
Disuatu tempat, terlihat seorang pria sedang mengamati keadaan sekitar dengan memakai pakaian serba hitam.
"Leon berada dimobil bersama dengan semua anggotanya, Tuan." Lapor seseorang pada tuannya. "Liora sendiri pergi dengan mobil lain bersama seorang lelaki. Akan sulit untuk kita menyerang Leon, tapi kalau Liora, itu akan jauh lebih mudah." Tambahnya.
Rupanya sedari tadi ada seseorang yang terus mengamati Liora dan orang-orangnya.
"Lakukan sesuai rencana, dan tergetnya berubah menjadi Liora," Perintah seseorang dari sebrang telpon.
"Baik, Tuan." Dia segera menyimpan ponselnya ke saku saat panggilan itu sudah mati.
Disisi lain, Leon dan semua anggotanya sudah sampai di rumah. Mereka duduk di ruang keluarga seperti biasanya.
"Aduh, kasihan sekali ya, nona Sally." Arya tiba-tiba kembali mengungkit kejadian yang terjadi di pesta tadi.
"Betul, rasanya aku ingin memeluknya tadi," ucap Leon untuk memprovokasi Alex, tapi percuma saja. Laki-laki itu sama sekali tidak peduli. Bahkan raut wajahnya tetap datar tanpa beban.
"Kayaknya dia suka deh, sama kau Lex." ucap Arya lagi. Dia memang sangat suka sekali memancing keributan, padahal dia takut saat melihat kemarahan Alex.
"Bukan urusan saya." Alex merasa tidak peduli dan acuh tak acuh. Bukan menjadi urusan dia jika wanita itu suka, karena dia sama sekali tidak tertarik.
"Astaga." Leon mendessah frustasi. Bisa-bisanya dia mengenal manusia sekaku dan sekejam Alex, entah terbuat dari apa hati manusia itu.
"Padahal dia cantik loh." Arya kembali berkomentar tak ada habisnya membuat Alex benar-benar jengah, dan sudah berada diambang kesabarannya
"Kalau kau suka, buat kau saja," jawaban menohok dari Alex untuknya. Dia lalu menatap Arya dengan tajam seolah ingin menelan laki-laki itu hidup-hidup.
Arya langsung menutup mulutnya dan tidak berani lagi berkomentar, apalagi terlihat jelas kemarahan yang sangat luar biasa melalui sorot mata laki-laki itu.
"Bagaimana menurut kalian tentang Liora dan Vero ?" Leon mengalihkan topik pembicaraan.
"Mereka benar-benar cocok ya, Leora terlihat bahagia bersama dia." Dia tersenyum mengingat rona bahagia diwajah sang adik.
"Tapi bagaimana dengan keluarganya, Tuan?" tanya Zarga yang memang terlihat tidak seantusias Leon.
"Benar, Tuan. Ayahnya seorang pemimpin klan besar, dan dia adalah satu-satunya pewaris." Alex menambahkan ucapan Zarga.
"Bagiku yang terpenting hati Leora. Asal dia bahagia, semua bisa dipikirkan belakangan." Leon hanya ingin Liora berubah menjadi seperti dulu, yang hidup dalam kebahagiaan.
Akhir-akhir ini, Liora memang terlihat lebih hangat dan bersahabat. Dia yang biasanya selepas bekerja langsung menghabiskan waktu di kamar, sekarang banyak menghabiskan waktu bersama mereka.
Liora juga sudah lebih gampang mengutarakan isi hatinya. Senyuman yang selama ini dirindukan oleh mereka pun sekarang sudah sering terlihat. Bahkan para pelayan dan pengawal yang dulu selalu menundukkan kepala sekarang sudah mulai berani berbicara padanya.
__ADS_1
"Itu benar, Liora banyak berubah sekarang." Arya juga bisa melihat perubahan besar dalam diri Liora. Apalagi dia yang selama ini sangat dekat disaat masa-masa sulit yang dilewati gadis itu.
"Klan Zander mempunyai banyak musuh. Walau Vero tidak berhubungan lagi dengan mereka, tapi dia tetap saja bagian dari klannya. Jika nona bersama dengannya, nona juga bisa berada dalam bahaya."
Alex tampak sangat tidak setuju dengan kedekatan Vero dan Liora. Dia takut nona mudanya kembali dalam bahaya seperti hari-hari yang mereka lalui.
