
Dengan ketinggian tiga ribu kaki dari atas permukaan laut pesawat melaju ke Singapura. Raka terlihat tegang seperti baru pertama kali naik pesawat. Sedangkan matanya terus saja memandangi jam yang melingkar di tangan.
Dion menggelengkan kepala, menertawakan bosnya itu berwajah tegang seperti seorang yang akan menikah. Semua itu memang wajar karena selama 2 tahun dia tidak melihat senyum dari istrinya. Jadi kabar ini hal yang sangat menggembirakan baginya.
“Beberapa lama lagi kira-kira pesawat ini akan tiba, Dion?” tanya Raka.
Dion melirik jam tangannya lalu menjawab, “Sekitar setengah jam lagi, Tuan.”
“Kenapa lama sekali,” gerutunya.
“Hanya setengah jam. Itu tidak lama, Tuan. Posisi kita sudah ada di sini.” Dion menunjuk layar monitor penerbangan di hadapan Raka. “Berarti sebentar lagi kita akan sampai.”
“Oke,” jawab Raka sedikit tenang karena tidak lama lagi dia akan segera tiba.
Setengah jam yang dilalui Raka dengan berat akhirnya berlalu. Pesawat yang ditumpangi berhasil mendarat dengan selamat di bandara Singapura. Raka segera bergegas beranjak keluar dari pesawat menuju mobil, ia sudah tidak sabar ingin bertemu sang istri. Ingin melihat senyuman yang selama dua tahun ini menghilang, kembali lagi.
Setibanya di rumah sakit Raka segera masuk menuju ruangan Zia di rawat. Dengan cepat ia membuka pintu sudah tidak sabar ingin melihat keadaan istrinya.
“Zia,” ucapnya saat memasuki ruangan dengan napas tak beraturan. Tetapi mata yang sebelumnya berbinar dan tersenyum berubah menjadi meremang. Rasa khawatir membungkus perasaannya saat mendapati seseorang sudah di tutup kain putih dari ujung kaki sampai ke kepala.
Apa yang terjadi dengan Zia? Bukankah pihak rumah sakit tadi mengatakan kalau Zia sudah sadar. Tapi kenapa yang ia lihat sangat berbeda. Ada seseorang terbujur kaku di hadapannya.
Dengan tubuh bergetar Raka mendekat ke orang yang sudah ditutupi kain putih itu. Kenapa dokter berbohong padanya? Kenapa harus mengatakan kalau Zia sudah sadar, tapi kenyataannya?
Tubuh Raka bergetar, bahkan kakinya tidak kuat untuk menopang anggota tubuhnya. Ia lunglai di bawah ranjang menatap dalam-dalam istrinya yang terbujur kaku.
__ADS_1
“Zia, bagaimana dengan kami? Kenapa kau pergi secepat ini sayang?” Ia mengusap matanya yang meneteskan air mata.
Tangannya memukul-mukul lantai sebagai wujud rasa sedih karena kehilangan istrinya. Dion yang baru masuk menunduk berjalan menghampiri Raka. “Ayo bangun, Tuan. Mungkin ini sudah menjadi jalan untuk Non Zia. Aku minta kuatkan hati Anda. Masih ada Nona Zika yang membutuhkan Anda. Kuatlah, Tuan.” Ia menepuk pundak Raka dengan wajah ditekuk.
“Tapi bagaimana aku bisa hidup tanpa dia? Dia adalah seorang perempuan yang telah membuat hidupku ini lebih bermakna, dia juga yang menghadirkan kebahagiaan dalam rumah. Tapi bagaimana bisa dia pergi begitu saja, tanpa berpamitan dulu padaku?” Raka menangis meraung-raung.
Cklek... (Pintu terbuka)
Seorang dokter masuk ke dalam ruangan melihat Raka dan Dion bersedih duduk tersungkur di lantai. “Apa yang kalian lakukan di sini?” ( tanyanya dalam bahasa Inggris).
