Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 18


__ADS_3

Mobil berwarna hitam tiba di pelataran rumah. Raka segera turun dan membukan pintu sampingnya untuk mengangkat Zia. Di bopongnya tubuh mungil itu lalu di letakkan ke atas kursi roda.


Hari ini mereka baru saja datang dari rumah sakit melakukan terapi pada tubuh Zia. Raka dengan telaten menemani Zia beberapa hari ini untuk ke rumah sakit. Bahkan ia rela meninggalkan perusahaannya hanya untuk menemani dan merawat Zia di rumah.


Bagi Raka melihat Zia hidup sampai saat ini adalah anugerah. Oleh sebab itu ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin sampai Zia pulih seperti sedia kala. Karena hari demi hari Raka tidak mau melewatkan kesempatan untuk melihat kemajuan kesembuhan istrinya.


Lelaki itu terus saja mendorong kursi roda memasuki rumah dengan senyum semringah di sambut mama Clarys di ruang tamu bersama Zika di gendongannya.


“Bagaimana perkembangan Zia, Raka?” tanya mama Clarys saat berada di hadapan Raka.


“Sangat luar biasa, Mah. Bahkan dokter mengatakan setelah dua atau tiga kali lagi Zia akan kembali pulih seperti sedia kala.


Zia mendongak ke atas, sedangkan Raka menatap ke bawah mereka saling melempar senyum. Raka mengusap rambut istrinya itu lalu beralih memandang Zika dan mama Clarys.


“Sukurlah ... kalau begitu.” Mama Clarys menghela napas lega. Ternyata usaha tidak membohongi hasil.


“Zika, mau ikut papa ke kamar tidak?” tawar Raka.


“Tuh, Zika. Mau ikut papa tidak?” sambung mama Clarys.


Zika mengangguk menengadahkan tangan ke arah papanya. Raka segera mengambil dan meletakkan putrinya di pangkuan Zia. “Baiklah, Zika. Kamu duduk sini sama mama ya. Biar papa dorong kalian berdua ke kamar.” Setelah dalam posisi berjongkok Raka berdiri mendorong kursi roda itu dengan kencang sehingga membuat Zika dan Zia terkikik geli.


“Raka, jangan kencang-kencang nanti jatuh,” ujar Zia memeluk Zika erat.


Sedangkan Zika tertawa. “Lagi, Pah. Lagi ....” saat papanya mengurangi kecepatan dorongan pada kursi itu Zika tergelak.


Raka kembali mendorong hingga sampai ke depan pintu kamar mereka. Ia merogoh kantong celananya mengambil kunci lalu memasukkan berikutnya memutar daun pintu itu hingga terbuka lebar.


“Oke, kita sudah sampai sayang-sayangku ... sekarang waktunya kita bermain.” Raka menurunkan Zika dari pangkuan Zia setelahnya mengangkat tubuh istrinya itu ke atas ranjang.


“Aku cinta kamu, sayang.” Raka mengecup kening Zia dan berangsur ke kelopak mata.


“Berhenti, sayang.”

__ADS_1


Raka menaikkan sebelah alisnya. Zia menunjuk Zika dengan dagunya memberi tahu kalau gadis itu masih berdiri di sana. Anak kecil tidak boleh melihat adegan kecup mengecup bukan?


“Princes papa.” Raka menghampiri Zika yang berdiri di lantai itu. Ia mengangkat lalu membawanya ke dekat Zia.


“Zika, kita main gunting batu kertas yuk. Siapa yang kalah akan mendapat hukuman.”


Zika mengangguk menyetujui permintaan sang papa. Tapi gadis itu masih tampak takut saat melihat Zia di hadapannya.


“Tapi persyaratannya harus tiga orang, Zika.” Raka memutar bola matanya. “Aha! Aku tau, bagaimana kalau kita ajak perempuan ini.” Ia menunjuk Zia yang sedang bersandar di punggung ranjang.


Zika tersenyum dan mengangguk cepat. Ini sangat menggembirakan untuk Raka, karena sampai saat ini ia selalu mencari cara untuk membuat Zika mau dengan ibu kandungnya.


“Oke, kita mulai ya. Dan hukumnya adalah, siapa yang kalah harus mencium siapa yang menang.


Zia mengangguk suaminya itu memang sangat luar biasa dalam hal cium mencium. Terlebih lagi pasti ini alasan untuk membuatnya mendapat ciuman dari Zika kan?


