
Kini wajah sepasang suami istri itu begitu tegang. Bahkan sangat tegang saat menunggu kalimat dari dokter.
Mata Sesil tidak berkedip hanya untuk menatap bibir sang Dokter yang masih menulis sesuatu dalam kertas, entah apakah itu.
Kemudian bola mata sedari tadi yang ditunggu-tunggu terangkat ke atas untuk menatap mereka berdua. Dan sukses membuat detak jantung Sesil kian terpompa begitu cepat.
"Kamu seorang dokter, Sesil, seharusnya kamu tau hal ini."
Deg.
Pasti yang dibicarakan Dokter Meittra adalah obat pencegah kehamilan. Dengan bersusah payah ia mengedipkan mata kemudian menoleh ke arah Dion penuh harap. Ia harap setelah ini Dion tidak marah dan tidak memutuskan hubungan mereka. Karena demi apa ia mulai memiliki rasa.
Rasa hampa saat Dion pergi bekerja. Rasa kosong saat Dion sibuk dengan pekerjaan dan memilih untuk mengabaikannya. Dan satu lagi kini ia sangat menyukai dari keseluruhan pria itu.
Namun Sesil tak ingin menunjukkan perasaannya. Demi menjaga nama baik, kalau dia adalah seorang wanita yang pantang mengungkapkan perasaannya.
Enak saja Dion jika ia dengan mudah mengaplikasikan perasaannya.
Hati Sesi tiba-tiba menghangat ketika tangan kasar itu tiba-tiba menggapai jemarinya dipangkuan yang dari tadi sibuk meremas satu sama lain.
"Akankah Dion seteduh ini jika tau aku tidak hamil dan meminum pencegah kehamilan?" batin Sesil dalam hati. Netra coklat Sesil memutar ke arah Dokter ketika suara Dion mengajukan pertanyaan.
"Jadi bagaimana, Dok. Istri saya hamil atau tidak?" tanyanya penuh harap.
Seulas senyum keluar dari bibir Dokter Mettra, entah senyum dalam artian apa itu. Yang jelas membuat jantung Sesil diporak porandakan.
Di ruangan berbentuk persegi di depan meja berwarna hitam aroma obat-obatan yang khas membuat perut Sesil terasa mual. Apa ia terlalu panik?
Entah.
Seketika rasa mualnya berhenti ketika sang Dokter membuka suaranya,
"Selamat ... Sesil sedang hamil 2 Minggu. Dan janinnya masih sangat kecil. Selamat ya, Sesil." Pandangan Dokter Meittra kembali terarah menatap Sesil yang terlihat syok.
Hamil? Bagaimana mungkin? Lalu obat-obatan yang dia minum?
Ia seorang dokter, dan ia tahu apa penyebabnya. Jika seseorang lupa meminum obat itu saat akan berhubungan intim pada saat masa subur pasti akan berdampak pada sebuah kehamilan.
Apa ini gara-gara ia lupa meminum obat-obatan itu beberapa hari yang lalu?
Sampai di rumah wajah Sesil masih kaku dia bahkan masih tidak mempercayai kalau saat ini dia hamil?
Bahkan ia tidak mengganti pakaian hanya duduk di sisi ranjang dengan wajah benar-benar tidak percaya.
"Minumlah." Dion menyodorkan segelas air dalam gelas bening dan panjang padanya.
__ADS_1
Setelah menerima ia tidak langsung meminum bahkan hanya menggenggam dengan kedua tangan meletakkan di pangkuan. Sebelum suara helaan napas terdengar dari indera penciuman Dion.
Kemudian sisi tempat tidur sebelahnya meringsek. Pertanda lelaki itu duduk di sana.
"Apa aku boleh tahu tentang perasaanmu, Sesil?"
Sesil menoleh menatap lekat-lekat mata Dion yang mematri wajahnya. Entah bagaimana perasaannya kini, yang jelas Sesil merasakan ada gelenyar aneh menjalar dalam hatinya.
Entahlah perasaan apa itu.
"Aku sangat lelah, lebih baik kita bicarakan hal ini besok." Kemudian ia meletakkan gelas di tangan tanpa meminum ke atas nakas.
Sesil butuh waktu untuk mencerna semua tentang perasaan, tentang sikap dan tentang kehamilannya. Ia membenarkan posisi menarik selimut kemudian memunggungi Dion yang masih duduk di tepi ranjang.
Dion menoleh pada Sesil, tahu kalau istrinya itu belum tidur. Setelah berpikir beberapa detik ia pun ikut berbaring di samping Sesil. Melingkarkan tangan erat di perut ramping istrinya sementara wajahnya di bantal lebih tinggi tepat di atas kepala Sesil.
