Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)

Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)
Hampir Terulang Lagi


__ADS_3

...❗Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Jejak Guys ❗...


...|...


...|...


...|...


...|...


...________________...


Kita tinggalkan dulu yang sedang liburan, mari kita intip yang di Jakarta.


"Jadi kamu mau nerusin kuliah" Tanya Viola sambil menyandarkan kepalanya dibahu Reno.


"Iya, kenapa sayang" Jawab Reno sekaligus bertanya, dia mengusap rambut Viola lembut.


"Nggak papa, sekampus sama bang Airo kan" Tanya Viola lagi.


"Iya sayang" Jawab Reno.


"Ren, kok aku kepikiran Dewi ya" Ucap Viola.


"Kepikiran gimana" Tanya Reno.


"Nggak tau, aku punya firasat nggak enak aja" Jawab Viola.


"Coba telpon aja" Ucap Reno, Viola pun menurut, dia menelpon Dewi.


"Nyambung nggak" Tanya Reno.


"Nyambung" Jawab Viola.


"Assalamu'alaikum, Vio" Ucap Dewi dari sebrang sana.


"Wa'alaikumussalam, lo ada dimana" Tanya Viola.


"Gue lagi dipantai sama Al sama yang lain juga" Jawab Dewi.


"Syukur deh, kalian baik-baik aja kan" Tanya Viola.


"Alhamdulillah, kita semua baik kok, kenapa sih" Jawab Dewi sambil bertanya.


"Nggak, gue cuma kepikiran lo terus dari tadi, gue takut kalian kenapa-napa" Jawab Viola.


"Ohh, kita baik kok, aaaa... Al" Tiba-tiba Dewi berteriak histeris.


"Halo, Dewi... Wi, Halo... Jawab gue" Viola terus memanggil Dewi tapi tidak ada sahutan dari sana.


"Kenapa sayang" Tanya Reno.


"Nggak tau, tadi Dewi tiba-tiba teriak, Reno gimana ini, kalo Dewi kenapa-napa gimana" Viola mulai menangis.


"Tenang sayang, sekarang kita ke markas ya, bilang sama bang Airo" Ucap Reno menenangkan Viola.


Viola pun mau dan mereka pergi ke markas untuk memberitahu Airo dan yang lainnya.


Sedangkan ditempat Dewi.


Beberapa menit sebelum Viola menelpon.


"Wah, cantik ya pantainya" Ucap Dewi, mereka sekarang ada dipantai pasir putih.


"Kamu suka" Tanya Al yang mendapat anggukkan dari Dewi.


"Itu tempatnya bagus, ayo foto-foto disana" Ucap Dewi sambil menarik tangan Al sedangkan Al hanya menurut saja dan yang lain pun mengikuti mereka.


"Ayo foto" Dewi dan Al banyak mengambil gambar bersama.


Dreett...Dreettt...Dreettt...


Ponsel Dewi bergetar.


"Viola telpon" Ucap Dewi.


"Angkat aja" Al duduk dan Dewi ikut duduk kemudian mengangkat telpon.


Saat sedang berbincang-bincang dengan Viola, tiba-tiba saja suara tembakan menuju kearah Al.


"Aaaa... Al" Teriak Dewi histeris, karena kaget dia pun menjatuhkan ponselnya.


Al mengerjap-ngerjapkan matanya, dia meraba tubuhnya tapi tidak sakit.

__ADS_1


"Al" Dewi memeluk Al dengan erat, dia menangis sejadi-jadinya. Al yang masih bingung hanya membalas pelukkan Dewi.


"Bos nggak papa" Tanya Dimas.


"Nggak papa" Jawab Al, dia melihat Dimas yang berdiri disampingnya.


"Loh Dimas, lo nggak papa" Tanya Al karena Dimas berdiri disampingnya sudah pasti tembakan itu mengenainya.


"Gue nggak papa bos, gue pakek baju anti peluru" Jawab Dimas yang membuat Al bernapas lega.


"Yang lain" Tanya Al karena disana hanya ada Dimas.


"Mereka lagi nyari asal tembakan itu bos" Jawab Dimas.


