
Setelah berkendara kurang lebih 15 menit, akhirnya mereka sampai di depan kafe yang menjadi tempat favorit Maily.
"Loh, kok kakak gak keluar?" tanya Maily pada Liora yang mematung di dalam mobil.
Bagaimana mungkin Liora bisa keluar dari mobil saat melihat bangunan kafe yang terpampang nyata di hadapannya? Kafe yang menyimpan kenangan indah untuknya dan tentu saja kafe itu adalah milik Vero.
"Liora, ayo turun!" ajak Marvel yang kembali masuk ke mobil karena Liora tidak kunjung turun dari mobil.
Dengan perlahan, Liora turun dari mobil dengan tubuh kaku dan menegang. Bukan karna mau bertemu dengan calon mertua tapi karna tempat ini milik orang yang dia cintai.
"Daddy, Mommy!" teriak Maily pada saat baru masuk ke kafe itu membuat semua orang menoleh ke arahnya, termasuk para pelayan dan pelanggan yang ada di tempat itu.
"Pelankan suaramu, Maily. Kau pikir ini di hutan!" seru Marvel. Namun, bukan Maily namanya kalau menuruti ucapan kakaknya. Dia malah terus melenggang ke arah orang tuanya berada.
"Selamat datang menantuku," sambut mommy Mona sambil memeluk dan cepika-cepiki dengan Liora, sedangkan Liora hanya membalasnya dengan senyuman yang tentunya sangat kaku.
"Maily, kau bilang kau sudah memesan makanannya 'kan?" bisik mommy Mona, dia takut anaknya membuat dia malu di hadapan sang menantu.
"Tenang Mommy, aku udah bilang sama temenku untuk menyiapkan makanan terlezat untuk kakak iparku," ucap Maily membuat Liora hanya tersenyum kecut mendengar ocehan gadis itu.
"Kakak ipar? menantu?" Batin Liora merasa tidak nyaman mendengarnya.
"Jadi bagaimana kabarmu, Liora?" tanya mommy Mona. Dia ingin mengakrabkan diri supaya menantunya tidak merasa canggung, sementara daddy Marco hanya diam di tempatnya.
"Saya baik, Tante. Bagaimana kabar tante dan keluarga?" tanya Liora kembali, dia mencoba untuk menghargai keramahan keluarga Marvel.
"Aduh, jangan formal gitu lah, kayak sama siapa aja," celetuk mommy Mona. "Panggil aja mommy ya, biar terbiasa." Tambahnya lagi, sedangkan Liora hanya menelan salivenya. Bagaimana mungkin dia memanggil seseorang mommy dipertemuan pertama mereka?
Sebelum Liora menjawab ucapan calon mertuanya itu, para pelayan sudah lebih dulu mengantarkan hidangan untuk mereka semua.
"Waah, wangi sekali," seru Maily yang sudah tidak tahan ingin segera menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"Kau ini, jangan buat malu." mommy Mona mencubit lengan Maily sampai gadis itu meringis kesakitan.
"Apa sih Mom? Heeey, kak Vero!" Fokus Maily berpindah pada saat melihat seorang lelaki yang dikenalnya.
Jantung Liora terasa berdebar lebih kencang seperti genderang mau perang saat mendengar suara teriakan Mailly. Dia menoleh ke arah di mana Maily memanggil seseorang, dan benar saja, itu adalah Vero. Lelaki yang berhasil membuatnya jatuh cinta, tapi ternyata bukan hanya Liora yang merasa kaget, Marvel terlihat jauh lebih kaget dengan keberadaan Vero.
"Apa yang dia lakukan di sini?" batinMarvel bertanya-tanya, sepertinya dia tidak tahu kalau Vero adalah pemilik kafe ini.
"Mommy, Daddy, ini kak Vero. Orang yang pernah ku ceritakan itu." Maily memperkenalkan Vero pada orang tuanya, yang dibalas dengan senyuman.
"Jadi ini yang namanya Vero? Maily banyak cerita tentang kamu," ucap Mommy Mona.
"Apa kabar Tante? maaf tidak sempat berkunjung ke rumah Anda," balas Vero membuat Liora dan Marvel menatapnya tajam. Apalagi Marvel, laki-laki itu sangat terkejut melihat hubungan Vero dan keluarganya.
"Tante baik. Ridak papa, tante tahu kamu sibuk," tambah mommy Mona lagi.
"Terima kasih karena telah menolong Maily, Vero." Akhirnya daddy Marco buka suara setelah sekian lama berdiam diri, membuat Marvel langsung melihat ke arahnya.
"Tidak perlu berterima kasih, Om. Kita kan memang harus saling tolong menolong," ucap Vero merendah.
"Kamu memang pria yang sangat baik," puji mommy Mona, sedangkan Vero merasa senang mendengarnya dengan senyum lebar yang menghiasi wajah.
"Duduk sini, kita makan sama-sama!" ajak mommy Mona sambil menunjuk kursi yang ada di samping Liora.
