Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 11


__ADS_3

Sebelum asisten pribadinya menjawab Raka sudah berasumsi sendiri. Dengan suara tercekat Dion membuka suaranya.


“Tenangkan diri Anda dulu, Tuan. Mereka menghubungi hanya membawa kabar baik.”


Raka menaikkan sebelah alisnya. “Kabar baik katamu?” Ia sedikit melonggarkan cengkeraman.


“Iya Tuan. Mereka mengatakan kalau non Zia sudah sadar dari komanya,” ucap Dion dengan raut wajah yang menggembirakan.


Hem Raka menyeringai memandang malas Dion. Lalu mengingat perkataan lelaki itu seketika menoleh. “Apa? A—apa yang kau katakan? Zia sadar? Benarkah itu, Ziaku kembali?” Raka mengguncang-guncang tubuh Dion.


“Iya Tuan. Non Zia sadar, bahkan pihak rumah sakit mengatakan, dia bisa mengeluarkan suara.” Dion ikut berbahagia menyaksikan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Raka.


Ia tahu selama ini bosnya itu sangat menderita menanti sang istri sadar dari komanya. Bahkan Raka sudah menghabiskan uang bermilyar-milyaran untuk membuat istrinya sembuh. Walau hasilnya nihil.


Dan sekarang tanpa diduga istri tuannya sadar dari koma tanpa ada seorang pun menyangka. Keajaiban Tuhan memang yang luar biasa.


Raka yang sebelumnya mencengkeram kerah Dion menjadi berubah memeluknya sebagai ucapan terima kasih karena telah membawa kabar yang sangat membahagiakan untuknya.


“Zia sadar Dion. Zia-ku kembali, aku tidak sedang mimpikan, Dion? Ini nyata ‘kan?”


Dion mengangguk.


“Siapkan pesawat untuk keberangkatanku, ke Singapura. Sekarang,” perintah Raka dengan mata berbinar-binar bahagia dan terharu.


Dion segera pergi untuk mempersiapkan keberangkatan Raka. Karena ia tahu bosnya itu sudah tidak sabar ingin segera sampai menemui istrinya.


Raka segera berlari menuju ruangan Zika dirawat. Ia ingin segera memberitahu Claris dan Vita bahwa Zia sudah kembali sadar dari komanya.

__ADS_1


Dengan terburu-buru Ia membuka pintu sehingga membuat mama Claris, Vita, Sesil menoleh. Pandangan mereka tertuju padanya yang berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah.


“kamu kenapa , Raka?” tanya Claris saat melihat Raka seperti habis dikejar hantu.


“Aku titip Zika, Mah. Aku mau segera ke Singapura.”


“Singapura?” Perasaan Clarys seketika menjuru pada Zia. Ia khawatir terjadi sesuatu pada menantunya itu. “Apa yang terjadi dengan Zia, Raka?” tanyanya cemas.


Sontak semua orang di dalam ruangan menoleh ke arah Raka. Pikiran mereka sama, takut terjadi sesuatu pada Zia.


“Mamah tenangkan diri dulu. Z—Zia sadar Mah.”


“Apa?” Sebegitu bahagianya Clarys tersenyum bercampur tangis. Ia menutup mulutnya yang bergetar karena bahagia.


“Cepatlah pergi, Kak. Jangan biarkan kak Zia sendirian di sana, aku akan ikut denganmu,” ujar Vita.


Vita mengangguk. “Baik Kak.”


Raka segera pergi meninggalkan rumah sakit. Ingin rasanya ia segera menghilang dan muncul di seketika di hadapan Zia saat ini juga. Akhirnya kesembuhan istrinya yang ia tunggu-tunggu kini tiba saatnya.


Sesil tampak syok mendengar Zia sadar. Baru saja Raka menyuruhnya untuk menjauh dari Zika, karena jika suatu saat Zia datang. Dan ternyata hari belum berganti ucapan menjadi nyata. Apa berarti dia harus menjauhi Zika?


“Akhirnya Zia sadar, Vita,” ucap mama Clarys masih diselimuti kebahagiaan. “Ini benar-benar suatu keajaiban ya Sesil?” Ia menoleh ke arah Sesil yang berdiri termenung.


“Sesil, kau kenapa?” imbuhnya lagi.


“Eh, aku tidak apa-apa Tante. Aku hanya merasa senang karena Zia sadar. Itu artinya Zika bisa segera bertemu dengan ibunya,” balas Sesil tampak gugup. Sesekali ia memandangi Zika yang tertidur pulas.

__ADS_1


Di atas pesawat Raka terlihat menempelkan kepalan tangannya di bibir seraya duduk tegang. Ia sudah tidak sabar ingin segera sampai ke Singapura. Ditemani Dion, Raka tidak berucap sedikit pun, hanya fokus menatap ke depan seolah di hadapannya ada istrinya.


“Kenapa pesawat ini berjalan sangat lambat, Dion,” desisnya.


Dion tersenyum, memang benar yang dikatakan sang ayah kalau tuanya itu sedang tegang bisa berpikiran yang macam-macam. “Pesawat ini melaju seperti biasanya, Tuan. Bahkan lebih cepat,” balasnya seraya menggeleng kepala samar.


“Tapi kenapa aku merasa pesawat ini seperti jalan di tempat, Dion.”


“Astaga tuan ... sepertinya akal sehat Anda sudah dipenuhi rindu yang menggebu. Kurasa setiap pesawat begini, Tuan.” Gumam Dion.


“Dion pergi temui, pilot. Suruh dia menaikkan kecepatan penuh.”


“Baik Tuan.” Dengan berat hati Dion beranjak dari tempat duduknya untuk menemui anak buah pesawat. Tampak membicarakan sesuatu yang jelas Raka tidak bisa mendengar dari posisinya.


Dalam 5 menit Dion kembali lagi ke posisi duduk semula.


“Apa kau sudah memberi tahu mereka, Dion?” tanya Raka memastikan.


Dion terkikik. “Sudah Tuan.” Lalu ia kembali duduk tegap bersandar pada bantalan.


Raka masih saja gelisah tidak henti-hentinya menatap jam yang melingkar di tangannya.


Satu menit, dua menit, tiga menit dilalui Raka dengan berat bahkan ia merasa pesawat ini tidak adil padanya karena jalan sangat lambat.


“Tuan, kalau boleh saya kasih saran. Lebih baik Anda tidur, itu akan membuat laju pesawat ini akan bertambah cepat.”


Yang masih dipengaruhi alur novel Sebelah diikuti dulu alur berjalan ya😁

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like komen, vote sebanyak-banyaknya ya kakak sebaik, dan secantik se Novelton 🙏


__ADS_2