Raka bergeming. Sedangkan Dion menoleh lalu beranjak menghampiri dokter tersebut. “Dok, kenapa kalian bohong pada kami? Apa kalian pernah berpikir bagaimana perasaan Mr. Raka sekarang? Kalian pasti akan kami tuntut karena memberi informasi palsu.”
Dokter tersebut mengerutkan dahi bingung dengan apa yang dikatakan Dion. “Maksud Anda?”
“Anda ini pura-pura bodo atau gimana, sih?” dengkus Dion kesal. “Bagaimana bisa pihak rumah sakit mengatakan kalau pasien yang bernama Zia sadar, sedangkan kenyataannya dia dalam keadaan tidak bernyawa sekarang.”
Tak selang beberapa menit pintu ruangan kembali terbuka. Seorang wanita dan laki-laki memasuki ruangan menangis tersedu-sedu langsung memeluk jasad itu.
Sontak membuat Raka terheran. Siapa mereka? Kenapa terlihat sedekat itu dengan Zia? Atau jangan-jangan istrinya itu tidak memberitahunya kalau mempunyai kerabat.
Sebelum Raka bertanya wanita itu menyorot ke arahnya. “Pasti kamu lelaki sialan yang membuat anakku jadi begini, kan?” ia memegang kerah Raka lalu menggoyangkannya.
“Anaknya?” bukankah Zia memiliki orang tua yang sudah meninggal? Raka semakin bingung dibuatnya.
“Kenapa diam saja? Ayo jawab, jawab!” hardik wanita itu frustrasi.
__ADS_1
“Nyonya hentikan! Kenapa Anda seperti itu? Tidakkah kau tau, dia juga sama terpukulnya atas kejadian ini?” Dion mencoba melerai wanita itu.
“Aku tidak akan memaafkan berbuatannya. Aku akan memastikan membuat dia mati seperti anakku.” Wanita itu memukul-mukul Raka namun lelaki itu bergeming seolah pasrah.
“Hentikan, Nyonya. Hentikan!” Dion menarik wanita itu.
“Berhenti semua!” pekik dokter membuat mereka semua menoleh ke arahnya. Ia berjalan menuju ranjang itu lalu membuka kain penutup perempuan yang tengah berbaring itu.
“Tuan Raka lihatlah, apa benar dia istri Anda?”
Raka menaikkan pandangannya ke arah perempuan itu berbaring melihat dari kejauhan. Mengerjapkan mata berulang-ulang karena ia tidak melihat ciri-ciri istrinya. “Dia?”
“Iya, dia bukan Nyonya Zia istrimu. Melainkan ini adalah orang lain, mereka adalah keluarganya.” Dokter itu menunjuk dengan dagunya ke arah wanita dan pria yang berada di dekat Raka.
Sudut bibir Raka tertarik membentuk guratan bahagia di wajahnya. “Lalu di mana istriku sekarang, Dok?” ia beranjak mengubah posisi menjadi berdiri menatap dokter itu penuh pertanyaan.
“Dia sudah dipindah ruang tadi pagi setelah sadar. Ruangan nomor 15 lantai dua,” balas dokter itu.
Tanpa menunggu lama Raka segera bergegas menuju kamar di mana Zia berada. Sepanjang lorong ia lalui dengan berlari bahkan tangannya hampir terjepit pintu lift karena dengan tiba-tiba menyengat saat pintu lift akan tertutup.
**Jadi ada yang masih bingung kenapa judulnya "Dijodohkan Lagi" ya?
Judul Dijodohkan Lagi itu karena seseon kedua ada lagi ya. makanya aku buat judul "Dijodohkan Lagi" karena ada lagi🤣
Di sini kalian jangan meragukan tokoh Raka ya. Raka adalah lelaki kuat, keras kepala. Lelaki keras kepala itu nggk mudah cinta sana sini ya.
__ADS_1
Beda sama Rio dan Erick. Oh ya, kalau belum baca kisah Erick baca dong "Love Scenario"
Ditunggu Vote koin atau poinnya oke, jangan cuma nagih minta up banyak-banyak 🙏**