Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)

Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)
Persiapan Resepsi


__ADS_3

...Cie digantung selama satu minggu, wkwkwk....


...Next.!...


...Jangan lupa vote, like, comen and follow....


...Happy Reading.!...


...****...


Hari berlalu dengan cepat, kini sudah tiga bulan usia kandungan Dewi dan beberapa hari lagi adalah acara resepsi Dewi dan Al seperti yang telah direncanakan dulu.


Hari-hari mereka lalui dengan suka duka bersama, begitupun dengan Airo yang kini sudah kembali bersama dengan Citra setelah masalah mereka selesai. Masalah ngidam.? Hem, kali ini Dewi tidak merepotkan Airo lagi seperti dulu tapi sekarang dia lebih merepotkan Reno. Dahlah, sama aja.


"Sayang, aku pulang cepet, kamu mau dibawain apa" Tanya Al dari seberang sana.


"Emmm, mau rujak tapi yang ada kedondongnya" Jawab Dewi.


Terdengar helaan napas dari Al, ya gimana, ini bukan musim kedondong.


"Nanti aku cariin ya sayang, tapi kalo nggak ada gimana" Ucap Al.


"Nggak mau, harus ada kedondongnya" Rengek Dewi.


"Iya sayang, aku cariin ya" Ucap Al.


"Oke"


"Ya udah, aku pulang dulu"


"Iya"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Setelah panggilan itu terputus, Dewi pergi kebalkon untuk menikmati angin sore.


"Sayang, anak mama, kamu jangan tinggalin mama ya, cukup Bintang aja yang pergi, kamu nggak boleh" Ucap Dewi sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.


"Mama takut kalo kamu pergi, mama nggak tau nanti papa kamu masih mau sama mama atau nggak kalo kamu ikut pergi kaya Bintang" Tak terasa, air mata Dewi jatuh membasahi pipinya.


"Jangan berpikir yang nggak-nggak sayang" Dewi melihat kebelakang saat mendengar suara bunda.


"Bunda" Dewi tersenyum, cepat-cepat dia menghapus air matanya.


"Udah jangan berpikiran buruk, bunda yakin kalo kamu itu kuat, dulu itu karena usia kamu masih 17 tahun, kalo sekarangkan udah mau 19 tahun, pasti udah kuat dong" Bunda ikut duduk disamping Dewi kemudian mengusap perut Dewi lembut.


"Makasih bunda, udah mau dukung Dewi" Ucap Dewi dengan tersenyum.


"Iya sayang, mau gimanapun kamu juga anak bunda" Bunda mengusap pipi Dewi yang masih tersisa air matanya.


"Udah ya jangan sedih, kasihan janin kamu nanti ikut sedih" Ucap bunda.


"Iya bun" Ucap Dewi dengan tersenyum.


"Al pulang jam berapa" Tanya bunda.


"Bentar lagi bun, udah dijalan katanya" Jawab Dewi yang mendapat anggukkan dari bunda.


"Emm, bunda" Panggil Dewi.


"Iya, kenapa" Tanya bunda.


"Kalo misalnya Dewi mau punya rumah sendiri, gimana bun" Tanya Dewi. Bunda tersenyum mendengarnya.


"Bunda nggak masalah sayang, yang penting kamu rundingin dulu masalah ini sama Al" Jawab bunda.


"Iya bun, nanti Dewi bakal bilang sama Al" Ucap Dewi.


"Tapi buat sementara waktu, kamu tinggal disini dulu ya, sampai kamu bisa rawat anak kamu sendiri" Ucap bunda.


"Iya bun, lagian rumahnya belum ada" Ucap Dewi.


"Emang kamu mau beli rumah dimana" Tanya bunda.


"Bukan beli bun, tapi Dewi maunya buat, di komplek sebelah itu, jadi nggak terlalu jauh, mau kerumah bunda deket, kerumah ibu juga lebih deket, jadinya enak" Jelas Dewi dengan tersenyum.


"Oh gitu, ya udah, itu terserah kamu aja"


Mereka berdua banyak bercerita hingga akhirnya Al pulang kerumah, Dewi cepat-cepat turun kebawah padahal bunda sudah memberitahu agar pelan-pelan saja.

__ADS_1


"Al" Dewi langsung memeluk Al yang baru saja masuk kedalam rumah.


