
...Raka memegangi pundak Zika memastikan kalau ia tidak salah dengar. Bagaimana seorang perempuan dewasa meracuni pikiran anak kecil. “Zika, blang apa barusan? Bunda...
Sesil bilang kalau mama jahat?”
Zika mengangguk takut. “Tidak usah takut, sayang. Katakana semua pada papa.” Raka
membawa tatapannya lebih dekat menatap manik mata bening itu.
“Jangan malah, Papa. Bunda tidak mau pisah sama Zika.” Gadis kecil itu tahu kalau
papanya sedang marah. Raka yang mendengar kata-kata Zika merasa tersentuh.
Ternyata anaknya itu sangat mirip dengan ibunya, bukan dari wajah, tapi sifat
semua mempunyai kemiripan.
...“Zika bobo ya. Ini sudah larut malam.” Raka merebahkan tubuh Zika dan meraih buku dongeng...
...di atas nakas. Membacakannya hingga gadis itu tidur terlelap....
Setelah terlelap Raka pelan-pelan keluar dari kamar supaya anaknya itu tidak terbangun
ketika mendengar pintu tertutup.
Setibanya di kamarnya sendiri Raka mengepal rahangnya mengeras. Zia yang melihat merasa bingung karena tiba-tiba suaminya itu berubah air mukanya tidak seperti saat
keluar kamar barusan.
“Kamu kenapa, sayang?”
...Raka tidak menjawab, justru terus saja menekan ponsel mencoba untuk menghubungi seseorang....
...“Sial! Kenapa dia tidak mengangkatnya!” ia mengumpat kesal....
“Ada apa ini, sayang? Kenapa kau tidak menjawab ku? Apa ada hal yang tidak beres, dengan perusahaan?”
...“Bukan perusahaan, Zia. Tapi keluarga kita. Ada yang ingin supaya Zika membencimu...
ternyata selema ini.” Raka memijat pelipisnya. Sudah lama ia tidak marah dengan
seseorang. Dan kini Sesil benar-benar berhasil membuatnya marah hingga ke
akar-akar.
Zia yang membekap mulutnya sendiri merasa heran, siapa seorang yang tega berbuat seperti itu padanya dan putrinya. Bahkan sudah meracuni otak Zika dengan kebencian. Zia mungkin akan memaafkan kalau kesalahan yang dilakukan tidak menyangkut Zika. Tapi ia tidak akan terima kalau ada seseorang sudah menghasut putrinya. Terlebih lagi meracuni otak Zika untuk membencinya.
...“Siapa yang tega berbuat seperti itu, sayang. Tidakkah dia tahu perjuanganku melahirkan Zika...
bertaruh dengan nyawa. Kini dengan mudahnya orang tersebut menyuruh putri kita
membenci aku? Aku tidak terima, aku tidak akan memaafkan dia. Cepat katakan,
Raka. Siapa dia?”
“Sesil.”
...Zia seketika menaikkan pandangannya saat mendengar nama dokter Sesil. Apa benar? Bibir Zia bergetar hingga ia kembali menutup mulutnya sendiri dengan tangan. “Dokter...
__ADS_1
Sesil, bagaimana bisa dia bertindak sejahat itu, padahal dia adalah orang yang
sangat aku percaya menjaga Zika. Tapi … kenapa dia justru ingin menjadikan Zika
miliknya? Apa dia juga menginginkanmu, sayang selama ini?”
Raka.menggeleng, mungkin saja iya, tapi Raka tidak pernah menatap Dokter itu
sedikitpun walau sedang bicara ia memilih mengalihkan pandangannya. Karena satu
perempuan yang wajib yang ia tatap yaitu Zia. Perempuan yang berhasil memasuki
relung hati yang paling dalam.
“Kita harus segera menemuinya, aku sudah tidak sabar ingin menjelaskan, siapa ibu kandung Zika sebenarnya, aku juga ingin memberitahu siapa posisi dia alam keluarga
kita.” Zia mengepal geram sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran pada
Dokter Sesil yang tidak tahu diri itu.
...Rakaterkejut melihat reaksi Zia, perempuan yang biasa santai menyelesaikan masalah...
tiba-tiba berubah menjadi seperti harimau lapar siap mencakar siapa saja yang
lewat di hadapannya. Ternyata benar kata
orang, perempuan yang awalnya lemah lembut akan berubah menjadi garang setelah
melahirkan. Mungkin itu semua karena jiwa keibuan yang ingin melindungi anaknya.
berbuat seperti itu.” Lelaki itu merangkul Zia dalam pelukannya menuntun ke
ranjang dan mendudukkannya di sana. “Tenangkan dirimu dulu, kesehatanmu belum sepenuhnya pulih.
