
Tatapan Raka menjadi tajam saat Vita menanyakan tentang Rio pada Zia. Tentu saja lelaki itu adalah mantan pacar istrinya dan masalah demi masalah yang terjadi saat awal hubungan mereka, itu semua karena Rio. Dan pada akhirnya Rio tanpa diduga datang untuk meminta maaf. Dan membuat saat ini hubungan mereka membaik sampai saat ini. Semoga ke depanya Rio tidak membuat masalah lagi seperti yang sudah-sudah, karena kalau sampai itu terjadi Raka tidak akan tinggal diam.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu, Vita?” tanya Zia memegang sendok di tangan lalu sesekali melirik ke arah Raka yang melirik ke arahnya.
“Saat berhubungan dengan kakak dulu, apa pernah dia menghianatimu?” tanya Vita.
Zia yang sedang menenggak air putih itu pun seketika cepat-cepat menghabiskan air di mulutnya hingga ke kerongkongan, lalu berdehem.
“Vita, kamu kenapa bertanya seperti itu pada kakakmu? Itu sudah menjadi masa lalu dia, kamu tidak boleh membahas itu lagi.” Mama Claris menyergah lebih dulu sebelum Zia berbicara.
.
“Mama benar, Vita. Kamu tidak perlu menanyakan hal seperti ini pada Zia, sejak dia sudah menjadi milikku tidak ada orang lain yang disangkut pautkan mengenai masa lalu.” Raut wajah Raka terlihat memendam rasa penasaran.
“Tapi, Vita. Apa yang membuatmu mempertanyakan tentang Rio? Apa dia menghianatimu?” Tangan Raka mulai mengeras. Dengan cepat Vita membulatkan mata menggeleng cepat.
“Tidak, kak. Aku hanya ingin bertanya saja, itu saja tidak lebih,” ucapnya. Lalu melanjutkan makanya kembali. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Vita saat ini benar-bena risau memikirkan Rio. Entah kenapa perasaannya merasa tidak nyaman antara cemas dan khawatir.
Mereka melanjutkan makannya dengan hikmat. Keputusan kali ini sudah dipastikan kalau Raka akan mencari rumah untuknya dan keluarga kecilnya. Ia juga berencana akan mencarikan rumah untuk ia berikan pada Vita sebagai kado pernikahan.
Setelah mereka semua selesai makan Zika terbangun dari tidurnya dan menangis minta susu. Digendong babby suster ia bergelendotan manja. Zia yang melihatnya seketika meletakkan sendok di atas piring untuk menghampiri Zika.
"Dia kenapa, Sus?" tanyanya menyibak rambut Zika yang menutupi wajah. Ia melihat anaknya itu tengah tertidur pulas dengan kepala di pundak suster penjaganya.
"Dia tadi menangis, Non, minta susu. Saat aku akan membuatnya dia tidak mau ditinggal minta digendong." Suster menjawab sambil mengayun-ayunkan tubuhnya supaya Zika semakin terlelap.
***
__ADS_1
Di keesokan hari Raka bersiap-siap pergi ke kantor, hari ini ia berencana mengajak Dion untuk pergi kesalah satu perumahan elite di kota itu. Sambil memasang kancing kemeja di bagian lengan Raka berdiri di depan cermin menatap pantulan wajah sang istri yang sedang mengeringkan rambut, dan mengenakan kimono berwarna putih setelah mereka mandi bersama pagi ini.
Zia memejamkan mata saat hawa panas dari hairdryer menyeruak ke wajahnya saat mengeringkan rambut, setelah dirasa cukup ia menekan tombol off untuk mematikan benda itu. Setelah kemudian meletakkan di hadapannya lalu Zia mendongakkan kepalanya menatap Raka dari pantulan cermin hingga tatapan mereka saling bertemu di dalam satu cermin.
“Apa kamu jadi mencari rumah untuk kita siang ini, sayang?” tanya Zia, mengambil lipstik dari rak kecil di hadapannya lalu mengoleskan ke bibir hingga menambah warna rona bibirnya.
“Jadilah, sayang,” jawab Raka mengambil arloji dari atas nakas lalu memasangnya di tangan kirinya, arloji mahal pengeluaran terbaru itu memang sangat pas di tangannya. “Oh, iya, Zia, kira-kira rumah seperti apa yang kamu inginkan?” ia masih sibuk memasang pengait jam tangannya.
