Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 52


__ADS_3

"Aku bilang lepaskan aku!" Sesil memekik kesakitan saat pergelangan tangannya dicengkeram oleh Dion menaiki tangga.


Lima menit yang lalu mereka baru saja datang menghadiri pesta ulang tahun pernikahan kakak Dion yang bernama Anggita di hotel Gren. Dion terus saja menarik pergelangan tangan perempuan yang terbatas gerak karena memakai gaun panjang yang membentuk ketat di bagian paha sedangkan di bagian bawah lebar bak putri duyung itu tertatih-tatih berjalan di belakang lelaki yang dengan paksa menikahinya itu.


"Kamu tidak bisa seenaknya sendiri kayak gini, Dion!" Sesil mencoba menahan diri untuk memberatkan diri berharap Dion melepaskannya. Namun tidak, suami yang sedang memakai setelan tuksedo kini sebelah tangannya mulai berangsur melepas dasi yang membatasi ruang geraknya dan satu lagi terus menarik pergelangan tangan Sesil.


"Aku tidak bersalah, Dion. Aku hanya membalas sapaan dia saja, tidak lebih!"


Entah bagaimana Sesil harus meredam kemarahan Dion. Memiliki wajah yang memerah padam sangat sulit diekspresikan membuat lelaki tinggi dan bertubuh kekar itu sangat diartikan kini.


Beberapa menit yang lalu semua tampak baik-baik saja di pesta. Sesil berhasil memerankan perannya sebagai seorang istri yang bahagia di depan keluarga besar Dion meskipun ia sebenarnya tidak nyaman berada di sana.


Hingga di dalam kejenuhannya karena tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh keluarga besar suaminya itu ia memutuskan untuk menyingkir dari sana untuk melihat-lihat suasana.


Dan secara kebetulan dia bertemu dengan seorang yang sama sekali tidak asing baginya. Yaitu Dokter Dika yang merupakan Dokter senior di rumah sakit dia bekerja. Obrolan mereka berlangsung sehingga Dion melihat mereka berdua begitu akrab dan menganggap mereka mempunyai hubungan spesial.


Bruk!


Dion menghempaskan tubuh langsing Sesil ke atas kasur. Refleks membuat bulu-bulu di tubuh wanitanya itu meremang. Seketika tenggorokan Sesil merasa kering saat menatap sorot mata tajam bagai sebilah pedang itu. Ia dengan susah payah menelan Saliva nya.


Ia semakin memundurkan diri saat Dion berangsur mendekati dengan tatapan yang sangat sulit diartikan sedangkan tangannya berangsur melepaskan jas yang dikenakan.


"Dion, aku mohon jangan untuk malam ini. Kamu sedang marah," pinta Sesil dengan wajah memelas.


Sayangnya bukan belas kasihan yang dia dapat, melainkan sebuah seringai tampak mengejek.


"Kenapa?" tanya Dion, "Apa kamu menolak ku karena Dokter jelek tadi?" senyum iblis kembali muncul dari bibir Dion.


Jika Raka sebelum mencintai Zia memiliki sifat keras kepala dan dingin. Ia masih memiliki sisi kelembutan saat berhadapan dengan Zia. Tapi itu semua tidak terjadi pada Dion, lelaki memiliki wajah tampan itu selalu melakukan kehendaknya tanpa menunggu persetujuan dari Sesil.


Dia tidak peduli, bahwa lawannya suka atau tidak suka. Karena memaksa itu menurut kepuasan sendiri untuk Dion. Sesil semakin bergerak mundur seiring langkahnya kian mendekat hingga naik ke atas ranjang.

__ADS_1


"Siapa dia? Kenapa kamu begitu dekat dengannya? Apa kamu mempunyai rencana kabur dariku bersamanya?"


Tuduhan yang dilontarkan Dion sungguh tidak masuk akal. "Aku memang memiliki niat kabur darimu, tapi tidak dengan Dokter Dika!"


"Oh ... jadi nama lelaki itu, Dika?" Dion manggut-manggut mengerti.


Hening.


Sesil memperhatikan Dion yang masih bergeming memikirkan sesuatu. Yang jelas apa pun yang dipikirkan oleh suami yang sama sekali tidak ia cintai itu pasti akan merugikannya!


Hingga terdengar suara helaan napas berat. Yang disambut lirikan malas oleh Sesil.


"Buka."


Satu kata tapi berhasil membuat bola mata Sesli melotot terbuka lebar dan menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Buka."


