
BONUS
CHAPTER
“Huek … huek ….”
Sudah berkali-kali Sesil mondar-mandir antara kamar dan ke kamar mandi. Keringat
dingin membasahi wajahnya. Pucat, lesu di sekitar area matanya terdapat
lingkaran hitam karena beberapa hari ia tidak tidur dengan benar.
Melihat penurunan kesihatan dari sang istri
justru Dion tidak merasa khawatir sedakit pun, melainkan justru menyambutnya
dengan suka cita. Ia sudah menduga pasti Sesil tengah mengandung anaknya. Hal inilah yang sudah
ditunggu-tunggu sejak lama.
Sebuah seringai muncul dari bibir berwarna merah muda berbentuk seksi itu, ia sudah tak sabar
untuk mengajak Sesil pergi ke rumah sakit untuk memastikan kalau saat ini benar
adanya istrinya itu tengah mengandung anaknya. Duduk di sofa dengan menekuk
kedua tangan di belakang kepala lelaki tinggi 175 cm itu senyum-senyum sendiri.
Sontak membuat
Sesil yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa kesal bukan main. Bagaimana
seorang lelaki melihat istrinya sedang muntah dan tak enak badan justru semakin
menunjukkan aura behagia dari wajahnya. Menyebalkan sekali! Sesil lewat di
hadapan Dion begitu saja tanpa menoleh. Ia yang sudah memakai piyama berbahan
satin panjang sampai atas lutut langsung naik ke atas ranjang karena merasakan
kepalanya seperti diputar-putar di atas alam semesta.
Ia menarik
selimut berwarna abu-abu itu kemudian menyusup ke dalamnya hingga menutupi semua
anggota tubuhnya kecuali kepala. Ia berbaring memunggungi Dion yang sedang
duduk di sofa menghadap dirinya. Hingga saat memejamkan mata ia merasakan sisi tempat
tidur meringsut pertanda seseorang menempatinya.
“Ayo kita ke rumah sakit, Sesil. Aku ingin dokter memeriksa mu, dan memberi pertanyataan
saat aku duduk di hadapannya dan mengatakan, selamat tuan, istri Anda hamil.”
Dion senyum-senyum sendiri membayangkan moments itu akan terjadi padanya
sebentar lagi.
Namun sangat
berbeda dengan Sesil yang tampak melirik malas tidak ingin menanggapi
halusinasi Dion yang berlebihan. Terdengar suara helaan napas panjang ketika
Dion terus saja membicarakan soal anak di dalam kandungannya hingga membuat
telingnya terasa panas kemudian menarik bantal untuk menutupinya.
“Apa kami tahu, Sesil? Kalau mereka lahir aku akan memberi nama seperti keinginan ayahku
saat dia masih hidup.”
__ADS_1
Masa bodo, Sesil tidak peduli akan hal itu.
“Dan aku akan melatih mereka untuk menjadi seorang pemain sepak bola yang handal, pasti
akan sangat seru.” Bola mata Dion melirik ke arah bawahnya saat tidak mendapat respond
dari Sesil.
Apa
istrinya itu tidur? Dion menaikkan sebelah alisnya kemudian mengulurkan tangan
untuk mengguncang lengan Sesil secara berlebihan.
“Sesil? Apa kamu tidur?” tanyanya dengan nada lembut tampak ragu-ragu takut jika mengganggu
tidur sang istri.
“Apa kamu tidak ingin memeriksakan kandunganmu ke rumah sakit?”
Sesil masih diam hanya terdengar suara helaan napas beberapa kali.
“Aku tahu kamu tidak menyukai anak dariku, tapi … ini sudah menjadi takdir kita untuk
bersama menjaga anak-anak kita sampai menua,” ujarnya lagi panjang lebar.
“Bersiaplah, Sesil. Aku menunggumu.”
“Aku tidak hamil, Dion! Harus aku bilang berapa kali, a-ku ti-da-k ha-mi-l.” sengaja ia memberi penakanan
disetiap hurufnya berharap Dion mengerti. Tapi kini lelaki itu justru menunduk
sedih semakin pula membuat Sesil frustasi.
“Sebegitu bencinya kah, kamu sampai tidak mau mengakui kehamilanmu?”
Duh, Dion justru membuat kepala Sesil semakin berdenyut. Sampai-sampai ingin menjambak
saat ini ia tidak hamil. Tidak hamil!
