Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 49. Suara Seseorang.


__ADS_3

Vero sudah merasa tidak tahan lagi, dia langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas menuju rumah Liora. Dengan kecepatan luar biasa, dia melesat cepat ke rumah wanita itu.


"Selamat siang, Tuan," sapa penjaga gerbang rumah Liora.


Vero hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan penjaga itu. Dia lalu melajukan mobilnya masuk ke pekarangan rumah, setelah itu bergegas turun dan mengetuk pintu rumah itu.


"Tuan Vero," sapa bik Rose saat membukakan pintu.


"Apa Liora ada di rumah?" tanya Vero dengan cepat.


"Nona sedang ke perusahaan, Tuan," jawab bik Rose sambil mempersilahkannya masuk.


Vero menolak tawaran wanita itu dan bergegas pamit dari sana. Dia lalu kembali ke mobil duduk diam sambil memikirkan apakah akan menemui Liora di perusahaan atau tidak.


Lalu Vero memutuskan untuk langsung menemui Liora, dia tidak peduli bagaimana tanggapan gadis itu yang pasti hari ini dia harus berbicara dengannya.


Setelah berkendara kurang lebih 15 menit, Vero sampai ke perusahaan Grazielle group. ini kedua kalinya dia menginjakkan kaki diperusahaan itu. Dia langsung bergegas menuju meja resepsionis.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis dengan ramah.


"Saya ingin bertemu dengan nona Liora Grazielle," jawab Vero.


"Maaf, apa Anda sudah membuat janji?"


"Katakan saja padanya kalau Cavero ingin bertemu," balas Vero cepat.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Resepsionis itu segera menghubungi sekretaris Liora, lalu terlibat pembicaraan. "Maaf tuan, nona Liora sedang tidak ada ditempat."


"Ck, sia*l," ucap Vero dengan kesal, bahkan untuk bertemu dengan Liora saja sudah sangat susah untuknya.


Vero bergegas keluar menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Sangking tidak fokusnya, dia menabrak seseorang sampai terhuyung ke samping.


"Maaf," ucap Vero sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak papa, Tuan. Saya juga minta maaf," balas lelaki yang Vero tabrak, dia laku pergi meninggalkannya tempat itu membuat Vero pun melanjutkan langkahnya.


Namun, baru beberapa langkah berjalan. Tiba-tiba, Vero mengehentikannya. "Tunggu, aku seperti pernah mendengar suara orang tadi." Dia segera berbalik unthk melihat lelaki yang dia tabrak tadi. "Suaranya tidak asing sekali." Dia mencoba untuk mengingat dia mana pernah mendengar suara tersebu.


Lama Vero berpikir, sampai akhirnya dia ingat. "Benar, suara itu 'kan-" Dia bergegas mengejar lelaki tadi. Dia mencari ke sana kemari tetapi tidak berhasil menemukannya.


Vero lalu kembali menemui resepsionis dan berkata ingin bertemu dengan Leon, Alex, Zarga, atau siapa pun yang ada di perusahaan itu.


Jelas saja resepsionis itu menjadi bingung, dia pun segera menghubungi atasannya.

__ADS_1


"Sia*l, aku tidak punya satu pun nomor mereka," keluh Vero yang memang cuma punya nomor Liora.


"Saya akan mengantar Anda ke ruangan tuan Kenzie, Tuan," ucap resepsionis sambil mempersilahkan Vero untuk mengikutinya.


Resepsionis itu lalu mempersilahkan Vero saat sudah berdiri di depan sebuah ruangan milik Kenzie, membuat Vero langsung bergegas masuk


Sebenarnya Kenzie sedikit kaget dengan kedatangan Vero, apalagi nona mudanya sedang keluar. Namun, resepsionis mengatakan kalau Vero ingin bertemu dengan siapa saja di antara mereka yang sedang ada di perusahaan.


"Ada yang ingin saya katakan," ucap Vero secara langsung.


"Silahkan, Tuan," balas Kenzie cepat.


"Tadi tidak sengaja saya mendengar suara Agle,"


"Apa?" pekik Kenzie dengan kaget, dia yang mengira Vero ingin berbicara soal nona mudanya malah mengatakan hal yang sangat mengejutkan. "Apa anda yakin?"


"Saya sangat yakin, saya ingat betul dengan suaranya," jawab Vero tegas. "saya bertabrakan dengannya di lobi."


"Maksud Anda, dia ada diperusahaan ini?" tanya Kenzie lagi membuat Vero menganggukkan kepala.


Dengan cepat Kenzie menghubungi Alex dan menceritakan apa yang baru saja dia dengar dari Vero.


"Mereka akan segera datang," ucap Kenzie setelah mematikan panggilannya.