"Astagfirullah, jangan loncat-loncat sayang, bahaya" Tegur Al.


"Hmm" Dewi hanya mengangguk dipelukkan Al.


"Kenapa sih hmm, aku belum mandi loh, masih bau keringet" Ucap Al sambil mengusap-usap rambut Dewi.


"Nggak, kamu wangi" Ucap Dewi.


"Ada-ada aja, udah dulu ya, aku mandi dulu nanti peluk lagi" Ucap Al.


"Nggak mau" Dewi malah semakin mempererat pelukkannya. Al menghela napas, dia sangat lelah dan ingin segera mandi. Akhirnya Al menggendong Dewi ala koala dan membawa naik keatas.


Sampainya diatas, Al meletakkan tas kerjanya dan plastik berisi rujak yang tadi dia beli diatas meja kemudian mendudukkan dirinya disofa masih dengan memeluk Dewi.


"Kenapa sih ini, ada apa" Tanya Al.


"Mau peluk, kangen" Dewi mencium dalam-dalam aroma tubuh Al yang menurutnya wangi.


"Aku belum mandi sayang, emang nggak bau" Tanya Al.


"Nggak, kamu wangi" Jawab Dewi.


Al mengurai pelukkannya, dia menangkup wajah Dewi dengan kedua tangannya kemudian mencium seluruh wajahnya tanpa terkecuali, sampai akhirnya berhenti dibibir dan menjadi ******* kecil hingga beberapa menit Al melepaskan lumatannya dan menatap Dewi.


"Nanti lagi ya, aku mandi dulu bentar aja" Ucap Al.


"Nggak mau, aku mau makan rujaknya tapi disuapin kamu" Ucap Dewi.


"Iya, nanti aku suapin ya, tapi sekarang aku mandi bentar" Ucap Al dengan lembut.


"Nggak mau, maunya sekarang" Rengek Dewi sambil menarik-narik kerah jas Al.


"Oke-oke, aku lepas jas bentar" Al melepas jasnya dan meletakannya disofa.


"Sini aku suapin" Al membuka bungkusan rujak itu dan menguapi Dewi dengan telaten.


"Mau kedondongnya" Ucap Dewi.


"Iya" Al mengambilkan potongan kedondong itu.


Demi rujak kedondong, Al sampai berkeliling diberbagai banyak tempat, seluruh penjual rujak ditemui dan akhirnya dia menemukan satu penjual rujak yang ada kedondongnya tapi dengan harga yang mahal, mungkin karena tidak musim ya.


"Udah dong, jangan ngambek" Padahal Al hanya mandi lima menit tapi Dewi sudah cemberut.


"Kamu lama" Kesal Dewi.


"Iya, maaf ya" Oke saat ini Al harus mengalah lebih dulu.


"Udah dong, yuk wudhu terus sholat" Bujuk Al. Dewi mengangguk dan mereka pun akhirnya sholat berjama'ah seperti biasa.


Setelah makan malam dan sholat isya seperti biasa, mereka berdua duduk dibalkon kamar sambil menikmati pemandangan malam.


"Al" Dewi pindah duduk dipangkuan Al, mengalungkan tangannya dileher Al.


"Kenapa sayang" Al memeluk pinggang Dewi.


"Emmm, aku mau minta sesuatu boleh" Tanya Dewi.


"Boleh sayang, kamu mau minta apa" Tanya Al balik.


"Aku pengen buat rumah, buat kita sendiri" Ucap Dewi.


"Rumah, dimana" Tanya Al. Dewi menunjuk kearah selatan balkon.


"Komplek sana, kan nggak jauh, kalo mau kesini deket apalagi kerumah ibu, jadi enak" Jelas Dewi.


"Hmm, kamu mau model rumah kaya gimana" Tanya Al.


"Aku mau dua tingkat, empat kamar diatas terus dua kamar dibawah, dapur sama ruang makan jadi satu, ruang tamu sekaligus ruang keluarga, ada taman dibelakang rumah, ada kolam renang juga, terus emmm apalagi ya" Ucap Dewi sambil berpikir.


"Buat apa empat kamar diatas sayang" Tanya Al.


"Buat anak-anak kita nanti" Jawab Dewi dengan tersenyum.