Sesil mencoba menjauhkan tangan Dion, namun membuat tangan lelaki itu bergeming dan semakin memperkuat pelukannya.
"Untuk malam ini aku ingin tidur memelukmu. Kumohon diamlah." Suara Dion begitu dalam seolah takut kehilangan Sesil untuk selamanya.
"Sesil, aku tau tidak mencintai aku, tapi aku mohon, jagalah anakku. Lahirkanlah dia untukku."
Sesil memejamkan mata dia juga wanita normal. Terlebih lagi dia sangat menyukai anak kecil seperti halnya Zika dulu. Apa lagi anak itu anak yang terlahir dari rahimnya, walaupun Dion tidak meminta pun ia akan tetap merawat dan menyayangi anaknya yang masih dalam kandungan.
Dari pada menyimpan perasaan, lebih baik ia mengatakan perasaannya pada Dion yang sebenarnya. Ia menghela napas untuk memastikan.
Ya, ini saatnya.
Perlahan-lahan Sesil mengubah posisi menjadi menghadap ke atas tanpa menggeser tangan kekar sang suami itu.
"Dion." Matanya menatap langit-langit kamar bagai sebuah taman menurutnya itu.
Tidak ada jawaban. Sesil memutar bola matanya untuk mendongak melihat wajah Dion. Dan benar saja lelaki itu tak bersuara, hanya napasnya saja yang teratur, cukup teratur karena dia sedang tidur. Sukses membuat Sesil murung dan memutuskan untuk kembali tidur ke posisi awal.
***
Pagi hari tiba, Dion mengerjap ketika sang surya menyinari wajahnya dari pantulan kaca jendela yang tidak tertutup.
Lelaki itu pun menaikkan selimut untuk menutupi matanya. Sedangkan sebelah tangannya meraba-raba sisi sebelahnya.
Kosong.
Sesil pasti sudah bangun lebih dulu, dan ya pasti sedang mandi sekarang.
Dion memejamkan mata mulai hanyut dalam mimpi lagi.
__ADS_1
Tapi bagaimana kalau Sesil pergi dan berniat menggugurkan kandungannya?
Oh tidak! Dion seketika menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya, kemudian mengubah posisi menjadi duduk.
Ia menguar rambut yang masih berantakan itu kemudian memijakkan kaki ke lantai untuk mencari Sesil.
Langkahnya terarah ke balkon namun Sesil tidak ada di sana. Kemudian membuka pintu kamar mandi sama, Sesil tidak di sana.
Dion mulai panik, ia keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Sesil. Seputaran rumah ia itari namun hasilnya sama.
Sesil tidak ada di sana.
Ia kembali ke kamar ketika ponselnya berdering dan mengira itu panggilan dari Sesil, namun bukan justru panggilan dari Raka yang dia dapatkan.
"Halo Tuan."
"Dion, aku mau ke luar kota membawa Zia dan Zika untuk berlibur. Apa kamu bisa mengantarkan aku, sampai ke bandara?"
"Iya, Tuan. Saya akan segera bersiap."
Entah ke mana Sesil. Yang jelas ia harus menjalankan tugas utama dulu yaitu mengantarkan keluarga Raka ke bandara. Setelah itu ia akan mencarinya.
Memang siapa Sesil bisa-bisanya kabur membawa anaknya, sampai ke lubang semut pun ia akan mencari.
Di sepanjang jalan Dion terus saja diam. Fokus pada jalan. Bahkan tidak mendengar saat Raka mengajak bicara.
"Om Dion lagi sedih ya?" tanya Zika yang duduk di kursi depan. Ia dari tadi sibuk memperhatikan rupanya.
"Ah, tidak Zika, siapa bilang om sedih. Selagi bersama Zika mana bisa om bersedih," jawabnya menoleh untuk memberi senyuman pada Zika.
Sementara suami istri duduk di kursi belakang Raka meluruskan tangan di atas kursi sedangkan Zia menyandarkan kepala di dada bidangnya mendongak sehingga tatapan mereka saling bertemu.
Kemudian Raka berdehem.
"Apa benar yang dikatakan Zika, Dion?"
"Tidak Tuan, aku hanya--"
"Kamu dan Sesil baik-baik saja kan?" sela Zia.
Kepala Dion mengangguk ragu. "Tentu."
Kira-kira Sesil ke mana hayoo?
Maafkan author yang telat-telat up ya giss karena kondisi akhir-akhir ini kurang memungkinkan.
__ADS_1