
Raka di jalanan merasa khawatir terus saja menyetir dengan kecepatan tinggi. Seraya tangannya sibuk menekan ponselnya untuk menghubungi Dion, berharap supaya sekretarisnya itu lebih dulu sampai ke rumah Sesil karena jarak rumah mereka tidak sejauh rumahnya.
Raka menghawatirkan Zia karena kondisinya belum sepenuhnya pulih. Baru saja sore tadi Zia berjalan dengan lancar, tetapi tanpa dia duga istrinya itu nekat mengendarai mobil malam menjelang dini hari. Berulang-ulang Raka menghubungi Dion bertanya apakah sudah sampai di rumah Sesil atau belum.
Di rumah Dokter Sesil, setelah Zia memekik hingga nafasnya terengah-engah membuat Sesil menghentikan langkahnya berbalik ke arah Zia. Menaikkan sebelah alisnya bertanya-tanya.
“kenapa kamu berteriak, Zia? Tidakkah kamu tahu ini sudah larut malam. Suaramu bisa membuat orang-orang berdatangan ke mari.” Melihat sorot mata Zia Sesil baru menyadari kalau perempuan di hadapannya sedang marah.
“Apa yang terjadi, Zia?” Ia kembali berjalan mendekatinya.
Sedangkan Zia bersedekap memandang malas wanita yang bertopeng sebagai penutup kedok saja itu. “Apa yang kau racun kan pada Zika, Sesil?”
“Racun? Apa maksudmu dengan racun?” tanya Sesil tidak tahu menahu yang dimaksud Zia.
“Katakan dengan jujur, Sesil. Aku sudah tahu apa yang kamu tanamkan di otak anakku yang masih polos itu.” Mata Zia memerah jarinya menunjuk-nunjuk wajah Dokter Sesil.
“Langsung ke dasar intinya saja, Zia. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu katakan. Lagi pula ini sudah malam, ayo masuk.” Sesil menarik tangan Zia membawanya masuk ke dalam rumah.
“Tidak perlu!” Zia segera menarik tangannya dengan cepat.
“Aku hanya ingin meminta jawaban darimu, tinggal kamu jawab iya, atau tidak!”
“Jawaban apa, Zia?”
“Apa benar kamu sudah menyuruh Zika untuk menjauhiku?”
Dokter Sesil menarik bibirnya membentuk senyum terpaksa. “Aku tidak tahu kamu bicara apa. Kenapa aku menyuruh Zika menjauhimu.” Ia mengalihkan wajahnya supaya tidak terlihat gugup.
Zia mendekat tepat di hadapan wajah Dokter Sesil. “Zika adalah anak kecil. Dia berkata jujur, aku tidak menyangka kalau kamu berbuat serendah itu.”
__ADS_1
“Aku tidak tahu kamu bicara apa. Setelah sadar dari koma ternyata membuatnya seperti orang tidak waras,” gumamnya berbalik akan masuk menuju ke dalam rumah. Yang ia kira tidak terdengar ternyata Zia mendengarnya.
Zia segera menarik pakaian Sesil, hingga mundur ke belakang.
“Zia! Kamu menarikku?” tanya Sesil dengan nada tak terima. Berjalan ke arah Zia dengan rasa menantang.
Tidak ada rasa takut sedikit pun pada diri Zia. Justru ia maju menantang Sesil. Ia tidak peduli kalau kesehatannya belum pulih sepenuhnya hanya satu yang diinginkan, yaitu melampiaskan emosi yang kian menggelora membakar dada.
Ia melangkah lebih cepat maju ke depan Dokter Sesil. “Beraninya kamu mengataiku tidak waras, hah?” Zia menarik tubuh Sesil hingga tepat berada di hadapannya. Sebelah tangannya menjambak rambut Sesil hingga berteriak.
“Lepaskan Zia! Kau menyakitiku!” pekiknya. Mencoba melepaskan cengkeraman tangan yang menarik rambutnya.
“Aku tidak akan kamu mengusik ketenangan keluargaku Sesil! Aku tahu, selain mengincar anakku kamu pasti menginginkan suamiku juga kan?!” Zia melepas cengkeraman tangannya dengan kasar membuat Sesil hampir tersungkur.
