
Waktu hampir tengah malam setelah melakukan pergulatan panas, Raka berbaring dengan menghadap ke atas menatap langit- langit kamar. Sedangkan Zia tidur dengan posisi telungkup meletakan kepala di dada sang suami. Dengan hanya berbalutan selimut mereka tampak terdiam tidak ada yang bicara satu sama lain. Raka sesekali menghembuskan napas seperti seperti banyak pikiran.
Zia adalah seorang wanita yang mempunyai perasaan yang peka tingkat tinggi. Ia tahu jika suaminya saat ini sedang mengalami banyak masalah tapi mungkin karena tidak ingin melibatkannya Raka memilih diam. Zia membenamkan wajahnya di dada bidang Raka memeluknya lebih erat, apa pun yang terjadi ia hanya memohon untuk selalu membuat Raka terus kuat dan selalu menyayangi keluarganya karena ia dalah laki-laki satu-satunya dalam rumah ini.
Raka menurunkan pandangannya mengusap kepala Zia. “Maafkan aku,” batinya. Setelah kemudian ia melepas pelukan Zia dan beranjak dari ranjang menurunkan kakinya ke lantai yang dingin itu kemudian pergi ke kamar mandi.
Zia mengangkat tubuhnya dan memilih bersandar di kepala ranjang. Ia tampak menarik napas panjang hingga hampir hanyut dalam mimpi, setelah suara denting ponsel berdering mengejutkannya, membuat Zia tersentak ia melirik ke arah nakas ternyata ponsel Raka yang berdering. Ia berinisiatif untuk membuka ponsel itu dan saat menekan layar kuncinya ia terkejut karena Raka telah menggantinya.
Pikiran buruk Zia seketika berkelana merembet ke mana-mana. Ada apa sebenarnya ini? Haruskah dia bertanya pada Raka? Ataukah dia harus memilih diam dan menyelidiki semua sendiri? Zia melipat bibirnya memutar bola matanya tampak berpikir. Ya, dia sudah memutuskan, mungkin ia akan mencari tahu sendiri apa yang terjadi dengan suaminya.
Hingga suara pintu kamar mandi terbuka membuatnya tersentak dari lamunan, ia segera mengembalikan ponsel suaminya itu ke atas nakas dan setelah itu memperbaiki posisi duduknya.
Raka keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang melilit di pinggulnya sedangkan tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan kepanya, ia mengerutkan dahi saat melihat gelagat Zia. Ia melangkahkan kaki untuk mendekat pada Zia. Sejenenak ia melirik ponselnya di atas nakas setelah kemudian memeriksanya.
“Tadi ponselmu berdering. Sepertinya ada chat penting,” ujarnya. Sebelum Raka bertanya ia memilih untuk bicara terlebih dulu.
Raka pun memeriksa ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya tengah malam seperti ini. Setelah beberapa saat memeriksa pesan-pesan yang masuk Raka meletakkan lagi benda pipih berbentuk persegi itu.
“Siapa?” jiwa keingin tahuan Zia mendorongnya untuk bertanya.
“Tidak penting.” Jawaban Raka cukup satu kata dan Zia tidak berani lagi untuk bertanya. Setelah itu ia membalik badan melangkah.
Perempuan itu menegakkan posisinya memegang selimut di dadanya dengan erat kemudia berkata, “Kenapa?”
Raka mengedipkan mata dan menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk menatap istrinya yang akhir-akhir ini banyak mengajukan pertanyaan padanya itu.
“Kenapa?” ia mengonfirmasi pertanyaan Zia karena masih ambigu.
“Iya, kenapa kamu mengganti password ponselmu?”
__ADS_1
Raka terkekeh menggeleng, tidak menyangka kalau Zia sudah membuka ponselnya. Ia berpikir istrinya itu tidak mempunyai rasa ingin tahu yang berlebihan selama ini. Ternyata dugaannya salah.
"Apa kamu memeriksa ponselku, Zia?" tanyanya. Ia mengayunkan kaki berjalan menuju nakas mengambil ponselnya.
Zia gugup karena melihat air muka Raka berubah. Sepertinya suaminya itu tidak menyukai perbuatannya. Zia menggigit bibir bawahnya.
"Aku tadi hanya ingin tahu, siapa yang menghubungimu malam seperti ini. Tapi ... saat akan membuka kode password-nya ternyata kamu memakai kode bukan tanggal lahir ku lagi."
Senyum tipis terukir dari bibir Raka. Setelah kemudian ia menghadapkan layar ponsel ke arah tepat di depan wajah Zia. Ia menekan tombol sesuai tanggal lahir Zika.
