
...❗Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Jejak Guys ❗...
...|...
...|...
...|...
...|...
...______________...
Sedangkan disuatu tempat, Dewi masih belum sadarkan diri, dia disekap diruang yang gelap, tangannya diikat, mulutnya ditutup dengan kain.
"Kapan bangunnya sih" Ucap Fariz, dia duduk dibawah Dewi, menunggu sang pujaan hati terbangun.
"Udah dari tadi tapi belum bangun juga" Lanjutnya, dia menatap Dewi dari bawah.
"Hei, ayo bangun, gue pengen ngobrol sama lo" Fariz mengelus pipi Dewi.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Dewi pun terbangun, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia ingin berteriak tapi tidak bisa karena mulutnya ditutup dengan kain.
"Emmm" Dewi mencoba untuk teriak tapi itu mustahil.
"Udah bangun ternyata" Ucap Fariz.
"Emmm" Dewi memberontak ingin dilepaskan.
"Mau dilepasin ya, jangan harap" Ujar Fariz, dia mengusap wajah Dewi dengan lembut.
"Hmmm" Dewi memalingkan wajahnya. Fariz membuka kain yang menutup mulut Dewi.
"Lepasin gue Fariz" Teriak Dewi.
"Suuttt, jangan teriak percuma nggak akan ada yang denger" Ucap Fariz.
"Lo mau apa sih, lepasin gue" Ucap Dewi, dia sudah mulai menangis.
"Hustt, jangan nangis dong cantik" Fariz mengusap air mata Dewi tapi Dewi dengan cepat memalingkan wajahnya.
"Jangan sentuh gue" Bentak Dewi.
"****, lo..." Belum sempat Fariz melanjutkan ucapanya, pintu sudah terbuka ternyata itu adalah teman-temannya.
"Kenapa bos" Tanya Kennan.
"Nggak" Jawab Fariz.
"Oh udah sadar ternyata" Ucap David.
"Daf.. Daffa" Ucap Dewi sedikit kaget saat melihat Daffa disana.
"Hai, kita ketemu lagi" Ucap Daffa dengan santai.
"Lo kenal dia" Tanya Fariz kepada Dewi tapi yang ditanya hanya diam.
"Ah gue lupa belum bilang bos, dia itu sebenernya temen SMP gue dulu, ya perlu lo tau, dulu dia tuh friendly banget sama semua orang tapi gue nggak tau kenapa sekarang enggak lagi" Ucap Daffa.
"Oh gitu, tapi kenapa sekarang lo berubah" Ujar Fariz, Dewi hanya diam dia menutup mulutnya rapat-rapat.
"Terserah sih kalo lo nggak mau ngomong, yang perlu lo tau, lo bakal jadi milik gue mulai saat ini" Ucap Fariz.
"Gue nggak sudi" Ucap Dewi.
"Cih, kalian keluar dulu" Ucap Fariz kepada yang lain, setelah mereka keluar Fariz mendekati Dewi. Dia mencengkram dagu Dewi dengan tangannya
"Lo udah ditangan gue sekarang dan pastinya lo bakal jadi milik gue gimana pun caranya" Ucap Fariz.
__ADS_1
"Lepasin gue, gue udah punya Al" Ujar Dewi.
"Al lagi, Al lagi, apa sih hebatnya dia, gue bisa lebih dari dia" Ucap Fariz.
"Oh, atau mungkin karena dia kaya kan" Lanjutnya.
Dewi hanya diam menatap tajam kearah Fariz dengan air mata yang masih mengalir. Dia masih mencoba melepaskan ikatan tali ditangannya.
"Lebih baik lo diem deh, kalo lo banyak gerak yang ada tangan lo bakal luka" Ucap Fariz.
"Gue nggak perduli, gue mau ketemu Al, lepasin gue Fariz" Ucap Dewi dengan terisak.
"Gue heran deh, lo dari tadi cuma nyebut nama Al doang, lo nggak mau ketemu ortu lo haa" Ucap Fariz.
"Bukan urusan lo" Ucap Dewi.
"Udah lah, lo lupain aja si Al, mending lo sama gue, gue jamin lo nggak akan kekurangan apapun" Ujar Fariz.
"Gue nggak sudi sama lo, lo jahat" Ucap Dewi, dia semakin terisak.
