Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
Bonchap 1


__ADS_3

Ruang megah yang didominasi warna ungu itu tampak sangat menawan. Tidak hanya memanjakan mata, tetapi warna yang menghiasi setiap sudutnya mampu mengalirkan kehangatan. Dengan meja bundar dan kursi yang disusun melingkar, ballroom itu sukses untuk menjadi salah satu aspek penting dalam acara malam ini.


Beberapa tamu undangan yang membawa anak-anak mereka menenteng banyak kado mulai rame berdatangan menyerahkan kado pada Zika.


"Terima kasih ...." ucap Zika yang sedikit memberi penekanan di bagian huruf 'r' karena ia baru bisa mengucapkannya.


"Selamat ulang tahun, Zika sayang ... semoga kamu tumbuh jadi anak yang pintar." Semua tamu yang berdatangan turut mendoakan kebaikan untuk Zika.


"Terima kasih, Tante ...." Ucapan itu Zika lontarkan dari bibir kecilnya sehingga membuat siapa saja yang melihat merasa gemas.


"Duh ... Zika cantik sekali, sama persis kayak Maminya," ucap seorang tamu satu lagi yang baru datang.


Sedangkan Zia dan Raka yang berdiri di belakang putrinya memasang senyum sopan untuk menanggapi mereka semua. Memiliki putri yang cantik mungkin menjadi anugerah tapi setelah ini Zia akan memberi pengertian pada Zika tentang pujian seseorang.


Suasana dalam rumah sudah begitu ramai dengan tamu-tamu. Sementara kota kado sudah menggunung di belakang Zika. Mungkin setelah ini nona muda keluarga Sanjaya itu akan menghabiskan waktu semalaman untuk membuka kado satu persatu.


"Halo cucu grandma ...." Mama Clarys datang dengan gaya stylist ala oma-oma sosialita setelan outfitte berwana putih di bagian pinggang dipercantik dengan ikat pinggang berwarna merah yang terbuat dari pita sedangkan tatanan rambut pendek ia bentuk seapik demikian rupa.


"Oma ...." Zika berlari memeluk oma Clarys.


Clarys berjongkok memberikan sebuah kado pada Zika. "Selamat ulang tahun cucu kesayangan Oma. Semoga kamu kelak jadi panutan adik-adikmu," ucapnya penuh makna.


"Ma, di mana Vita? Aku tidak melihatnya?" tanya Zia celingukan ke sana dan ke mari.


"Vita, dia, dia sedang tidak enak badan. Mungkin akan datang sedikit terlambat, atau mungkin tidak datang."


Raka menatap mama Clarys curiga, mengamati kata-katanya seperti sedang ada yang ditutup-tutupi oleh Mama Clarys. Apa jangan-jangan ini tentang Vita?


Raka berdehem maju selangkah memasukkan satu tangan ke dalam kantong celana ia menatap mama Clarys.


"Ma, apa ada yang kalian sembunyikan dariku?"


Zia dan juga mama Clarys menoleh padanya. Suasana mereka kini menjadi tegang, entah apa yang terjadi.


"Tidak ada, Raka. Tidak ada yang disembunyikan darimu, lagi pula kita sudah sepakat untuk saling terbuka antara keluarga, bukan?"

__ADS_1


Raka mengangkat kedua bahunya sambil menyunggingkan bibir. Anggap saja dia percaya dengan ucapan mama Clarys, karena sudah begitu ramai ia kemudian memutuskan untuk menemui tamu partner bisnisnya.


Sedangkan Zia sibuk dengan para tamu lainnya yang menemui Zika.


"Jangan terlalu capek, Zia. Ingat kamu sedang hamil muda, dan kandunganmu juga tidak sekuat wanita lainnya. Lebih baik kamu duduk saja dulu sini." Mama Clarys menggandeng Zia detik berikutnya menyuruhnya duduk di kursi.


"Biar mama saja yang temani, Zika. Kamu duduk sini," ucapnya lagi. "Pelayanan, tolong ambilkan Zia minuman!" perintahnya pada pelayanan di sampingnya mengenakan pakaian kemeja putih lengan panjang di lapisi rompi berwarna hitam senada dengan celana panjang yang dipakai.


Setelah mengangguk pelayanan tersebut mengambilkan minuman untuk Zia. "Silakan, Nona."


Zia memasang seulas senyum kemudian mengangkat jus jeruk detik berikutnya menyesapnya. Sambil melihat Zika asyik menemui teman-teman seusianya dengan antusias menyambut kotak yang masih berdatangan.


