Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)

Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)
Martabak


__ADS_3

...❗Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Jejak Guys ❗...


...|...


...|...


...|...


...|...


..._________________...


Airo baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok dikampus. Airo memang sudah wisuda tapi dia meneruskan lagi kuliahnya agar mendapat S1 katanya.


"Gue duluan ya" Ucap Airo kepada teman-temannya satu kelompoknya.


"Hati-hati bro" Ucap salah satu dari mereka, Airo hanya mengacungkan jempol.


Saat akan menggunakan helm, ponselnya berbunyi, terpaksa dia pun mengangkat telpon terlebih dulu.


"Iya, halo" Ucap Airo.


"Abang dimana" Tanya Al.


"Dikampus, baru selesai ngerjain tugas, kenapa" Jawab Airo sekaligus bertanya.


"Hmm, ini bang, Dewi mau ngomong" Ucap Al.


"Ngomong apa" Tanya Airo.


"Sayang, nih bang Airo" Ucap Al dari sebrang sana.


"Abang" Panggil Dewi. Airo meneguk ludahnya, dia tau pasti Dewi ada maunya.


"Iya, kenapa" Tanya Airo.


"Beliin Dewi martabak ya bang" Ucap Dewi memohon.


"Tuhkan bener" Batin Airo.


"Cari martabak dimana, arah pulang nggak ada yang jual martabak" Ujar Airo.


"Nggak tau, pokoknya cariin" Ucap Dewi marah.


"Hei sayang, jangan marah-marah" Diseberang sana Al berusaha menenangkan Dewi.


"Nggak mau tau, pokoknya mau martabak" Ucap Dewi.


"Iya, tapi jangan marah-marah ya" Ucap Al pelan.


"Ehem, ya udah deh, abang coba cari dulu" Ucap Airo menengahi.


"Rasa kacang ya bang" Ucap Dewi.


"Iya, ya udah abang cari dulu ya" Ucap Airo.


"Oke"


Tut.


"Set dah, main matiin aja, nih anak kenapa lagi coba, marah-marah aja, dateng bulan kah" Airo bermonolog sendiri.


"Airo, kenapa belum pulang" Tanya seseorang disamping Airo.


"Eh Nita, ini gue lagi mikir dimana yang jualan martabak, soalnya istri bos gue pengen martabak" Jelas Airo.


"Oh, itu loh digang kos nya pak Somad ada yang jualan" Ucap Nita.

__ADS_1


"Oh gitu, makasih ya" Nita mengangguk.


"Eh, itu bukannya kos..." Belum selesai Airo berkata, Nita sudah tertawa.


"Nit, nggak ada yang lain gitu" Ucap Airo kesal.


"Ck, nggak ada, kalo lo mau istri bos lo nunggu lama ya tuh di lorong rumah Renata, banyak yang jualan" Ucap Nita.


"Astaga, kejauhan woy, keburu istri bos ngamuk" Ucap Airo.


"Tuhkan, ya udah sih, cuma itu yang paling deket yang gue tau" Ucap Nita.


"Gue duluan ya" Lanjutnya.


"Oke, makasih" Nita pergi sambil mengacungkan jempolnya.


"Hais, terpaksa deh" Airo akhirnya memakai helm dan pergi ke kos pak Somad, eh maksudnya gang kos pak Somad.


Setelah beberapa menit, Airo pun sampai di gang kos pak Somad, dia mencari-cari dimana orang yang berjualan martabak dan saat ketemu, Airo semakin kesal, sudah kesal ditambah kesal, kenapa.? Karena penjual itu ternyata stand di depan kos Citra.


"Hah, kenapa harus disini sih" Mau tak mau Airo pun melepas helmnya dan turun.


"Buk, martabak satu, rasa kacang" Ucap Airo.


"Siap" Ibu penjual itu membuatkan pesanan Airo.


Airo duduk disalah satu tempat yang sudah disediakan, saat sedang merenung, dia melihat Citra keluar kos dan pergi kelorong depan. Dia tau, pasti Citra mau pergi kerumah Salma, temannya. Ada yang mengganjal dihati Airo saat Citra pergi digang itu, karena tidak biasanya gang yang Citra lewati sepi, karena kepo, akhirnya Airo mengikuti Citra.


"Bu, titip motor sebentar, saya kesana bentar" Ucap Airo.


"Iya mas" Airo pergi menyusul Citra.


Airo melihat Citra berjalan dengan santai seperti biasanya, dia bersenandung riang sambil memainkan ponselnya. Airo hanya menggeleng melihat kebiasaan buruk Citra tidak pernah hilang, yaitu bermain ponsel saat berjalan.


Airo berhenti disalah satu tiang listrik, dia menyandarkan tubuhnya disana sambil mengamati jalan, benar firasatnya kalo jalan ini sepi, tidak seperti biasa. Saat sedang asik memandangi jalanan yang sepi itu, tiba-tiba dia mendengar teriakan Citra yang sangat keras.


"Aaaaa... Tolong, lepasin..." Teriak Citra.


"Lepas, jangan sentuh aku" Citra terus menghindar, dia bahkan hampir menangis.


"Hei kalian" Teriak Airo, para preman itu langsung melihat kearahnya.


"Lepasin dia" Lanjutnya.


"Wah, ada yang mau sok jadi pahlawan nih" Ucap salah satu dari mereka.


"Kenapa, mau gadis ini ya" Ucap yang lain sambil mencolek dagu Citra.


"Jangan sentuh dia bangs**" Umpat Airo kesal.