"Apa kau tidak mendengar ku, Sesil?" Pertanyaan itu begitu pelan tapi cukup menekan membuat tulang-tulang Sesil terasa ngilu ia pun lantas menggelengkan kepala cepat bentuk sebagai penolakan.


"Baiklah." Dion merangkak naik ke atas tubuh Sesil sambil melepaskan kancing satu per satu dengan tatapan pemangsa mengintai buruannya.


"Jangan sekarang, Dion, kumohon." Permohon itu terdengar lirih namun sangat ironis.


Sesil memalingkan wajahnya ketika napas Dion sudah terasa menyapu kulit wajahnya, begitu hangat sehingga membuatnya meremang dan napasnya pun mulai tidak teratur dengan seiring dada yang naik turun.


Dion adalah lelaki tampan memiliki tubuh tinggi 175cm rahang kokoh dengan bola mata hitam dipadu dengan alis yang tebal ditambah lagi bibir yang begitu seksi jika menyeringai menambah aura ketampanannya begitu menakutkan.


"Sampai kapan kamu mempunyai rencana akan kabur dariku? Apa kamu masih punya keberanian untuk itu, apa kamu tidak malu, jika publik mengetahui video-video kita berdua, hemm?"


Pertanyaan Dion sukses membuat Sesil menggertakkan gigi seiring tangan yang terangkat akan memukul Dion. Sebelum tangan itu dicekal oleh tangan Dion dan menguncinya di atas kepala. Kini Sesil tidak berkutik, jantungnya berdetak kencang. Sudah berulang kali dia berhubungan badan dengan Dion tapi ketika Dion akan memulainya dia merasa takut karena lelaki di atasnya kini selalu melakukan dengan kasar tidak ada kelembutan.

__ADS_1


Apa hukuman seperti itu pantas untuk dirinya?


Tidak!


Sesil merasa sakit di sini, tiba-tiba dipaksa menikah dan jika menolak ia akan terancam malu karena video-video panas dia dan Dion akan tersebar. Mungkin untuk Dion jika video itu tersebar dia akan baik-baik saja, dan mungkin tidak akan berdampak pada pekerjaannya.


Tapi Sesil?


Dunia akan menghancurkannya dalam seketika. Apa lagi jika keluarga besarnya tahu, dia pasti akan dicoret dari daftar keluarga dan dibuang begitu saja.


Tidak, tidak. Sesil tidak mau itu terjadi!


Ia menggeleng seiring dengan rasa takut yang luar biasa. "Kamu kasar, Dion." Akhirnya dia berani mengatakan itu semua. Bagaimana pun dia, bagaimana kejahatannya, dia adalah seorang wanita. Wanita yang tidak suka mendapatkan perlakuan kasar!


Dahi Dion berkerut dengan sebelah alisnya terangkat. Ia seolah mencerna perkataan Sesil tadi. Tapi entahlah, mencerna atau justru mencemooh ekpresi-nya sangat tidak bisa diduga-duga disertai napasnya yang hangat menyapu ceruk leher Sesil dan membuat sang empu memejamkan mata diiringi keringat yang keluar dari sana.


"Apa aku begitu menakutkan sehingga kamu berkeringat seperti ini?"


"Iya! Bahkan kamu begitu menyeramkan seperti seorang iblis!" jawab Sesil. Hanya itulah yang bisa ia pakai untuk melawan Dion karena kedua tangannya sudah dikunci oleh satu tangan Dion di atas kepala. Sedangkan tubuhnya dihimpit oleh tubuh kekar lelaki yang dia anggap sialan itu.


Bukannya marah mendapat jawaban seperti itu, Dion justru tersenyum tersungging. Seolah menyukai sebutan itu.


"Baiklah, kalau kamu suka kelembutan. Aku tidak masalah akan itu," ucapnya.


"Lepaskan aku, Dion. Apa kamu sama sekali tidak bisa mendengarkan aku? Apa kamu sedikit saja tidak mempunyai rasa kasihan--" Kata-kata Sesil terhenti ketika bibir Dion menutup bibirnya.


Apa-apaan ini? Wajah Sesil menegang alisnya berkerut ia menunjukkan penolakan namun ia tidak berdaya. Napasnya tersengal ketika Dion melepas bibirnya. Lelaki itu benar-benar gila sudah membuat Sesil hampir mati kehabisan napas.


...***...


Ck Dion nyosor aja sampai bikin gue engap juga wkwkwk

__ADS_1


Kalean jangan lupa vote gambar voucher di sudut kanan tekan aja. di situ 1 orang cuma bisa kasih satu. aku semangat kalau kalean semangat juga dukungnya giss lope lope sesawah....


__ADS_2