"Lo..." Ucap Fariz sambil menunjuk Dewi, dia kemudian pergi dengan membanting pintu karena sudah tidak bisa menahan emosi.
"Hiks..., Al, lo dimana" Ucap Dewi.
"Maaf gue nggak nurut sama lo buat nunggu dirumah, hikss... Cepet temuin gue, gue nggak mau disini" Ucap Dewi dengan terisak.
Dewi terus menangis disana, dia berdo'a agar Al segera menemukannya ditempat itu, dia yakin pasti tempat itu jauh dari kota karena dia bisa melihat dari jendela kalo diluar hanya ada pepohonan dan tidak terdengar suara bising sama sekali.
Sedangkan dimarkas...
Kini markas sudah seperti kapal pecah karena ulah Al, tidak ada yang berani menghentikannya saat dia sedang marah seperti ini. Sekarang Al masih terduduk diam dilantai, beberapa anggotanya masih terus mencari walaupun sekarang sudah mulai sore.
"Al" Panggil Rehan.
"Hmmm" Al sangat malas menjawab untuk saat ini.
"****... bodohnya gue, kenapa gue nggak kepikiran kesitu, ini yang nggak gue suka dari diri gue sendiri" Batin Al, dia dengan cepat mengambil ponselnya yang terhubung dengan gps kalung yang dia berikan tadi sebelum pergi.
"Tempat apa ini" Ucap Al saat menemukan lokasi Dewi.
"Coba gue lihat" Ucap Airo, Al pun memberikan ponselnya.
"Tempat ini... Pasti Al akan langsung kesana karena dia udah tau tempatnya tapikan tempat ini berbahaya kalo malem" Batin Airo. Airo adalah orang yang tau banyak tempat, jadi dia udah nggak asing lagi.
"Gimana bang" Tanya Al.
"Al, kita nggak bisa kesana hari ini, tempat ini berbahaya kalo malem, mending kita tunggu sampe pagi aja, biar aman" Jelas Airo.
"Nggak bisa gitu dong bang, gue nggak tau sekarang keadaan Dewi seperti apa, kalo Dewi dalam bahaya gimana bang, gue mau kesana sekarang bang" Teriak Al.
"Al, tenang" Rehan memeluk Al, dia menenangkan Al.
"Lebih baik ikutin kata bang Airo, kalo lo kesana sekarang dan ternyata tempat itu berbahaya, lo terluka siapa yang bakal selametin Dewi" Rehan melepas pelukkannya.
"Lo harus selametin dia, jangan ikutin ego lo, gue tau lo khawatir sama dia tapi lo harus inget keselamatan lo kalo seandainya lo terluka terus siapa yang bakal jaga Dewi" Lanjutnya.
"Lo inget, lo pernah ngelakuin itu sama dia, walaupun cuma sekali tapi kita nggak tau yang namanya nasib Al, kalo seandainya anak lo tumbuh dirahim Dewi dan lo nggak ada, lo mau anak lo lahir tanpa ayah, haaa... pikirin itu Al" Al hanya terdiam mendengar ucapan Rehan, walaupun Rehan orang yang cuek tapi dia yang paling berpikiran dewasa.
"Sorry, gue terlalu khawatir" Ucap Al, dia merebahkan tubuhnya di sofa.
"Bos, makan ya, gue masakin makanan kesukaan bos" Ucap Abimanyu.
"Gue nggak napsu Bi" Ucap Al.
"Lo harus makan Al, Abi beli aja sate di depan buat Al" Ucap Airo.
"Oke bang" Abimanyu pun pergi membeli sate.
__ADS_1
Al tidak menghiraukan mereka, dia menutup matanya, menenangkan pikirannya agar dia bisa berpikir jenih. Al adalah tipikal orang yang tidak bisa berpikir jenih saat sedang emosi ataupun khawatir, dia sering menyalahkan dirinya sendiri saat dia seperti itu.
Abimanyu kembali dengan sebungkus sate, dia menyiapkan dipiring kemudian membawanya keruang berkumpul dimana Al sedang istirahat.
"Bos, makan dulu ya" Ucap Abimanyu, Al bangun dari tidurnya dia juga butuh tenaga agar bisa menyelamatkan Dewi.
Dia melihat sate yang dibelikan Abimanyu, tiba-tiba dia teringat Dewi. Melihat itu langsung terbayang wajah Dewi dipikirannya, dia hanya memainkan tusuk sate itu.