"Selamat malam, Nona."


Ia segera menoleh saat mendengar suara laki-laki menyapanya dari arah belakang.


Dion diikuti Sesil berdiri tegap di sana. Pasangan suami istri tampak serasi melebihi Zia dan Raka itu tersenyum padanya.


"Selamat malam, Dion, dan malam Sesil."


Ia pandang lekat-lekat wajah Zika yang tampak tertawa lepas merasakan kebahagiaan di hari ulang tahunnya itu.


"Apa kamu tidak ingin memeluk Zika dan memberi ucapan selamat ulang tahun padanya, Sesil?" tanya Zia, membuat Sesil mengalihkan tatapannya dari Zika.


"Apa kamu mengizinkan aku, Zia?" tanyanya ragu jika salah mendengar.


"Kenapa tidak? Temui Zika. Dia mungkin juga merindukanmu," ucap Zia.


Sesil langsung menghampiri Zika dan juga mama Clarys. "Zika!"


"Bunda?" Sayangnya Zika menanggapi dengan wajah datar seolah biasa saja.


"Selamat ulang tahun, Sayang ... Bunda bawa hadiah untukmu. Pasti Zika suka," ucap Sesil masih berusaha mendekati Zika yang sangat berbeda seperti dulu.


Tak apa, mungkin Zika sudah biasa' dengan orang tuanya. Lagi pula ... siapa dia? Mencoba dekat dengan Zika--Nona muda rumah ini, keluarga yang dalam sebulan ini dinobatkan sebagai keluarga terkaya di kota ini.

__ADS_1


Zika menerima kotak kado dari Sesil. Kemudian meletakkan di sampingnya. Oma Clarys yang melihat mencubit pipi Zika gemas kemudian berkata,


"Zika, bagaimana kalau kado dari Bunda Sesil kita buka sekarang?" Zia yang melihat tak kalah antusiasnya dengan Zika.


Setelah mendapat anggukan dari Zika, Oma Clarys dibantu Sesil membuka kertas pembungkusnya.


"Waah ...." Wajah Zika berbinar saat membuka kotak ternyata mainan yang dia inginkan berbentuk telor berukuran dua kepalan berjumlah sangat banyak.


"Apa kamu suka, Sayang?" tanya Sesil saat melihat ekspresi Zika sudah berbeda dari pada yang tadi.


Zika mengangguk untuk sesaat perhatiannya teralihkan pada mainan itu.


"Bilang apa sama Bunda, Zika?" ucap Zia dari arah kursi duduk.


"Terima kasih, Bunda ...."


"Sama-sama, Sayang." Sesil memeluk Zika erat. Begitulah sifat anak kecil sering berubah-ubah sebagai orang dewasa harus pandai mengambil hati.


Sesil merasa senang akhirnya bisa memeluk Zika erat selayaknya dulu lagi. Ia berjanji tidak akan berbuat seperti dulu lagi, menghasut anak kecil untuk membenci ibunya.


Setelah semua datang dan acara potong kue telah usai kini semua orang duduk di kursi masing-masing menikmati jamuan menu yang sudah disajikan.


Pun dengan Raka, ia, Zia mama Clarys dan juga Zika duduk di meja bundar bersamaan. Ditambah lagi Dion bersama Sesil. Mereka semua tampak bahagia malam ini. Di sela-sela mengontrolnya Raka mengusap perut Zia lembut seolah ingin anak yang berada di dalam sana turut merasakan kebahagiaan.


Sementara Sesil tampak canggung di antara obrolan mereka yang entah ke mana jurusannya. Tiba-tiba kepalanya berputar sedari tadi melihat makanan di hadapannya ia menahan muntah.


"Huck ...." Sesil memegangi mulutnya sepertinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia memilih beranjak dari kursi kemudian berlari menuju toilet sambil memegang mulut sebilah lagi memegang perut.


Mereka semua yang melihat tingkah Sesil sontak menatap Dion.


"Apa Sesil hamil?"


Tanya mereka bertiga secara bersamaan. Sementara Dion hanya meringis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lanjut lagi nggak chapter nya gisss?? tapi tentunya yang manis-manis, author nggak kuat kalau nggak nyiksa mereka sih sebenarnya🤣 Tapi ini udah sampai tahap manis-manis. Habisnya kalean kalau dikasih manis pada malas komen. aku kan jadi sedih🤧

__ADS_1


__ADS_2