"Emang kamu mau anak berapa" Tanya Al lagi.


"Tiga" Jawab Dewi.


"Al, ayo ke Alaska" Lagi.? Itu lagi yang diminta, selalu ingin ke Alaska.

__ADS_1


"Nanti ya sayang, tunggu usia kandungan kamu lima bulan, biar kuat, lagian kita belum libur semester, nanti pas usia kandungan kamu lima bulan, kita kan udah libur semester jadi kita bisa ke Alaska" Jelas Al dengan lembut.


"Bener ya, jangan bohong" Ucap Dewi.


"Iya sayang, nanti kita kesana ya, jalan-jalan" Ucap Al.


"Tapi kalo dipikir-pikir, Alaska itu kebanyakan hutan, ngapain juga kesana, nggak tau deh, siapa tau ada hal yang bagus" Batin Al.


"Makasih, sayang Al banyak-banyak" Dewi menyandarkan kepalanya didada Al sambil memainkan kancing piyamanya.


"Sekarang tidur yuk, besok kita harus lihat gedung yang buat resepsi, udah sampe dimana dekornya" Ajak Al.


"Tapi peluk" Ucap Dewi.


"Iya sayang, aku peluk" Al membawa Dewi masuk kedalam kamar dan merebahkannya dikasur, dia pun ikut berbaring dan memeluk Dewi.


Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya gedung tempat Al dan Dewi akan mengadakan resepsi.


"Wih, baru dateng bang" Ucap Dennis.


"Hmm, gimana dekornya" Tanya Airo.


"Beres bang, udah 60%" Jawab Dennis.


"Lo sih bang, nyembur spe*ma terus"


Plak...


Spontan Airo memukul Reno dengan keras, karena ucapan Reno itu tanpa filter, asal ucap saja.


"Sakit bang, keras banget lagi" Ucap Reno sambil mengusap bahunya yang dipukul Airo tadi.


"Lo kalo ngomong asal aja sih" Kesal Airo.


"Ya kan emang bener" Ucap Reno.


"Ck. Terserah" Ucap Airo.


"Kak Citra mana bang" Tanya Vanno.


"Tuh sama Viola" Jawab Airo sambil menunjuk kearah Viola dan Citra yang sedang mengobrol.


"Ck. Ciwi, kalo ketemu pasti ada aja yang diomongin" Ucap Vanno.


"Sayang" Tiba-tiba Viola datang dan langsung memeluk lengan Reno diikuti oleh Citra dibelakangnya.


"Kenapa" Tanya Reno.


"Aku sama kak Citra mau pergi dulu ya" Ucap Viola.


"Kemana" Fix, nih kakak adek emang kompak.


"Kedepan situ bang" Jawab Viola sambil menunjuk kedai kopi didepan gedung.


"Ya udah, jangan lama-lama ya" Ucap Reno.


"Oke, ayo kak" Ajak Viola.


"Emm... Aku kedepan dulu ya bang" Ucap Citra.


Cup...


Airo mengecup bibir Citra didepan semua orang yang membuat mereka melotot melihatnya sedangkan wajah Citra sudah merah merona karena malu.


"Wets... Sabar bang, ntar malem bisa dilanjut loh" Ucap Dennis.


"Sirik aja" Ucap Airo kemudian mencium pipi Citra.


"Beb, mau juga" Ucap Viola. Reno tersenyum geli, dia mencium pipi Viola kemudian dua wanita itu pergi ke kedai depan.


"Beh, nggak tau malu" Cibir Vanno, dia mengambil beberapa dekor dan pergi disusul oleh Dennis dan Rehan yang sedari tadi diam.


"Udahlah bang, ayo buat dekor lagi" Ajak Reno. Akhirnya mereka kembali keaktivitas mereka yaitu membantu mendekorasi gedung sesuai keinginan Dewi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ehem, hayo pasti ada yang mikir gini "Kok bang Airo kaya gitu sih sifatnya"


Hahaha, setelah baca part sebelumnya pasti ada kan yang mikir kaya gitu, tapi jangan salah sangka dulu, semua itu ada latar belakangnya loh.


Ada yang mau tau.? Mau dibuat nggak nih cerita tentang Airo dan Citra.

__ADS_1


Komen dibawah yuk....


__ADS_2