Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 16. Identitas Vero.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Liora dan Leon tengah bersantai di taman samping rumah dengan ditemani Alex dan Zarga yang juga terlihat santai seperti tuan dan nonanya. Terlihat beberapa pelayan menyajikan minuman dan makanan untuk mereka, tidak berselang lama datangkah Arya dan bergabung dengan mereka.


"Wah, enak sekali ya," celetuk Arya sambil memakan cake yang ada di hadapannya. Dia memang selalu memeriahkan suasana di manapun berada.


Hari ini adalah weekend, tempat di mana para pemburu rezeki mengistirahatkan jiwa dan raga. Rasa lelah dan letih yang dirasakan pun sedikit menguap saat berkumpul dengan sanak keluarga.


"Aku besok sudah mulai bekerja," ucap Leon memberitahu pada mereka semua, dia merasa sudah kembali sehat


"Saya sudah mengatur semuanya, Tuan." Tentu Alex sudah mempersiapkan semuanya.


"Kau boleh bekerja, tapi ingat untuk tetap banyak istirahat." Arya mengingatkan Leon untuk tetap menjaga kesehatannya.


"Tentu saja." Leon menjawab dengan cepat sambil melirik kearah Liora. Dia memperhatikan adiknya yang sedari tadi diam ditempat dan tidak mengucapkan apa-apa.


Zarga, dan Alex tau maksud dari diam nya Liora. wanita itu pasti khawatir tentang keadaan sang kakak.


"Liora," panggil Leon dengan lirih.


Liora tidak menjawab karena terhanyut oleh lamunannya, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


Leon menyentuh tangan sang adik, seketika membuat Liora kaget dan langsung menatap pada Leon.


"Ada apa?" tanya Leon yang melihat kegelisahan diwajah sang adik. "Kau tidak setuju kalau kakak bekerja?"


Liora menggelengkan kepalanya. "Aku senang kalau kakak udah bisa bekerja." Dia tersenyum dengan simpul.


"Jangan khawatir, kakak akan baik-baik saja." Leon bisa membaca kekhawatiran yang tergambar jelas diwajah cantik Liora.


"Sudah pasti kakak akan baik-baik saja," ucap Liora dengan cepat, memang siapa yang berani menyakiti keluarganya? sudah pasti dia akan menghancurkan mereka.


"Kak Alex akan kembali menjadi sekretaris pribadi kakak, dan Kak Zarga akan menjadi sekretarisku," ucap Liora kemudian.


"Saya nona." tunjuk Zarga pada dirinya sendiri.


Dia merasa kaget saat mendengar Liora menjadikannya sebagai sekretaris.


"Memang siapa lagi yang namanya Zarga di sini?" sambar Arya sambil terus menikmati cake nya, sepertinya dia sangat kelaparan pagi ini.


"Saya tidak mampu, Nona," ucap Zarga yang merasa rendah diri untuk menjadi sekretaris Liora. Dia hanya lulusan SMA, dan tidak tahu bagaimana pekerjaan di perusahaan.

__ADS_1


Selama ini, Zarga memang bekerja pada Liora, tetapi dia hanya bertugas untuk mengamankan system dan seluruh aset kekayaan keluarga saja. Juga menjadi tukang pukul Liora ketika terjadi baku hantam, sementara untuk terjun langsung dalam perusahaan, dia merasa tidak percaya diri.


"Kau lebih dari mampu, Zarga," ucap Leon pada Zarga. Walaupun laki-laki itu tidak pernah menempuh pendidikan seperti mereka, dia tahu bagaimana ilmu yang ada dalam diri Zarga..


"Tapi ..." Zarga tetap saja merasa tidak pantas.


kemudian Alex memegang lengan Zarga, dan menatap laki-laki itu dengan tajam. "Mampu atau pun tidak, kau harus bisa. Itu adalah perintah nona." Dia mengingatkan kalau mereka harus selalu mengikuti perintah dari sang nona.


"Aku tidak memberi perintah, aku mengatakannya karna kakak memang benar-benar mampu untuk posisi itu." Liora meyakinkan Zarga jika laki-laki itu sangat layak untuk menjadi sekretarisnya.


"Baiklah, Nona." Zarga menganggukkan kepalanya mengikuti keinginan sang nona.


Sungguh Zarga tidak menyangka akan menerima posisi itu. Sebenarnya dia merasa senang karena kemampuannya telah diakui, tetapi di sisi lain dia takut akan mengecewakan mereka.


Alex menepuk bahu Zarga untuk memberi semangat, dia juga merasa yakin kalau laki-laki itu mampu untuk menjadi sekretaris. Dia sendiri telah melihat bagaimana keahlian Zarga dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.


