
Menghukum Neona!
Neona menaikan pandangannya di saat menyadari ada seorang berdiri di hadapannya. Sudut bibirnya tertarik dan orang itu adalah Raka, lelaki yang sangat dicintainya.
"Raka, kau sudah pulang?" Ia beranjak berdiri. Tangan kanannya memegang pisau yang berlumuran darah, ia hendak memegang lengan Raka, akan tetapi dengan cepat tubuh itu terjatuh karena Raka mendorong begitu kasar.
Dion tiba di sana melihat Neona tersungkur dan keadaan rumah yang begitu kacau ia merogoh ponsel dari saku celana kemudian menghubungi seseorang.
Setelah selesai ia mendekat menatap tajam ke arah Neona. Karena jika ada pengganggu keluarga Raka, maka orang pertama yang harus dihadapi adalah dia.
Raka membalik badan mengetuk pintu, karena ia tidak melihat di mana Zia rasa khawatir seketika semakin besar.
"Zia, buka pintunya!"
Sedangkan Neona menatap sengit kemudian beranjak dari atas lantai. Akan maju menghampiri Raka, tapi langkahnya di hadang oleh tubuh tegap Dion.
"Jangan menghalangiku!" bentaknya menyingkirkan tubuh Dion. Meski itu tidak bisa.
"Tuan, kau lihat saja dulu keadaan Non Zia dan Zika. Aku akan mengatasi perempuan gila ini." Dion membicing sambil menggertakkan gigi. Sedangkan Raka masih berusaha untuk membuka pintu.
Ingin sekali rasanya menghancurkan wanita di hadapannya kini. Namun mengingat dia adalah seorang wanita, itu membuat Dion harus berpikir keras pelajaran apa yang harus ia berikan. Neona maju saat Dion lengah ia mengangkat pisau di tangannya kemudian akan menyerang Dion. Beruntung Dion sigap menghindar, tatapi ia harus terluka di bagian tangan akibat menahan pisau.
Tangan kiri Dion mencengkeram pergelangan tangan Neona. Hingga tenaga wanita itu tidak berarti apa-apa walau ingin melepaskan diri tidak akan bisa.
Plak!
Walau Dion sudah berjanji tidak akan memukul wanita, tetapi kali ini ia lakukan. Neona sudah memancing kesabaran, bahkan Neona tidak layak disebut sebagai wanita.
Neona menjerit frustasi tangan kirinya menjambak rambutnya sendiri. "Kau berani menamparku, hah!"
Ia memberontak sehingga membuat Dion kewalahan.
Sementara itu, setelah beberapa saat kemudian akhirnya pintu terbuka. Dengan napas terengah-engah sambil membawa Zika dalam gendongan Zia menangis langsung memeluk Raka.
"Apa kau terluka, sayang? Apa dia berbuat sesuatu padamu?" tanya Raka memeluk erat Zia yang begitu ketakutan.
"Papi, Zika takut ...." sanggah Zika. Kemudian Raka menoleh ke belakang pemandangan seperti ini tidak pantas disaksikan oleh Zika.
__ADS_1
"Ayo kita masuk kamar." Ia membimbing masuk dan menutup pintu dengan rapat.
Membawa duduk ke tepi ranjang, Raka mengambil segelas air putih dari atas meja kemudian memberikan pada Zia yang masih terlihat ketakutan itu.
"Minumlah, sayang." Ia menyodorkan gelas pada sang istri kemudian melihat rambut berantakan merapikan.
Istrinya itu begitu ketakutan dan juga rambutnya berantakan. Apa mungkin Neona telah melakukan sesuatu tadi? Raka menghela napas untuk beberapa saat. Ia merasa bersalah karena dirinya ini semua harus terjadi pada Zia dan Zika.
Kelemahannya dalam beberapa hari ini bukan tidak tanpa alasan. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah terikat kontak kerja sama dengan ayah Neona sebelum ia tahu kalau ternyata ini rencana Neona.
Akan tetapi tidak akan ia biarkan untuk kali ini. Persetan dengan kontrak kerja sama, masa bodo jika ia harus dituntut untuk membayar membatalan kontrak. Yang pasti kini ia harus membuat Neona mengerti karena sudah mengganggu anak dan istrinya.
"Zia--Zika, kalian tunggulah sini, aku akan keluar sebentar."
Raka membelai rambut Zia kemudian mengecup kening setelah itu ia keluar. Sedangkan Zia memeluk Zika erat di tepi ranjang.
