
Mobil Mercedez berwarna hitam yang dikendarainya Dion membawa Raka duduk di kursi belakang tiba di halaman gedung perusahaan Sanjaya Grup. Tepat di halaman depan Dion menghentikan mobil, mereka terkejut saat melihat banyak gerombolan orang sedang menyampaikan pendapatnya.
Saat melihat kedatangan Raka satu orang scurity menghampiri. Takut jika tuannya itu turun dan semakin menyulut emosi para karyawan yang sedang berdemo. Dan memberi saran untuk masuk ke dalam dengan melalui jalur belakang.
Namun Raka tidak menyetujui perintah security-nya, ia bahkan turun dari mobil dengan santai berdiri di hadapan mereka semua. Siap mendengarkan keluh kesah dan Dion berdiri di belakang penuh waspada.
"Kau tidak bisa diam seperti ini sementara kami dalam kesulitan, Tuan!" pekik seseorang di antara banyak karyawan lainnya.
Raka diam, ia tidak tahu apa yang membuat para karyawan itu berunjuk rasa. yang jelas hal ini benar-benar membuat kepala Raka semakin berdenyut memikirkan jalan keluarnya. Ia terlihat memijat pangkal hidungnya untuk menghindari rasa pusing yang menghampiri.
"Tuan, tolonglah dengarkan suara kami, jangan bungkam dan menutup mata dengan masalah kami!" Seorang dengan suara tinggi maju akan mendekat ke arah Raka. Namun dengan sigap Dion mencegahnya.
"Dengarkan aku semua!" Dion menoleh pada Raka dan tuannya itu menggeleng melarang Dion untuk bicara kasar pada mereka semua.
"Kau majulah." Menunjuk satu orang untuk menghadapnya.
"Katakan, apa masalah kalian? Kenapa kalian tiba-tiba berunjuk rasa seperti ini?" tanya Dion pada seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kurus itu kemudian mendekat ke arahnya.
"Kami semua minta kenaikan upah, Tuan. Setelah dipikir-pikir upah yang kami terima tidak sesuai dengan kebutuhan yang kami keluarkan."
"Betul!" sahut para karyawan dari belakang secara bersahutan.
"Ya."
"Betul."
Raka yang sedari tadi hanya diam, kini menghela napas panjang. Kemudian Dion menyela pembicaraan karyawan yang sedang menyampaikan argumentasinya.
"Seharusnya kalian tidak perlu melakukan hal seperti ini, karena ada kepala bagian siap mendengar pendapat para karyawan. Kami akan melakukan meeting perihal ini. Karena walau bagaimanapun hak kalian harus dibayar dengan sesuai."
"Kami akan mengabarkan pada kalian setelah selesai rapat dengan seluruh kepala staf." Suara Raka mengambil alih lebih dulu sebelum Dion.
__ADS_1
"Segala sesuatunya harus kita perhitungkan. Kalian bisa pergi sekarang, setelah selesai kami akan memberi kabar. Sekarang lebih baik kalian pergi dan kembali bekerja, dari pada kalian akan kehilangan pekerjaan!" perintah Raka kemudian mereka semua terdiam hanya saling memandang dan berunding dalam gumam.
Raka berbalik badan meninggalkan mereka semua masuk ke dalam kantor diikuti Dion.
"Dion, suruh para manajer dan anggota direksi lainnya berkumpul di ruang rapat setengah jam lagi." Raka berucap sambil berjalan cepat memasuki ruangannya.
"Baik Tuan."
Sedangkan dari balik kursi penumpang Neona menggeleng kagum melihat sikap Raka saat menghadapi karyawan. Lelaki itu benar-benar membuat orang yang sebelumnya riuh seketika menjadi tenang.
Neona melepas sabuk pengamannya kemudian mendorong pintu mobil berwarna putih itu, berjalan dengan anggun melewati banyak orang memasuki kantor Raka.
Setibanya di ruangan Raka, karena pintu dalam keadaan setengah terbuka gadis itu masuk. Sehingga membuat Raka dan Dion menoleh dan menatap tajam.
Raka dalam posisi duduk, sementara Dion yang berdiri seketika menghalau langkah Neona yang tanpa malu akan menghampiri Raka. Jika ada seorang yang tidak punya rasa malu, bahkan Sesil pun tidak sebanding dengan Neona,
"Sedang apa kau di sini?" tanya Dion. Mengikuti langkah gadis itu yang akan bergeser ke kanan.
