Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)

Dia Suamiku (The Bos Is Geng Motor)
Bertemu dan Terluka


__ADS_3

...❗Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Jejak Guys ❗...


...|...


...|...


...|...


...|...


..._____________...


Hari mulai pagi, Al sudah bangun dari sebelum subuh. Dia sholat dan berdo'a agar bisa segera menemukan Dewi dan segera membawanya pulang.


Tok...Tok...Tok...


Saat sedang bersiap, pintu kamar Al diketuk oleh seseorang.


"Siapa" Tanya Al.


"Dennis" Jawabnya.


"Kenapa" Tanya Al lagi.


"Sarapan dulu sebelum berangkat, biar lo ada tenaga" Ujar Dennis dari luar.


"Iya" Ucap Al, setelah mendengar ucapan Al, Dennis pun pergi dari sana.


Al mengambil jaketnya dan keluar untuk sarapan bersama yang lain, kali ini 80% dari mereka ikut dan sisanya tinggal di markas untuk berjaga-jaga.


Al datang ke meja makan, mereka semua yang ada disana langsung berdiri untuk menyambut Al, sebenarnya Al tidak pernah menyuruh mereka untuk seperti itu tapi mereka menginginkannya sendiri. Abimanyu mengambilkan nasi untuk Al seperti biasa yang dilakukannya saat Al makan dimarkas.


"Nggak usah banyak-banyak Bi" Ucap Al. Abimanyu akhirnya mengurangi porsinya menjadi setengah lalu memberikannya kepada Al.


Setelah itu mereka semua mengambil makanan untuk mereka sendiri, kalo kalian tanya siapa yang masak, ya pastinya Abimanyu dan pasukannya.


Setelah selesai makan, mereka kembali mendiskusikan rencana mereka kepada Al dan Al pun setuju dengan rencana itu. Mereka pun akhirnya berangkat untuk mencari Dewi.


***


Sedangkan Dewi masih tidur karena semalam dia tidak tidur sama sekali sehingga membuatnya mengantuk. Fariz sendiri sekarang masih menatap Dewi yang masih tenang dalam tidurnya.


"Kok masih tidur aja sih, tapi nggak papa deh nanti kalo bangun pasti ngamuk dia" Ucap Fariz, dia duduk didepan Dewi, mengusap wajahnya. Dia bisa leluasa menyentuh Dewi saat dia tertidur seperti ini, karena kalo bangun pasti Dewi selalu menghindarinya.


Tok...Tok...Tok...


"Bos, sarapannya udah siap" Ucap Kennan.


"Bawain kesini" Ujar Fariz.


"Oke bos" Kennan pergi untuk mengambilkan sarapan.


Sambil menunggu sarapan, Fariz tidak berhenti menatap Dewi yang masih terlelap dalam tidurnya. Tak lama makanan pun datang, Fariz memakannya masih dengan menatap Dewi, rasa ingin segera memilikinya semakin besar kala melihat Dewi seperti itu.


"Ehmmm" Dewi mengeliat, dia menggerjapkan matanya.


"Morning honey" Ucap Fariz, Dewi hanya diam menatap Fariz dengan tatapan malasnya.


"Ayo sarapan, nanti lo sakit kalo nggak makan" Ucap Fariz, Dewi hanya menggelengkan kepalanya. Walaupun lapar dia masih gigih dengan pendiriannya.


"Lo bandel banget sih, ayo dong makan, setelah ini kita akan pergi jauh dari sini, kita akan hidup bahagia" Ucap Fariz, Dewi membelalakan matanya mendengar ucapan Fariz.


"Ya Allah, hamba nggak mau pergi sama dia, Al cepet dateng, gue nggak mau sama dia" Batin Dewi.


"Ekspresinya biasa aja dong sayang, ayo makan" Ucap Fariz, dia menyuapi Dewi tapi Dewi tidak membuka mulutnya sama sekali.


"Mau lo apa sih, lo dari kemarin nggak makan, kalo sakit gimana coba" Ujar Fariz.


Dewi menundukkan kepalanya kemudian berkata. "Gue mau Al"


Prang...


Fariz membanting piringnya saat itu juga yang membuat Dewi terkejut, Fariz marah karena Dewi selalu menyebutkan Al. Dia mendekati Dewi, saat ini jarak mereka sangat dekat bahkan Dewi bisa merasakan napas Fariz yang sudah menggebu.


"Fa-fariz" Dia takut dengan tatapan Fariz yang memancarkan amarah apalagi tangannya masih terikat, hal itu membuatnya semakin takut kalo Fariz melakukan hal-hal aneh kepadanya.


Fariz mencengkram dagu Dewi. "Lo, sekali lagi lo sebut nama itu, gue bakal bunuh dia hari itu juga" Ancam Fariz. Air mata Dewi turun secara tiba-tiba saat mendengar ancaman Fariz barusan.