Zia menuruti kata-kata Raka ia merebahkan tubuh menarik selimut dan Raka menyusul
tidur di sampingnya, memeluk dengan posesif.
Zia memejamkan mata untuk mengecoh Raka. Kenyataanya ia benar-benar tidak bisa
tidur terus saja memikirkan sakit hati atas ulah Dokter Sesil. Ia menepuk-nepuk
bahu Raka yang melingkar di atas tubuhnya. Memastikan kalau suaminya itu sudah
tertidur lelap. Melirik jam yang menggantung di dinding pukul 1 malam. Ia tidak
sabar jika harus menunggu hingga besok pagi menemui Sesil pemberi racun pada
putrinya itu.
...Perempuan itu menggeser tubuh pelan-pelan supaya Raka tidak bangun. Karena kalau suaminya itu bangun sudah pasti ia akan dilarang untuk pergi menemui Sesil. Ini adalahurusan perempuan, biarlah Raka diam di rumah....
Diraihnya jaket berbahan tebal untuk membalut tubuhnya yang masih mengenakan piyama. Setelah
menemukan kunci mobil ia keluar dari kamar tanpa sepengetahuan Raka.
Zia mengendarai mobil melesat memecah jalanan ibu kota yang sunyi menembus
__ADS_1
dinginnya hawa malam yang merasuk dalam kulit. Siapa yang berani-beraninya
bermain dengannya. Ia tidak Sesil berbuat seperti itu. Malam yang mendekati
dini hari ia tidak peduli walau kesehatannya belum sembuh total.
Jarak rumah Dokter Sesil lumayan begitu jauh dari kediaman Raka. Tapi itu tidak mengurangi niat Zia untuk memberi pelajaran pada perempuan tidak tahu diri itu.
...Tangan Raka meraba-raba tempat sisi ia tidur. Tampak kosong, karena tangannya tidak...
menangkap seseorang seperti sebelum ia tidur tadi. Lelaki itu segera membuka
mata mencari keberadaan Zia. Apakah ada di kamar mandi? Raka bergegas menuju
kamar mandi yang tidak terkunci. Ternyata istrinya tidak ada di sana.
Saat keluar kamar mandi Raka mendapati lemari pakaian Zia terbuka. Pasti ada yang tidak beres. Mata Raka melirik gantungan, di mana ia biasa menggantung kunci mobil. “Oh,
tidak! Zia pasti menemui Sesil, ternyata istrinya itu sangat nekat,takut
terjadi sesuatu pada Zia, Raka segera bergegas menyusul, mencari keberadaan zia.
Raka mengemudikan mobil sangat cepat, pikirannya sudah mengarah pada istrinya. Takut kalau Sesil mencelakainya.
...Setibanya di halaman rumah Sesil Zia memberhentikan mobilnya. Dengan keras ia membanting...
...pintu mobil saat keluar menuju pintu utama....
Dor … dor … dor!
Zia menggedor pintu dengan kasar sehingga membuat Sesil yang mengambil minum di
dapur mendengarnya. Dengan rasa penasaran Sesil berjalan ke arah pintu, antara
takut dan penasaran menjadi satu.
Perempuan itu melihat ke arah CCTV. Ternyata Zia sedang berdiri di depan pintunya. Sedang apa dia di sini? Tanyanya dalam hati sembari terus berjalan menuju pintu.
“Zia? Sedang apa kamu malam-malam ke mari? Apa ada yang terjadi dengan Zika?”
tanyanya seolah ia paling penting dalam kehidupan Zika.
Zia bersidekap, menyipitkan mata seolah muak melihat Sesil. “Iya, ini memang
tentang Zika!” jawabnya ketus.
...“Ada apa dengan dia? Biar aku akan segera melihatnya. Ayo Zia kita pergi!” kepanikan...
Dokter Sesil terhenti saat mendapati Zia bergeming menatapnya dengan malas.
“Tunggu apa lagi, Zia? Ayo cepat kita pergi!” Dokter Sesil melirik kunci di tangan Zia lalu
merebutnya. “Kalau begitu biar aku saja yang menyetir.” Perempuan itu maju dua
langkah akan menuju mobil Zia.
“BERHENTI DOKTER SESIL!!”
__ADS_1