
"Mom ... Cika lapal ...."
Seketika Zia terperanjat menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Sedangkan di pinggangnya Raka tampak melingkarkan tangan posesif. Zia menepuk-nepuk pipi sang suami yang berwajah damai dengan napas teratur di samping wajahnya.
"Sayang, bangun. Ini sudah siang," ucapnya. Raka hanya mengerang sambil menggeliat kecil semakin mempererat pelukannya.
Zia memejamkan mata sesaat sambil menghela napas panjang. Raka memang seperti ini setiap hari. Jika kebanyakan orang semakin bertambah usia pernikahan akan semakin bosan dan rasa cintanya akan memudar. Itu semua tidak terjadi pada Raka.
Zia merasa suami yang sebentar lagi berusia 30 tahun itu semakin menyayanginya seperti layaknya seorang pengantin baru. Mungkin seperti ini jika menikah tanpa pacaran, ketika sudah menjadi suami istri layaknya seorang yang baru pacaran.
Zia sangat bahagia memiliki lelaki seperti Raka. Bertanggung jawab, penyayang dan juga tampan meskipun itu relatif. Bagi Zia Raka adalah sesosok yang dikirim Tuhan untuk dirinya dan juga ia sangat berterima kasih kepada kedua orang tuanya atas perjodohan yang membawakan dalam kebahagiaan. Meskipun banyak rintangan, cobaan datang silih berganti ia berharap bisa melewati semua dan berakhirlah dengan kebahagiaan.
"Mommy ... cepat buka pintunya
... Cika mau masuk." Suara malaikat kecil mereka berdua terdengar dari dalam kamar.
Tangan Zia berangsur memegang tangan Raka untuk melepaskan lingkarannya. Namun Raka enggan untuk lepas justru semakin seperti siput yang menempel di ranting pohon.
"Papi ... kita harus bangun, kasihan Zika menunggu kita di depan kamar."
Raka tidak peduli, terus saja memeluk dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher.
Sekuat tenaga Zia mencoba menggeser tubuh dan akhirnya lolos juga sebelum kemudian tangannya digapai oleh tangan kekar Raka saat sudah memijakkan kaki ke lantai.
"Kau mau ke mana, Sayang? Aku masih ingin lama-lama memelukmu," ujar Raka dengan suara parau khas bangun tidur.
"Aku mau buka pintu, Zika sudah dari tadi menunggu."
Raka menggeser tubuhnya kemudian kembali melingkar kan tangan ke perut Zia lagi yang dalam posisi duduk.
"Biarkan saja dia, lagi pula sudah ada babby sitter yang menjaganya. Untuk apa kita bayar mereka mahal-mahal kalau mengurus Putri kita saja tidak bisa," ucapnya.
Zia menghela napas kemudian terkekeh. "Memiliki seorang baby sitter bukan berarti kita menyerahkan semua pada mereka. Sebagai orang tua peran kita sangat penting, sayang, untuk membentuk perkembangan fisik dan mental mereka." Melepaskan tangan Raka dari perutnya.
Kemudian membalik tubuh menunduk.
Cup.
__ADS_1
Raka yang sepenuhnya belum sadar setelah merasakan bibir lembut menerpa bibirnya seketika membuka mata. Namun saat itu Zia sudah pergi meninggalkannya dan sampai di depan pintu.
"Tunggu pembalasanku nanti, pasti akan lebih mengerikan dari pada semalam." (Bayangkan sendiri xixixi)
Karena mata Raka masih enggan terbuka dan juga tubuhnya masih belum ingin beranjak ia menutup tubuhnya yang bertelanjang dada dengan selimut memejamkan mata lagi.
Namun, sepertinya untuk melanjutkan tidurnya gagal saat Zika masuk dan menerjang tubuhnya.
"Selamat pagi, Papi Zika." Gadis kecil dan mungil itu membuka selimut yang menutupi wajah sang Papi.
Melihat wajah polos dan menggemaskan membuat Raka tidak tega untuk mengabaikannya. Raka mengubah posisi menjadi duduk bersandar dan mengangkat tubuh Zika dalam pangkuannya.
Zia melihat kedekatan mereka terkekeh, kebahagiaan sangat sempurna yang dirasakan kini tentu buah dari kesabaran Raka dan dia.