“Aku tidak ingin yang terlalu mewah, aku hanya ingin rumah yang sederhana dengan memiliki dua kamar dan memiliki hamparan taman yang luas, terus aku mau pintu di balik taman terbuat dari kaca, hingga saat kita menatap keluar langsung disuguhkan dengan tanaman-tanaman cantik di sana. Dan satu lagi, selain taman aku juga mau ada kolam renang di sana, dan satu lagi, taman permainan untuk Zika.”
Raka berdecak setelah kemudian memeluk Zia dari belakang. “Kamu ini ternyata sangat cerewet ya, sekarang.” Ia mencium bibi Zia lembut sehingga membuat wajah istrinya itu memanas dan merona. Dada Zia berdebar kencang seolah terjun bebas ke dasar.
“Kenapa cerewet?” tanyanya mengerucutkan bibir dan menatap wajah suaminya dari pantulan cermin.
“Tentu saja kamu cerewet, bagaimana tidak. Kamu baru saja mengatakan kalau tidak ingin rumah yang mewah, tapi kamu memesan dengan fasilitas taman yang luas, dengan kolam renang dan juga taman bermain untuk Zika, itu semua tergolong mewah, sayang ....”
Zia terkekeh menempelkan telapak tangannya di pipi Raka menggeleng samar diiringi senyuman kecil. “Aku tidak mau munafik, bilang kalau menginginkan rumah yang kecil untuk rumah keluarga kecil kita asal bahagia. Pada nyatanya kita membutuhkan rumah yang luas untuk anak-anak kita tumbuh, supaya leluasa bermain di area rumah. Lagi pula kalau kita mampu membelinya kenapa tidak?”
“Kenapa kita terdengar seperti orang yang sombong?” Zia geli dengan pernyataannya sendiri.
“Kalau kita sendiri tidak apa, lagi pula tidak ada siapa pun di sini, kecuali ada netizen sedang mengintip,” ujar Raka terkekeh.
“Kamu wangi sekali, aroma sampo apa yang kamu pakai?” Raka menciumi aroma rambut Zia dalam-dalam. Hingga istrinya itu ikut mencium rambutnya sendiri untuk memastikan karena ia merasa tidak memakai sampo lain selain yang biasa ia kenakan.
Zia mencium rambutnya sendiri dalam-dalam untuk memastikan. “Tidak ada yang beda, wanginya juga sama,” ujarnya masih sibuk menciumi rambutnya berulang-ulang.
Sedangkan Raka mengulum senyum sembari sibuk menghirup aroma sampo dari rambut sang istri.
__ADS_1
“Ihss, kamu sedang mencari kesempatan supaya bisa menciumi rambutku, kan?”
“Rambut kamu wangi sih,” jawab Raka menyeringai seutas senyum tersemat di bibirnya.
“Ini sudah siang, saatnya kamu pergi ke kantor.” Zia beranjak dari kursinya lalu mengambil sebuah jas yang menggantung membawanya pada Raka.
“Sayang, apa boleh aku mengajak Zika pergi jalan-jalan hari ini?” tanyanya tangannya memegang jas di belakan dan Raka memasukkan tangannya ke bagian lengan jas itu.
“Memangnya kamu mau mengajak Zika ke mana?” tanya Raka mendongak saat Zia mengalungkan sebuah dasi ke lehernya.
“Aku ingin mengajak dia ke Mall. Apakah boleh? Lagi pula aku sangat bosan berada di rumah.” Zia mengerucutkan bibir, belum juga suaminya berkata ia sudah menunjukkannya. Setelah melepas ia mengambil handuk yang tergeletak di atas ranjang. Memasukkannya ke dalam ranjang tempat pakaian kotor.
“Kamu boleh pergi tapi dengan satu syarat.” Zia menoleh ke arah suaminya yang berucap.
“Kamu harus ditemani dengan Mama dan Vita, dan satu lagi, aku akan menyuruh Dion mengikuti kalian?”
“Kenapa?” tanya Zia.
“Supaya kalian aman, sayang.”
“Baiklah, dari pada tidak sama sekali. sekarang sudah siang, pergilah. Ada banyak orang menunggumu.” Zia menepuk dada Raka saat selesai merapikan jas yang dikenakan.
“Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, oke?”
“Iya.”
"Nanti sore kita mandi bersama lagi."
__ADS_1
"Eh."
Jangan lupa vote gambar berwarna ungu di halaman depan ya giiss😘