Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episoda 16


__ADS_3

Dokter Sesil menunduk tidak bisa menjawab. Sedangkan Zia


bingung menoleh ke Raka dan Sesil. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Raka


sebegitu marah dengan Sesil?


“Sekarang apa yang akan kau lakukan? Zika sudah terlanjur sayang


sama kamu. Dan tidak mau dengan ibu kandungnya. Apa kamu bisa membuat semua


baik-baik saja, dokter Sesil?” tanya Raka.


“Iya maaf. Ini memeng salahku, andai saja aku tidak terlalu


dekat dengan Zika, kejadiannya pasti


tidak seperti ini. Tapi sebagai seorang perempuan melihat Zika merindukan


sesosok seorang ibu aku tidak tega melihatnya. Tapi rasa kasihan lama-lama


berubah menjadi sayang. Semakin hari bersama Zika mebuat hidupku bermakna.”  Dokter Sesil mengusap air matanya.


Setelah kepergian sang calon pacar hidup dokter Sesil begitu suram, seolah tidak memiliki semangat untuk hidup lagi. Jiwanya seolah hilang saat kekasih yang sangat ia cintai pergi meninggalkannya. Akan tetapi setelah bertemu dengan Zika hidupnya berubah menjadi lebih indah. Hari-hari yang


sebelumnya tidak mempunyai arti kini lebih bermakna setelah kehadiran gadis


kecil yan g ia anggap sebagai malaikat itu.


“Aku tahu … kamu memang berjasa dengan ikut andil merawat


Zika selama ini. Tapi … bagaimana kalau Zika lebih menyayangi kamu daripada


bundanya?”


“Maaf.” Hanya itu yang bisa dikatakkan oleh dokter Sesil. “Aku


permisi ….” Ia segera berbalik dan keluar dari kamar Raka.


Keluar dari kamar Raka dokter Sesil berlari pergi dari


rumah. Perempuan itu terus saja berlari sampai akhirnya berhenti di sebuah


taman. Ia duduk di kursi menangis sejadi-jadinya. Ia tidak kuasa menahan air


matanya. Zika selama ini adalah cahaya dalam hidupnya, tapi Raka menyuruhnya


untuk menjauh. Ia tidak sanggup jika harus jauh dari Zika.


“Seorang dokter harusnya bukan ada di rumah sakit? Lalu sedang


apa kau ada di sini? Menangis pula,” cibir seorang lelaki dari belakang


kursinya.


Dokter Sesil mendongak menoleh ke arah sumber suara parau


tersebut. Siapa lelaki yang berani meledeknya?


Dion menyeringai berdiri dengan satu tangan mesuk ke dalam


kantong celananya. Lelaki bertubuh tinggi tegap itu melangkah menghampiri

__ADS_1


Dokter Sesil. Duduk tanpa permisi di sebelah perempuan yang terus saja mengusap


air matanya itu.


“Ambilah.” Lelaki itu mengulurkan sebuah sapu tangan


berwarna putih pada Dokter Sesil.


Dengan ragu-ragu menerimanya hingga akhirnya Dion tersenyum  dan memberikan di tangannya.


Sesil menerimanya mengusapkan pada matanya yang berlinang


air mata. Karena hidungnya merasa meler perempuan itu menggunakan untuk


membuang ingus. Setelah selesai ia memberikan pada Dion. “Ini terima kasih ….”


Dion segera menjauhkan tangannya merasa jijik. “Tidak usah


ambil aja. Aku ikhlas kok,” ucapnya.


“TIidak bisa begitu ini adalah milikmu maka aku harus


mengembalikan padamu.” Dokter Sesil memasukkan sapu tangan ke dalam kantong


kemeja Dion.


“Heih! Apa yang kau lakukkan?”


“Mengembalikkan sapu tanganmu apa lagi?”  Dokter Sesil melirik malas.  Lalu pada akhirnya pandangannya menelisik


wajah Dion. “Aku pernah melihatmu tapi … di mana ya?”


melihatmu saat bersama nona Zika.” Dion mengeluarkan sapu tangan dari kantong lalu membuangnya dengan jijik.


Mendengar nama Zika, Dokter Sesil kembali bersedih. Ia kembali


menunduk mengingat perkataan Raka yang menyuruhnya untuk menjauhi Zika.


 “Kenapa sedih lagi? Dasar


perempuan semua sama aja, hanya bisa menangis,” dengus Dion.


“Apa kau bilang?” Dokter Sesil menoleh ke arahnya. “Sepertinya kau tidak pernah patah hati ya?”


“Tidak akan pernah dan gak akan mungkin,”  balas Dion cepat.


“Dih, menyebalkan!” dengus Dokter Sesil, entah beberapa kali


semenjak lelaki itu berada di sebelahnya mendengkus. Entah dari mana datangnya


lelaki menyebalkan itu hingga berada di sini dengannya.


***


Raka menceritakan semua tentang dokter Sesil pada pada Zia. Kalau


selama ini Dokter Sesil yang merawat  Zika. Ia kasihan dengan perempuan itu tapi mau


bagaimana lagi, ini adalah demi kebaikkan bersama.


Saat mereka asik bercerita mama  Clarys masuk ke dalam kamar membawa Zika. Gadis kecil itu merasa takut-takut dan besembunyi di dekapan sang nenek.

__ADS_1


“Cika … sini sama Papa.” Raka menghampiri mama Claris lalu


mengambil Zika. “Kita kenalan sama bunda baru yuk.” Ia mengajak mendekat Zika


ke tempat Zia berbaring.


“Zika anak baik, kan?”


Gadis kecil itu mengangguk. Selama ini memang keluarganya


selalu menanamkan hal yang baik dan mengajarkan tentang norma-norma dengan


benar. Mereka Raka ingin anaknya tumbuh kelak seperti mamanya mempunyai


ketulusan hati yang kuat. Hingga dapat mempersatukan banyak cinta yang


terputus.


Zia tersenyum saat putrinya mendekat tanpa menoleh ke


arahnya. Ia tahu pasti Zika masih merasa canggung karena selama ini belum


pernah bertemu dengannya. Tapi ia yakin tidak akan lama lagi putrinya itu akan


baik-baik saja.


Raka medekat memeluk Zia sedangkan Zika berada di tengah. Mama


Clarys keluar dan memberikan kesempatan mereka melepas rindu walau sebenarnya


ia juga rindu dengan Zia. Melihat kebahagiaan mereka bertiga membuat Clarys


terharu mengusap air mata saat berbalik menuju pintu lalu keluar.


“Sayang, sini.” Raka membawa Zika pada bahu kanannya


sedangjan Zia berda di bahu kirinya. Raka kini berada di tengah-tengah perempuan


yang sangat ia cintai. Merekalah  hidupnya, belahan jiwanya, semuanya,


“Cika tau tidak siapa wanita cantik di sebelah papa ini?”


Zika menggeleng. Sedangkan Zia hanya tersenyum seraya memukul dada Raka plan.


“Sini papa ceritakkan.” Raka mengangkat tubuh Zika memindah


posisi berada di tengah. Gadis kecil itu menurut seolah siap mendengar cerita


dari sang papa.


“Dia adalah bundanya Zika. Lihat wajah kalian.” Raka


mengambil ponsel dari kantongnya lalu membuka kamera dari sana. Tampak jelas


pantulan bayangan mereka Zika dan Bunda Zia hampir seratus persen memiliki


wajah yang sama.


Bibir kecil itu tertarik membentuk senyuman kecil


menggemaskan hingga membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubit gemas.

__ADS_1


__ADS_2