“Kamu tidak bisa menjawab, kan?”
Bukannya tidak ingin menjawab tapi Sesil kini bingung harus bicara apa.
“Baiklah, kalau kamu tidak mau pergi ke doker. Aku tidak bisa memaksa,” ucap Dion
kemudian beranjak dari tempat tidur meninggalkan ranjang. Untuk sesaat matanya
terpejam saat tangan sesil menarik tangannya menghalau supaya jangan pergi.
Namun hati Dion sudah terlanjur kecewa, karena Sesil tidak mengakui kehamilannya. Ia ingin
Sesil menyambut dengan bahagia walau bagaimana pun anak yang di dalam
kandungannya adalah hasil buah cinta meraka, walau Sesil melakukkan dengan
terpaksa. Namun Dion yakin kalau sebenarnya ia sangat menikmatinya.
“Lepaskan tanganku, Sesil.”
“Kamu mau ke mana?”
“Bukan urusanmu,” jawabnya ketus.
“Aku tidak bohong, Dion. Aku memang tidak hamil. Kalau kamu tidak percaya aku akan
mengambi buktinya.”dengan kepala yang terasa berat dan badan yang lemas Sesil
melangkah menuju ke kamar mandi ia mengambil tespack yang ia tinggalkan di
dalam sana.
Dion mengeryitkan dahi bingung. Bukti apa yang akan diambil Sesil? Hingga istrinya
__ADS_1
itu keluar dari balik pintu berwarna abu-abu itu membawa alat benda di
tangannya.
“Lihat ini.”
Sesil memberikkan alat kecil berwarna biru itu pada Dion.
“Apa ini?”
tanya Dion dengan dahi yang semakin berkerut dalam.
“Alat tes kehamilan. Di sana diterangkan, kalau garis berwarna merah dua maka aku hamil,
tapi kalau garis masih satu aku tidak hamil. Semoga kamu mengerti dengan
pejelasan ini,” gerutu Sesil. Lagi pula bagaimana ia bisa hamil saat ini masih
mengosumsi obat pencegah kehamilan.
Dion masih
memandang alat di tanganya lekat-lekat. Entah kenapa hatinya seolah memberontak
tidak percaya kalau Sesil tidak hamil. Bagaimana mungkin ketika orang dewasa
dan mereka dinyatakan subur tidak hamil setelah melakukan hubungan suami istri
berulang kali.
Ini pasti
ada yang tidak beres. Mata Dion sebelumnya menatap tespack itu kini beralih
menatap Sesil. Dan sialnya saat Dion menatapnya Sesil menjadi gugup.
“Ayo ikut denganku!” tangan kekar lelaki itu terulur untuk menarik pergelangan tangan
Sesil.
“Kamu mau bawa aku ke mana, Dion?” tanya Sesil saat tubuhnya yang lemas ditarik secara
paksa menuruni tangga oleh Dion yang tidak lagi menoleh ke belakang.
“Dion, kamu mau bawa aku ke mana?” sungguh jiwa menyeramkan Dion yang beberapa hari ini
memudar kembali lagi, Sesil merasa takut akan hal itu.
Sesil tidak bergeming saat ia di bawa ke dalam mobil lalu Dion menancap gas dengan kencang.
Sejenak Sesil berpikir, apa Dion akan mengajaknya mati bersama untuk meluapkan
amarahnya? Atau mungkin Dion akan mencelaksainya hingga tewas kemudian menutupi
dengan sebuah kecelakan?
Jantung perempaun
itu berdetak kencang saat Dion mengendarai mobil dengan ugal-ugalan seperti
layaknya pembalap liar. Namun napasnya berangsur teratur dan merasa lega saat
mobil berhenti di depan rumah sakit. Ya, setidaknya ia bisa selamat.
Tapi ini
rumah sakit? Apa yang akan Dion lakukan di rumah sakit ini? Atau jangan-jangan
Sesil selamat dari jalanan yang mencekam justru kini menuju jurang yang
sesungguhnya.
Tulisan berantakan ya... karena nggak tau kenapa kalau nulis di laptop gitu jadinya. Oh, ya, kalian jangan lupa baca karyaku juga dong judul : Menikah Sembilan Bulan hanya di noveltoon / Mangatoon
__ADS_1