawab sambil menundukkan kepalanya.


Sreeet.


Tiba-tiba sebuah pisau tajam mengiris pergelangan tangan Kenzi, membuat dia mengerrang kesakitan.


"A-ampuni saya, saya benar-benar tidak tau." Kenzi terlihat sangat menghiba, tetapi tidak bisa meluluhkan hati mereka.


Liora bangkit dan mengambil pistolnya di lemari yang ada di ruangan itu, terlihat dia sedang mencoba-coba sambil mengarahkan nya tepat ke kepala Kenzi.


Glek.

__ADS_1


Kenzi pasrah, tidak tahu akan selamat atau tidak tetapi tiba-tiba dia teringat satu hal. "Saya memang tidak tau, tapi saya tau nama panggilannya." Dia berkata dengan bibir bergetar.


"Siapa?" tanya Liora dengan cepat.


"A-agle." Kenzi menjawab dengan terbata-bata.


"Agle?" Liora dan yang lainnya terdiam.


"Saya akan segera mencari tahunya, Nona." Alex tahu apa yang harus dia kerjakan saat ini.


Liora lalu meminta Kenzi untuk menceritakannya. Kenzi mengatakan jika dia sangat butuh uang untuk biaya operasi sang adik. Tiba-tiba seseorang menelpon dan menawarkan pekerjaan padanya. Awalnya dia tidak mau, tetapi karena benar-benar butuh akhirnya diam-diam dia masuk kedalam kelompok Samuel untuk mengincar Liora.


"Cambuk dia sebanyak 100 kali," ucap Liora membuat mata Kenzi membulat seketika.


"Lalu, apa kau mau bekerja denganku?" Kemudian Liora menawarkan pekerjaan untuk laki-laki itu.


Alex dan Zarga langsung menoleh ke arah Liora, mereka tidak menyangka dengan tawaran yang wanita itu berikan untuk Kenzi.


"Nona-" Alex yang ingin bicara ditahan oleh tangan Liora.


"Tapi kau harus berjanji, kalau kau akan membongkar dalang dibalik penyeranganku. sebagai balasannya, aku akan melindungi dan merawat adikmu."


Kenzi terdiam sambil menatap Liora dengan tajam. "Ba-baik Nona, saya bersumpah akan selalu setia pada Anda sampai saya mati." Dia merasa beruntung dengan tawaran itu.


Kemudian Zarga langsung membawa Kenzi untuk dicambuk sesuai perintah Liora, sementara Liora dan Alex tetap ditempat itu.


"Dia berguna untuk kita, dia akan lebih bisa mencari para kepar*at itu. Kita harus menemukannya sebelum kabar kalau kakakku sudah sembuh tersebar, aku tidak mau dia berada dalam bahaya," ucap Liora.


Alex mengangguk paham, dia mencoba untuk mengikuti keinginan nona mudanya karna dia yakin jik Liora sudah memikirkannya baik-baik.


"Berikan posisi tepat di bawah kakak, dia harus berada di perusahaan bersama kita," sambung Liora kemudian.


"Baik, Nona."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2