Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 36


__ADS_3

Matahari terik menyinari bumi. Di pusat kota gedung-gedung pencakar langit dipadati oleh orang-orang yang bergulat dengan kesibukannya masing-masing.


Begitu pun juga dengan Raka. Lelaki itu sesekali tampak memijat pangkal hidungnya guna mengurangi stres yang melanda. Kepalanya berdenyut tak kala memikirkan tender proyek pembangunan yang sudah seminggu ini ia dan para tim perusahaannya susun sedemikian rupa.


Perhitungan mendetail harus Raka lakukan, itu semua karena proyek ini adalah tender yang sangat besar. Begitu banyak uang dan tenaga ia keluarkan untuk bekerja keras supaya mendapat hasil memuaskannya.


Bahkan waktunya selama beberapa hari ini ia habiskan di kantor, untuk sekedar menelepon istri dan anaknya pun tidak sempat. Akan tetapi ia berjanji, jika semua ini selesai akan mengajak keluarga kecilnya itu untuk pergi ke Paris. Anggap saja sebagai tebusan karena selama beberapa hari ini Raka tidak ada untuk mereka.


Lembar demi lembar Raka mengawasi, memastikan. Sudah berulang-ulang ia membaca surat-surat itu hingga ia memastikan kalau semua sudah siap membawa berkas itu pada meeting siang nanti, lebih tepatnya 1jam lagi.l


Raka menyandarkan punggungnya di kursi kebanggaanya. Ia menghembuskan napas panjang ke atas. Semua sudah beres. Setelah beberapa detik ia menurunkan pandangannya menatap foto Zia dan Zika sedang berpelukan. Kini potret merekalah yang menjadi satu-satunya pelipur dikala ia sedang lelah.


Suara langkah kaki menggunakan sepasang sepatu menggema hingga suaranya berangsur pelan, tidak lama berselang pintu ruangan Raka terbuka. Dion dengan pakaian jas dan celana berwarna hitam formal menunduk saat berada di hadapan Raka.


"Apa Anda memanggil saya, Tuan?" tanyanya segan.


Raka menatap ke arah Dion sejenak kemudian meletakkan bingkai foto kecil itu ke meja lalu berkata,


"Iya, apa ada jadwal lain setelah meeting satu jam lagi?" tanya Raka mengklarifikasi.


"Ada Tuan, perusahaan Axen Crop ingin bertemu dengan Anda secara langsung."


"Axen Crop?" Raka menaikan sebelah alisnya. Ia seperti asing mendengar perusahaan itu.


"Benar Tuan. Axen adalah perusahaan kosmetik yang baru saja muncul di kalangan pebisnis, dan yang lebih mengejutkan perusahaannya berkembang pesat dalam beberapa tahun ini. Kemunculan dengan tiba-tiba membuat bermacam asumsi di seluruh wilayah ini."


Dion merogoh saku celana mengambil ponsel dari sana kemudian membuka layar.


"Ini adalah foto pemilik perusahaan itu." Dion ingin memperlihatkan foto namun Raka segera memajukan tangan menolak untuk melihat.


"Aku tidak peduli siapa pun orang itu," ucap Raka. "Tapi kenapa dia ingin bertemu denganku?"


"Mereka ingin bekerja sama dengan Sanjaya Grup, Tuan. Mendengar nama perusahaan ini mungkin tertarik, belum lagi prestasi Anda yang cukup ramai jadi perbincangan."


Raka menyunggingkan bibirnya setelah kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Mungkin setelah ini aku akan menemuinya," ujarnya. Lalu ia teringat dengan anak dan istrinya.


"Oh iya, Dion." Raka menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepertinya ini sudah saatnya, ayo kita pergi." Ia berdiri memunguti berkas-berkas di atas meja setelah kemudian berjalan mendahului Dion.

__ADS_1


Raka diikuti Dion keluar menuju tempat di mana meeting diadakan. Hingga ponselnya berdering dan lelaki itu melihat Zia sedang meneleponnya. Ia mengangkatnya sambil di dalam mobil.


"Halo?"


"Sayang, kamu pulang jam berapa nanti? Biar aku siapkan makanan untukmu."


Raka menatap ke bawah melihat arloji di tangan kemudian menarik napas panjang. "Maafkan aku, sayang, sepertinya aku akan tidak pulang malam ini. Maaf ya," ucapnya dengan hati-hati supaya Zia tidak marah.


