
...❗Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Jejak Guys ❗...
...|...
...|...
...|...
...|...
..._____________...
Setengah jam sudah Dewi pingsan dan ibunya pun sudah sampai disana bersama sang ayah. Perlahan Dewi pun terbangun dari pingsannya, dia melihat ibu yang mencoba tersenyum kepadanya.
"Ibu" Ucap Dewi lirih.
"Iya sayang, ini ibu" Ibu mengenggam tangan Dewi.
"Al gimana bu" Tanya Dewi.
"Dokter belum keluar nak, jadi kita belum tau" Jawab ibu.
"Aku mau ketempat Al" Ucap Dewi.
"Makan dulu nak, tadi dokter bilang kamu belum makan" Ucap ayah.
"Nggak mau yah, Dewi mau ketemu Al" Ujar Dewi.
"Makan dulu ya sayang, nanti kalo kamu sakit, siapa yang mau jaga Al" Bujuk ibu.
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Dewi pun mau makan walau hanya sedikit. Selesai makan, dia bersama orang tuanya pergi ke UGD untuk melihat Al, semua anggota yang melihat Dewi datang langsung memberi jalan agar dia bisa leluasa untuk lewat.
"Gimana Al, bang" Tanya Dewi kepada Airo.
"Belum tau Wi, kita juga masih nunggu" Jawab Airo, dia sudah sangat tidak bersemangat.
Dewi duduk dikursi tunggu dengan terus menatap pintu UGD dan berharap dokter segera keluar dan memberi kabar baik.
Dreet....Dreettt...
Ponsel Al kembali bergetar, kali ini Viola yang menelpon.
"Assalamu'alaikum Vi" Ucap Dewi.
"Wa'alaikumussalam, ya Allah Wi, lo kemana aja sih, gue telpon ke nomer lo tapi nggak lo angkat, gue juga telpon ke nomer Al dari semalem nggak diangkat, kalian kemana" Tanya Viola tanpa henti.
"Hiks... Vio, Al" Ucap Dewi sambil menangis membuat Viola semakin khawatir.
"Al kenapa Wi, ada apa" Tanya Viola.
"Rumah Sakit Jaya Bakti" Ucap Dewi.
"Gue kesana sekarang" Viola langsung mematikan sambungan telponnya dan menuju kerumah sakit.
"Ibu" Dewi menyandarkan kepalanya dibahu ibu.
"Bunda sama ayah udah dikabarin bu" Tanya Dewi.
__ADS_1
"Udah nak, mereka pulang hari ini" Jawab ibu, Dewi hanya mengangguk.
"Han, ikut gue" Ucap Airo dengan berbisik, tanpa menjawab, Rehan langsung mengikuti Airo menjauh dari yang lain.
"Kenapa bang" Tanya Rehan.
"Jelasin ke gue, apa ini semua, kenapa keluarga Dewi seperhatian itu ke Al" Tanya Airo balik, Rehan menghela napas dan kemudian menjelaskan dengan detail.
Airo mengacak rambutnya setelah mendengar penjelasan Rehan barusan, kenapa juga Al tidak cerita kepadanya, kalo dia tau dari awal pasti penjagaan Dewi tidak akan kurang.
"Lo kenapa nggak bilang dari awal sih" Ucap Airo.
"Sorry bang, gue nggak berani sama Al" Ujar Rehan, dia juga merasa bersalah karena tidak memberitahu Airo.
"Akhh... Andai aja gue tau dari awal" Airo mengacak rambutnya frustasi.
"Udah bang, semua udah terjadi sekarang kita tinggal tunggu dokter aja" Ucap Rehan menenangkan Airo.
"Kita balik kesana" Ucap Airo, mereka pun kembali kedepan UGD agar yang lain tidak terlalu curiga.
Tiga jam berlalu sejak Al masuk kedalam UGD, tapi dokter tak kunjung keluar membuat Dewi semakin khawatir, dia terus mondar-mandir didepan pintu UGD sambil berdo'a agar Al bisa selamat.
"Dewi, tenang ya" Viola memeluk Dewi, dia mencoba untuk tidak menangis agar Dewi bisa tenang.
Ting...
Setelah lama menunggu, akhirnya lampu berubah warna dan dokter pun keluar dari ruang itu.
"Dokter, gimana keadaan Al" Tanya Dewi.
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan semuanya baik-baik saja, tapi pasien masih belum sadar, kemungkinan dia akan koma untuk beberapa saat" Jelas sang dokter.
"Semuanya baik-baik aja Wi, kita cuma perlu nunggu Al sadar" Viola mulai sedikit tenang karena Al selamat walaupun dia koma.
"Boleh kita menjenguk dia" Tanya ibu.
"Setelah kami pindahkan keruangan pasien, kalian boleh menjenguknya" Jawab dokter.
"Masukkan keruang VIP dok" Ucap Airo.
"Baik, saya permisi" Dokter pun pergi.
***
Al sudah dipindahkan keruangan pasien dan seperti permintaan Airo tadi Al pun dimasukkan kedalam ruangan VIP
"Al" Dewi duduk disamping Al, dia merebahkan kepalanya disamping tangan Al, dia mengusap tangan Al yang tidak dipasang infus.