"Kita harus segera memeriksa cctv," seru Vero, mereka harus segera melihat wajah pria itu.


"Sia*l, wajahnya tidak terlihat jelas," ucap Kenzie karena lelaki itu menggunakan topi, maka wajahnya hanya terlihat di sisi samping


Vero juga menyayangkannya, seharusnya mereka sudah bisa melihat wajah makhluk itu. Dia lalu segera mengcopy video itu untuk ditunjukkan pada yang lainnya.


Kenzie lalu mengajak Vero untuk kembali ke ruangan, terlihat sudah ada Leon, Liora, Alex dan juga Zarga. Mereka langsung melesat ke perusahaan saat mendengar berita darinya.


"Apa itu benar?" tanya Leon.


"Benar, Tuan. Saya yakin," jawab Vero.


kemudian Kenzie segera memperlihatkan Video yang berhasil mereka dapatkan tadi, agar mereka bisa melihatnya secara langsung.


Saat yang lain sibuk mengamati video itu, Vero terus melihat ke arah Liora, sedangkan gadis itu bersikap acuh seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka membuat hati Vero terasa sangat sakit.


"Kalau itu memang dia, apa yang dia lakukan di sini?" ucap Leon, dia merasa khawatir.


"Sepertinya kita harus berhati-hati, kalau memang benar itu adalah dia, saya yakin dia pasti merencanakan sesuatu." ucap Alex. Sama seperti dia, yang lainnya pun memikirkan hal yang sama.

__ADS_1


"Perintahkan semua anggota bloods untuk berjaga-jaga," perintah Liora kemudian.


Mereka segera mengiyakan ucapan Liora dan akan segera mengidentifikasi wajah lelaki dalam video itu, supaya bisa terlihat jelas.


"Baiklah, untuk sekarang kembali ke ruangan kalian masing-masing," ucap Leon. Dia melirik ke arah Vero yang sedari tadi memperhatikan Liora, sepertinya Lelaki itu ingin berbicara pada sang adik.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Vero setelah yang lainnya keluar.


"Bicaralah," jawab Leora, dia menatap tajam Vero.


"Apa kau benar-benar akan menikah dengan Marvel?" Vero bergetar saat mengatakannya, bahkan air matanya sudah akan keluar.


Liora diam tidak menjawab, lidahnya kelu tak bisa digerakkam seolah-olah tubuhnya tau kalau dia tidak menginginkan pernikahan itu.


"Jawab aku, Liora!" hardik Vero, nada suaranya sudah mulai naik.


"Benar, aku akan menikah dengannya," jawab Liora dengan lantang. Tiba-tiba, dia teringat dengan ancaman Marvel. Sia tidak mau memberi harapan lagi untuk Vero karena tidak mau semakin menyakiti hati lelaki yang sangat dia cintai itu.


"Hadi kau anggap apa aku ini?" bentak Vero sambil berdiri dari duduknya. Bibirnya bergetar, tangannya mengepal kuat. Wajahnya bahkan sudah merah padam menahan emosi.


Liora yang melihatnya sudah ingin menangis dan memeluk, sungguh hatinya tidak tahan melihat luka yang tersirat diwajah laki-laki itu. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahannya. Dia tetap acuh seakan-akan Vero tidak berarti apa-apa untuknya.


"Katakan Liora, apa selama ini kau tidak pernah mencintaiku?" tanya Vero pelan, dia mendekat ke arah Leora dan ingin memeluk gadis itu.


"Tidak, aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya ..., bersenang-senang saja denganmu," jawabnya sambil memalingkan wajah.


Rasanya seperti terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam saat mendengar ucapan Liora, hati Vero hancur sehancur-hancurnya. Wanita yang selama ini dia cintai tega mengatakan hal yang bahkan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Liora kau, kau.-" Vero tidak mampu lagi berkata-kata, dengan cepat dia memeluk Liora dengan tubuh bergetar. "Jangan katakan itu, Liora. Aku mohon." Dia terus memeluk Liora, dengan sendu.


Liora juga terdiam pilu, sungguh rasanya sangat sakit. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan cinta yang sangat besar ini? Hatinya bahkan sudah terasa sangat sesak hanya dengan memikirkannya


"Lepaskan aku!" Liora mencoba memberontak walau dengan air mata yang hampir berjatuhan.


"Tidak, Leora. Kau tidak boleh melakukan ini, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku." Vero memohon dengan sangat. Tidak peduli apa yang akan terjadi, yang pasti dia tidak mau kehilangan Liora.


Dengan sekuat tenaga, Liora melepas pelukan Vero, sedangkan Vero merasa semakin hancur. Benar-benar hancur..


"Maaf, aku mohon lupakanlah aku."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2