Raka keluar dari kamar menutup pintu rapat-rapat menguncinya dari luar. Melihat Dion mencoba membuat Neona untuk berhenti memberontak, Raka berjalan mendekat.
Penampilan gadis itu memang begitu kacau, rambut acak-acakan tangan berlumuran darah. Sepertinya mental Neona benar-tidaknya sudah terganggu.
Raka mendekat mencengkeram dagu mengadahkan wajah Neona untuk menatapnya hingga meringis. Tetapi Neona malah tertawa saat mata Raka tajam mengintimidasi dianggap tatapan penuh cinta.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pergi bersamamu, wanita gila." Raka semakin menjepit jari-jarinya membuat dagu perempuan itu menciut. Kemudian menghempaskan dengan kasar sehingga Neona terjatuh.
Napas Neona naik turun, matanya menatap tajam bagai sebilah pisau yang saat ini berada di bawahnya. Dilirknya pisau itu kemudian setelah mengambil ia beranjak bangun.
"Baiklah, kalau aku tidak bisa miliki kamu, maka tidak juga dengan istrimu!" Ia melebarkan kaki menaikan tangan yang memegang pisau membawanya ke arah kamar.
"Jangan mendekat!" Raka menarik pergelangan tangan Neona menahannya supaya tidak pergi ke pintu.
Jangankan untuk mendekati Zia, untuk menatap ia pun tidak akan biarkan.
Saat Raka sedang menahan Neona yang memberontak, Dion harus mengangkat panggilan dari ponselnya yang berdering.
Dalam beberapa saat kemudian Dion yang baru saja tiba dari lantai bawah datang dengan empat orang, satu di antaranya dokter laki-laki, sedangkan lainnya perempuan.
"Tuan, aku membawa dokter dan petugas rumah sakit jiwa. Aku harap mereka bisa menangani wanita itu," tunjuknya dengan dagu ke arah Neona.
__ADS_1
"Bagus," ucap Raka tersenyum.
Neona menggeleng sambil tersenyum lebar. "Kalian aku gila?! Apa kau tidak tau, aku dan ayahku bisa saja menuntut kasus ini. Dan tanggung sendiri akibatnya." Ia mundur menghindari Dion dan dokter.
"Silakan bawa dia, Dok," perintah Dion.
Dokter beserta perawatnya itu maju akan membawa Neona.
"Apa yang akan kalian lakukan? Jangan mendekat!" Mengacungkan pisau di tangannya.
Raka tidak sabaran mendekati memegang pergelangan tangan, kemudian memutar dan melipatnya di belakang tubuh Neona.
Perempuan itu hanya meringis pasrah setelah kemudian Raka mengambil pisau di tangannya. Dalam keadaan seperti itu dokter mendekat memberi sebuah suntikan penenang di lengan.
"Kalian semua akan tahu akibatnya sendiri setelah ini karena telah berbuat seperti ini padaku." Ucapan itu terdengar begitu lirih karena efek obat sudah g dokter untuk membawa Neona. Mereka bertiga mengangkat tubuh wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu membawanya turun ke mobil.
"Untung saja dokter itu sampai dengan cepat. Karena kalau tidak kita harus banyak melakukan kekerasan pada wanita itu," ujar Dion meletakkan kedua tangan di pinggangnya. Matanya mengekor pada perawat yang menuruni tangga membawa Neona.
"Kau benar, dan semoga saja Dokter memberinya kejutan jantung." Raka benar-benar tidak peduli walau Neona harus disuntik mati sekali pun.
"Panggil beberapa pelayan untuk membersihkan semua ini." Mata Raka melihat setiap barang yang berantakan di lantai.
"Wanita itu benar-benar sangat merepotkan!"
"Bagaimana kalau Johan tidak terima kalau putrinya kita bawa ke rumah sakit jiwa, Tuan?" tanya Dion. Karena seperti yang ia tahu kalau Johan sangat menyayangi putri satu-satunya itu.
"Aku tidak peduli, walau dia mencabut semua investasi di perusahaan kita pun aku tidak akan peduli. Putrinya sudah melakukan pengancaman pembunuhan dan perbuatan tidak menyenangkan di rumah ini, maka aku wajib menghukumnya. Terima atau tidak terima."
Kemudian Raka masuk ke dalam kamar. Ia ingin memastikan dan bertanya pada Zia, lebih tepatnya memeriksa keseluruhan anggota tubuh Zia.
...***...
Sudah tau caranya vote kan?
like?
komen?
__ADS_1
kasih hadiah?
update Novelton kalean setelah itu kasih vote. lihat kan tulisan di bawah ⏬⬇️