__ADS_1
"Tidak usah, Tante. Saya takut mengganggu," ucap Vero dengan segan sambil melirik ke arah Liora dan Marvel yang sejak tadi menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.
"Mana ada begitu. Udah, sini duduk di sebelah Liora," ucap mommy Mona.
Makin bertambahlah rasa resah dan gelisah yang ada dalam hati Liora, bisa-bisanya takdir mempertemukan mereka dengan cara yang ajaib seperti ini.
"Biar dia duduk di sebelah Daddy," ucap Marvel spontan. Mendengar Vero akan duduk di samping Liora membuat tubuhnya panas dingin.
"Di samping addy kan aku, Kak. Jadi kak Vero mau duduk berdua denganku, gitu?" celetuk Maily, dia merasa aneh dengan reaksi sang kakak saat ini.
"Kau 'kan bisa pindah ke sini sih!" tunjuk Marvel pada kursi di samping Liora, membuat semua orang tidak habis pikir.
"Kok ribet sekali sih? orang tinggal duduk aja kok," omel Maily, dia bingung kenapa harus pindah jelas-jelas masih ada kursi yang kosong di samping calon kakak iparnya.
"Ya sudah, saya duduk di sini saja." Vero langsung mendudukkan pantatnya dikursi samping Liora, membuat Marvel semakin menatap tajam padanya.
"Dasar kurang ajar!" batin Marvel sangat kesal dengan apa yang terjadi saat ini.
Terlihat Vero melirik ke arah Marvel, dan tersenyum sinis seolah mengejek. Entah apa yang sedang dia lakukan dan pikirkan saat ini, terlihat jelas jika dia sedang merencanakan sesuatu.
Melihat itu, Marvel jadi merasa curiga. Jangan-jangan semua ini sudah direncanakan oleh Vero? "Apa-apaan ini? Apa semua ini sudah direncanakan?" Dia jadi merasa geram sendiri.
"Maaf Tante, siapa nona yang ada di sampingku ini?" tanya Vero sambil menikmati hidangan yang ada di atas meja, dia melirik ke arah Liora yang juga sedang meliriknya.
Tak.
Marvel meletakkan sendoknya dengan kuat saat mendengar ucapan Vero, sedangkan Liora sendiri ingin mati saja rasanya.
"Sebenarnya ada apa ini? Tolong siapa saja keluarkan aku dari posisi ini!" teriak Liora dalam hati. Ingin sekali dia pergi dari tempat itu saat ini juga.
"Namanya Liora, dia calon istri anak tante ini. Marvel," jawab mommy Mona sambil menunjuk ke arah Marvel dengan senyum cerah dan bahagia.
Rasanya seperti diterpa badai salju membuat hati Liora menjadi dingin. Dia melirik ke arah Vero yang juga sedang meliriknya dengan tersenyum.
melihat Liora dan Vero saling lirik-lirikan, tentu membuat Marvel bertambah emosi. Ingin rasanya dia menyeret lelaki itu pergi dari tempat ini, tapi mereka sedang ada di hadapan orang tuanya, tidak mungkin dia membuat keributan.
Mereka lalu makan dengan lahap sambil sesekali bercerita. Tentu saja yang akan sibuk cerita sana sini adalah mommy Mona, sedangkan yang lainnya hanya mendengarkan. Maily dan Vero sesekali akan menimpalinya.
"Kau harus datang ke pesta pernikahan anak tante," ucap mommy Mona sambil menyeka mulutnya, pertanda dia sudah selesai makan.
"Tentu saja, Tante. Dan Tante harus menikahkan mereka secepatnya, jangan sampai menantu tante yang cantik ini diambil orang lain."
Pyar.
Seketika gelas minuman Marvel terjatuh ke lantai mengagetkan seisi kafe itu, dia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya mendengar ocehan pria gila yang ada di hadapannya.
Melihat akan terjadi sesuatu yang tidak baik, Liora memilih permisi ke toilet. Dia harus pergi dari kedua pria gila itu, dirinya tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Vero. Saat ini laki-laki itu seperti menjadi orang lain.
"Ada apa denganmu, Vero? Kenapa kau jadi seperti itu?" gumam Liora saat sudah berada di dalam toilet.
Setelah berhasil menenangkan jiwanya yang sedikit terguncang, akhirnya Liora keluar dari toilet untuk kembali berkumpul dengan mereka.
"Lama tidak bertemu, Liora," ucap Vero yang ternyata sedang menunggu Leora, dia berdiri di depan toilet wanita.
"Ka-kau?" Liora keget melihat Vero yang sedang bersandar di dinding untuk menunggunya keluar.
__ADS_1
"Kenapa kau sekaget itu?" tambah Vero lagi sambil mendekat ke arah gadis itu, sedangkan Liora memundurkan tubuhnya saat Vero semakin dekat.
Vero mendorong tubuh Liora dan membawanya kembali masuk ke dalam toilet dan langsung menguncinya. Liora yang kaget karena perbuatan Vero hanya mematung ditempat, otaknya masih mencoba mencerna apa yang Vero lakukan.