Fariz mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. "Halo, kita pergi hari ini" Setelah mengucapkan kalimat itu, Fariz langsung mematikan telponnya.


"Sekarang kita bakal pergi dari sini, jauh kesana, tidak ada satu orang pun yang tau" Ucap Fariz, dia mengusap wajah Dewi dengan senyum smriknya.

__ADS_1


Dewi menggelengkan kepalanya. "Gue nggak mau Fariz, lepasin gue" Ucap Dewi dengan isaknya.


"Jangan harap lo bisa pergi dari gue setelah ini, lo bakal jadi milik gue" Ucap Fariz.


Tok...Tok..Tok...


"Siapa" Tanya Fariz.


"Daffa" Jawabnya.


"Kenapa" Tanya Fariz lagi.


"Semuanya udah siap bos, kita tinggal berangkat" Jawab Daffa.


"Oke" Fariz melepaskan ikatan tali yang ada dikursi tapi tidak pada tangan dan kaki Dewi.


Fariz mengangkat Dewi dan membawanya keluar, sepanjang jalan Dewi terus memberontak tapi Fariz masih dengan tenang menggendong Dewi keluar hingga masuk kedalam mobil.


"Jalan sekarang" Ucap Fariz setelah masuk kedalam mobil.


"Lepasin gue" Ucap Dewi. Fariz yang bosan dengan ucapan Dewi pun akhirnya kembali membius Dewi agar dia diam.


"Gila lo bos, pemaksaan ini mah" Ucap David.


"Bodo amat" Ucap Fariz, dia menyandarkan kepalanya.


"Lewat mana nih bos" Tanya Kennan yang menjadi supir saat ini.


"Jalan pintas aja yang nggak ada polisi" Jawab Fariz.


"Kalo ada polisi, tutup aja dia pakek selimut, ntar kalo ditanya tinggal jawab kalo dia tidur" Ucap Daffa.


"Bener juga sih, tapi lewat jalan pintas aja yang lebih cepet" Ucap Fariz.


"Oke bos" Kennan pun menjalankan mobilnya kearah jalan pintas.


***


"Tunggu dulu" Ucap Al, saat ini mereka sedang dalam perjalan menuju tempat dimana Dewi disekap. Mereka menggunakan tiga mobil dan yang lain menggunakan motor masing-masing.


"Kenapa Al" Tanya Dennis.


"Gps nya pindah arah" Jawab Al. Rehan yang mengemudi pun memberhentikan mobilnya, mereka melihat dengan teliti arah gps itu.


"Coba gue check dulu" Ucap Airo, dia melacak tempat Dewi.


"Gila, mereka keluar daerah ini" Ujar Airo terkejut.


"Yakin bang" Tanya Dennis.


"Iya, Han, cepet" Airo langsung memberikan petunjuk arah kepada Rehan agar segera menyusul Dewi.


Al memejamkan matanya, dia berdo'a agar istrinya dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Kepalanya kembali pusing saat mengetahui kalo Dewi dibawa keluar daerah, mereka belum terlalu yakin siapa yang membawa Dewi pergi tapi mereka sudah punya target.


"Tenangin pikiran lo Al, jangan sampe lo ambil tindakan yang salah" Ucap Vanno, Al hanya menganggukkan kepalanya saja, dia benar-benar pusing saat ini.


Al menatap jalanan dari jendela, memikirkan Dewi yang kini entah dimana adanya. Yang dia inginkan hanya, semoga dia bisa segera bertemu dengan Dewi.


"Ya Allah, sebesar itukah dosa hamba sehingga Engkau memberikan ujian seberat ini, kalo emang ini karena dosa masalalu ku, tolong jangan bawa istri hamba dalam masalah ini Ya Allah, biarkan hamba saja yang menjalaninya" Batin Al, dia meratapi nasibnya sepanjang jalan, pikiran yang kosong, sekosong hati author, hahaha, canda, serius muluk.


"Kita makin deket sama mereka" Ucap Vanno saat melihat layar ponsel.


"Hubungi yang lain, suruh mereka buat kepung dari segala arah" Ucap Airo.


"Oke bang" Vanno dan Dennis dengan cepat menghubungi yang lainnya dan menyuruh mereka untuk mengepung dari seluruh penjuru jalan itu. Para anggota yang lain dengan cepat menyebar sesuai arah para anggota inti.


***


Ciittt....


"Bangkek, kenapa lo" Tanya Daffa.


"Noh lihat depan" Ucap Kennan.


"Anj.... kenapa kita bisa dikepung" Umpat Fariz.


"Kita juga nggak tau bos" Ujar David.


Mereka hanya diam didalam mobil, mereka tidak membawa pasukkan sama sekali karena mereka pikir tidak akan ada yang tau tentang ini, apalagi lokasi yang mereka ambil adalah tempat yang jarang dilewati orang.


Al turun dengan tatapan tajamnya, diikuti oleh yang lain. Al mendekati mobil itu dan langsung menggedor pintu kemudi dengan kuat.