"Banyak-banyak ajak pasien berbicara, walaupun dia koma tapi dia bisa mendengar ucapan kita" Jelas dokter.
"Baik dok, terima kasih" Ucap ibu.
"Sama-sama, saya permisi" Ibu mengangguk dan dokter pun keluar.
"Al, cepet sadar ya, kamu belum tepatin janji loh, katanya mau ajak aku jalan-jalan" Ucap Dewi.
"Dewi, kita nunggu diluar ya" Ucap Dennis yang mendapat anggukkan dari Dewi.
__ADS_1
"Ayah sama ibu pulang aja nggak papa kok, nanti kesini lagi" Ucp Dewi.
"Kamu yakin nak" Tanya ibu.
"Iya bu" Jawab Dewi.
"Tante sama om pulang aja, ada Viola disini dan juga ada teman-teman Al diluar jadi kalo ada apa-apa kita bisa langsung hubungi kalian" Ujar Viola.
"Udah bu, nggak papa, ibu nggak boleh kecapekan" Ucap ayah.
"Ya udah, kita titip Dewi sama Al ya Vio, kalo ada apa-apa langsung hubungi tante" Ucap ibu.
"Siap tante" Akhirnya orang tua Dewi pulang kerumah karena ibunya yang tidak bisa kecapekan dan harus banyak beristirahat.
Viola menemani Dewi didalam ruangan, dia duduk disofa samping jendela, menatap nanar Dewi yang masih saja menangis sambil terus mengajak Al berbicara walaupun tidak ada jawaban.
"Al, ayo dong bangun" Dewi merebahkan kepalanya disamping kepala Al.
"Ini semua salah aku, andai aja aku nurut perkataan kamu waktu itu, pasti semua ini nggak akan terjadi" Dewi menangis tanpa air mata, rasanya air mata itu sudah kering saat ini.
"Jangan salahin diri lo sendiri dek, lo nggak salah, ini emang udah takdirnya" Dewi melihat kearah pintu, disana berdiri seorang pria tampan dengan jas hitam melekat ditubuhnya.
"Abang" Pria itu mendekati Dewi, spontan Dewi langsung memeluknya.
"Abang, tapi ini semua emang salah Dewi bang" Ucap Dewi. Pria itu melepaskan pelukan Dewi.
"Ini bukan salah lo, lo jangan terlalu sering nyalahin diri lo kaya gini" Ucap Anhar, kakak Dewi.
"Bang An" Panggil Viola. Anhar menengok, dia menatap Viola dengan senyuman kemudian merentangkan tangannya. Viola pun langsung memeluk Anhar seperti memeluk kakaknya sendiri.
"Udah ya adek-adek abang, jangan pada cengeng gini dong" Ucap Anhar.
"Mending sholat yok, do'ain Al biar dia cepet sadar, dia cepet sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa" Ajak Anhar, Dewi dan Viola pun menurut, mereka bertiga akhirnya melaksanakan sholat berjama'ah.
Malam pun tiba, orang tua Al sudah sampai disana dan orang tua Dewi pun sudah datang kerumah sakit lagi sedangkan Anhar harus pulang karena dia sudah menikah dan punya anak. Viola pun pulang, dia akan datang lagi besok.
"Sayang, makan yuk" Bujuk bunda, sedari tadi dia tidak mau makan, hanya duduk disamping Al dan mengajaknya berbicara.
"Nggak mau bunda" Ucap Dewi, tatapannya tidak lepas dari Al. Semua orang yang ada disana merasakan kesedihan yang Dewi rasakan.
"Kamu harus makan dong sayang, kalo nggak makan bisa sakit" Bujuk ibu.
"Makan ya, bunda suapin" Ujar bunda. Dewi mengalihkan pandangannya sejenak kearah para anggota inti, mereka senyum terpaksa kepada Dewi hanya untuk menyapanya.
"Wi, makan ya, gue nggak mau disalahin sama Al kalo lo sakit" Ucap Airo. Dewi yang tidak ingin mereka mendapat masalah pun akhirnya makan dengan disuapi bunda.
"Ayah, ibu, bunda, kalian pulang aja ya nanti, pasti ayah sama bunda capek kan karena baru pulang, ibu juga nggak boleh kecapekan" Ucap Dewi.
"Kalo kita pulang, kamu sendiri sayang" Ucap ibu.
"Nggak papa bu, ada mereka yang bakal jagain Dewi sama Al" Dewi menatap para anggota Wolf. Mereka semua tersenyum saat Dewi menatapnya.
"Kamu yakin nak" Ucap ayah Al.
"Iya yah, aku nggak papa kok" Ujar Dewi.j
Setelah berunding, mereka pun akhirnya setuju dengan permintaan Dewi. Mereka berempat pulang jam sepuluh malam. Dewi menutup satir yang ada disana agar orang-orang tidak bisa melihatnya, dia ingin hanya berdua dengan Al. Sedangkan yang lain, ada yang tidur disofa, ada yang tidur dibawah dengan beralaskan karpet.
__ADS_1
"Kamu harus cepet sadar ya, biar bisa bareng aku lagi, aku janji bakal nurut sama kamu" Ucap Dewi.
...^^^^^^^^^^^^^^^^^^...