"Kita semua juga punya musuh, bahkan keluargaku yang tidak pernah berhubungan dengan dunia hitam pun menjadi korban," ucap Leon pahit mengenang kematian orang tuanya.
"Bahkan sampai sekarang aku belum bisa mengingat kejadian itu," tambahnya lagi semakin merasa sedih.
"Tidak seperti itu, Tuan. Anda sudah berusaha, suatu saat nanti Anda pasti akan mengingat semuanya." Zarga mencoba untuk memberi semangat pada Leon.
Memang sampai saat ini Leon belum bisa mengingat tentang kejadian itu. Akibat luka berat yang ada dikepalanya, dia tidak bisa mengingat kejadian yang menewaskan kedua orang tuanya.
Sementara itu, di tempat lain Vero mengajak Liora ke sebuah danau yang ada di pinggir kota. Tempatnya sangat bagus dan sepi, benar-benar mendukung untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Maaf, aku membawamu ke tempat seperti ini," ucap Vero sedikit canggung. Dia merasa gugup, padahal ini bukan kali pertama berduaan dengan wanita itu.
"Tidak papa, udaranya segar. Aku suka," jawab Liora sambil tersenyum.
Kemudian mereka melihat ke arah danau untuk menikmati suasana yang sejuk dan tenang.
Vero masih belum bicara, dia bingung harus mulai dari mana dulu untuk mengungkapkan isi hatinya.
Liora tersenyum, dan membalas ucapan Vero. "Aku juga mencintaimu." Dia menatap dengan mata berbinar-binar.
Betapa bahagianya Vero saat mendengar balasan dari gadis yang dia cintai. Dia benar-benar tidak menyangka jika Liora juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Apa kau mau jadi pacarku?" ucap Vero dengan pelan dan penuh harap.
Liora tidak menjawab ucapan Vero. Sepertinya fokusnya sedang tertuju pada sesuatu yang lain, lalu tiba-tiba saja dia menarik kepala Vero untuk menunduk, dan seketika ....
Dor.
Dor.
Suara tembakan menggema di tempat itu membuat Vero terkejut. Apalagi saat melihat peluru yang hampir mengenai kepala mereka. Dengan cepat Liora merogoh tasnya dan mengambil dua pistol yang selalu dia bawa ke mana-mana.
Sambil tetap merunduk, Liora membidik orang-orang yang menyerangnya tadi dan langsung memberikan tembakan.
Vero yang melihat semua itu tentu tidak tinggal diam, dia merebut satu pistol Liora dan langsung membidik para musuh. Tembakan terus terdengar di mana-mana, dan terlihat para musuh banyak yang terkena tembakan mereka.
__ADS_1
"S*ial, pelurunya habis." Vero melihat masih banyak musuh yang menyerang mereka.
Vero lalu menarik tangan Liora untuk berpindah ke balik pohon besar yang ada di samping mereka, dengan tetap merundukkan tubuh.
"Hubungi yang lain, aku akan mengawasi mereka." ucap Vero.
Liora bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi yang lain, sementara Vero berusaha memutar akal bagaimana caranya agar mereka bisa selamat dari sana.
Di kediaman Liora, mereka masih berbicara kesana kemari sambil menunggu kepulangannya. Tiba-tiba ponsel Alex berdering,
dia segera melihat dan mengangkat panggilan dari nona mudanya.
"Cepat datang ke sini!"
Tut.
Alex langsung berdiri dengan raut wajah yang sudah tidak bisa dideskripsikan lagi. "Cepat lacak keberadaan nona sekarang juga." Perintahnya pada Zarga
"Ada apa?" tanya Leon dengan panik.
"Ayo cepat, kita harus segera menemui nona, Tuan" Alex menarik Leon untuk mengikutinya tanpa banyak bicara.
Saat ini, musuh Liora sudah mengepung mereka dari segala arah. Vero berdiri di hadapan Leora untuk menghalang segala apa pun yang akan melukai wanita itu.
"Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu, Liora." Vero bersumpah kalau dia akan melindungi Liora dengan nyawanya.
Pertarungan masih terus terjadi. Liora melempar senjata kepada Vero, lalu mereka kembali baku tembak dengan musuh.
"S*ial. Terus tembak mereka!" perintah seseorang pada anak buahnya.
Liora mendengar suara itu. Suara yang tak asing baginya. Dia pernah mendengarnya disuatu tempat hingga membuatnya kehilangan fokus.
Dor.
"Leora!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.