Bukanya takut atau jera, Sesil justru semakin memanas. Tatapannya tajam bagai sebilah pedang siap menyayat siapa saja. Ia bangkit dan berjalan ke arah Zia. Kali ini tidak ada yang perlu lagi ditutup-tutupi. Toh, Zia sudah tahu semua bukan. Ia menyeringai matanya mengitari anggota tubuh perempuan di hadapannya.
“Ternyata kamu adalah perempuan yang paling tidak tahu malu di dunia ini. Aku memang yang berhutang Budi padamu, tetapi itu tidak berarti kau berhak memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku ... adalah ibu, yang melahirkan Zika, demi dia aku mempertaruhkan nyawaku, tapi apa yang kamu perbuat?! Dengan berani kamu menghasut putriku untuk membenci ibunya sendiri!”
“Terus kalau memang iya kenapa?” Sesil memajukan tubuhnya menantang. Ia ingin meraih rambut Zia, beruntung segera ditepis.
Tidak mau kalah Zia kembali menarik rambut Sesil. Suara keributan terdengar orang sekelilingnya, hingga beberapa dari mereka keluar rumah dan menyaksikan Zia dan Sesil sedang saling menarik rambut.
Plak!
Satu tamparan lolos dari tangan Zia tepat mendarat di pipi kanan Sesil. Merasa kesakitan Sesil tidak terima diangkatnya tangan ke udara siap mendarat ke pipi perempuan yang selama ini menjadi pasiennya itu.
Dengan sekuat tenaga hingga menggertakkan gigi Sesil siap melayangkan tangannya.
“BERHENTI!!” Suara Raka berhasil membuat mereka berdua menoleh.
__ADS_1
Dion yang berada di belakang Raka membuyarkan kerumunan warga yang layaknya menonton sebuah adegan drama.
“Berani sekali kamu menyentuh istriku? Tidak ada yang berhak menyentuhnya selain aku. Camkan itu!” mata Raka menyorot tajam ke arah sesil sehingga membuat gadis itu diam tidak berkutik.
Sesil tahu siapa Raka yang sebenarnya. Lelaki itu tidak segan-segan memberi perhitungan berat bagi siapa saja mengusik istrinya.
Tidak ingin melawan ia mundur’ karena mereka bukan tandingannya. Walau dia akan melawan juga percuma karena ia tidak ada apa-apanya.
“Perbuatan yang kamu lakukan akan mendapat hukuman yang setimpal, sepertinya kamu sudah bosan menjadi dokter, aku bisa melepas posisimu di rumah sakit itu. Dan akan kupastikan tidak akan ada lagi rumah sakit yang mau memperkerjakan dokter sepertimu.”
Tidak mungkin, tidak mungkin. Sesil menggeleng menolak semua keputusan Raka dengan seluruh dalam hatinya. Karier yang selama ini ia rintis akan hancur begitu saja?
“Aku mohon jangan lakukan, Raka. Butuh kerja keras untuk menjadi seperti sekarang. Aku mohon, aku tidak akan mengusik kehidupan kalian, asal biarkan aku tetap bekerja di rumah sakit itu.” Rumah sakit itu adalah satu-satunya pemberi gaji terbesar dari pada yang lain. Bagaimana ia bisa meninggalkannya begitu saja.
Raka dan Zia tampak ragu dengan kata-kata Sesil. Mereka saling bertatap mata.
“Aku punya solusinya, Tuan,” sergah Dion dari belakang berjalan menghampiri mereka semua.
Apa yang dimaksud Dion?
“Dia selama ini mengincar nona Zika dan kamu Tuan. Saya akan menikahinya supaya dia tidak bisa mengganggu kalian lagi.”
Wajah ke-tiganya seketika syok mendengar kata-kata Dion. Ide konyol macam apa ini? Terlebih lagi Sesil begitu terkejut mendengarnya. Dion hannyalah seorang sekretaris Raka. Bagaimana bisa ia berpikir bisa menikahi Sesil seorang Dokter profesional dengan segudang prestasi.
Gimana cara Zia ngelabrak Sesil? udah ngobatin greget kalian belum😆
Dan gimana buat yang hoby nyinyir rasanya di block gak bisa komen😆
Jangan lupa kasih dukuangan buat Vote dan Like komen positifnya ya kakak 🙏
__ADS_1