Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 44. Patah Hati.


__ADS_3

Malam semakin larut, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan pesta. Namun, masih ada beberapa orang yang terlihat berlalu lalang di tempat itu.


"Mana Leora?" tanya Leon saat melihat Zarga berjalan seorang diri.


"Nona bilang ingin bermalam di sini, Tuan," jawab Zarga pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Bermalam di sini, kenapa ?" Kening Leon sampai berkerut mendengar jawaban Zarga, apa terjadi sesuatu dengan sang adik?


Leon langsung pergi untuk menghampiri sang adik tanpa menunggu jawaban dari Zarga, tapi baru beberapa langkah tangannya dicekal oleh laki-laki itu.


"Apa? Aku mau mengajak Liora pulang," ucap Leon sambil mengibaskan tangannya agar cekalan laki-laki itu terlepas.


"Tapi Tuan-"


"Biiarkan dia, Leon," potong Arya dengan cepat, membuat Leon dan Zarga melihat ke arahnya. "Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri." Tambahnya lagi memberi penjelasan.


Leon langsung berdecak kesal saat mendengarnya, dia lalu menghela napas kasar sambil berlalu meninggalkan mereka semua.


Arya dan Alex segera mengikuti langkah Leon sedangkan Zarga akan tetap dihotel itu bersama dengan nona mudanya, mungkin memang benar kata Arya jika Liora butuh waktu untuk sendiri.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Samuel dan Sally sangat cemas melihat keadaan Vero. Setelah keluar dari tempat pesta, mereka mengejar laki-laki itu tetapi dia terlalu cepat sehingga tidak terkejar. Vero langsung menaiki mobilnya dan melaju dengan kencang, hingga mereka terpaksa terus mengikutinya walau sekarang kehilangan jejak.


"Gimana sih?" teriak Sally marah, dia merasa frustasi melihat aoa yang terjadi saat ini.


"Ck, ke mana dia?" Samuel melihat ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Vero, tetapi tetap saja dia tidak menemukannya.


"Kau sih, lambat kali bawa mobil," omel Sally, dia juga ikut celingak-celinguk mencari keberadaan Vero.


"Ini juga udah kencang, tahu. Kau mau kita kecelakaan?" ketus Samuel, padahal dia biasa tidak terlalu kencang agar wanita itu tidak takut

__ADS_1


"Amit-amit, jangan ngomong sembarangan kenapa!" protes Sally, dia tidak mau mati di usia muda. Apalagi belum menikah dan punya anak yang mirip dengan Alex.


"Makanya, tunggu!" Tiba-tiba Samuel menginjak rem yang secara mendadak membuat Sally kaget sampai hampir membentur jok bagian depan mobil.


"Astaga, apa-apaan sih kau?" bentak Sally, hampir aja kepalanya benjol akibat benturan keras yang tadi akan terjadi.


Tanpa memperdulikan ocehan makhluk di sebelahnya, Samuel memutar mobilnya ke arah yang berlawanan karena melihat sesuatu.


"Mau ke mana lagi ini?" tanya Sally dengan tajam, dia merasa mulai takut sekarang.


"Udah diam, aku tau di mana Vero sekarang," jawab Samuel tanpa mengalihkan pandangannya dan fokus menyetir.


"Kalau tahu kok gak bilang dari tadi sih? Bikin susah aja," omel Sally lagi.


Samuel memilih diam dan tidak menanggapinya, sudah habis terkuras tenaganya untuk melawan manusia yang satu itu. Dia lalu menghentikan mobilnya saat melihat mobil Vero terparkir di samping danau buatan.


"Dia ada di sana!" tunjuk Samuel ke arah kanan, terlihat Vero tengah duduk disebuah kursi kayu tepat di samping danau tersebut.


Danau inilah yang menjadi saksi bisu awal dimulainya hubungan Vero dan Liora, tapi di danau ini jugalah Vero menumpahkan segala sakit yang sedang dia alami sekarang.


"aargh!" teriak Vero untuk meluapkan rasa sakit yang menyesakkan dada..


Samuel dan Sally yang masih berjalan ke arah Vero sampai terlonjak kaget saat mendengar teriakan laki-laki itu, bahkan Sally sampai meremas tangan Samuel sampai membuat dia meringis kesakitan.


"Kenapa, kenapa, Liora?" teriak Vero lagi, sepertinya dia benar-benar merasa sakit hati. Dia lalu mengepal kuat tangannya sampai kukunya memutih.


Perlahan Samuel dan Sally mendekati Vero, mereka lalu saling pandang. Tidak tahu harus berbicara apa pada sahabatnya yang tengah patah hati itu.


"Vero," panggil Sally pelan, bukannya maju dia malah tampak mundur ke belakang akibat takut dengan tatapan tajam Vero.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu, Ver," ucap Samuel dia ikut duduk di samping Vero dan mencoba untuk bicara.


Vero tidak menanggapi ucapan teman-temannya, dia tetap menatap lurus ke depan dengan pikiran melayang ke mana-mana.


"Apa kau sudah tahu?" tanya Vero tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya.


Sally dan Samuel saling pandang saat mendengarnya, mereka tidak tahu apa maksud pertanyaan Vero.


"Apa kau sudah tau hubungan Liora dengan lelaki itu?" ulang Vero, kali ini dia menatap Samuel dengan tajam.


Samuel menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku sama sekali tidak tahu, aku juga baru tau malam ini," menjawab dengan sekali tarikan nafas, karena tatapan Vero membuatnya takut.


"Hah." Vero menghela napas kasar dengan. "Kenapa dia tega melakukan ini?" Akhirnya tumpah juga kesedihan yang sedang dia rasakan, tubuhnya sampai bergetar merasakan sakit yang teramat dalam.


Sally juga ikut merasakan sakit yang sedang dialami oleh Vero. dia langsung memeluk laki-laki itu dengan erat mencoba untuk menenangkannya.


"Kenapa, Sally? Kenapa?" racau Vero dengan suara parau, membuat suasana berubah menjadi sendu.


"Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Sally. Dia mengusap punggung Vero dengan lembut, mencoba untuk menenangkan laki-laki itu.


"Tidak akan ada yang baik-baik saja, Sally. Dia, dia sudah bersama dengan orang lain, tapi kenapa masih memberi harapan padaku?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2