Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 40


__ADS_3

Raka duduk di samping Zia tidur, mengamati wajah sang istri dalam-dalam. Tampak damai dan tenang wajah cantik meneduhkan. Di hadapannya adalah perempuan yang sangat ia cintai. Meski banyak wanita di luaran sana datang untuk menggodanya tekatnya sangat kuat. Raka tidak akan berpaling dari Zia.


Hidupnya adalah hidup Zia, selain dia dan keluarganya istrinya kini tidak memiliki siapa pun. Sudah tanggung jawab Raka kini untuk memastikan Zia harus selalu dalam keadaan bahagia. Raka mengusap rambut Zia yang tergerai menutupi wajahnya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di bibir kecil ranum itu dengan lembut.


Pergerakan Zia yang menggeliat membuat Raka berhenti kemudian menarik selimut yang melorot menaikkan sampai ke pundak.


"Aku sangat mencintaimu." Disusul sebuah kecupan kemudian di dahi. Raka berbalik badan langkahnya terhenti saat tiba di sofa.


Ia menghidupkan laptop di atas meja dengan duduk di atas lantai sedangkan punggungnya bersandar pada kaki sofa. Raka tidak mau tinggal diam begitu saja menanggapi perusahaan yang sedang di ambang kehancuran. Dan ia juga tidak bisa selalu mengharapkan bantuan dari orang-orang terdekatnya tanpa bekerja keras lebih dulu.


Jari-jari Raka terus saja mengetik mencocokkan file-file pada laporan riwayat penggunaan dana dari perusahaannya. Ini semua bisa saja dilakukan oleh Dion tapi tidak yakin kalau tidak memeriksa sendiri.


"Kamu sedang apa?" Entah semenjak kapan Zia bangun dan saat ini sudah ada di sofa.


"Ini ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Raka tangannya masih sibuk mengetik.


Zia menatap layar laptop Raka sejenak, kemudian menghela napas. Sebenarnya ia tertidur tadi, akan tetapi karena merasakan bibirnya terasa dingin ia terbangun. Dan suaminya baru saja tiba.


"Apa sedang ada masalah di kantor, Sayang?"


Pertanyaan Zia Seketika membuat jari-jari Raka yang sebelumnya sibuk seketika terhenti. Raka memutar bola mata kemudian berkata,


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja tidak." Ia segera menggeleng kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi.


Zia tersenyum. Suaminya itu memang selalu ingin ia bahagia, sampai-sampai selalu menyembunyikan sesuatu yang besar jika itu akan membuatnya sedih. Tapi Zia mencintai Raka bukan hanya sekedar materi bukan?


Zia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kini kepalanya berdekatan dengan kepala Raka yang duduk di lantai.


"Apa pun yang terjadi aku akan menemanimu malam ini, sampai kau selesai," ucapnya.


Raka terkekeh kemudian menaikkan tangan untuk membelai sang istri. "Tapi kamu harus tidur, sayang ...."


Zia semakin melingkarkan tangannya ke dada Raka merapatkan tubuhnya hingga mengikis jarak di antara mereka. "Tidak mau, aku maunya di sini menemanimu sampai semua pekerjaanmu selesai."


Walau ia tidak bisa membantu paling tidak bisa menemani Raka di saat tengah malam seperti ini.


"Dasar keras kepala," kata Raka kemudian menjentikkan jari ke kening Zia.


"Sakit," ucap Zia. Mengusap keningnya. Kemudian Raka melanjutkan menatap layar laptopnya lagi.

__ADS_1


"Kamu tadi pergi ke pesta dengan Dion, bukan?" tanya Zia.


"He um," jawab Raka sekilas tanpa menoleh.


"Bagaimana pestanya?"


"Lancar."


"Apa memang pesta selesai selarut ini?" tanya Zia Seketika membuat Raka menoleh.


"Bukan itu maksudku, tapi ... kenapa kau pulang selarut ini? Padahal saat aku menghubungi Dion dia mengatakan pesta akan selesai sekitar pukul 11 atau 12, tapi ini sudah jam 2 pagi, sayang."


Raka menghela napas berat. Kalau saja Neona tidak membuat ulah pasti ia tidak akan terlambat pulang. Kini bibir Raka keluh bingung harus menjawab apa.


