Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
BONCHAP 6


__ADS_3

Bangun dari tidur, Sesil meregangkan otot-ototnya. Keluar ke arah balkon untuk menikmati pemandangan di bawah sana yang masih sepi oleh kendaraan.


Ia menghirup udara dalam-dalam untuk masuk ke dalam rongga paru-parunya. Sambil merenung ia memantapkan hati bahkan kini saatnya untuk menjalin hubungan yang sesungguhnya.


Setelah menimbang-nimbang ia kini memutuskan bahwa akan mengakui perasaannya pada lelaki yang masih terlelap di atas ranjang kamar.


Mungkin sudah saatnya ia menghancurkan benteng membentang yang menjadi penghalang antara dia dan Dion. Lagi pula mereka sudah mempunyai buah cinta ada di dalam kandungannya kini.


Sesil menunduk menatap perutnya sendiri sambil mengusap-usap penuh kasih sayang. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kepercayaan untuk mengandung secepat ini.


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah mau hadir dalam kandungan bunda," ucapnya. Wanita itu sibuk mengusap-usap perutnya sambil melihat pantulan dirinya dari kaca jendela yang berada di balkon.


Ia tampak senyum-senyum sendiri.


Hingga pandangannya kembali terarah ke bawah, yaitu gerbang rumah Dion. Seketika ia menyipitkan mata menatap siapa yang datang.


Sebuah mobil berwarna hitam parkir tepat di depan gerbang.


Mata Sesil semakin melebar melihat dari atas balkon.


Dan bukan hanya mata saja yang terbelalak ketika melihat seorang wanita paruh baya dengan rambut pendek sampai pundak, pakaiannya tampak mewah dengan dress yang digunakan ditambah sepatu heels tinggi semakin menutup usia tuanya karena sangat terlihat muda.


Dengan elegan wanita itu berjalan menenteng tas di tangan diikuti dua orang bodyguard di belakangnya berdiri di depan pagar.


Seketika Sesil panik membekap mulutnya sendiri. Sambil mondar-mandir saat melihat sang mama di bawah sana.


"Oh tidak, apa yang harus kulakukan?" Ia masuk dengan kedua telapak tangan menangkup hidung ia mulai gusar. Sejenak menatap Dion yang sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


Akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar, menemui Mamanya yang sudah di depan pagar tanpa sepengetahuan Dion.

__ADS_1


Sesil melangkah perlahan dan menutup pintu tanpa menimbulkan suara. Ia sedikit berlari saat sudah sampai di ambang pintu.


Sepertinya ia harus menjelaskan pada mamanya, supaya tidak salah paham. Sesil dengan cepat membuka gembok pagar kemudian dadanya merasa hangat saat melihat Ibunya yang sudah lama tidak ia temui itu.


"Sesil." Ibu Sesil yang bernama Margaretha itu membuka kedua tangannya supaya Sesil mudah untuk memeluknya.


"Mama!" Sesil menghambur memeluk sang mama. Tidak bisa dipungkiri tinggal berjauhan dia di Indonesia sedangkan Margaretha berada di Sidney membuat rindunya membuncah.


Margaretha membalas pelukan Sesil mengusap punggung kemudian mengecup pucuk kepala Sesil dengan lembut.


Namun bukan itu tujuan wanita itu menemui Sesil. Melainkan untuk mempertanyakan status Sesil yang ia selidiki beberapa hari ini.


Mimik wajah Margaretha menjadi berubah. Telapak tangannya berpindah ke kedua bahu Sesil. Ia tatap lekat-lekat wajah putrinya yang menunduk seolah menyimpan sesuatu.


"Sesil, kenapa kamu bohong sama mama?"


"Ma, aku--" Sesil bingung harus mengatakan apa. Ia memilih menundukkan pandangan lagi.


"Bagus ya kamu, Sesil. Apa kamu sudah tidak menganggap orang tuamu ini lagi!"


"Bukan begitu ma, tapi ...."


"Tapi karena kamu dipaksa menikah sama sekretaris itu?" sahut Margaretha geram. Ia benar-benar tidak menyangka putri satu-satunya akan menikah hanya dengan seorang sekretaris.


Tidak.


Wanita berusia 40 tahun itu tidak tinggal diam. Bagaimana kalau teman-temannya tahu? Sesil memang benar-benar membuat kecewa.


Mata Margaretha menyipit memicing ada kilatan amarah di sana.

__ADS_1


Sementara Sesil terus saja menunduk. Ia sadar ini memang bukan kemauannya, tapi saat ini ia mempunyai perasaan pada Dion, perasaan untuk memiliki seutuhnya.


"Sekarang ayo ikut mama, Sesil!"


Sesil tersentak tiba-tiba tangannya ditarik oleh Mamanya.


"Mama mau bawa aku ke mana?" tanyanya memberatkan tubuh karena ia merasa tidak enak perasaan.


"Sudah diam kamu!" Margaretha terus saja menarik Sesil ke dalam mobil.


"Ma, aku tidak mau pergi!" tolak Sesil ketika sudah di dalam mobil.


Margaretha tidak mengindahkan, justru menggoyangkan wajahnya untuk menyuruh bodyguardnya untuk segera melajukan mobil.


"Ma, tolong hentikan mobilnya!" Sesil meraung seperti anak kecil yang akan diculik. Sementara Margaretha duduk santai sambil berdecih.


"Mama tidak bisa berbuat seperti ini, aku adalah istri Dion." Sesil memberontak memukul-mukul kaca mobil ingin keluar.


"Heh, kau! Hentikan mobil sekarang juga!"


"Apa kamu bisa diam, Sesil?" Margaretha yang duduk di sebelahnya pun geram.


"Kamu pergi bersama mama, aku sudah menyiapkan semua keperluanmu. Kita pergi ke Sidney bersama-sama." Setelah berucap wanita itu kembali duduk santai lagi menyandarkan punggung di sandaran kursi.


"Aku tidak mau, Ma. Lagi pula aku sedang hamil. Bagaimana aku bisa menjalani ini semua tanpa kehadiran seorang suami?"


"Semua akan mudah dengan adanya uang, Sesil. Mama akan menjamin kamu, dan memastikan kalau tidak akan kekurangan apa pun!"


Sesil Diam. Sebab percuma berdebat dengan sang mama. Karena hasilnya ia tidak bisa melawan lagi. Ia menghela napas kesal dari balik jendela mobil ia melihat kendaraan lain yang saling beriringan.

__ADS_1


Entah ke mana mamanya itu akan membawanya. Ia menyadarkan kepala ke sandaran sambil terus saja menatap luar jendela.


__ADS_2