Sementara Raka begitu muak tidak ingin melihat wanita tidak tahu malu itu di dalam ruangnya.
"Ayo!" Dion mencengkeram erat pergelangan tangan Neona menariknya untuk keluar.
Namun dengan cepat, Neona mengambil pisau dari atas meja terletak di antara buah. "Lepaskan aku, atau aku akan melepas dengan pisau ini?"
"Apa kau gila!" Dion mencoba mengambil pisau dari tangan Neona. Wanita itu tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan melakukan apa pun jika belum mendapatkan keinginannya.
Neona bahkan tidak segan-segan mencelakai siapa saja yang menghalangi langkahnya. Termasuk Zia dan Zika, Oleh sebab itu Raka selalu menjauhi berinteraksi dengannya karena tahu ia adalah wanita gila layaknya psikopat.
Dion terpaksa melepaskan tangannya, tanpa mengurangi kewaspadaan. Seringai terulas dari bibir Neona kemudian melirik ke arah Raka.
"Sayang, bisakah kau menyuruh sekertarismu ini pergi, dan membiarkan kita berdua saja?"
__ADS_1
Oh ya ampun! Jika hidup Raka pernah melakukan dosa dan ia menyesalinya, tapi ia lebih menyesal lagi karena telah dipertemukan dengan Neona.
"Seharusnya kau yang pergi dari sini, bukan dia!" Raka geram matanya menyorot tajam.
Neona melukai lengannya sendiri hingga darah segar mengalir, sepertinya wanita itu sengaja untuk menarik perhatian Raka.
"Aku akan melukai diriku sendiri, dan pergi keluar. Semua orang pasti beranggapan kalian berdua telah berbuat aniaya pada seorang gadis."
"Dion biarkan kami bicara berdua, kau keluarlah." Sepertinya sebelum bicara padanya berdua Neona tidak akan mau pergi karena Raka tahu sifat wanita tidak waras itu.
Sebelah sudut bibir Neona tertarik membentuk sebuah seringai penuh kemenangan saat Dion pergi dari ruangan. Tanpa tahu malu dengan langkah sensual duduk di samping Raka yang memijat pangkal hidungnya.
"Tidak usah berbasa-basi, cepat katakan apa yang ingin kau katakan!"
Dengan santai Neona duduk di sofa menggesek-gesekan pisau kecil di ujung jarinya. "Aku ingin denganmu malam ini, Raka." Mengikuti ayunan pisau dengan nada sensual.
"Kau terlalu berharap. Bahkan menatapmu saja aku sangat muak." Raka berucap tanpa ingin menatap wanita itu.
Pisau yang sedari tadi digunakan Neona ia tusukan ke ujung jarinya. Ia tidak suka mendengar penolakan Raka. Sejak kuliah di Universitas New York Raka tidak pernah menanggapi perasaannya, selama bertahun-tahun ia memendam cinta tak terbalas kini saatnya mendapatkan apa yang seharusnya dia inginkan.
"Walau kau melukai seluruh tubuhmu itu pun aku tidak akan peduli." Raka berucap kemudian beranjak dari sofa, karena masih banyak yang diurus dari pada Neona wanita tidak penting itu.
Yang terpenting baginya adalah cukup melindungi Zia dan Zika darinya. Karena ia tahu Neona bisa berbuat apa saja termasuk mencelakai seseorang. Tidak berarti tidak mungkin untuk melakukan pada anak dan istrinya.
"Lalu, bagaimana dengan foto-foto kita kalau aku mengirimnya?" Pertanyaan itu terdengar suara sebuah ancaman.
Raka menghentikan langkahnya, menghela napas panjang kemudian berbalik. "Tidak akan berarti apa pun bagiku, dan Zia akan kuberi tahu, dia sangat mempercayai ku." Kemudian berbalik badan lagi setelah detik berikutnya melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
Neona menghentikan kaki menumpahkan kekesalannya. Ternyata foto-foto yang ia gunakan untuk menjebak tidak berarti apa-apa bagi Raka.
**Jangan Lupa Follow IG: Samar_Jenny1
__ADS_1
...FB: Samar Jenny** ...