"Sudah lupakan, aku hanya sekedar bertanya. Kamu terlambat pulang pasti karena ada hal yang diurus." Sebelum Raka menjawab Zia menyudahi pertanyannya.


Akan tetapi Raka tahu, di dalam hati istrinya itu pasti ada hal yang mengganjal dalam benak. Bagaimana kalau Zia tahu, bahwa ia baru saja bangun dari kamar Neona?


Namun, apa tidak sebaiknya Raka menjelaskan semua, itu lebih baik, bukan?"


Saat Raka hendak Bicara ternyata Zia sudah tertidur menempelkan wajah di punggungnya. Raka menggeser tubuhnya perlahan-lahan kemudian mengangkat tubuh Zia untuk memindah ke atas ranjang. Dan ia pun ikut serta tidur di sampingnya.


Cahaya matahari masuk menembus kamar Raka dan Zia karena tidak ada pembatas gorden. Disain seperti itu lah yang diinginkan Zia bisa melihat pemandangan kolam renang melalui kamar yang hanya berdindingkan kaca.


Zia dan Raka masih nyaman menikmati tidurnya saling berpelukan di bawah selimut tebal berwarna putih.


"Papi, Mommy."


Tiba-tiba suara Zika mengejutkan mereka berdua. Zia membuka mata karena putri kecilnya itu langsung duduk di tengah-tengah memisahkan pelukannya dengan Raka.


"Zika sudah bangun?" tanya Raka dengan suara parau khas bangun tidur.


"Selamat pagi, Papi, selamat pagi, Mommy." Zika mencium kedua orang tuanya itu secara bergantian.


Kemudian Raka mengubah posisi bersandar di kepala ranjang. "Zika, sini." Raka menepuk-nepuk ruang di sampingnya. Zika pun mendekat dengan wajah polos bersandar dalam pelukan sang papa.


"Zika, ada yang papa ingin tanyakan padamu, apa Zika mau teman di rumah ini?" Zika langsung mengangguk.


Zia memicingkan mata tiba-tiba perasaannya tidak enak ketika Raka berbicara dengan Zika, tapi matanya berusaha menggodanya.

__ADS_1


"Kalau begitu Zika harus minta sama Mommy." Raka membalik tubuh Zika mengarah padanya.


"Zika harus bilang sama Mom, kamu Zika mau adik kecil yang lucu. Zika mau kan punya adik?"


Zika mengangguk lagi.


"Nah, ayo sekarang bilang sama Mom."


Satu cubit cubitan Seketika mendarat ke pinggang Raka. Hingga pria itu mengeluarkan gelagar suara.


"Dasar curang, kamu memanfaatkan anak kecil untuk niat terselubungmu." Zia menghujani Raka dengan cubitan di perut.


"Zika, tolong Papi, Mom menyakitiku." Raka menyilangkan kedua tangannya sedangkan tubuhnya condong ke belakang menghindari Zia yang terus maju ke arahnya.


Zika turut tertawa menyaksikan kedua orang tuanya seperti itu.


"Baiklah, aku menyerah." Raka mengangkat kedua tangannya kemudian Zika berhenti.


"Sudah siang, aku harus mandi dulu sebelum berangkat ke kantor ."


Zia mengangguk. Kemudian memangku putrinya. Ia menggulung rambut hitam panjang milik Zika itu lalu menjadikannya sebuah cempol. Saat menoleh ternyata Raka masih berada di sampingnya.


"Kenapa belum mandi, Sayang? Nanti kamu bisa terlambat," ucap Zia.


Raka menjawab dengan cara berbisik membuat Zia tertawa kecil.


"Dasar," gerutu Zia.


Beberapa menit kemudian ....


Zika sedang asyik bermain sendiri di ruang keluarga. Dion yang baru saja masuk menghampirinya.


"Zika, di mana dan Papa? Kenapa kamu main sendiri?" tanyanya sembari bola matanya mengitari ruangan. Hanya ada satu asisten rumah tangga saja sibuk mengelap meja.


"Mami sama papi, meleka sedang mandi," balas Zika dengan suara kecil lembut.


Kemudian dalam keadaan rambut masih basah mengenakan pakaian rumahan Zia keluar dari kamar. "Selamat pagi, Dion? Kau sudah datang rupanya," ucap Zia setelah kemudian menghampiri Zika.


"Selamat pagi, Nona." Dion menjawab dengan menunduk penuh hormat.

__ADS_1


__ADS_2