"Al" Dewi menangis hingga tubuhnya gemetar karena ini kali kedua dia mendapati Al akan ditembak orang.


"Tenang sayang" Al memeluk Dewi erat.


Untunglah tadi Dimas yang berada dibelakang Al dengan sigap pindah kesampingnya hingga peluru itu mengenai Dimas yang sudah mengenakan baju anti peluru.


Mereka akan selalu begitu, dimana pun mereka pergi, mereka akan menggunakan baju anti peluru didalam supaya tidak terjadi apa-apa nantinya.


Mereka sedang berada dikawasan yang jarang orang sehingga mudah untuk musuh melakukan itu, memang tempat itu ramai pengunjung tapi tempat yang Dewi pilih adalah tempat yang sepi karena tempat itu cantik untuk berfoto.


Setelah beberapa saat, ketiga yang lainnya pun kembali.


"Nggak ketemu" Ucap Eros.


"Kok bisa, nggak ada jejaknya kah" Tanya Dimas.


"Nggak, dia cepet banget" Jawab Daniel.


"Udah, itu diurus nanti, kita pulang dulu ke hotel" Ucap Al.


Mereka pun kembali ke hotel, sebelum pergi Danu melihat ponsel Dewi dan mengambilnya.


***


Hotel


Mereka kembali kehotel dan saat akan memasuki kamar, mereka bertemu dengan empat orang lainnya yang sedang berjaga-jaga didepan pintu sambil bercerita.


Mereka berempat bingung karena mereka pulang dengan wajah yang sangat serius, Al yang khawatir dan Dewi yang masih menangis digendongan Al.


"Kenapa ini" Tanya Panji. Dimas pun menjelaskan semuanya.


"Aku mau pulang hiks... aku nggak mau disini" Ucap Dewi masih dengan menangis.


"Iya sayang kita pulang ya, kamu duduk sini dulu, aku mau kasih tau mereka buat packing ya sayang" Al mendudukkan Dewi disofa kemudian keluar dan memberitahu mereka untuk segera packing karena mereka akan pulang hari ini juga.


"Tenang ya sayang, aku beresin barang-barang kita dulu" Ucap Al.


"Ikut" Dewi memeluk lengan Al dengan erat, dia benar-benar ketakutan.


"Ya udah, ayo" Al akhirnya mengajak Dewi masuk kamar, Dewi duduk dikasur sedangkan Al membereskan barang-barang mereka.


Dreett...Dreettt...Dreett...


Al mengambil ponselnya.


"Iya bang" Ucap Al.


"....."


"Iya, nanti gue jelasin kalo gue udah sampe" Al berbicara sambil mengepaki barang bawaannya.


"....."


"Gue baik-baik aja, tadi Dimas lindungin gue" Ucap Al.


"......"


"Iya, nanti kalo udah sampe mending abang tanya Dimas atau Daniel, Danu sama Eros, karena mereka tadi yang ikut gue" Jelas Al.


"....."


"Iya, gue lagi packing, gue mau langsung pulang aja, kasian Dewi" Ucap Al.


"....."


"Oke bang" Al mematikan sambungan telponnya dan kembali mengemasi barang-barangnya dengan cepat.


Setelah selesai berberes mereka pun langsung check-out, manager hotel bingung karena mereka check-in untuk satu minggu tapi ini baru dua hari dan mereka pulang, manager hotel bertanya tapi Al enggan menjawab.

__ADS_1


***


Mereka sudah ada dipesawat. Al dan Dewi duduk ditengah-tengah antara anak buahnya.


"Tenang ya sayang, kita aman sekarang" Al mengusap air mata Dewi yang masih saja jatuh.


"Aku takut Al" Dewi menggenggam tangan Al sangat erat.


"Aku tau, sekarang kita udah baik-baik aja, jangan nangis lagi ya" Ucap Al.


"Tidur ya cantik, aku disini" Al memberikn bonekanya dan mengusap rambut Dewi dengan lembut.


...****************...


Mereka akhirnya sampai di Jakarta, Al dan Dewi langsung pulang kerumah tentunya dikawal dengan mereka ber-delepan. Mereka pulang tanpa memberitahu kepada keluarga mereka jadi tidak ada satu pun orang yang menjemput mereka.