Tidak ingin menjadi penonton saja Zia lantas mendekat duduk di samping Raka. Langsung disambut rangkulan membawa kepalanya dalam pundak.
"Zika, bagaimana tidurnya semalam ditemani ncus, apa nyenyak?" tanya Raka.
Zika menggeleng sambil murung, sontak membuat dahi Raka berkerut kemudian menatap Zia yang tak kalah bingung dengannya sampai bola sepasang suami istri itu sama-sama menatap Zika.
"Semalam Cika main sama ncus. Telus waktu ambil bola di depan kamal Papa Cika dengal Mom melintih. Cika mau tolongin Mom, tapi kata ncus tidak boleh Papi." Setelah bercerita Zika menunduk.
Raka menatap Zia mengedipkan mata membuat wajah Zia memerah. Kemudian Raka kembali menatap Zika lagi yang masih menekuk wajah.
"Terus apa yang buat Zika sedih dan tidak bisa tidur nyenyak, Sayang a?" tanya Raka sambil membelai rambut hitam dan panjang putrinya.
"Cika takut Papi pukul Mommy...."
Mendengar jawaban polos Zika membuat gelegar tawa Raka dan Zia pecah.
Zika merasa aneh dengan kedua orang tuanya itu. Bahkan dia tidak mengerti apa yang sedang ditertawakan mereka.
Plak.
Tangan mungil itu menepuk dada Raka membuat sang empunya terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, Zika?"
__ADS_1
"Papi ketawain, Zika ya?"
"Tidak sayang ... Papi hanya gemas melihat mu. Dan juga Mommy." Raka melabuhkan sebuah ciuman di pipi Zia.
"Kalian pacalan ya?"
"Hah?" Bola mata Zia membulat mendengar kata-kata Zika. Pacaran? Putrinya baru saja menyebutkan kata pacaran?
Oh, tidak. Dari mana dia tahu kata-kata seperti itu. Zia ingin menangis tak mengeluarkan air mata.
"Zika, kau dari mana bisa tahu kata pacaran itu?" tanya Zia pelan-pelan supaya tidak membuat putrinya takut.
Zika melirik ke arah Raka tak kalah terkejutnya dengan Zia. Kemudian lelaki itu mengangguk.
"Ayo katakan, Zika. Dari mana kamu tahu kata-kata seperti itu?" tanya Raka.
"Kemalin, waktu Cika main dengan Om Dion di taman, Cika lihat dua olang duduk beldua sepelti Papi dan Mom sekalang. Cika tanya sama Om Dion katanya meleka pacalan, Papi," tutur Zika dengan mulut kecilnya.
"Sepertinya aku akan memperingatkan Dion besok. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu dengan seorang anak kecil," gumam Raka.
***
Hari ini adalah hari Minggu, Raka ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya untuk pergi kesebuah taman bermain di pusat perbelanjaan, sekaligus sebagai perayaan karena kemarin telah memenangkan tender, walau jumlah tidak banyak setidaknya Raka bahagia karena telah mengalahkan Johan dan membuat musuhnya itu menunduk saat keluar dari ruang meeting.
"Zia, apa kamu tidak ingin membuatkan adik untuk Zika?" tanya Raka tiba-tiba saat Zia sedang memperhatikan Zika bermain.
Kemudian mata Zia beralih menatap Raka. "Apa yang kamu bicarakan? Ini ditempat umum, malu kalau ada yang mendengarnya," ucap Zia membekap mulut Raka.
"Aku hanya kasihan dengan putri kita jika dia main sendiri seperti itu, Sayang." Kemudian Raka memeluk Zia dari samping.
Zia menoleh ke arah kanan dan kiri tidak ada, kemudian dia bicara. "Entah kenapa aku masih merasa takut untuk hamil lagi, aku takut jika seperti aku melahirkan Zika dulu." Zia menyandarkan kepalanya di pundak Raka.
Bukan koma yang ditakutkan Zia, namun dia takut tidak bisa menjaga putrinya yang masih membutuhkan perannya begitu besar. Mungkin dia akan memikirkan hal itu nanti jika Zia sudah siap.
...***...
Monmaaf Ya semua author terlalu sibuk cari cuan ke sana ke mari sampai terus mengabaikan kalian kesayangan 🤠tapi Insyaallah bulan depan aku fokus ini kok, jadi mohon dukungannya ya... bagi yang masih suka💸💸💸
__ADS_1