Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)

Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)
Kampus


__ADS_3

...Sebenarnya author tuh mau update, tapi entah kenapa, jiwa mager ini selalu bersarang...


...Jaihh 🤣🤣...


...***...


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Al, itu," Ujar Dewi sambil menunjuk sesuatu.


"Apa sayang?" Tanya Al.


"Itu," Al melihat kearah yang ditunjuk Dewi.


"Ayam geprek?"


"Iya, aku pengen,"


"Ayo beli,"


"Yeeyy,"


Al hanya tersenyum melihat Dewi yang kegirangan, sepertinya dia sudah melupakan kejadian pagi tadi.


"Al, aku mau pahanya," Ujar Dewi.


"Iya, kamu duduk dulu ya, biar aku yang pesen,"


"Oke,"


Dewi duduk disalah satu tempat lesehan itu, sedangkan Al memesan makanan.


"Halo Vio,"


"Halo, lo dimana Wi?" Tanya Viola dari seberang sana.


"Ini lagi tempat penjual ayam geprek, kenapa?" Jawab Dewi sekaligus bertanya.


"Lo nggak lihat grup ya? Jadwal kuliah kita di majuin, jadi satu jam lagi," Jelas Viola.


"What?! Yang bener lo,"


"Serius, lihat grup makanya,"


"Oke, makasih info nya,"


"Oke,"


Setelah itu sambungan telepon terputus bertepatan dengan Al yang datang.


"Kenapa?" Tanya Al.


"Jadwal kuliah di majuin,"


"Jadi kapan?"


"Satu jam lagi," Keluh Dewi.


"Ya udah, habis ini kita pulang ya, nanti langsung aku anter," Ujar Al, Dewi hanya mengangguk lesu.


"Semangat istri ku," Ucap Al, dia mengusap-usap kepala Dewi.


Tak lama pesanan mereka pun jadi, Dewi mendadak menjadi kembali semangat saat melihat ayam geprek itu ada didepannya, sepertinya memang mood bumil itu saat tidak bagus.


"Husband,"


"Iya sayang, apa?"


"Mau disuapin," Jawab Dewi.


Al tersenyum, dengan senang hati dia akan menyuapi Dewi. Sedangkan Dewi dengan santainya makan sambil mengusap-usap perutnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Al saat melihat Dewi mengusap-usap perutnya.


"Nggak papa, dedek bayinya seneng disuapin papa," Ucap Dewi yang membuat Al tersenyum.


"Ada-ada aja kamu tuh," Ucap Al.


"Sayang, habis nganterin kamu ke kampus, aku ke kantor ya,," Ujar Al.

__ADS_1


"Oke,"


****


Seperti yang Al katakan tadi, setelah mengantar Dewi ke kampus, dia pun berangkat ke kantor. Dewi sedang menunggu Viola diparkiran, katanya dia harus menunggu Reno sebentar.


"Dewi,"


"Ya,"


Dewi yang merasa terpanggil pun berbalik, dia terkejut saat melihat siapa yang ada didepannya.


"Tuh kan bener, Dewi," Ucap orang itu.


"Keren bro, ingetan lo tajem banget, padahal udah bertahun-tahun nggak ketemu," Ujar satunya.


Dewi hanya diam sambil menatap mereka berdua, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun mereka bertemu lagi sekarang.


"Lo Dewi kan?"


Dewi tidak menjawab sama sekali, dia masih tercengang, antara percaya dan tidak.


"Ck. Diem-diem bae Buk, kaya abis lihat setan aja,"


Plak


Sebuah pukul mendarat dengan manis dilengan pria itu.


"Ya Allah, setelah sekian lama nggak pernah ngerasain pukulan manis Ibu negara dan sekarang bisa ngerasain lagi," Ucapnya.


"Drama banget sih," Ucap Dewi sambil memeluk mereka berdua.


"Kangen," Gumam Dewi.


"Kita juga kangen kali, udah lama nggak ketemu,"


"Udah-udah," Dewi melepaskan pelukkannya.


"Rakha, Rasyel," Ucap Dewi sambil menunjuk mereka satu per satu.


"Yupz, masih inget dong, kirain udah lupa," Ucap Rakha.


"Dia bukannya diem, tapi malah makin cerewet sekarang, Wi," Ucap Rasyel.


"Serius, wah bisa nih adu mulut sama temen gue," Ucap Dewi.


"Siapa?" Tanya mereka bersamaan.


"Bentar lagi juga dia sampai," Jawab Dewi.


Mereka mengobrol hingga suara Viola membuat Dewi mengalihkan perhatiannya.


"Sorry Wi, tadi Reno ada kerjaan ben...tar," Viola menghentikan ucapannya saat melihat dua pria tampan berdiri didepannya dengan tersenyum, andai saja Viola belum punya Reno, pasti gadis itu akan berteriak.


"Mereka siapa?" Tanya Viola kepada Dewi.