"Kalian semua orang-orang hebat, tidak ada yang lebih hebat dari kalian. Jadi kalian harus percaya diri. Pendidikan bukanlah segalanya. Selagi kalian bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak ada yang tidak mungkin selagi kalian mau berusaha." Arya melantunkan ceramahnya untuk memberi motivasi pada Zarga.


"Terima kasih untuk segala kebaikan Anda Tuan, Nona," ucap Zarga, sungguh dia sangat bersyukur dipertemukan oleh keluarga mereka.


"Udah-udah, memang kau dikasi apa sih sampai terima kasih gitu?" Arya memang sangat ahli dalam merusak suasana, yang tadinya haru menjadi kesal karna perbuatannya.


"Dasar perusak," cibir Liora pada Arya.


"Tapi kami tidak penasaran." Alex menyambung kata-kata Arya dengan santai dan tidak melihat tatapan kesal Arya yang dilayangkan untuknya.


"Bisa diam tidak?" Kali ini Arya yang merasa kesal, membuat yang lain kembali tertawa.


"Iya-iya, kau mau ngomong apa?" Leon menengahi mereka setelah berhasil menghentikan tawanya.


Arya lalu tersenyum lebar membuat yang lain merasa curiga. "Gimana hubunganmu dengan lelaki itu, Liora?" Dia menatap Liora dengan menaik-turunkan alisnya.


"Bukan urusan kakak," jawab Liora dengan sinis.


"Hey, aku kakakmu. Itu juga urusanku." Alex merasa tidak terima dengan jawaban Liora.


Sementara itu Alex dan Zarga hanya saling pandang. Mereka tidak tahu harus merasa senang atau tidak dengan hubungan asmara yang sedang dialami nona mudanya.


"Dia pemilik kafe M yang ada di dekat kantormu 'kan?" Arya masih saja melanjutkan ocehannya walaupun Liora merasa enggan untuk menjawab.

__ADS_1


"Sibuk sekali sih!" cibir Alex mencoba


menghentikan ocehan Arya.


"Diam kau!" tunjuk Arya pada Alex, mereka memang selalu seperti kucing dan tikus jika bertemu.


"Kalau kakak ingin tau identitasnya, tanya saja pada mereka." Leora menunjuk ke arah Alex dan juga Zarga.


Glek.


"Nona tahu." batin Alex dan Zarga bersamaan.


Jelas Liora tau jika Alex memerintahkan Zarga untuk mencari tahu identitas Vero, karena mereka memang harus berhati-hati pada siapa saja yang dekat dengannya.


"Coba jelaskan siapa dia." Leon juga sudah penasaran, dia ingin tau lelaki seperti apa yang sudah berhasil mencuri hati Liora.


Kemudian Zarga mulai menceritakan tentang identitas Vero yang sesungguhnya pada mereka. Namanya adalah Cavero Zander. laki-laki itu satu-satunya pewaris dari klan Zander. 4 tahun yang lalu, dia pergi meninggalkan klan itu ketika ibunya baru saja meninggal akibat terkena kanker rahim. Dia juga tidak pernah lagi berhubungan dengan mereka, apalagi dengan ayahnya. Dia memutuskan untuk pergi ke sini karena ini adalah tempat di mana dia dilahirkan. Kemudian dia membangun usahanya setelah bekerja keras mengumpulkan uang dengan bekerja di sana sini.


Mereka semua khusyuk mendengarkan. Liora juga terlihat fokus, dia memang belum tahu tentang identitas lelaki itu.


"Kenapa dia pergi dari rumah?" Arya bertanya setelah Zarga menyelesaikan ceritanya.


"Saya belum berhasil mengetahui itu, Dokter," jawab Zarga yang memang tidak tahu alasan kenapa Vero pergi.


"Zander?" gumam Liora menyebut nama klan Vero.


"Ayahnya bernama Barra Zander?" tanya Leora pada Zarga.


"Benar, Nona. Dia adalah pemimpin klan Zander, dia berhasil menurunkan paksa ayahnya yang bernama Miguel Zander. Dan tuan Samuel adalah anak buah dari Barra Zander."


Semua orang tersentak kaget saat mendengarnya, kecuali Alex. "Samuel? maksudmu Samuel Fernandez ?" Liora menatap Zarga dengan tajam.


"Benar, Nona. Setelah tuan Vero memutuskan untuk pergi, tuan Barra memerintahkan tuan Samuel untuk mengikuti dan juga menjaganya tanpa sepengetahuan tuan Vero. untuk itu lah tuan Samuel ada didekatnya," ucap Zarga panjang lebar.


"Pantas Samuel selalu menjalankan misi rahasia, ternyata dia memang diutus seseorang."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2