"Al, makan gih" Ujar Airo.
"Bang, Dewi udah makan belum ya" Tanya Al.
"Segitu sayangnya lo Al sama Dewi padahal dulu waktu sama dia lo nggak pernah kaya gini, lo bahkan nggak pernah memprioritaskan dia tapi sekarang, lo selalu mikirin Dewi dimanapun tempat" Batin Genta yang sedari tadi hanya diam.
"Lo jangan terlalu mikirin itu ya, pasti Dewi udah dikasih makan sama mereka, lo tenang aja" Jawab Airo.
"Gue nggak bisa tenang bang" Al meletakkan kembali sate yang dia pegang tadi.
"Lebih baik lo makan ya, buat tambah stamina lo kalo lo nggak makan terus lo sakit, gimana sama Dewi" Ucap Airo.
Akhirnya Al pun mulai makan, walaupun dengan keadaan tidak napsu sama sekali dan hanya sedikit yang dia makan.
"Gue selesai, gue mau ke kamar" Ucap Al, dia pergi ke kamarnya.
Di kamar, Al membaringkan tubuhnya diranjang, memeluk bantal guling yang pernah dipeluk Dewi saat tidur disana, Al yang frustasi memang selalu tidak bisa berpikir jenih dan baik, dia akan selalu menyalahkan dirinya.
Sedangkan diluar, mereka semua sedang menyusun rencana agar mudah untuk menyelamatkan Dewi, dengan Airo yang mengetahui banyak tempat dan sekaligus hacker, mereka dengan mudah menemukan sudut-sudut dari tempat itu.
Kembali ke Al.
"Gue kenapa bodoh banget sih, kenapa selalu kaya gini, kenapa gue selalu nggak bisa berpikir dengan baik, sedangkan mereka masih bisa berpikir jenih sekali pun mereka sedang khawatir, tapi kenapa gue nggak bisa" Ujar Al.
Tidak terasa, Al pun tertidur mungkin karena terlalu lelah dan marah-marah sejak tadi.
Sedangkan Dewi saat ini masih dibujuk oleh Fariz untuk makan tapi dia sama sekali tidak membuka mulutnya, yang dia pikirkan hanya Al, dia merasa saat ini Al sedang kacau karena tidak bisa menemukannya.
"Ayo dong makan, nanti lo sakit kalo nggak makan" Ucap Fariz, untuk kesekian kalinya dia mencoba membujuk Dewi.
"Gue nggak perduli, gue mau Al" Ucap Dewi. Fariz yang emosional pun langsung pergi keluar dari sana, dia akan menyuruh Daffa saja yang sudah lama kenal dengan Dewi.
"Hiks... Al nggak pernah marahin gue, Al nggak pernah bentak gue tapi kenapa dia harus marahin gue terus, hikss... Al gue kangen" Dewi sesenguhan dengan terus menyebut nama Al dan berdo'a agar Al segera menemukannya.
Ceklek...
Pintu terbuka lagi dan yang masuk kali ini adalah Daffa, dia membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dia mendekati Dewi dan duduk didepannya.
"Duh, suruh makan aja susah" Ucap Daffa, Dewi hanya menatap Daffa dengan tatapan datar.
"Makan dong princes nya Daffa, masa nggak mau makan, sini Daffa suapin ya" Ujar Daffa yang membuat Dewi menatapnya tajam.
"Dih tajam amat kalo ngeliatin, kenapa kangen ya, udah sini makan biar gue suapin, biar kaya dulu lagi kan" Ucapnya.
"Diem aja lagi, oh ya, gimana rasanya diperebutin sama dua ketua gengs motor, pasti seru kan, apalagi sama-sama orang kaya, nggak kaya gue yang nggak punya apa-apa ya kan" Ucap Daffa, dia menompang dagunya menatap Dewi.
"Ya Allah, sabarkan hamba ya Allah, jangan sampai hamba membuka mulut ini" Batin Dewi.
Disana Daffa banyak berbicara tentang masalalu mereka, sedangkan Dewi hanya diam enggan untuk menjawab ucapan Daffa.
...****************...
Menggantung dulu.....
Tembus 1558 kata dong, capek deh....
Jangan lupa mampir kesini ya guys😉
__ADS_1