"Ohya, kenalin, ini Rakha dan ini Rasyel, mereka temen gue," Jawab Dewi sambil memperkenalkan mereka.


"Ohh, temen lama ya?" Dewi hanya mengangguk.


"Oke, kenalin, gue Viola, panggil aja Vio," Ujar Viola dengan tersenyum.


"Manisnya melebihi kadar dalam madu," Ujar Rakha, Viola hanya tertawa mendengarnya.


"Jangan, udah ada pawangnya," Ujar Dewi.


"Serius?"


"Yupz, udah ada ayang Reno," Jawab Viola.


"Patah hati sebelum berjuang gue bro," Ucap Rakha dramatis.


"Drama," Ucap Rasyel dengan memukul Rakha.


"Astagfirullah hal adzim, kenapa selalu gue yang ternistakan,"


"Lo drama banget sih Kha," Ucap Dewi dengan menggelengkan kepalanya.


"Emm, btw, kalian cuma berduakan?" Tanya Dewi.

__ADS_1


"Lo tenang aja, dia nggak ikut pindah ke kampus ini kok," Jawab Rasyel yang tau maksud pertanyaan Dewi.


"Oke,"


"Kenapa sih?" Tanya Viola.


"Nanti gue kasih tau, sekarang, ayo ke kelas, bentar lagi dosen dateng," Ujar Dewi.


"Wih, santai dong nyonya bos, lo juga kalo jalan pelan-pelan aja," Ucap Viola.


"Oke," Dewi kembali berjalan perlahan.


"Emang nggak ngap jalan cepet gitu?" Tanya Viola.


"Kalo sekarang belum sih, nggak tau ntar kalo dah besar," Jelas Dewi.


"Bentar-bentar, kalian ngomongin apa sih?" Tanya Rakha, karena kedua pria itu sedari tadi bingung.


Dewi tersenyum, kemudian berkata, "Kalian tinggal di apartemen deket kampuskan?" Tanyanya. Mereka berdua mengangguk.


"Nih buat kalian, jangan lupa dateng ya," Ujar Dewi sambil memberikan amplop undangan.


"Undangan resepsi? Lo udah Nikah!" Mereka seperti memang selalu kompak ya.


"Iya, gue udah lama nikah, tapi baru sekarang ngadain resepsi," Ujar Dewi.


"Keren, temen gue yang paling bar-bar udah nikah duluan," Ujar Rakha.


"Jangan lupa dateng loh,"


"Tenang aja Wi, kita pasti dateng, ya kan Syel,"


"Yo'i, tenang aja, kita pasti dateng, makan gratis ya kan," Ujar Rasyel yang disetujui oleh Rakha.


"Makan gratis, nggak dong, kalian harus bawain kado buat nyonya besar dong," Ujar Viola.


"Vio, jangan jalan mundur gitu, nanti jatuh," Ucap Dewi.


"Santai nyonya bos, kalo gue yang jatuh itu nggak masalah, tapi kalo lo yang jatuh, nah itu baru perkara," Ujar Viola.


"Nyonya bos?" Tanya Rasyel heran.


"Iya, kan sekarang Dewi udah jadi nyonya bos, yang pastinya, bos nya pacar gue," Jelas Viola.


"Oh gitu,"


"Terus, kalo Dewi jatuh, emang kenapa?" Tanya Rakha yang malah salah fokus.


"Oh itu, nyonya bos kita ini lagi bawa debay disini," Jelas Viola, dia mendekati Dewi kemudian mengelus perutnya.


"Wah, ternyata Ibu negara kita udah ngisi bro," Ucap Rakha sambil menepuk pundak Rasyel, sedangkan Rasyel hanya mengangguk-angguk tidak percaya.


"Jangan aja pikiran kalian kesana ya," Ujar Dewi saat melihat raut wajah mereka berdua, mereka malah tersenyum.


"Gue tau lagi hamil aja belum lama ini kok, gue udah ngerencanain mau ngadain resepsi, pas udah mendekati, baru tau kalo lagi ngisi," Jelas Dewi.


"Ohh, kirain," Ucap mereka berdua bersamaan.


"Pikiran kalian kotor sekali bestiee," Ucap Viola.


"Hahaha, ya maaf, kan nggak tau," Ujar Rakha.


"Udah-udah, kita udah nyampe kelas nih, kelas kalian diataskan," Ujar Dewi.


"Iya nih, kita duluan ya," Ucap Rasyel.


"Bye,"


Dewi dan Viola masuk kedalam kelas yang belum terlalu banyak orang didalamnya.


"Temen lo asik juga," Ujar Viola.


"Hmm, mereka yang nemenin gue dari kecil," Ujar Dewi.


"Keren sih, mereka masih inget loh sama lo,"


"Iya, tadi aja gue kaget pas lihat mereka berdua,"


Setelah menunggu beberapa menit, kelas sudah penuh dan dosen pun sudah datang.

__ADS_1


__ADS_2