Melihat Liora diam, seringai kecil muncul dibibirnya. Dengan cepat Vero memeluk Liora dengan sangat erat tanpa bisa dicegah oleh gadis itu.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Leora dengan suara tertahan, dia memberontak agar Vero melepaskan pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu, Liora. Biarkan aku memelukmu sebentar saja," pinta Vero dengan suara parau, sepertinya dia ingin menangis sekarang. "Apa kau tidak merindukanku?" Dia bertanya dengan pelan. Napasnya yang hangat berhasil membuat bulu kuduk Liora meremang.
Liora tidak lagi memberontak, tubuhnya juga rindu akan pelukan Vero. Pikirannya mengatakan kalau dia tidak boleh seperti ini, tetapi hatinya tidak bisa sejalan dengan pikirannya.
"Rasanya aku seperti akan mati karna merindukanmu," ucap Vero lagi.
Vero merenggangkan pelukan mereka tetapi dia masih memegang erat pinggang Liora, bahkan tubuh mereka menempel dengan sempurna. Dia lalu melihat ke wajah Liora, wajah yang selama ini dia rindukan. Perlahan namun pasti Vero mencium bibir ranum gadis itu dengan rasa cinta yang membuncah.
Awalnya Liora menolak, dan mencoba untuk mendorong tubuh Vero, tapi Vero tidak membiarkannya. laki-laki itu terus memeluknya dengan erat sambil tetap menciumnya. Lama kelamaan Liora terbuai, dia membalas ciuman Vero dengan sangat bergairah.
Pertukaran salive itu kian lama kian memanas. Mereka saling menggigit, menghisap, mengulum untuk melepaskan kerinduan yang selama ini dirasakan.
Tanpa sadar, air mata Liora menetes. Dia kembali menangis meratapi nasib mereka membuat Vero melepaskan ciuman mautnya saat merasakan air mata Liora. Vero segera menghapusnya dan mencium kedua mata Liora dengan sayang, tak lupa dia juga mencium seluruh wajah Liora seperti yang biasa dia lakukan waktu dulu.
"Jangan menangis," ucap Vero pelan. "Sekarang pergilah, mereka sudah lama menunggumu." Dia kembali berucap.
Liora menatap Vero tajam, hatinya sakit mendengar ucapan laki-laki itu. Bagaimana mungkin lelaki yang baru saja menciumnya menyuruhnya untuk pergi?
Liora langsung menghapus air matanya dengan kasar, dia segera berbalik dan berjalan meninggalkan Vero dengan luka dihatinya. Namun, suara laki-laki itu kembali menghentikan langkahnya.
"Bersabarlah, aku akan segera membebaskanmu dari perjanjian itu. Dan aku akan menarikmu kembali dalam pelukanku," ucap Vero pelan sambil berlalu meninggalkan Liora.
Liora hanya terpaku di tempatnya. Dia terkejut, takut, sekaligus senang mendengar ucapan Vero. Sampai tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya sampai membuatnya terjingkat kaget.
"Maaf membuat Kakak terkejut, abisnya Kakak dipanggil dari tadi gak denger sih." Maily merasa bersalah karena telah membuat Liora kaget. "Ayo , semuanya sudah menunggu Kakak."Dia berucap sambil menarik Liora agar segera pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang bersuara dimobil itu. Marvel hanya melihat lurus ke depan, sedangkan Liora melihat kearah samping.
Maily sendiri sudah nyenyak tidur dikursi belakang, dia yang tadi makan sampai merasa perutnya hampir meledak langsung merasa ngantuk begitu masuk ke dalam mobil. Jadilah suasana dimobil itu begitu sunyi dan menyeramkan.
Begitu sampai dirumah, Liora bergegas turun dari mobil. Tidak lupa dia mengucapkan terima kasih dan salam untuk kedua orang tua Marvel, walau bagaimana pun keluarga Marvel sudah sangat baik padanya.
"Tunggu." Marvel menghentikan langkah Liora yang sudah hampir mencapai pintu, kemudian dia mendekat ke arahnya.
"Dengar, kejadian malam ini adalah batas kesabaranku. Kalau kau masih berhubungan dengannya, maka aku tidak akan tinggal diam. Harap kau ingat, aku bukan orang yang punya belas kasihan," ucap Marvel tajam sambil melihat ke arah Leora. Pandangannya seakan mengatakan kalau apa yang dia ucapkan tadi tidak main-main.
Liora hanya diam. Dia tidak menjawab ucapan Marvel, tapi terlihat dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa akan mengikuti apa yang diinginkan oleh lelaki itu.
"Baiklah, sekarang sudah larut. Istirahat ya, Sayang," ucap Marvel sambil mencium bibir Liora dengan cepat.
Liora tersentak akibat ciuman itu, dan itu berhasil membuat Marvel tersenyum. Setelah itu Marvel segera masuk ke mobilnya dan bergegas pergi dari sana. Mobil itu melesat kencang membelah keramaian jalanan.
"Awas aja kau, Vero. Aku akan membalasmu."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.