Ada rasa kecewa dalam benak Zia. Ini untuk pertama kalinya Raka tidak tidur di rumah. Entah apa yang terjadi pada suaminya itu ia tak tahu.


"Zia, apa kamu masih mendengarku?" Suara Raka dari seberang sana membuyarkan pikiran Zia.


"Tentu." Ia menjawab setelah sisa-sisa kesadaran mulai ter kais.


"Tapi ... kenapa kamu tidak pulang?" imbuhnya lagi karena sejujurnya ia tidak suka kalau Raka seperti itu.


Raka diam saat mendapati lampu merah ada seorang anak kecil. Ia membuka kaca dan memberinya uang setelah kemudian kembali menempelkan ponselnya lagi.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Zia.


"Iya, aku tahu, kamu memang pria yang sangat sibuk. Silakan dilanjutkan lagi urusannya, maaf aku sudah mengganggu' waktumu."


"Bukan begitu, sayang--"


Tut.


Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Zia. Raka hendak menelepon kembali tetapi suara Dion mencegahnya.


"Tuan, kita sudah sampai." Dion segera mematikan mesin kemudian turun memutar badan membukakan pintu untuk Raka.


"Silakan," ucapnya saat Raka keluar dari ambang pintu.


Dion mengambil berkas-berkas yang akan mereka bawa dalam meeting kali ini. Tender ini sangat penting untuk bisnis Raka setelah membawa semua mereka masuk ke dalam gedung pencakar langit tersebut.


Di rumah.


Zia melempar ponselnya ke atas sofa. Benaknya seketika bertanya-tanya, ada apa dengan suaminya? Kenapa dia tidak pulang? Apa jangan-jangan suaminya itu punya wanita lain yang lebih cantik dan muda darinya?

__ADS_1


Zia mengusap wajah sendiri, menepis segala pikiran buruk yang berkelebat dalam benaknya. Lagi pula bagaimana ia bisa mempunyai pikiran seperti itu pada suaminya, sedangkan Raka adalah sesosok suami yang sangat mencintainya.


"Mom ...." Ujung kaos Zia ditarik oleh putrinya yang masih mengucek-ngucek mata sehabis bangun dari tidur siang.


Zia menunduk kemudian berlutut di depan putri kecilnya itu. "Kamu sudah bangun rupanya, sayang? Ada apa?" tanyanya.


"Papi mana?" tanyanya. Dada Zia seketika sesak saat Zika bertanya itu. Ini sudah untuk kesekian kali, sepasang ayah dan anak itu tidak dipertemukan.


Jika Zika terbangun selalu mencari Raka, dan saat ia sudah tertidur lelap Raka baru datang. Kasian putrinya itu harus menahan kerinduan dengan papanya.


"Papi sedang kerja, sayang, nanti kalau sudah selesai kita telepon papi, oke?" Zia berusaha menghibur putrinya. Untung saja Zika mengangguk kecil mengerti semua penjelasannya.


"Sekarang ayo kita main." Zia mengangkat tubuh Zika membawanya ke ruang tengah. Mereka bermain bersama hingga Zika tidak lagi mempertanyakan papanya.


Saat mereka sedang asyik bermain tiba-tiba telepon rumah berdering. Zia meninggalkan Zika dan berlalu menghampiri telepon itu. Ia mendekatkan benda berwarna merah itu ke telinga.


"Halo, siapa ini?"


"Halo, Zia sayang."


"Mama Clarys?"


"Iya ini aku, tadi aku mencoba menghubungi ponselmu, tapi ... tidak aktif, maka dari itu aku putuskan untuk menelepon mu lewat telepon rumah."


"Ada apa, Ma? Apa ada yang penting?"


"Ah, tidak ... Aku hanya mau mengucapkan terima kasih saja."


Zia mengerutkan dahi. "Terima kasih untuk apa, ma?" Ia mendadak bingung.


"Tidak perlu berpura-pura, Zia, aku tau kamu yang mengirim buket bunga mawar putih buat mama."


"Tapi aku tidak mengirimkan itu semua, Ma."


Perkataan Zia sontak membuat mama Clarys diam. Kalau bukan Zia siapa yang baru saja mengiriminya bunga di akhir kalimat ada nama "menantu". Seketika perasaan Clarys menjadi tidak enak.


Kalo kalian suka jangan lupa kasih tips koin atau koin eh, sama aja ya wkwkwk itu buat dukungan untuk author. Butuh penyemangat nih jangan dihujat ya🙏✍️

__ADS_1


__ADS_2