__ADS_1


"Gila, itu Al" Ucap Daffa pelan.


"Turun kalian pengecut" Teriak Al dari luar. Karena teriakan Al yang keras, membuat Dewi tersadar karena kadar obat bius itu hanya ringan saja.


"Al" Ucap Dewi lirih.


"Al tolong aku" Teriak Dewi setelah yakin bahwa itu Al. Fariz buru-buru membungkam mulut Dewi dengan tangannya.


"Kenapa kita nggak bawa pasukkan sih" Ucap Fariz kesal.


Al yang mendengar suara Dewi meminta tolong pun semakin marah, dia mengambil batu dan langsung memecahkan kaca pintu kemudi.


"Turun kalian" Bentak Al.


Mereka semua tidak ada pilihan lain selain turun dari mobil. Mereka pun akhirnya membuka pintu dan keluar, Al dengan cepat langsung mengambil Dewi dari Fariz. Dia melepaskan ikatan ditubuh Dewi dan langsung memeluknya dengan erat.


"Sayang, kamu nggak papa kan, nggak luka" Tanya Al masih dengan posisi memeluk Dewi.


"Aku nggak papa Al" Jawab Dewi, dia membalas pelukkan Al dengan hangat.


"Kalian" Ucap Rehan kepada Fariz dan yang lain, dia mengeraskan rahangnya, seandainya tidak ada Dewi pasti dia sudah membantai habis mereka semua.


Mereka semua hanya diam saat Rehan menatap mereka dengan tatapan membunuhnya. Tiba-tiba Rehan mengalihkan pandangannya saat mendengar tangisan Dewi yang pecah, dia tersenyum tipis melihat Al bisa bertemu dengan Dewi lagi.


Disaat Rehan dan yang lain lengah dan hanya memperhatikan Dewi dan Al, Fariz dan yang lain perlahan masuk kedalam mobil. Saat sudah memasuki mobil, Fariz mengeluarkan pistol dan


Dor...


Tembakan itu tepat mengenai Al, setelah menembak Al, mereka pun langsung kabur.


"Kejar mereka" Perintah Rehan, dengan cepat para anggota yang lain langsung mengejar mobil itu.


"Al" Teriak Dewi. Dia semakin menangis melihat Al yang tertembak.


"Al, bangun Al, jangan tinggalin aku, Al bangun" Dewi memeluk Al dengan erat.


"Jangan nangis, aku... nggak suka lihat... kamu nangis" Ucap Al, kemudian dia langsung pingsan.


"Nggak, Al bangun" Dewi menangis histeris.


"Bawa dia ke mobil" Ucap Airo .


Mereka pun akhirnya membawa Al ke rumah sakit dengan kecepatan penuh, sepanjang jalan Dewi terus menangis sambil memeluk Al yang sudah berlumuran darah.


"Rehan, lebih cepat" Ucap Dewi.


"Iya, ini udah ngebut" Ucap Rehan, dia mengendarai mobil dengan sangat cepat.


***


Rumah Sakit


"Dokter, suster, tolong adik saya" Teriak Airo, saat itu juga para perawat langsung membawakan bengker untuk Al, mereka langsung membawa Al keruang UGD.


"Maaf mas, mbak, tolong tunggu diluar" Ucap Suster, dia kemudian menutup pintu.


"Al" Dewi terduduk didepan pintu UGD.


"Dewi, tenang" Rehan berjongkok disamping Dewi.


"Al gimana Han, gue nggak mau dia kenapa-napa" Ucap Dewi.


"Lebih baik lo berdo'a supaya Al baik-baik aja" Ujar Rehan, Dewi hanya mengangguk.


"Emm, Wi, ini hp Al ada telpon" Ucap Dennis, dia memberikan ponsel Al kepada Dewi.


"Ibu" Gumam Dewi.


"Assalamu'alaikum bu" Ucap Dewi.


"Wa'alaikumussalam, loh kamu kenapa nak, kok nangis, terus Al mana kok kamu yang angkat, kalian dimana, rumah kalian sepi banget" Ucap Ibu khawatir saat mendengar suara Dewi yang purau.


"Dewi bakal jelasin nanti bu, ibu bisa ke rumah sakit Jaya Bakti sekarang" Ucap Dewi.


"Iya nak, ibu kesana sekarang" Ucap ibu yang langsung mematikan sambungan telponnya.


Dewi berdiri melihat Al dari balik pintu, dia kembali terisak saat melihat Al yang dalam keadaan kritis.


Brukk...


Tiba-tiba saja Dewi pingsan, untunglah Rehan dengan sigap menangkap Dewi.

__ADS_1


"Bawa keruangan lain Han, biar gue panggil dokter" Ucap Airo.


"Iya bang" Rehan pun membawa Dewi kerungan lain bersama Dennis dan Vanno, sedangkan yang lain standby didepan pintu UGD menunggu Al yang masih ditangani.


__ADS_2