"Kita udah sampe rumah sayang, ayo" Ucap Al. Dewi menurut tapi karena masih terlalu takut jadi dia sedikit lemas.


"Pelan-pelan aja" Al menuntun Dewi masuk kedalam rumah sedangkan barang-barangnya dibawakan oleh anak buahnya itu.


"Assalamu'alaikum" Ucap Al.


"Wa'alaikumussalam" Jawab bi Surti.


"Loh, aden, non Dewi, kalian udah pulang" Tanya bi Surti.


"Udah bi" Jawab Al.


"Aku gendong aja ya" Ucap Al, karena mereka akan naik tangga, Dewi hanya mengangguk.


"Non Dewi kunaon" Tanya bi Surti pelan.


"Bi" Panggil Daffin.


"Eh, iya kenapa" Mereka memberikan barang-barang Dewi dan Al kemudian menjelaskan apa yang terjadi.


""""


"Udah sayang, jangan nangis lagi" Al membaringkan Dewi dikasur dengan perlahan.


"Jangan pergi" Ucap Dewi sambil memegang tangan Al saat Al menegakkan tubuhnya.


"Nggak sayang, aku mau lepas baju" Al melepas bajunya dan juga baju Dewi agar tidak panas.


"Kamu pasti capekkan, tidur lagi aja" Ucap Al, dia membawa Dewi kedalam pelukkannya.


***


"Kita pamit ya bi, bilang sama Al" Ucap Daniel.


"Iya den, makasih udah dibawain barang-barangnya" Ucap bi Surti.


"Iya bi, udah kewajiban" Ucap Daniel.


Saat mereka akan pergi, bunda pulang dan bingung melihat banyak mobil taksi diluar.


"Loh, kalian ngapain disini, bukannya Al lagi liburan" Tanya bunda.


Mereka saling pandang kemudian menjelaskan semuanya dengan detail. Bunda kaget, dia langsung berlari keatas dan membuka pintu kamar Al dengan pelan. Dilihatnya anak dan menantunya sedang tertidur sambil berpelukkan dan bisa dilihat dari mata Dewi kalo dia habis menangis. Bunda duduk disamping Al.


"Kasian kamu nak, tapi ini jalan yang kamu pilihkan, kamu nggak mau ditindas seperti dulu lagi" Bunda mengusap rambut Al pelan.


Al menggeliat, dia melihat bunda yang duduk disampingnya.


"Bunda" Al duduk perlahan agar Dewi tidak bangun.


"Kamu nggak papa nak, ada yang luka" Tanya bunda.


"Alhamdulillah, nggak kok bun, Al baik-baik aja" Jawab Al.


"Terus Dewi" Bunda menatap Dewi dengan iba, pasti Dewi sangat ketakutan apalagi Al pernah tertembak dan dia harus koma selama tiga bulan.


"Dewi baik bun, dia cuma syok aja tadi" Al mengusap-usap rambut Dewi dengan lembut.


"Syukurlah, bunda tadi kaget banget denger cerita Dimas sama Daniel, oh ya, ini hp Dewi, tadi Danu yang kasih" Ucap bunda sambil memberikan ponsel Dewi kepada Al.


"Makasih bun" Ucap Al.


"Iya nak, mereka udah pulang ke markas katanya, bunda sebenernya kasian sama mereka pasti capek tapi mereka bilang harus nyelesain masalah ini dulu" Ujar bunda.


"Udah bun, nggak papa, nanti mereka bisa istirahat disana" Ucap Al.


"Ya udah, bunda tinggal dulu ya" Ucap bunda, Al mengangguk.

__ADS_1


Setelah bunda keluar, Al kembali berbaring dan memeluk Dewi. Ditatapnya wajah Dewi yang sembab karena menangis berjam-jam.


"Maaf sayang, karena nikah sama aku, kamu jadi harus ngalamin ini semua, tapi kamu jangan khawatir, aku pasti jagain kamu, aku sayang banget sama kamu" Al mengecup kening Dewi dan kembali tidur dengan istri kesayangannya.


__ADS_2