
Dokter Sesil menunduk tidak bisa menjawab. Sedangkan Zia
bingung menoleh ke Raka dan Sesil. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Raka
sebegitu marah dengan Sesil?
“Sekarang apa yang akan kau lakukan? Zika sudah terlanjur sayang
sama kamu. Dan tidak mau dengan ibu kandungnya. Apa kamu bisa membuat semua
baik-baik saja, dokter Sesil?” tanya Raka.
“Iya maaf. Ini memeng salahku, andai saja aku tidak terlalu
dekat dengan Zika, kejadiannya pasti
tidak seperti ini. Tapi sebagai seorang perempuan melihat Zika merindukan
sesosok seorang ibu aku tidak tega melihatnya. Tapi rasa kasihan lama-lama
berubah menjadi sayang. Semakin hari bersama Zika mebuat hidupku bermakna.” Dokter Sesil mengusap air matanya.
Setelah kepergian sang calon pacar hidup dokter Sesil begitu suram, seolah tidak memiliki semangat untuk hidup lagi. Jiwanya seolah hilang saat kekasih yang sangat ia cintai pergi meninggalkannya. Akan tetapi setelah bertemu dengan Zika hidupnya berubah menjadi lebih indah. Hari-hari yang
sebelumnya tidak mempunyai arti kini lebih bermakna setelah kehadiran gadis
kecil yan g ia anggap sebagai malaikat itu.
“Aku tahu … kamu memang berjasa dengan ikut andil merawat
Zika selama ini. Tapi … bagaimana kalau Zika lebih menyayangi kamu daripada
bundanya?”
“Maaf.” Hanya itu yang bisa dikatakkan oleh dokter Sesil. “Aku
permisi ….” Ia segera berbalik dan keluar dari kamar Raka.
Keluar dari kamar Raka dokter Sesil berlari pergi dari
rumah. Perempuan itu terus saja berlari sampai akhirnya berhenti di sebuah
taman. Ia duduk di kursi menangis sejadi-jadinya. Ia tidak kuasa menahan air
matanya. Zika selama ini adalah cahaya dalam hidupnya, tapi Raka menyuruhnya
untuk menjauh. Ia tidak sanggup jika harus jauh dari Zika.
“Seorang dokter harusnya bukan ada di rumah sakit? Lalu sedang
apa kau ada di sini? Menangis pula,” cibir seorang lelaki dari belakang
kursinya.
Dokter Sesil mendongak menoleh ke arah sumber suara parau
tersebut. Siapa lelaki yang berani meledeknya?
Dion menyeringai berdiri dengan satu tangan mesuk ke dalam
kantong celananya. Lelaki bertubuh tinggi tegap itu melangkah menghampiri
__ADS_1
Dokter Sesil. Duduk tanpa permisi di sebelah perempuan yang terus saja mengusap
air matanya itu.
“Ambilah.” Lelaki itu mengulurkan sebuah sapu tangan
berwarna putih pada Dokter Sesil.
Dengan ragu-ragu menerimanya hingga akhirnya Dion tersenyum dan memberikan di tangannya.
Sesil menerimanya mengusapkan pada matanya yang berlinang
air mata. Karena hidungnya merasa meler perempuan itu menggunakan untuk
membuang ingus. Setelah selesai ia memberikan pada Dion. “Ini terima kasih ….”
Dion segera menjauhkan tangannya merasa jijik. “Tidak usah
ambil aja. Aku ikhlas kok,” ucapnya.
“TIidak bisa begitu ini adalah milikmu maka aku harus
mengembalikan padamu.” Dokter Sesil memasukkan sapu tangan ke dalam kantong
kemeja Dion.
“Heih! Apa yang kau lakukkan?”
“Mengembalikkan sapu tanganmu apa lagi?” Dokter Sesil melirik malas. Lalu pada akhirnya pandangannya menelisik
wajah Dion. “Aku pernah melihatmu tapi … di mana ya?”
melihatmu saat bersama nona Zika.” Dion mengeluarkan sapu tangan dari kantong lalu membuangnya dengan jijik.
Mendengar nama Zika, Dokter Sesil kembali bersedih. Ia kembali
menunduk mengingat perkataan Raka yang menyuruhnya untuk menjauhi Zika.
“Kenapa sedih lagi? Dasar
perempuan semua sama aja, hanya bisa menangis,” dengus Dion.
“Apa kau bilang?” Dokter Sesil menoleh ke arahnya. “Sepertinya kau tidak pernah patah hati ya?”
“Tidak akan pernah dan gak akan mungkin,” balas Dion cepat.
“Dih, menyebalkan!” dengus Dokter Sesil, entah beberapa kali
semenjak lelaki itu berada di sebelahnya mendengkus. Entah dari mana datangnya
lelaki menyebalkan itu hingga berada di sini dengannya.
***
Raka menceritakan semua tentang dokter Sesil pada pada Zia. Kalau
selama ini Dokter Sesil yang merawat Zika. Ia kasihan dengan perempuan itu tapi mau
bagaimana lagi, ini adalah demi kebaikkan bersama.
Saat mereka asik bercerita mama Clarys masuk ke dalam kamar membawa Zika. Gadis kecil itu merasa takut-takut dan besembunyi di dekapan sang nenek.
__ADS_1
“Cika … sini sama Papa.” Raka menghampiri mama Claris lalu
mengambil Zika. “Kita kenalan sama bunda baru yuk.” Ia mengajak mendekat Zika
ke tempat Zia berbaring.
“Zika anak baik, kan?”
Gadis kecil itu mengangguk. Selama ini memang keluarganya
selalu menanamkan hal yang baik dan mengajarkan tentang norma-norma dengan
benar. Mereka Raka ingin anaknya tumbuh kelak seperti mamanya mempunyai
ketulusan hati yang kuat. Hingga dapat mempersatukan banyak cinta yang
terputus.
Zia tersenyum saat putrinya mendekat tanpa menoleh ke
arahnya. Ia tahu pasti Zika masih merasa canggung karena selama ini belum
pernah bertemu dengannya. Tapi ia yakin tidak akan lama lagi putrinya itu akan
baik-baik saja.
Raka medekat memeluk Zia sedangkan Zika berada di tengah. Mama
Clarys keluar dan memberikan kesempatan mereka melepas rindu walau sebenarnya
ia juga rindu dengan Zia. Melihat kebahagiaan mereka bertiga membuat Clarys
terharu mengusap air mata saat berbalik menuju pintu lalu keluar.
“Sayang, sini.” Raka membawa Zika pada bahu kanannya
sedangjan Zia berda di bahu kirinya. Raka kini berada di tengah-tengah perempuan
yang sangat ia cintai. Merekalah hidupnya, belahan jiwanya, semuanya,
“Cika tau tidak siapa wanita cantik di sebelah papa ini?”
Zika menggeleng. Sedangkan Zia hanya tersenyum seraya memukul dada Raka plan.
“Sini papa ceritakkan.” Raka mengangkat tubuh Zika memindah
posisi berada di tengah. Gadis kecil itu menurut seolah siap mendengar cerita
dari sang papa.
“Dia adalah bundanya Zika. Lihat wajah kalian.” Raka
mengambil ponsel dari kantongnya lalu membuka kamera dari sana. Tampak jelas
pantulan bayangan mereka Zika dan Bunda Zia hampir seratus persen memiliki
wajah yang sama.
Bibir kecil itu tertarik membentuk senyuman kecil
menggemaskan hingga membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubit gemas.
__ADS_1