Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
BONCHAP 3


__ADS_3

BONUS


CHAPTER


“Huek … huek ….”


Sudah berkali-kali Sesil mondar-mandir antara kamar dan ke kamar mandi. Keringat


dingin membasahi wajahnya. Pucat, lesu di sekitar area matanya terdapat


lingkaran hitam karena beberapa hari ia tidak tidur dengan benar.


Melihat penurunan kesihatan dari sang  istri


justru Dion tidak merasa khawatir sedakit pun, melainkan justru menyambutnya


dengan suka cita. Ia sudah menduga pasti Sesil tengah  mengandung anaknya. Hal inilah yang sudah


ditunggu-tunggu sejak lama.


Sebuah seringai muncul dari bibir berwarna merah muda berbentuk seksi itu, ia sudah tak sabar


untuk mengajak Sesil pergi ke rumah sakit untuk memastikan kalau saat ini benar


adanya istrinya itu tengah mengandung anaknya. Duduk di sofa dengan menekuk


kedua tangan di belakang kepala lelaki tinggi 175 cm itu senyum-senyum sendiri.


Sontak membuat


Sesil yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa kesal bukan main. Bagaimana


seorang lelaki melihat istrinya sedang muntah dan tak enak badan justru semakin


menunjukkan aura behagia dari wajahnya. Menyebalkan sekali! Sesil lewat di


hadapan Dion begitu saja tanpa menoleh. Ia yang sudah memakai piyama berbahan


satin panjang sampai atas lutut langsung naik ke atas ranjang karena merasakan


kepalanya seperti diputar-putar di atas alam semesta.


Ia menarik


selimut berwarna abu-abu itu kemudian menyusup ke dalamnya hingga menutupi semua


anggota tubuhnya kecuali kepala. Ia berbaring memunggungi Dion yang sedang


duduk di sofa menghadap dirinya. Hingga  saat memejamkan mata ia merasakan sisi tempat


tidur meringsut pertanda seseorang menempatinya.


“Ayo kita ke rumah sakit, Sesil. Aku ingin dokter memeriksa mu, dan memberi pertanyataan


saat aku duduk di hadapannya dan mengatakan, selamat tuan, istri Anda hamil.”


Dion senyum-senyum sendiri membayangkan moments itu akan terjadi padanya


sebentar lagi.


Namun sangat


berbeda dengan Sesil yang tampak melirik malas tidak ingin menanggapi


halusinasi Dion yang berlebihan. Terdengar suara helaan napas panjang ketika


Dion terus saja membicarakan soal anak di dalam kandungannya hingga membuat


telingnya terasa panas kemudian menarik bantal untuk menutupinya.


“Apa kami tahu, Sesil? Kalau mereka lahir aku akan memberi nama seperti keinginan ayahku


saat dia masih hidup.”

__ADS_1


Masa bodo, Sesil tidak peduli akan hal itu.


“Dan aku akan melatih mereka untuk menjadi seorang pemain sepak bola yang handal, pasti


akan sangat seru.” Bola mata Dion melirik ke arah bawahnya saat tidak mendapat respond


dari Sesil.


Apa


istrinya itu tidur? Dion menaikkan sebelah alisnya kemudian mengulurkan tangan


untuk mengguncang lengan Sesil secara berlebihan.


“Sesil? Apa kamu tidur?” tanyanya dengan nada lembut tampak ragu-ragu takut jika mengganggu


tidur sang istri.


“Apa kamu tidak ingin memeriksakan kandunganmu ke rumah sakit?”


Sesil masih diam hanya terdengar suara helaan napas beberapa kali.


“Aku tahu kamu tidak menyukai anak dariku, tapi … ini sudah menjadi takdir kita untuk


bersama menjaga anak-anak kita sampai menua,” ujarnya lagi panjang lebar.


“Bersiaplah, Sesil. Aku menunggumu.”


“Aku tidak hamil, Dion! Harus aku bilang berapa kali, a-ku  ti-da-k ha-mi-l.” sengaja ia memberi penakanan


disetiap hurufnya berharap Dion mengerti. Tapi kini lelaki itu justru menunduk


sedih semakin pula membuat Sesil frustasi.


“Sebegitu bencinya kah, kamu sampai tidak mau mengakui kehamilanmu?”


Duh, Dion justru membuat kepala Sesil semakin berdenyut. Sampai-sampai ingin menjambak


saat ini ia tidak hamil. Tidak hamil!