"Apa kamu melihatnya? Aku mengganti kode password ini dengan tanggal lahir siapa?"
Zia mengangguk merasa malu. "Oh ... jadi kamu ganti sesuai tanggal lahir Zika?" Ia meringis menunjukkan deretan gigi putihnya. Jadi seperti itu ternyata, setelah kehadiran anak posisinya tergantikan.
Raka mencubit pipinya gemas. "Kalau bukan Zika siapa lagi? Apa jangan-jangan kamu mengira aku mengganti dengan nama perempuan lain?"
Zia merasa malu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya sendiri. Setelah kemudian Raka berjalan untuk memakai pakaiannya.
"Ini sudah malam, apa kamu tahu, mandi malam itu tidak baik bagi kesehatan. Jantung khususnya," ucap Zia.
"Kamu benar juga." Raka memasukan kepala masuk ke dalam kaos setelah kaos berbahan tipis berwarna putih itu terpakai ia melangkah ingin keluar.
"Mau ke mana, sayang?" tanya Zia melihat Raka akan pergi.
"Aku lapar, mau makan dulu," ujarnya.
Zia baru saja ingat, kalau di meja makan tidak ada makanan, karena ia dan baby sister membeli di luar untuk makan siang tadi. Ia menepuk dahinya, bagaimana bisa lupa kalau Raka belum makan sedangkan para pelayan di rumahnya mengambil cuti hari ini.
"Tunggu!" Zia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya setelah kemudian menghambur ke kamar mandi.
__ADS_1
Raka yang melihatnya hanya mengerutkan alis sambil berdiri mematung menunggu Zia.
Tidak selang berapa lama Zia keluar sudah mengenakan piyama lengan dan celana pendek. "Aku akan memasakkan untukmu karena tidak ada makanan di meja." Ia berjalan melewati Raka, keluar lebih dulu.
"Tapi kenapa tidak ada makanan? Ke mana para pelayan yang bertugas?" tanya Raka berjalan mengikuti Zia.
"Aku sengaja menyuruh mereka untuk mengambil cuti hari ini. Kamu tahu sendiri, bukan? Mama dan Vita sedang tidak ada di rumah, jadi buat apa mereka masak. Dan aku pikir kamu akan pulang malam makan di luar," ucap Zia menuruni tangga bersamaan dengan Raka.
Setelah tiba di dapur Zia membuka lemari pendingin. Dan tidak menemukan apa-apa di sana. Sepertinya esok saat para pelayan datang ia harus memberi teguran karena tidak mengurus kebutuhan dapur dengan baik.
Setelah menggeleng Zia berbalik menatap Raka di hadapannya. "Tidak ada apa pun yang bisa di dalam kulkas." matanya memindai ke lemari kecil di atas Raka.
"Bagaimana kalau aku buatkan mie? Kebetulan perutku juga lapar. Kita makan sama-sama, oke?"
Raka menggeleng, bagaimana bisa ia saja melarang keluarganya untuk memakan instan itu di rumah ini. "Kamu tahu sendiri, bukan. Aku tidak membiarkan keluargaku mengonsumsi mie instan," tolaknya.
"Tapi kalau hanya sekali saja tidak ada salahnya, bukan?" Zia berjinjit membuka lemari kecil itu mengambil dua bungkus mie instan.
Raka menggeleng, bersedekap menatap tajam. "Aku bilang tidak boleh, Zia." Istrinya itu memang benar-benar keras kepala perkataannya. Bahkan Zia dengan santai membuat mie itu ke dalam panci.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus tanggung risiko sendiri jika kenapa-napa."
Zia menyunggingkan bibir. "Aku sudah terbiasa makan seperti ini dari kecil, bagaimana bisa aku kenapa-napa, tuan."
Sementara Raka terus saja mengoceh seperti bio. Zia terus saja memasak hingga mie siap di dalam mangkuk. Ia mengangkat dengan kedua tangannya mengipas asap dari mie itu mengarahkan pada Raka.
Raka membuang wajah acuh, mengabaikan rasa laparnya yang sudah meronta-ronta tak terkendali di bawah sana. Sementara itu asap dari mangkuk yang dipengang Zia menganggu penciumannya membuat perutnya semakin bergemuruh.
Zia menghirup dalam-dalam aroma mie instan itu di hadapannya. "Mau?" tanyanya mengangkat mangkuk ke arah Raka.
__ADS_1
Raka membuang wajah acuh, tapi demi apa pun perutnya sangat lapar kini.