
Keluarga Raka menatap dokter yang baru saja keluar dari ruangan begitu tegang. Pikiran mereka merembet ke mana-mana tentang Zika.
Zika adalah penghibur untuk Raka di saat ia sedang kesunyian merindukan istrinya. Anaknya itu datang dan membuatnya tersenyum. Tapi kini apa yang dilakukan Tuhan padanya?
Di saat ia Zia belum juga sadar dari koma justru Zika sedang terbaring di rumah sakit. Di mana tempat melahirkan dia dulu, tempat terakhir kali Raka melihat senyum Zia dan mengusap wajahnya.
Jangan sampai rumah sakit ini akan melakukan kesalahan yang sama karena tidak bisa menangani Zika. Kalau sampai itu terjadi, Raka janji akan memastikan membuat rumah sakit ini berhenti beroperasi untuk selama-lamanya.
“Zika baik-baik saja. Dia hanya mengalami cedera kecil di bagian kepala. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dalam beberapa hari ke depan dia akan kembali pulih,” ucap dokter laki-laki yang menangani Zika.
Seketika Raka bernapas lega bagai melepas hal yang mengganjal dalam dadanya sejak tadi yang membuatnya sesak.
“Sukurlah ....” mereka serentak mengucap syukur secara bersamaan.
Setelah Zika dipindahkan ke ruangan inap VIP khusus anak. Raka dan keluarga segera masuk untuk menemui Zika.
Gadis kecil itu beringsut lemah di atas ranjang. “Papa,” panggilnya dengan lirih.
Raka segera mendekat mengusap rambut Zika lalu mengecup kepalanya. “Papa di sini sayang. Di sini juga ada grandma, aunty, dan juga-”
“Hai Zika, bagaimana kabarmu sayang?” Sesil menyahut dari arah belakang dan menghampiri Zika di sebelah Raka.
“Unda,” ucap Zika dengan bibir kecilnya.
“Iya sayang, unda ada di sini. Kamu cepat sembuh ya, biar bisa main-main sama unda lagi. Oke!” Sesil mengacungkan kelingking seperti biasa yang ia lakukan bersama Zika.
__ADS_1
“Iya, unda.” Zika tersenyum ingin mengangkat tangan.
“Janji.” Sesil menautkan kelingkingnya dengan kelingking Zika.
Ada rasa tidak suka saat Raka melihat ini. Karena bagaimanapun Sesil bukan ibu Zika, Raka tidak ingin mereka terlalu dekat karena takut jika suatu saat Zia kembali, Zika justru berbanding balik menganggap Zia adalah orang lain.
“Zika, di temani grandma dulu ya. Ada yang mau Papa bicarakan sama dokter Sesil,” ucap Raka tersenyum pada Zika lalu memandang dokter Sesil. “Ayo keluar dok, ada yang ingin aku bicarakan.” Ia segera keluar lebih dulu. Sedangkan dokter Sesil mengikuti di belakang dengan perasaan bertanya-tanya.
Hingga mereka duduk di kantin rumah sakit. Raka tidak memesan apa pun, sedangkan Sesil memesan secangkir kopi robusta.
Raka menatap perempuan yang sedang menyesap kopi dari cangkir itu lalu berkata, “Dok, ada yang ingin aku bicarakan.”
Dokter Sesil menyudahi minumnya lalu meletakkan cangkir di tempat semula. “Katakan, Raka. Apa yang ingin kau bicaranya?”
“Khawatir?” Dokter Sesil mengerutkan dahinya. “Apa maksudnya Raka?”
“Aku minta jauhi Zika, dok. Aku tidak ingin dia terlalu dekat denganmu dan melupakan posisi Zia. Maafkan aku, dokter. Tapi ini demi kebaikan Zia dan Zika,” ucap Raka dengan wajah memohon.
Wajah Sesil kaku tidak percaya apa yang telah diucapkan Raka. Bagaimana mungkin? Dia selama ini sangat menyayangi Zika dan selama ini sepanjang hari gadis kecil itu bersamanya. Sekarang, dengan mudahnya Raka mengatakan kalau dia harus menjauhi Zika?
Tidak, tidak. Ini tidak adil, bagaimana dengan perasaannya yang sangat menyayangi Zika? Akankah ia buang begitu saja?
“Tidak bisa, Raka,” sahutnya menyadarkan dari pikiran. “Aku tidak bisa menjauhi Zika. Maaf Raka permintaanmu ini aku tidak bisa menurutinya.” Dokter Sesil segera beranjak dan pergi dari kantin.
Raka mengusap wajah kasar. Ia pusing memikirkan ini semua, Zika sakit dan Zia selama 2 tahun belum membuka matanya.
__ADS_1
Ia menghembus napas ke atas bersamaan dengan perasaan yang menyesakkan dada.
Tak lama berselang, asisten pribadinya yang bernama Dion datang. Dengan napas memburu dan terengah-engah menghampiri Raka.
“Tuan. Tu-an, ada kabar penting,” ucapnya dengan napas yang naik turun karena sepanjang perjalanan ia berlari.
“Kau kenapa, Dion?” Raka memiringkan wajah menatap asistennya.
“Ada kabar, Tuan.”
“Kabar apa? Pasti tentang perusahaan Anggara Group yang mengajak damai kan? Aku sudah bosan mendengar itu. Mereka memulai, mereka juga yang mengakhiri semua permainan ini,” desis Raka mencemooh dengan duduk santai.
“Bukan itu, Tuan. Tapi ini kabar dari rumah sakit Singapura.”
Mendengar Singapura Raka segera menoleh. “Singapura?” Rasa khawatir bercampur cemas membungkus perasaannya.
“Iya, Tuan. Mereka sejak tadi menghubungi Anda tapi tidak mendapat jawaban. Ada yang ingin mereka sampaikan kalau non Zia-”
“Zia? Kenapa dengan dia?” Rasa khawatir seketika menyeruak dalam benak Raka. Terakhir kali ia melihat Zia dalam keadaan memprihatinkan, bahkan memvonis kalau Zia tidak akan bertahan lagi dalam sebulan ke depan. Apa mungkin Zia telah-.
Raka beranjak dari kursi meraih kerah Dion mencengkeram dengan kuat. “Katakan, apa yang terjadi dengan Zia?” tanyanya dengan penuh penekanan.
Maaf, ya kakak. Kemarin Jenny esmosi aku hanya hilaf🙈 kekurangan hanya milik saya kesempurnaan milik Allah.
Jangan Lupa Like komen Vote ya kakak yang baik hati dan secantik se Novelton🙏
__ADS_1