Bukkk...


Satu bogeman Airo arahkan ke orang yang tadi menyentuh dagu Citra.


"Wah, cari mati lo" Ucap salah satu dari mereka.


"Maju kalian" Tantang Airo, dia bersiap menyerang.


Airo melawan preman itu sendiri, empat lama satu. Sedangkan Citra sudah bergetar, walaupun dia tau apa profesi Airo, tapi tetap saja dia takut karena Airo hanya sendiri.


Tidak butuh waktu lama bagi Airo, sepuluh menit dia habiskan untuk membasmi keempat preman itu. Setelah preman itu pergi, Airo mendekati Citra yang masih menangis sambil memeluk lututnya sendiri.


"Dek" Panggil Airo. Citra mendongak dan langsung memeluk Airo.


"Abang, Citra takut hiks..." Citra semakin sesenguhan dipelukan Airo, pelukkan yang dia rindukan selama satu tahun lebih tidak dia dapatkan.


"Kamu aman, tenang ya" Airo bingung, dia ingin mengusap kepala Citra, tapi mengingat akan sesuatu membuat Airo jadi resah.

__ADS_1


"Abang, maafin Citra hiks... Citra nggak selingkuh bang, Citra kangen sama abang" Citra semakin mempererat pelukkannya.


"Dek, jangan gini ya" Airo ingin melepaskan pelukkan Citra tapi Citra malah semakin mempererat pelukkannya.


"Nggak, Citra mau sama abang, bang jangan tinggalin Citra, Citra berani sumpah, Citra nggak selingkuh bang" Ucap Citra.


"Cukup dek, jangan bawa-bawa sumpah, nggak baik" Ucap Airo.


"Tapi Citra nggak selingkuh bang, kenapa abang nggak percaya sama Citra bang, kenapa" Ujar Citra.


"Bang, kenapa nggak percaya sama Citra, Citra jujur bang" Tanya Citra sekali lagi.


"Dek, abang udah bilang, abang lebih percaya sama apa yang abang lihat dan bukti nyata" Jelas Airo dengan tenang.


"Ya udah, abang cari aja buktinya kalo Citra tuh nggak selingkuh, Citra tulus sama abang" Citra menatap Airo yang hanya mengeluarkan tatapan kosong.


"Bang" Panggil Citra dengan terisak, Airo hanya berdehem masih dengan tatapan kosongnya.


"Hiks... Citra sayang sama abang, Citra nggak selingkuh" Ucap Citra.


"Udah ya, abang anter Citra kerumah Salma ya" Ucap Airo.


"Nggak, Citra mau sama abang, Citra nggak jadi kerumah Salma" Citra menggeleng dipelukkan Airo.


Airo menghembuskan napasnya pasrah, dia membalas pelukkan Citra dengan satu tangan sedangkan tangan yang satunya mengirim pesan kepada Salma agar gadis itu menjemput Citra.


Setelah beberapa menit Salma pun datang karena memang rumahnya tidak jauh. Salma tercengang melihat pemandangan yang sudah lama tidak dia lihat dari Citra dan Airo.


"Abang pulang ya, tuh Salma udah dateng" Ucap Airo saat menyadari kedatangan Salma, dia melepaskan pelukkan Citra.


"Bang, maafin Citra" Gadis itu menahan tangan Airo. Airo hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Citra sebentar.


"Sal, titip anak kecil ini ya" Ucap Airo dengan tersenyum.


"Iya bang" Ucap Salma. Airo menatap Citra sebentar kemudian pergi.


Salma jongkok dan memeluk Citra yang masih menangis. Mereka berdua melihat kearah Airo bertepatan dengan Airo yang melihat kearah mereka dengan tatapan iba tapi masih dengan wajah datarnya.


"Udah ya cantik, jangan nangis lagi, gue yakin bang Airo itu masih sayang sama lo, sekarang kerumah gue dulu yuk, terus cerita kenapa kalian bisa disini" Ucap Salma yang mendapat anggukkan dari Citra.


Posisi Airo.


"****... Sial, kenapa gue masih semarah itu lihat Citra disentuh orang lain" Ucap Airo sambil mengacak-acak rambutnya.


"Mungkin mas nya masih suka sama neng Citra" Ucap ibu penjual itu sambil meletakkan bungkusan martabak diatas meja depan Airo.


"Ibu ada-ada aja" Ucap Airo.


"Ya siapa tau" Ucap ibu penjual. Airo hanya tersenyum kemudian membayar martabak itu.


Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Airo segera pulang kerumah Al. Setengaah jam dia baru sampai dirumah Al.


"Assalamu'alaikum" Baru saja selesai mengucapkan salam, Dewi langsung keluar dengan wajah berbinar.


"Wa'alaikumussalam, mana bang" Ucap Dewi.


"Ini" Airo memberikan plastik yang berisi martabak kepada Dewi.


"Makasih ya bang, jadi ngerepoti" Ucap Al yang berdiri disamping Dewi.


"Iya, santai aja, abang langsung pulang ya" Ucap Airo.


"Loh, nggak mampir dulu" Tanya Al.


"Nggak deh, salam buat ayah sama bunda ya" Ucap Airo.


"Oke, hati-hati dijalan" Airo mengangguk dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Enak" Tanya Al yang melihat Dewi dengan antusias memakan martabak itu di teras rumah. Dewi mengangguk dengan cepat.


"Ya udah, habisin ya" Al mengusap kepala Dewi gemas.


__ADS_2