“Kamu tidak bisa menjawab, kan?”


Bukannya tidak ingin menjawab tapi Sesil kini bingung harus bicara apa.


“Baiklah, kalau kamu tidak mau pergi ke doker. Aku tidak bisa memaksa,” ucap Dion


kemudian beranjak dari tempat tidur meninggalkan ranjang. Untuk sesaat matanya


terpejam saat tangan sesil menarik tangannya menghalau supaya jangan pergi.


Namun hati Dion sudah terlanjur kecewa, karena Sesil tidak mengakui kehamilannya. Ia ingin


Sesil menyambut dengan bahagia walau bagaimana pun anak yang di dalam


kandungannya adalah hasil buah cinta meraka, walau Sesil melakukkan dengan


terpaksa. Namun Dion yakin kalau sebenarnya ia sangat menikmatinya.


“Lepaskan tanganku, Sesil.”


“Kamu mau ke mana?”


“Bukan urusanmu,” jawabnya ketus.


“Aku tidak bohong, Dion. Aku memang tidak hamil. Kalau kamu tidak percaya aku akan


mengambi buktinya.”dengan kepala yang terasa berat dan badan yang lemas Sesil


melangkah menuju ke kamar mandi ia mengambil tespack yang ia tinggalkan di


dalam sana.


Dion mengeryitkan dahi bingung. Bukti apa yang akan diambil Sesil? Hingga istrinya

__ADS_1


itu keluar dari balik pintu berwarna abu-abu itu membawa alat benda di


tangannya.


“Lihat ini.”


Sesil memberikkan alat kecil berwarna biru itu pada Dion.


“Apa ini?”


tanya Dion dengan dahi yang semakin berkerut dalam.


“Alat tes kehamilan. Di sana diterangkan, kalau garis berwarna merah dua maka aku hamil,


tapi kalau garis masih satu aku tidak hamil. Semoga kamu mengerti dengan


pejelasan ini,” gerutu Sesil. Lagi pula bagaimana ia bisa hamil saat ini masih


mengosumsi obat pencegah kehamilan.


Dion masih


memandang alat di tanganya lekat-lekat. Entah kenapa hatinya seolah memberontak


tidak percaya kalau Sesil tidak hamil. Bagaimana mungkin ketika orang dewasa


dan mereka dinyatakan subur tidak hamil setelah melakukan hubungan suami istri


berulang kali.


Ini pasti


ada yang tidak beres. Mata Dion sebelumnya menatap tespack itu kini beralih


menatap Sesil. Dan sialnya saat Dion menatapnya Sesil menjadi gugup.


“Ayo ikut denganku!” tangan kekar lelaki itu terulur untuk menarik pergelangan tangan


Sesil.


“Kamu mau bawa aku ke mana, Dion?” tanya Sesil saat tubuhnya yang lemas ditarik secara


paksa menuruni tangga oleh Dion yang tidak lagi menoleh ke belakang.


“Dion, kamu mau bawa aku ke mana?” sungguh jiwa menyeramkan Dion yang beberapa hari ini


memudar kembali lagi, Sesil merasa takut akan hal itu.


Sesil tidak bergeming saat ia di bawa ke dalam mobil lalu Dion menancap gas dengan kencang.


Sejenak Sesil berpikir, apa Dion akan mengajaknya mati bersama untuk meluapkan


amarahnya? Atau mungkin Dion akan mencelaksainya hingga tewas kemudian menutupi


dengan sebuah kecelakan?


Jantung perempaun


itu berdetak kencang saat Dion mengendarai mobil dengan ugal-ugalan seperti


layaknya pembalap liar. Namun napasnya berangsur teratur dan merasa lega saat


mobil berhenti di depan rumah sakit. Ya, setidaknya ia bisa selamat.


Tapi ini


rumah sakit? Apa yang akan Dion lakukan di rumah sakit ini? Atau jangan-jangan


Sesil selamat dari jalanan yang mencekam justru kini menuju jurang yang


sesungguhnya.


Tulisan berantakan ya... karena nggak tau kenapa kalau nulis di laptop gitu jadinya. Oh, ya, kalian jangan lupa baca karyaku juga dong judul : Menikah Sembilan Bulan hanya di noveltoon / Mangatoon

__ADS_1


__ADS_2