“Baiklah kita mulai ... gunting, batu ker--” Raka mengangkat satu tangannya ke belakang. “Tas! Yah ... papa kalah.”


Zika dan Zia tertawa lepas menunjuknya.


“Baiklah, papa akan cium kalian. Siapa yang mau aku cium lebih dulu?”


“Aku!” seru Zika dan Zia secara bersamaan.


“Baiklah, biar papa yang tentukan. Hemmm aha! Papa sudah memutuskan akan mencium Zika dulu, lalu giliran mama Zia nanti malam.”


Sontak membuat Zia memukul lengan pelan. Raka mengecup pipi lembut Zika kanan dan kiri. Ia sangat suka aroma bayi Zika walau anak kecil itu sudah menginjak dua tahun tetap saja, aromanya tidak berubah masih seperti bayi.


“Sekarang kita mulai lagi, ya.” Dan pada permainan kali ini Zikalah yang kalah.


“Zika, kamu harus dihukum, sekarang kamu harus mencium mama Zia dulu lalu setelah itu papa. Oke!”


Zika mengangguk lalu merangkak mendekat ke arah Zia. Gadis kecil itu mencium pipi kanan mamanya itu.

__ADS_1


Hati Zia seperti disiram air es, jika sebelumnya panas kini menjadi dingin. Jika sebelumnya hampa kini berubah menjadi lengkap. Ah, dia sangat bahagia hingga hampir-hampir tidak bisa berkedip olehnya.


Setelah Zika selesai mencium Zia, gadis kecil itu mendekat ke arah papa Raka. Mencium pipi yang di tumbuh bulu-bulu halus itu dengan lembut. “Pipi papa kasal,” ucapnya dengan bibir mungil itu.


Membuat Zia tergelak melihat putrinya yang lucu itu. Nikmat ini memang luar biasa tidak ada yang lebih berharga selain ini.


Dan begitu pun seterusnya mereka bergantian saling cium mencium. Tertawa bahagia sehingga membuat Mama Clarys mendengarnya ikut tersenyum.


Tidak henti-hentinya mengucap sukur.


Saat mama Clarys hendak pergi mengambil minum, tiba-tiba Vita datang tanpa permisi atau menegur mamanya dulu. perempuan yang menyandarkan status janda itu langsung saja masuk ke dalam kamar. Claris merasakan ada keanehan pada putrinya itu. Tapi apa mungkin Vita dalam keadaan sedang lelah atau sedang bertengkar dengan calon suaminya?


Clarys beranjak melangkah berjalan menghampiri Vita ke kamar. Tapi saat wanita itu akan membuka pintu ternyata pintu terkunci dari dalam.


Tok, tok, tok!


“Vita, buka pintunya.” Ia mendekat kan telinga ke pintu.


Tidak selang beberapa lama pintu pun terbuka. Vita dengan mata masih sedikit memerah keluar dari kamar.


“Apa kamu menangis, Vita?” tanya Clarys menelisik wajah Vita.


Perempuan itu segera mengalihkan matanya. Supaya tidak bertatapan langsung dengan Mama Clarys. “Aku?” Vita berjalan masuk ke dalam kamar lalu duduk di atas ranjang. Dan mama Clarys mengikutinya di belakangnya.


“Aku tidak nangis, mah. Hanya saja, mataku terasa perih saat di luar tadi. Makanya aku langsung masuk karena ingin segera mencuci dengan air,” balas Vita.


“Kamu tidak bohong kan, Vita?”


Vita menggeleng mencoba membuang rasa tidak percaya mama Clarys, yang terus saja mendelik curiga padanya.


“Tidak apa-apa, Mah. Semua yang aku katakan benar, memang mataku sakit. Mungkin besok aku akan membawa ke dokter,” ucapnya supaya Clarys tidak mencurigai terlalu dalam.


“Baiklah, kalau seperti itu. Mama akan mengambilkan minum untukmu.” Dengan rasa ragu Clarys ke luar dari kamar Vita. Entah kenapa, dia tidak bisa percaya kata-kata putrinya itu.

__ADS_1


Catatan Jenny


Mohon maaf ya semuaa karena mengalami keterlambatan update. tapi insyaallah setelah ini enggak karena aku akan berhentikan salah satu novel aku dan konsen ke novel ini. Maka dari itu mohon dukungannya 🙏


__ADS_2